
Sejujurnya, Finn takut mengajak Sandra berkeliling malam-malam. Ngeri kebablasan sampai pagi lagi. Bisa dimaki Tristan nanti. Karena, sebelumnya sudah berjanji tak akan mengulang.
Akan tetapi, kerinduan teramat sangat membuat Finn mau tak mau mengajak Sandra keluar. Hanya sebentar, itu janji sang ceo.
Mereka menyantap sate taichan di salah satu warung tenda daerah Selatan, Jakarta. Atas rekomendasi Finn. Rupanya sang ceo merupakan salah satu langganan di tempat tersebut.
“Aku pikir, kamu hanya suka makan di Restoran.”
“Waktu kuliah di Negeri orang. Aku sering membeli makanan di food trucks dan makan dengan mengemper bareng kawan-kawan di sana.”
“Oh, ya? Aku kira gaya hidupmu layaknya pangeran.”
“Maunya. Tapi, sayang Papi membatasi uang saku. Jadi, mau tak mau mengirit.”
“Supaya kamu belajar hidup sederhanakah?”
“Mungkin.”
“Jangan bilang kamu tinggal di tempat biasa juga di sana.”
“No. Justru kalau tempat tinggal, Papi memberikan apartemen mewah. Hanya saja tanpa asisten rumah tangga. Jadi, semua aku kerjakan sendiri.”
“Termasuk mencuci pakaian?”
“Yup. Aku pria mandiri.” Finn tertawa mengenang masa itu.
“Wah! Aku bahkan tak pernah mencuci.”
“Baby, aku akan memperlakukanmu layaknya ratu. Tenang saja. Pekerjaan hanya ada satu untukmu nanti setelah menikah.”
__ADS_1
“Apa?”
“Melayani aku seorang. That’s all.” Finn tersenyum dan mengerling menggoda.
Sandra tersenyum kikuk. “Kita pulang, ya. Sudah jam dua belas.”
“Pulang ke mana?”
“Rumah Vivian. Aku sudah bilang Bunda akan menginap di sana.”
Finn mengangguk.
Bersama sang tercinta waktu memang terasa sebentar. Namun, tetap menjadi pengobat kelelahan paling ampuh. Capek bekerja pun seketika hilang berganti semangat.
Mobil sudah terparkir kembali di luar gerbang rumah Vivian. Finn dan Sandra sudah melepas seatbelt. Akan tetapi, sang ceo meminta waktu sebentar untuk mengobrol.
“Finn, kamu tidak lelah menyetir sendiri? Kenapa tidak memakai supir?”
“Ah, begitu.” Mulai lagi kumat. Astaga! Dua kali sudah malam ini, itu mata mengerling.
“Rumah danau hampir rampung. Tinggal finishing, itu yang akan memakan waktu lama.”
Bagus. Lebih lama lagi tak apa, batin Sandra senang.
“Jangan terburu-buru. Supaya hasilnya bagus.”
Finn menatap Sandra. “Senang, huh?”
“Senang apa?” Sandra pura-pura tidak tahu.
“Kamu ini menggemaskan.” Finn geregetan sendiri.
“Semoga setelah menikah, rumah tangga kita awet, Finn. Karena ....”
__ADS_1
Finn memotong ucapan Sandra dengan ciuman. Ia tak mau mendengar hal tak enak dari bibir sang wanita tercinta. Jadi, menyambarnya adalah pilihan yang tepat.
Sandra sempat terkejut, oleh serangan dadakan tersebut. Tapi, ia teringat kata-kata Vivian mengenai kissing super hot. Jadi, bukannya mencoba melepas ciuman itu. Justru sang desainer interior membalasnya dengan panas.
Polah Sandra tentu membuat Finn kaget. Karena, ini pertama kali sang wanita tercinta membalas ciuman mereka, bahkan sangat hot.
Senang bukan main. Itulah perasaan Finn sekarang. Ia memanfaatkan hal tersebut dengan memperdalam ciuman mereka.
Beberapa saat kemudian, melepas sejenak saat dirasa pasokan oksigen mulai berkurang.
“Ba-by ... ti ... a-mo,” ucap Finn dengan deru napas tersengal-sengal.
Sandra hanya bisa memandang Finn. Ia memilih diam karena napasnya pun sama, sedang tak beraturan.
Nafsu tengah menyelimuti. Finn kembali menyambar bibir Sandra dengan hasrat menggebu. Menarik tubuh mungil itu agar semakin mendekat.
Balasan pun kembali diberikan Sandra dengan berkobar. Kini, kebakaran tengah melanda keduanya.
Saling mencecap dengan lidah menari-nari di dalam.
Tangan Finn pun mulai menyusup masuk ke dalam kaus. Bergerilya mengelus kulit punggung Sandra yang terasa halus di tangan.
Ulah Finn tersebut justru membuat Sandra tersentak kaget dan menghentikan pergulatan bibir mereka. Ia mendorong tubuh sang ceo dan melepas pagutan mesra tersebut. Kemudian, meraih kedua tangan Finn agar keluar dari area punggung.
Sandra menggelengkan kepala. “Finn, ja-ngan ... se-jauh ... i-itu.” Napas Sandra naik turun. Gara-gara mengikuti si Vivian, nih. Ajaran sesat! Tapi, salah gue, deh. Pake acara menurut, bodoh-bodoh. Memang benar, ya. Cowok tu gak bisa dikasih angin segar dikit lantas aja mau yang lebih lagi. Pokoknya, ini kissing super hot pertama dan terakhir sebelum nikah titik gak ada koma apalagi tanda tanya. Kapok!
“Ma-af.”
Tak ada satu pun yang berbicara lagi. Keduanya sedang dalam mode netralisasi napas masing-masing. Mereka hanya saling melempar pandangan.
Namun, Finn memberanikan diri membelai puncak kepala Sandra. Turun ke pipi dan mengusap bibir yang masih membengkak akibat adegan perkelahian tadi.
“A-ku rin-du ... ka-mu.”
__ADS_1