
Satu minggu kemudian
Honeymoon telah usai. Keromantisan berjalan damai. Finn dan Sandra kembali ke Jakarta dengan senang hati. Karena, tak ada kendala berarti.
Ramon menugaskan banyak anak buahnya. Menjaga kedua pasangan suami-istri itu selama di puncak. Bahkan, menghadirkan beberapa sniper. Ia pun akan meneruskan hal tersebut secara diam-diam untuk Finn dan Sandra agar selalu aman.
Tumbuh bersama sejak kecil. Ikatan mereka bukan hanya berlabel saudara sepupu, tetapi sudah seperti sekandung.
Bertiga bersama Manda, mereka sering melewatkan waktu bersama. Walaupun kebersamaan lebih sering di isi untuk saling menjaili. Keakraban para tuan dan nona muda yang berasal dari keluarga kaya raya.
Tak ada persaingan dengan jalan keji. Semua mereka raih dengan usaha belajar dan saling berbagi ilmu juga pengalaman. Saling iri hati, hampir tak pernah terjadi. Benar-benar bro-sis-goals.
Ramon merupakan seorang pengacara andal. Selain memiliki kantor firma hukum di Jakarta. Ia juga pewaris tunggal dari salah satu perusahaan ritel yang cukup besar di Indonesia.
Ramon memilki latar belakang akademi perguruan tinggi yang sama dengan Finn di Amerika. Hanya berbeda jurusan, ia mengambil hukum.
Sementara Manda yang notabene ahli IT, sudah siap mengacak Hamilton Company. Ia tahu akan sulit menembusi perusahaan besar tersebut. Oleh karena itu, targetnya hanya mau membuat mereka panik saja dengan mengirim virus.
Hal tersebut sangat mudah dilakukan oleh seorang Manda. Karena, ia merupakan salah satu mahasiswa terbaik jurusan Teknologi Informasi di Amerika.
Manda sangat marah begitu tahu Finn dijebak. Apalagi, sang tersangka adalah seorang bangsawan terhormat yang seharusnya memiliki attitude baik, tetapi justru sangat licik. Oleh sebab itu, ia akan menyiapkan hadiah perkenalan untuk bule ningrat itu.
Manda memiliki moto ‘Berani mengganggu keluarganya, kau akan menghadapi Amanda Monica’. Maka ketika Finn diganggu, ucapan selamat datang lewat virus akan dengan senang hati wanita itu beri secara royal.
Sedangkan Tristan sama seperti Finn. Menyewa orang untuk mencari tahu tentang Alexander. Kakak dari Sandra itu bilang, lebih banyak orang yang mencari lebih bagus.
Tristan pun juga penasaran dengan keberadaan Kanaya. Karena, Finn bilang sang mantan kekasih menghilang. Adik iparnya mengatakan kalau besar kemungkinan Alexander menyembunyikan wanita itu di Mansion.
Tristan penasaran, apa alasan dari sang mantan mau dibayar untuk menggoda? Ia pun sangat menyesali, wanita yang dulu bertakhta di hatinya kini tak lebih dari seorang perempuan murahan. Rasa iba pun muncul.
🌺🌺🌺
Aksi di mulai. Mereka baru melakukannya setelah honeymoon Finn usai. Semua atas permintaan suami dari Sandra agar konsentrasi tidak terpecah antara sang istri dan balas dendam.
Finn, Ramon, Manda, dan Tristan melakukan pertemuan secara daring. Mereka saling bertukar kabar akan kemajuan rencana yang telah tersusun.
“Gue udah kirim virus. Lima belas menit dari sekarang, BOOM! Hamilton Company akan gempar. Mereka akan kelabakan karena semua database hilang meski hanya untuk sesaat!” Manda berkata dengan lantang. Senyum smirk pun terbit.
“WOW!” Finn, Ramon, dan Tristan berdecak kagum. Mereka memberikan tepuk tangan untuk Manda.
“Manda, lo selalu luar biasa!” Finn menambahkan pujian.
“Of course I am.” Manda tersenyum jemawa.
“Kemarin, gue sempat bertandang ke rumah Kanaya. Mereka tak tahu menahu mengenai keberadaannya. Akan tetapi, dua bulan lalu menelepon kalau dia tak bisa pulang karena ada urusan pekerjaan. Satu info lagi, kaki tangan Alexander bernama John Beck. Lelaki itu yang mengurusi dan mengatur semuanya,” terang Tristan.
“Gue merasa perempuan itu ada di mansion Alexander.” Ramon menimpali.
“Ya, Finn pun berkata demikian,” sahut Tristan.
__ADS_1
“Namun, sayang pasti sangat susah menembusi mansion Alex. Penjagaan tak mungkin longgar dan sembarangan,” jelas Finn.
“Well, Dude. Mari kita retas isi benda pipih sang kaki tangan Alexander, John Beck. Beri gue waktu satu hari ini. Bisa lebih cepat kalau kedua princess di rumah anteng tidak meneriakkan nama mommy tersayang seperti sekarang. Oke. See you.” Manda terpaksa mengakhiri pertemuan lebih dulu karena putri-putrinya semakin kencang berteriak dan menangis histeris.
Usai Manda pamit. Ketiga pria tersebut meneruskan lagi pembicaraan mereka.
“Finn, begitu kita dapat banyak bukti. Gue akan segera membuat berkas perkara tuntutan untuk Alexander dan Hamilton Company,” cakap Ramon.
“Oke.” Finn menyetujui.
“Lalu, bagaimana kondisi Field construction?” tanya Ramon.
“Masih sama. Klien masih sulit dicari,” jawab Finn.
“Finn, semua kesulitan pasti segera berlalu.” Ramon mengepalkan tangan, mengangkatnya, dan memajukan ke depan, menyemangati.
“Thanks, Ramon.” Finn tersenyum.
“Oke. Finn, Tristan, gue pamit duluan. Sebentar lagi ada meeting.” Setelah Finn dan Tristan mengangguk, Ramon mematikan jaringan.
Sekarang tinggal Finn dan Tristan. Hal tersebut langsung dimanfaatkan abang dari Sandra itu untuk menyampaikan amanat sang bunda tadi pagi.
“Finn, bunda mengundang makan, malam nanti. Lo dan Sandra, bisa datang, kan?”
Finn terdiam sejenak kemudian mengangguk. “Tentu.”
“Honey, aku menghubungi beberapa klien, menawarkan jasa kita. Tapi, mereka menolak.”
“Kemari, Bee.” Sandra menurut. Finn meminta sang istri untuk duduk di atas pangkuannya. “Kamu sedih?”
“Iya. Tapi. Ada hal yang aneh dari jawaban mereka.”
Finn menatap lekat Sandra. “Apa?”
“Mereka bilang tak mau ambil risiko perusahaan mereka hancur jika bekerja sama dengan Field Construction. Bukankah itu aneh?” Sandra menyipitkan mata ke arah Finn. “Sepertinya, memang benar ada yang ingin menghancurkanmu. Tentu, dia pasti memiliki kuasa sangat kuat. Karena, tak mungkin orang biasa sanggup mengancam para pengusaha, ‘kan?”
Ah, Sandra! Kenapa kamu sangat pandai menganalisis sesuatu dengan tepat? Kamu memang wanita cerdas. Bee, maafkan aku tak berterus terang. Aku tak mau melibatkanmu. Karena, hal tersebut pasti akan menjadi beban pikiranmu. Finn membatin.
“Honey, boleh aku melihat-lihat daftar klien dan calon klienmu selama enam bulan terakhir?” sambung Sandra memohon.
“Untuk apa?”
“Kita harus bergerak cepat.”
“Bee ….”
“Honey, kamu tidak memercayaiku?”
“Bukan begitu. Aku takut kamu lelah.”
__ADS_1
Sandra menatap Finn dengan memelas. “Kalau sudah merasa lelah aku janji akan beristirahat.”
Pilihan yang sulit untuk Finn. Tapi, jika menolak permintaan Sandra, akan membuat sang istri curiga. Bahkan bisa berefek wanita tercinta mengambek.
“Oke. Aku akan meminta Roy membawa meja kerjamu kemari.” Finn mau tahu apa yang akan ditemukan Sandra dengan berkas para klien tersebut. Jika menemukan sesuatu. Ia benar-benar akan mengacungkan jempol untuk sang istri.
“Loh ….”
“Tidak ada bantahan, Ibu Sandra Rein. Mulai saat ini, meja kerjamu berada di dalam ruanganku. Atau Anda mau saya pecat secara tidak hormat dari kantor ini?”
Sandra mendengus. “Iya. Oke, Bos. Sebagai karyawan magang saya menurut. Apalah saya yang hanya seorang bawahan ini.”
Finn menjawil hidung Sandra. “Karyawan magang, huh? Kalau begitu Anda terlalu berani untuk duduk di atas pangkuan sang bos.”
“Hei, Bos! Anda yang memintanya. Dasar atasan genit.”
“Benar juga. Lalu, kenapa mau?”
“Tentu saja mau. Mana mungkin saya menolak permintaan bos tampan yang memesona ini.”
Finn terkekeh. “Nakal sekali.”
“Harus. Supaya Anda tidak lagi mampir ke club, Bos!”
Finn berdecak, “Mulai lagi menyindir.”
Sandra cengengesan. “Aku kerja dulu, ya.”
“Tunggu. Satu lagi.”
“Apa?”
“Tadi Tristan menghubungiku. Bunda mengundang makan, malam ini.” Finn menatap Sandra tanpa berkedip ingin mengetahui reaksinya.
“Kamu bilang mau atau tidak?”
Finn mengangguk. “Kita akan datang.”
“Kalau bunda memarahimu lagi, bagaimana?”
“Cukup dengarkan saja. Bagaimanapun bunda adalah orangtuaku juga.”
“Terima kasih sudah memaklumi bunda.”
“Aku mencintai anaknya. Mengambil dari sisi kedua orangtuamu, untukku. Lantas, membawa pulang ke rumahku untuk tinggal selamanya dalam satu atap. Seumur hidup akan berjauhan dengan mereka. Hanya sesekali kalian bertemu. Wajar jika bunda memiliki kekhawatiran terhadap sang putri. Apakah bahagia atau tidak? Saat aku menyakitimu kemudian bunda marah. Itu artinya, ia sangat menyayangimu.”
“Aku memang tidak salah pilih suami. Kamu pria terbaik.” Sandra mengecup bibir Finn.
“Duh, Bee. Aku turn on. Boleh aku menunggangimu sekarang juga?”
__ADS_1