
Usai sang bunda menelepon. Memberi kabar kalau Sandra mengalami kecelakaan dan Theo anfal. Tanpa banyak berpikir langsung mengajak Vivian ke Rumah Sakit.
Begitu tiba, Tristan dan Vivian berlarian menuju ruang rawat Theo terlebih dahulu. Wajah cemas dan panik berangsur menghilang saat tahu sang ayah sudah lebih baik.
Namun, sejurus kemudian berganti dengan mimik marah. Ketika sang bunda mengatakan jika Finn berselingkuh dengan Kanaya. Sontak Tristan dan Vivian terkejut bukan main.
Dengan dada bergemuruh dan otak mendidih. Tristan melangkah cepat mencari keberadaan sang adik ipar. Ia menemukan Finn baru saja keluar dari toilet. Tanpa banyak kata, langsung mendorong masuk ke kamar mandi dan memberi pukulan selamat datang.
Tak ada satu pun orang yang mau menerima begitu saja, apabila salah satu keluarga mereka ada yang menyakiti. Begitu juga dengan Tristan. Ia sakit hati atas perlakuan Finn kepada Sandra.
Tristan memukul Finn sekuat tenaga tepat di wajah. Vivian yang berada di dekat Tristan, enggan untuk melerai. Ia sama kesalnya dengan sang kekasih terhadap suami dari Sandra itu. Jadi, memilih membiarkan.
Tadinya, Vivian ingin ikut menyumbang satu atau dua tinju. Namun, Tristan yang mengetahui akan gelagat sang kekasih yang juga sama menggebu, dengan tatapan mata dan gelengan kepala, melarang.
Darah keluar dari sudut bibir Finn. Ia tidak melawan sama sekali. Suami dari Sandra itu memilih menerima menjadi samsak emosi Tristan. Anggap saja sebagai ganti telah menyakiti sang istri. Walaupun rasanya jauh dari sebanding.
“BAJINGAN! KALAU SUDAH GAK CINTA ADEK GUE? KEMBALIKAN BAIK-BAIK! BUKAN BERSELINGKUH! LO TAHU? DEMI BISA MENGURUS LO DI RUMAH SEPENUHNYA! SANDRA RELA MENGUNDURKAN DIRI DARI PEKERJAAN YANG SANGAT IA SUKA! TAPI, LO ... AH, BERENGSEK! MALAH BERKHIANAT!” Tristan berteriak dengan suara sudah mencapai batas maksimal.
Tristan tak terima sang adik yang akhir-akhir ini mengalami kelelahan sampai sakit, akibat banyak pikiran. Memikirkan Finn dan pekerjaan, tetapi justru mendapat balasan keji dari suaminya sendiri.
__ADS_1
Tristan pikir, di hari pertama Sandra menjadi ibu rumah tangga sangat bahagia. Akan tetapi, malah mendapat celaka. Bahkan, semakin terkejut ketika mendapat bonus berita perselingkuhan Finn dengan Kanaya. Itu semua begitu menyakitkan.
Tristan merasa gagal menjaga Sandra dengan baik. Ia pun tak menyangka jika wanita yang bermain dengan Finn adalah mantan kekasihnya sendiri. Rasa sakit hati, sedih, kecewa, marah, semua terbungkus menjadi satu kepada dua orang sekaligus.
Sementara Finn terkejut akan ucapan Tristan. Ia sama sekali tak tahu jika sang istri telah berhenti bekerja demi dirinya. Rasa sesal dan bersalah yang masih bersemayam, semakin menikam jantung dan otak. Saat itu juga, aliran darah dan pernapasan seolah-olah berhenti bekerja.
Di tengah pikiran yang melanglang buana bersama kesakitan lahir dan batin. Finn kembali mendapat hadiah tinju di perut dari Tristan. Ia terjatuh ke lantai dengan wajah kesakitan dan tangan memegangi perut.
Dengan mata berkilat marah, Tristan ingin menambah lagi porsi bogem mentah di area lain. Namun, tangannya dipegang oleh Ramon.
Sepupu dari Finn itu masuk ke toilet begitu mendengar suara berisik. Lantas langsung meminta Tristan menghentikan aksinya yang mulai menggila.
“Dengar, Finn! Mulai saat ini jangan pernah lagi mendekati Sandra! Pergi jauh dari hidup adek gue! Anggap saja lo berdua sudah berpisah! Bajingan!” seru Tristan menahan geram.
“Sandra istri gue, Trist. Lo gak berhak mengatur atau melarang gue untuk bertemu.” Finn protes.
Tristan menarik salah satu sudut bibirnya ke atas, tersenyum sinis. “Apa lo bilang? Istri? Setelah apa yang lo perbuat. Masih punya muka lo menyebut adek gue begitu?” Usai mengatakan itu, ia pergi dengan Vivian mengekor.
Finn duduk bersandar dengan wajah babak belur dan raut kesedihan mendalam. Ia teringat dulu mengejar Sandra, dua keluarga dengan mudah merestui. Kecuali, istrinya yang pada saat itu melihatnya begitu sinis.
__ADS_1
Namun, sekarang orang-orang yang dulu mendukung berbalik melarang. Hanya tinggal Sandra. Finn berharap sang istri mau memaafkan dan terus bersamanya.
🌺🌺🌺
Keesokan hari
Sandra sudah dipindah ke ruang rawat. Bahkan, telah sadar. Finn hanya bisa menatap sang istri dari balik kaca yang terdapat di pintu. Itu pun terhalang oleh tubuh keluarganya yang berada di dalam. Jadi, tak bisa melihat kondisi wanita tercinta secara jelas.
Baik orangtuanya atau keluarga Sandra tak mengizinkan masuk. Finn menurut. Karena, tak ingin Theo yang baru saja pulih kembali anfal.
Apalagi, begitu mengetahui Sandra hamil, tetapi calon cucu mereka keguguran. Amarah yang sempat terjeda, berkobar lagi. Sang mami pun kembali mengibarkan bendera permusuhan.
Larangan bertemu sang istri semakin kencang bertiup dari keluarga Sandra. Finn pasrah.
Namun, tak memungkiri Finn merasa lega. Setidaknya, Sandra sudah membuka mata kembali.
Beberapa saat kemudian, Roy mengajak sang bos pulang. Dengan berat hati, Finn mengangguk.
Finn begitu nelangsa. Melangkah pun kaki rasa begitu berat meninggalkan sang istri. Tapi, apa daya. Hampir semua keluarga menjadikannya tersangka tunggal atas kecelakaan Sandra, ia memilih mengalah sesaat.
__ADS_1