
“Dek, tadi si Finn telepon gue. Kenapa anak buah kita udah datang semua, tetapi lo belom juga nongol?”
“Iya. Ini mau jalan.”
“Lo kenapa? Telepon si Finn juga gak diangkat.”
“Duh, dia ngapain, sih, segala semua ngadu ke elo?”
“Finn itu klien kita, Dek. Profesional dong.”
“Iya, Bang, iya. Gue jalan.”
“Salam buat Finn.”
“Iya. Kayak pasangan lo berdua. Pake salam-salaman segala.”
“Biar dikasih kerjaan lagi, Dek.”
Sandra berdecak. Kemudian, pergi tanpa menoleh ke arah Tristan.
Sesampainya di tempat parkir perkantoran Liam Group, Sandra berdiam di mobil, belum berniat turun. Jujur, ia enggan bertemu Finn.
Sandra memutar otak. Berpikir bagaimana caranya agar Finn tak bisa berbuat kurang ajar lagi. Ruangan kantor adalah tempat yang sepi. Ia pun takut kejadian beberapa waktu lalu terulang. Meski saat ini, suasana pasti ramai.
Sandra hanya bersikap waspada saja.
🌺🌺🌺
Sebelum masuk ruangan Finn. Sandra mengintip sejenak. Menyembulkan kepala dengan mata menjelajah ke seluruh ruangan. Mencari sosok sang ceo di keramaian para pekerja.
“Bu Sandra.”
Sandra terperanjat kaget saat seseorang menepuk pundaknya.
“Pak Roy.”
“Maaf, mengagetkan Anda. Panggil saya Roy saja, Bu.”
Sandra mengangguk. “Finn ke mana?”
“Bos Finn baru saja berangkat ke Batam. Saya diminta untuk menemani Anda dan menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan.”
“Senangnya.”
“Maaf. Ibu tadi bilang apa?”
“Oh, itu. Tidak ada.” Hampir aja. Ah, pokoknya senang. Akhirnya, si brengsek itu tidak berada di tempat. Bisa tenang bekerja.
“Apa ada sesuatu yang Ibu Sandra butuhkan?”
__ADS_1
“Belum. Kalau ada nanti saya beri tahu.”
“Baik kalau begitu. Jika Anda membutuhkan sesuatu, saya ada di ruangan depan.”
“Iya. Terima kasih, Roy.”
Roy mengangguk dan berlalu pergi.
🌺🌺🌺
Hari ketiga sekaligus waktu terakhir merenovasi ruangan CEO Liam Group.
“Mbak Sandra, tinggal finishing. Kita lembur atau meneruskan lagi besok?” tanya Benny.
“Waktu kita hanya tiga hari. Perusahaan bisa kena penalti denda jika lewat dari batas yang telah ditentukan. Lagi pula, tinggal sedikit lagi. Kalian pulang saja. Biar aku menyelesaikan sendiri.”
“Mbak Sandra, mau lembur sendirian?” tanya Cira.
“Ada Roy, kok, di depan.”
“Mbak, gak takutkah? Serem loh.” Ana menimpali.
“Lebih seram melihat kalian.”
“Mbak Sandra!” Refleks trio ABC protes berbarengan.
Trio ABC saling pandang.
Kemudian, Ana mewakili mereka berbicara, “Mbak, kita lembur aja. Biar kerjaan juga cepat beres.”
Sandra tersenyum. “Kalian gemesin banget, sih. Aku gak papa, kok. Sudah pulang sana. Besok kita masih banyak pekerjaan lain dan itu membutuhkan tenaga kalian.”
“Mbak, bener gak papa?” tanya Benny meyakinkan.
“Iya. Gih, pada pulang.”
Trio ABC mengangguk dan keluar dari ruangan.
Sandra mulai menata beberapa barang. Hanya tinggal sebentar lagi, pekerjaan rampung.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, pekerjaan yang tinggal sedikit itu belum juga usai.
Saat ini, Sandra berada di ruang istirahat. Sedang memasang seprai dan bed cover.
“Sibuk?”
“Iya.”
Pergerakan Sandra berhenti. Ia menoleh. Matanya hampir melompat keluar melihat Finn berada tepat di belakang.
__ADS_1
Bukankah Roy bilang pulangnya besok? tanya Sandra dalam hati.
Dengan cepat CEO itu menubrukkan diri dan memeluk Sandra dari belakang. Membuat sang desainer interior itu hilang keseimbangan. Sehingga keduanya tersungkur menelungkup ke atas kasur dengan posisi adik dari Tristan itu di bawah.
“FINN ELARD!”
“Aku merindukanmu, Baby.”
Finn semakin mengeratkan pelukan. Ia hanya mengubah posisi menjadi miring saja agar bobot tubuhnya tidak menindih Sandra.
“Finn, lepas,” lirih Sandra.
“Tidak. Biarkan aku memelukmu. Memang kamu tak merindukanku?”
“Tidak. Justru aku senang bekerja disini tanpa adanya dirimu.”
“Ayolah, Sandra Rein. Kata-kata itu terdengar kejam.”
“Aku tak peduli.”
Finn membalik tubuh Sandra dan menatapnya. “Kamu tahu? Tiga hari di Batam, aku tersiksa jauh darimu. Kerja pun menjadi tak konsentrasi.”
“Aku tidak peduli. Lepaskan aku, Finn.”
Finn menggeleng. “Aku menyukaimu. Mau menjadi kekasihku?”
“Finn. Cukup.”
“Sandra, biasanya kaummu yang menawarkan diri untuk menjadi kekasihku. Kamu seharusnya senang, aku menawarkan lebih dulu.”
“Finn, dengar. Aku tidak tertarik untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan siapa pun. Termasuk dirimu.”
Finn terdiam.
“Jika hanya terpesona. Lalu, menganggapku sama seperti wanita lain. Di ajak kesana-kemari dengan status sebagai kekasih. Maaf. Menjauhlah. Karena, aku tidak sama dengan perempuan-perempuan itu. Lagi pula, aku mencari seorang suami bukan kekasih.” Lanjut Sandra tegas.
“Sandra ....”
“Katakan? Apa kamu berniat untuk menikahiku? Jika tidak, sekeras apa pun kamu mendekatiku. Aku pastikan hanya akan ada penolakan untukmu.”
“Sandra ....”
“Finn. Please. Hargai aku.”
Finn mengendurkan pelukannya.
Sandra memanfaatkan hal tersebut untuk mendorong tubuh Finn. Ia bangun dan melanjutkan pekerjaannya sampai selesai.
Finn pun ikut beranjak. Melangkah dan berdiri di ambang pintu. CEO itu tak berani lagi mendekati. Ia hanya diam seraya menatap Sandra dengan tatapan tak terbaca.
__ADS_1