ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Semangat Finn, kelesuan Sandra


__ADS_3

Helena dengan dibantu Tristan, mengundang Finn makan malam secara eksklusif di malam Minggu. Wanita paruh baya itu tak akan menyia-nyiakan kesempatan.


Dua malam Minggu sudah, Finn dan Sandra bertemu. Meskipun masih berada di area rumah.


Usai acara makan makan malam, semua duduk bersama di Ruang Keluarga. Sandra mendapat ancaman khusus dari sang bunda jika berani meninggalkan lokasi. Yakni, pencabutan izin atas hobi ekstrem. Ancaman berikutnya, Helena akan menggantikan dengan kursus memasak.


Demi apa pun juga, Sandra benci berada di dapur untuk memasak. Ia tak menyukai hal-hal tersebut. Menurutnya, sangat menyusahkan dan terlampau rumit.


Entah, Sandra tak pernah cocok berada di lingkungan dapur. Terakhir, saat masih berseragam putih abu-abu, pernah mencoba untuk berubah. Akan tetapi, justru ia hampir membakar tempat tersebut. Ruangan seketika penuh dengan asap dan kobaran api membubung dari atas penggorengan. Beruntung sang bunda segera mengetahuinya jadi tidak sampai benar-benar terjadi kebakaran.


Kapok! Sandra semakin enggan mendekati kawasan yang seharusnya menjadi tempat favorit para wanita. Ia pun menganggap tempat tersebut adalah musuh terbesarnya.


“Finn, apa kabar rumah danau?” Tristan membuka obrolan. Sengaja juga ingin memancing sang adik.


Sandra memelototi Tristan.


Kan bener, itu biji mata hampir melompat keluar. Tristan berucap dalam hati, rasanya ingin tertawa.


“Baru separuh rampung, Trist,” jawab Finn.


“Rumah danau?” Helena mempertanyakan.


“Iya, Bund. Rumah danau untuk tempat tinggal nanti kalau Finn dan Sandra sudah resmi menikah,” sahut Tristan.


“APA!” teriak Helena kaget.


Hah! Bagus sekali. Dasar Abang laknat! Awas lo, Bang. Enggak bakal sudi gue merayu Kak Kanaya lagi buat elo! Sandra membatin.


“Bunda, suaranya bisa pelan, ‘kan?” Theo memperingatkan.


“Maaf, Yah. Bunda syok.”


“Finn, maksudnya apa?” tanya Theo.


“Maaf, Om. Kalau Finn belum sempat bilang perihal ini. Finn mendekati Sandra karena memang berniat ingin menikahi putri Om Theo dan Tante Helena. Rumah danau salah satu tempat berteduh yang sedang Finn persiapkan.”


“WAH!” teriak Helena lagi.

__ADS_1


Sandra yang tengah duduk persis di seberang Finn hanya bisa melotot ke arah sang ceo. Selebihnya, ia pasrah.


Mendapat tatapan seperti itu dari Sandra, Finn tak peduli. Ia justru semakin bersemangat dan menjadikan itu sebagai kesempatan emas. Karena, sang wanita tercinta tak berkutik ketika berada bersama kedua orangtuanya.


Bekerja sama dengan Tristan. Finn terus melancarkan aksinya.


“Bunda ....”


“Bunda syok part two.”


Theo menggelengkan kepala. Kemudian menatap Finn. “Sandra belum pernah bilang apa pun. Bahkan, Om tidak tahu sama sekali kalau kalian memang punya hubungan.”


“Yah, itu ....”


“Dek, biar Finn aja yang menjelaskan. Lo kan cewek. Biar calon lo ini tanggung jawab.”


“APA! TANGGUNG JAWAB! SANDRA KAMU HAMIL!” teriak Helena. Syok part three.


“Aku gak hamil. Bang, lo itu bisa gak jangan merusuh aja kerjaannya?” omel Sandra.


“Iya, Tante. Sandra enggak hamil. Kita juga tidak pacaran. Maksudnya, ingin langsung menikah. Itu pun kalau Om dan Tante merestui”


“Finn ....”


“Setuju! Tante merestui. Kalian memang tidak perlu berpacaran. Bawa saja langsung orang tua kamu untuk melamar.” Helena memotong ucapan Sandra. Ia tak akan membiarkan sang putri merusak rencananya.


“Bunda ....”


“Sandra, Finn ini sudah mapan. Mau menunggu apa lagi. Bukan begitu, Nak Finn?”


Finn tersenyum penuh kemenangan. “Iya, Tante. Kalau Sandra sudah setuju, saya akan datang lagi mengajak keluarga di rumah kesini.”


Sandra mendadak lesu.


“Om cukup salut dengan keberanian kamu meminta Sandra langsung. Tapi, keputusan tetap Om serahkan kepada yang bersangkutan.” Theo melirik sang putri. “Bagaimana, Nak?”


Helena memelototi Sandra.

__ADS_1


“Beri aku waktu. Akan aku pikirkan.” Sandra menghela napas lelah.


“Aku akan menunggu.” Finn berkata lembut. Kemudian, menatap Theo. “Selama masa tersebut, bolehkah saya melakukan pendekatan kepada Sandra, Om? Supaya lebih mengenal lagi.”


“Jaga dengan baik Sandra selama masa pendekatan. Jangan berperilaku sampai melampaui koridor norma susila. Bisa?”


Ayah? Ya, Tuhan! Kalian tahu gak, sih? Finn itu playboy, gumam Sandra.


“Iya, Om.”


Hah! Apaan? Iya-iya. Bohong! Ayah, bunda, jangan percaya. Aku udah berapa kali disosor. Pernah juga dikasih tanda merah di leher. Aduh, gimana, nih? Sandra membatin frustrasi.


“Kamu itu anak yang manis sekali, Finn. Tante suka.”


Mendengar ucapan sang bunda, Sandra rasanya mual. Dasar playboy bermulut manis, batinnya jengkel.


🌺🌺🌺


Kesetiaan itu mahal. Seorang yang murahan tak akan sanggup memiliki. Kecuali, ia mengubah kualitas hidupnya menjadi pribadi yang baik.


“Finn, aku masih meragukanmu.”


Janji saling setia terkadang hanya sebuah lafal pengucapan biasa. Banyak kasus, pengkhianatan tetap terjadi. Saat itu, rasa sakit dan kecewa tak memungkiri pasti hadir menyergap. Menyelimuti perasaan begitu kuat hingga derai air mata luruh.


Sandra mengalaminya. Berkali-kali menjalin hubungan selalu berakhir sama. Yakni, perselingkuhan. Beribu tanya sering menari di atas kepala. Kenapa? Ada apa?


Menjadi wajar jika kehati-hatian akhirnya muncul. Bahkan, memandang sinis pada si pelaku pencinta wanita. Tak ada secuil pun rasa percaya untuk mereka.


“Takdir, biarkan aku sendiri jika pria yang datang bukanlah orang yang setia. Aku lelah bersedih.”


Hidup itu pilihan. Walaupun kita tak mungkin mengubah takdir.


“Menikah. Aku hanya mau satu kali. Seperti Ayah dan Bunda. Apakah Finn bisa melakukan hal yang sama? Aku tak yakin.”


Jodoh, maut, dan rezeki memang sudah ada yang mengatur. Bahkan, telah tertulis dalam suratan takdir setiap manusia. Hanya saja, terkadang Sandra ingin menawar.


“Jodoh, aku tak meminta yang terbaik. Tapi, bisakah beri aku pria baik dan setia? Itu saja.”

__ADS_1


__ADS_2