ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Serangan virus


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Alexander menyemburkan api amarah. Ia murka mengetahui Sandra dan Finn menghilang dari hotel. Bahkan, tak mengendus jejak sama sekali.


Niat untuk mengganggu keharmonisan Finn dan Sandra, gagal sudah. Akibat John dan anak buahnya tak bisa menemukan keberadaan mereka.


Pukulan diberikan Alexander untuk semua anak buahnya termasuk John. Ia merasa sudah hebat dengan memiliki orang-orang andal. Namun, ternyata mengikuti sepasang suami-istri saja mereka tak sanggup.


Usai melampiaskan emosi, Alexander menyuruh semua keluar, kecuali John. Mereka mengangguk patuh dan meninggalkan ruangan.


“Sepertinya aku terlalu meremehkan Finn. John, aku sudah tak bisa bersabar lagi. Segera saja kau seret rivalku ke mansion hidup-hidup. Aku akan membunuhnya tanpa meninggalkan jejak,” titah Alexander.


“Tuan Muda, Anda tak pernah membunuh orang. Hentikanlah semua.” John benar-benar terkejut akan perkataan sang tuan muda barusan.


“Aku terpaksa harus melakukannya agar bisa memiliki Sandra. Wanita itu cinta sejatiku.”


“Bagaimana jika tuan besar dan nyonya tahu? Mereka pasti murka.”


“Sembunyikan itu dari mom and dad, Bodoh!”


John menggelengkan kepala. Ia tak mengerti akan jalan pikiran sang tuan muda.


Cinta terkadang tak berakal. Cara haram dianggap halal. Memaksakan kehendak meski jalan itu terjal. Berkali-kali terjungkal. Namun, menganggap semua adalah aral.


Sungguh pria penuh obsesi yang mengerikan. Merebut milik orang lain pun dianggap sebagai ajang persaingan. Apalah arti wajah tampan dengan gelar bangsawan. Jika hati sudah berubah menghitam penuh keculasan.


Ketika mencintai sudah sampai menginginkan seseorang mati. Apakah itu masih bisa disebut cinta sejati?


Satu jam kemudian di Perkantoran Hamilton Company


“Tuan Muda!” John masuk ke ruangan sang ceo tanpa mengetuk. Wajahnya panik.


Alexander mendongak. Menaikkan satu alisnya. “Ada apa?”


“Virus menyerang database server kita. Semua menghilang.”


“APA?” Alexander langsung keluar ruangan. Berkeliling melihat keadaan. Benar saja, seluruh karyawannya tengah dalam kepanikan.


“Pak David sedang mencoba mengembalikan semua, Tuan Muda.”


Alexander langsung menuju ruangan David. Tangannya mengepal erat dengan wajah sangat marah.


“David, kenapa ini bisa terjadi?” tanya Alexander.


“Virus menyerang sangat cepat, Tuan Muda. Semua langsung menghilang,” jawab David tanpa mengalihkan tatapan pada layar komputer.


“Siapa yang berani melakukan ini kepada Hamilton Company? Berengsek!” geram Alexander.


“Dugaan saya, pelaku adalah orang yang cukup profesional, Tuan Muda,” jelas David.


“Sial! Apakah semua bisa kembali?” Alexander kembali bertanya.


“Sedang saya usahakan, Tuan Muda.”


Satu jam kemudian


“Bagaimana, David?”


“Susah sekali mengusirnya, Tuan Muda.”


“Sial!” Alexander langsung menarik kerah kemeja David hingga membuatnya sontak berdiri. Wajah lelaki itu sudah pucat pasi. “Aku membayarmu mahal bukan untuk kebodohan! Bekerjalah dengan benar! Jika kau tidak bisa mengembalikan semua. Aku akan memecatmu secara tidak hormat!”


“B-baik, Tuan Muda.” David sudah bercucuran keringat. Pria berkacamata dan bertubuh kecil itu ketakutan.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian semua database server kembali. David pun tercengang. Virus itu pergi dengan sendirinya.


“Tuan Muda, semua sudah kembali,” ucap David semringah. Ia tak peduli bagaimana itu bisa terjadi. Baginya saat ini, hal tersebut sudah menyelamatkan dari pemecatan.


Alexander langsung menatap layar kemudian tersenyum penuh kelegaan. “Kerja bagus, David!” Ia menepuk bahu pria itu.


Namun, sayang senyum mereka perlahan memudar. Karena, hanya selang beberapa menit virus yang sama kembali menyerang.


“Oh, tidak. Tuan Muda, mereka datang lagi,” ucap David kemudian menatap Alexander dengan rasa takut meningkat dua kali lipat.


Sementara di kediaman Manda. Wanita berparas cantik itu tengah cekikikan di depan layar komputer. Satu jam, memang waktu yang ia beri untuk virus tersebut tinggal. Setelahnya semua akan kembali normal.


Namun, Manda yang masih kesal dengan Alexander. Tak mau begitu saja menyudahi permainan. Ia benar-benar mengirimkan virus secara royal.


“Mari kita bermain-main lagi, Alexander Hamilton, bule ningrat tak tahu malu!”


Setelah berhasil menenangkan kedua princess kemudian mereka tertidur. Manda langsung berkutat kembali di depan layar komputer.


Manda butuh konsentrasi untuk meretas dan mengerjai sebuah perusahaan besar. Ia pun cukup tahu dibalik seseorang yang mencoba mengusir virus tersebut memiliki ilmu mumpuni.


Namun, sayang virus yang Manda kirim tak akan bisa diusir oleh software anti-virus apapun. Karena Manda memang membuatnya hanya bersifat sementara. Virus tersebut akan hilang dengan sendirinya.


Sambil menunggu waktu satu jam dari sekarang, Manda mengerjakan pekerjaan lain. Dengan wajah serius, ia meretas email milik John Beck dan mencoba menyadap aplikasi hijau sang kaki tangan Alexander.


🌺🌺🌺


Suara ketukan pintu menghancurkan keinginan Finn.


Sandra tersenyum mengejek. “Aku selamat.”


Membuat Finn mendengus.


“Papi.”


“Sandra, apa kabarmu, Nak?” tanya Chris seraya memeluk sang menantu.


“Aku baik, Pi,” jawab Sandra.


“Finn, ada di dalam?”


Sandra mengangguk. “Ada, Pi.”


“Boleh Papi berbicara berdua dengan suamimu?”


“Tentu saja boleh. Kalau begitu aku ke pantry dulu. Papi mau aku buatkan minum apa?”


“Air putih saja, ya.” Chris tahu benar sang menantu tak pandai urusan dapur. Jadi, tak meminta yang aneh-aneh.


“Iya, Pi.”


“Terima kasih, Nak,” ucap Chris seraya mengusap puncak kepala Sandra.


Sandra mengangguk kemudian berlalu pergi.


“Papi.” Finn langsung berdiri dan menghampiri Chris seraya memeluknya.


“Apa kabarmu, Nak?”


“Lebih Bahagia.”


“Karena keberadaan Sandra?”

__ADS_1


“Benar, Pi.” Finn mempersilakan duduk sang papi di sofa. Mereka berseberangan.


“Masih betah hidup dalam keadaan sekarat?”


“Papi, please.”


Chris menatap lekat sang putra. “Pilihan tepat kamu mengundurkan diri dari Liam Group, bukan? Setidaknya, hanya Field Construction yang diincar.”


Finn menaikkan satu alisnya. Kemudian menggelengkan kepala. “Jadi, Papi sudah tahu dari awal siapa pelakunya?”


“Tentu saja tidak. Hanya Papi membaca situasi dari cerita dan keadaanmu saat berada di rumah sakit. Jangan lupa, Papi ini pebisnis dengan jam terbang tinggi. Insting harus bermain, Nak. Kalau tidak kita akan cepat hancur. Ingat itu!”


“Iya, Pi. Aku akan banyak belajar lagi.”


Kemudian, Sandra mengetuk pintu dan masuk untuk menaruh minum dan makanan kecil.


“Terima kasih, Nak,” ucap Chris.


“Sama-sama, Pi.” Lantas Sandra segera pamit.


“Well, ini.” Chris memberikan tas koper kepada Finn.


“Apa ini, Pi?”


“Bukalah.”


Finn menatap Chris kemudian beralih pada tas koper. Perlahan, ia membuka.


Finn mengambil dokumen-dokumen di dalam kemudian mengernyit. “Ini … jadi ….”


“Benar.”


“Pi ….”


“Apa kamu pikir Papi akan diam saja melihatmu kesusahan? Meski kamu enggan meminta bantuan.”


Tas koper tersebut berisikan dokumen kepemilikian aset-aset milik Finn. Chris bekerja sama dengan Roy. Ia meminta asisten dari sang putra untuk tutup mulut.


Memang sebenarnya Finn merasa aneh. Kenapa ia sudah mendapatkan uang, tetapi belum juga diminta untuk tanda tangan berkas apa pun? Meski semua surat sudah di tangan pembeli.


Namun, sekali lagi Finn tak ambil pusing. Karena, saat itu pikirannya sedang berpusat pada Sandra seorang


“Maaf, Pi. Bukankah Papi bilang tak akan ikut campur?”


“Jika Papi jujur, nanti gengsimu yang setinggi langit itu akan terjun bebas ke dasar bumi. Kamu pasti menolak mentah-mentah.”


“Pi, aku hanya ….”


“Pembuktian? Apalagi yang ingin kamu buktikan kepada Papi? Sebagai pria dan seorang suami, kamu cukup bertanggung jawab. Dengan usiamu yang masih muda, tetapi sudah mahir berbisnis. Itu hal yang sangat membanggakan. Kamu putra kebanggan Papi, Finn Elard Liam. Jangan lupa, kamu adalah pewaris tunggal Liam Group.”


Finn menunduk dalam. “Tapi, aku gagal. Field Construction hancur, Pi.”


“Angkat kepalamu, Nak. Tatap mata lawan bicaramu saat berbicara. Jangan menunjukkan kalau kamu tengah dalam keadaan terpuruk. Musuh akan sangat senang melihat pesaingnya lemah. Itu membuat mereka dengan mudah menghancurkan kita. Tetaplah bersikap tenang dan seolah-olah kuat tak tertandingi,” tegas Chris.


Finn menurut. Ia mendongakkan kepala menatap sang papi.


“Lagi pula, itu bukan suatu kegagalan, melainkan keberhasilan yang tertunda,” tambah Chris.


Finn semakin memandang lekat sang papi. “Aku sangat beruntung sekaligus bangga memiliki orangtua sepertimu, Pi. Aku menyayangimu, sangat.”


“Kalau begitu, beri lagi Papi pelukanmu. Kemari, Nak.” Chris merentangkan kedua tangannya bersiap menyambut sang putra.

__ADS_1


__ADS_2