ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Ketahuan


__ADS_3



Pagi hari di meja makan keluarga Theo. Kedatangan Vivian membawa suasana menjadi ramai. Ia ikut sarapan bersama.


Sudah dua hari, Vivian berkunjung untuk sekadar sarapan atau makan malam. Hal tersebut sangat biasa terjadi ketika kedua orangtua wanita itu berada di luar kota atau luar negeri.


Tak ingin merasa kesepian. Jadi, lebih memilih ikut bergabung dengan keluarga tersebut. Toh, wanita itu sudah dianggap anak juga.


“Trist, nebeng, ya? Mobil masuk bengkel.” Vivian berucap santai sambil menyendok nasi goreng ke atas piring.


“Mau ke mana? Butik?”


“Enggak. Sampe perempatan aja. Nanti dari sana gue jalan kaki. Mau ke toko kain.”


“Biar gue antar sampai toko.”


“Entar elo telat. CEO harus menjadi contoh baik.”


Sudah dua hari, Tristan resmi menjabat sebagai CEO Luxury Interior Design. Menggantikan sang ayah. Theo menyerahkan perusahaan sepenuhnya kepada si sulung. Karena, ia merasa akhir-akhir ini kesehatannya menurun.


“Tidak apa, Vivian. Biar Tristan antar. Untuk sesuatu hal atau orang yang penting boleh saja,” sela Theo.


“Berarti aku penting, Yah.”


“Tentu saja. Kamu kan anak Bunda dan Ayah juga,” sahut Helena.


Theo mengangguk menyetujui ucapan sang istri.


Vivian tersenyum. “Makasih Ayah, Bunda." Kemudian, menoleh ke arah Tristan. "Sekalian temenin gue pilih bahan, ya, Trist?”


“Ini namanya dikasih hati minta usus!” sewot Tristan.


“Jantung bukan usus,” protes Vivian.


“Lo itu lebih cocok usus. Panjang, muter-muter.”


Vivian mencebik. “Lo pikir gue alat pencernaan.”


Theo dan Helena menggeleng. Tapi, mereka tersenyum. Kesunyian akibat ditinggal sang putri menikah, setidaknya tergantikan oleh kehadiran Vivian.


🌺🌺🌺


Tiba di tempat parkir toko kain. Mereka tidak langsung turun. Vivian sibuk mengacak tasnya. Tristan mengangkat satu alis melihat wanita itu menampilkan wajah panik.


“Astaga! Gue lupa token dan ponsel ketinggalan di meja rias.” Menengok ke arah Tristan. “Balik bentar ke rumah, yuk. Mau gak, Trist?”


“Ogah.”


“Atau cari tempat ATM, deh.”


“Ogah.”


“Ya, udah. Gue naik ojek aja,” kesal Vivian.


Baru mau turun, Tristan menarik tangan Vivian.


“Lo mau apa cari token?”


“Mau bayar supplier kancing. Gue janji pagi ini.”


Tristan mengambil ponselnya di laci mobil dan memberikan kepada Vivian. “Pake m-Banking gue aja. Jadi, gak bolak-balik.”

__ADS_1


Vivian mengangguk. Mengambil kartu nama di dompet berisikan catatan nomor rekening dibaliknya tersebut. Saat sedang mengetik jumlah nominal, satu pesan masuk. Bermaksud untuk menggeser agar tak mengganggu. Justru malah kena klik kemudian terbuka.


Melihat isi pesan tersebut membuat Vivian tercengang. Ia langsung meradang, aliran darah terasa panas. Menoleh ke arah Tristan dengan tatapan tajam. Memukul lengan pria itu sehingga membuatnya terkejut.


“Lo gila, ya!”


Tristan mengernyit. “Apa?”


Vivian menunjukkan isi pesan tersebut. “Minta duit kayak minta permen. Nominal seratus juta loh itu.”


Tristan mengambil ponselnya. Melihat isi pesan tersebut, ternyata dari Kanaya. Pria itu hanya ber ’oh’ ria. Membuat Vivian semakin kesal.


“Udah berapa kali si sundel minta duit sebanyak itu?”


“Baru ini. Biasanya paling 50 juta.”


“Hah! Biasanya? Trist, dia itu benalu. Berhenti, deh, kasih si sundel duit.”


“Vivian sayangnya Tristan. Kasihan Kanaya, dia butuh untuk hidup di sana. Lo tahu sendiri biaya hidup di luar negeri itu cukup besar, ‘kan?”


“Itu bukan tanggung jawab lo! Kalo udah gak sanggup kuliah di sana, ya, balik aja ke Indonesia.”


“Kok lo ngomong begitu? Beasiswanya juga sayang, Vi.”


“Trist ....”


“Cukup, Vi. Gue gak mau berdebat masalah ini. Itu bukan urusan lo.”


“Lo bakal nyesel, Trist!” Vivian keluar dari mobil dengan membanting pintu. Kemudian, menyetop taksi dan pergi.


Di dalam taksi tangan Vivian mengepal. Wajahnya terlihat kesal. Dengan sorot mata jengkel.


🌺🌺🌺


“Hidup lo berat banget.”


“Ho, oh.”


“Kak Kanaya?”


“Vivian.”


“Hah! Kenapa tu anak?”


“Ngambek.”


“Oh.”


Tristan menegakkan tubuhnya dan menatap Sandra. “Oh, doang?”


“Memang gue mesti jawab apa? Kadang suka begitu, kan?”


Tristan menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. “Dek.”


“Apa?”


Hening!


Sandra yang tengah sibuk dengan menggambar lama-lama merasa terganggu.


“Entar Vivian gue urus. Tu anak mana pernah marah lama, sih. Kayak baru kenal kemarin aja lo. Mending sekarang lo balik ke ruangan sana. Ganggu konsentrasi tahu gak.”


“Dek.”

__ADS_1


Sandra mengembuskan napas lelah. Ia beranjak bangun dan menghampiri Tristan. Kemudian, mendudukkan diri di samping sang abang.


“Tiga puluh menit. Gue akan mendengarkan semuanya. Setelah itu, lo harus out dari ruangan gue. Kerjaan gue banyak, Bos.”


“Di antara Vivian dan Kanaya, siapa yang paling lo percaya?”


“Vivianlah.”


Tristan menoleh ke arah Sandra. Menatapnya lekat. “Kenapa? Jangan jawab karena dia dekat sama kita.”


“Gue gak pernah menilai orang begitu.”


“Terus?”


“Trist, lo juga sama pahamnya dengan gue mengenai karakter Vivian. Jadi, gak perlu lagi gue menjelaskan apa pun.”


“Jadi, lo gak percaya Kanaya?”


“Gue gak bilang begitu. Lo tadi hanya menyuruh gue memilih.”


“Lo percaya Kanaya?”


“Sebenarnya ada apa, sih? To the point aja, deh.”


Tristan menunjukkan isi pesan Kanaya yang tadi dibaca Vivian kepada Sandra. Kemudian, menceritakan kejadian di mobil tadi sampai akhirnya sang tetangga marah.


Sandra sempat tercengang, tetapi ia sedikit paham kenapa Tristan melakukan hal tersebut. Mengingat keluarga Kanaya tergolong sederhana. Orang tua kekasih dari sang abang hanya pedagang kelontong biasa di Pasar. Mungkin hanya berniat membantu, begitu pemikiran istri Finn Elard Liam.


Namun, saat Tristan menjelaskan duduk persoalan perihal kenapa Vivian bisa membenci Kanaya. Mendengarnya membuat Sandra syok. Ia menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan, untuk netralisasi emosi.


Pasalnya, Sandra cukup kesal kepada Kanaya yang berselingkuh. Walaupun berita itu datang dari Vivian tanpa ada bukti. Akan tetapi, ia percaya 100% kalau sahabat sejak di dalam janin itu tak mungkin membual.


Hanya saja, sekali lagi Sandra tak mau menghakimi Kanaya. Karena, ia melihat sang abang begitu mencintai wanita itu. Tristan sedang terkena virus budak cinta level akut. Jadi, menjelekkan kekasihnya akan sangat percuma.


Kalau sudah seperti ini, hanya bukti di depan mata yang bisa membuka pikiran menjadi jernih. Seseorang yang sedang cinta buta memang tak akan peduli dengan kabar burung apa pun. Semua pasti dianggap omong kosong.


Akan tetapi, sebagai seorang adik dan pernah menjadi korban perselingkuhan sampai berkali-kali. Ia juga ingin Tristan sedikit berpikir menggunakan logika. Baik nanti Kanaya benar berselingkuh atau tidak, itu urusan belakangan. Toh, kebenaran suatu saat akan terbuka sendiri.


“Bang, sekarang gue balik tanya sama lo. Percaya omongan Kak Kanaya atau Vivian?”


“Kanaya. Tapi, bukan berarti gue menganggap Vivian berbohong, Dek.”


“Lo sedang dalam mode keraguan, Bang. Antara takut akan kebenaran berita tersebut kemudian kehilangan Kak Kanaya. Atau gak bisa lagi dekat dengan Vivian.”


“Gue hanya mau Vivian gak ikut campur. Itu aja.”


“Lo tahu betul Vivian tipikal orang seperti apa, ‘kan?”


“Tapi, bukan berarti harus ikut campur masalah orang lain juga.”


“Sayangnya kita enggak dianggap Vivian orang lain, begitu pun sebaliknya, betul?”


“Dek, gue tahu banget Kanaya. Pacaran udah sepuluh tahun dan selama ini kita baik-baik aja. Gue yakin dia setia. Mungkin yang dilihat Vivian benar, tetapi siapa tahu itu temannya, ‘kan?”


“Apa lo pernah menanyakan berita tersebut langsung sama Kak Kanaya?”


Tristan menggeleng. “Kasihan. Nanti konsentrasi kuliahnya terganggu.”


Oh, i see. Sandra membatin.


“Mau mendengar pendapat gue?”


“Hm. Apa?”

__ADS_1


__ADS_2