ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Berdamai


__ADS_3

Usai makan malam bersama keheningan, Theo mengajak berpindah tempat ke ruang keluarga. Semua menurut.


Sandra terus mengapit erat lengan sang suami. Meski di rumahnya sendiri, tetapi entah mengapa hari ini ia merasa asing sekaligus takut? Finn pun selalu berbisik untuk menenangkan wanita tercinta ‘semua akan baik-baik saja’.


Theo mempersilakan semua duduk. Ia dan istri bersebelahan, tepat di seberang Sandra dan Finn. Sedangkan Diana dan Chris mendudukkan diri di ujung. Sementara Tristan memilih mengobrol di depan rumah bersama Vivian.


Hening!


“Ayah, Bunda, Mami, dan Papi. Finn ingin meminta maaf kalau beberapa waktu lalu menyakiti Sandra. Hingga mengalami kecelakaan dan akhirnya keguguran.” Finn memecah keheningan.


“Honey.” Sandra menatap Finn sendu.


Finn mengusap tangan sang istri lembut. Ia memang berencana untuk meminta maaf kembali kepada kedua orangtua dan mertuanya. Dan, sekarang adalah waktu yang tepat melakukan hal tersebut.


“Ayah, Bunda. Finn ingin meminta restu kembali untuk terus bersama Sandra. Finn akan menjadikan kesalahan kemarin sebagai pelajaran berharga agar tidak mengulangi,” ucap Finn sungguh-sungguh.


“Bunda sudah mengetahui semuanya dari Tristan. Bunda memaafkanmu. Tapi, tolong. Bisakah kamu menjaga Sandra dengan baik, Finn? Kamu menyakitinya sedikit saja, itu sama juga membuat sakit hati Bunda,” terang Helena dengan nada sedih.


Finn beranjak bangun dan bersimpuh di depan Helena dan Theo seraya menunduk. “Terima kasih sudah memberi Finn maaf, Bunda. Finn berjanji akan selalu menjaga Sandra dan tak akan menyakitinya lagi.”


Helena mengusap lembut kepala Finn dan menyuruhnya bangun. Kemudian, memeluk sang menantu.


“Bunda juga minta maaf kepadamu, ya,” ucap Helena.


“Sebagai orangtua, sudah sepatutnya bunda marah. Aku mengerti, Bund. Aku menyayangi Bunda dan Ayah.”


“Terima kasih, Nak.”


Finn mengangguk. Lalu, memeluk Theo. Kemudian, beralih kepada sang mami.


“Mami, Finn minta maaf.”


Diana langsung memeluk sang putra erat. “Mami juga minta maaf telah meninggalkanmu sendirian.”


“Aku menyayangi Mami dan Papi.”


“Kita pun.”


Sandra tersenyum lega melihat semua sudah kembali berdamai. Memang inilah yang ia inginkan, tak ada keributan.


Satu jam kemudian


Usai mengobrol dengan suasana yang sudah kembali hangat. Diana dan Chris pamit pulang.


Finn dan Sandra diminta langsung sang bunda untuk menginap. Mereka menurut.


Lalu, setelah Helena dan Theo pamit tidur. Sandra memutuskan untuk mengobrol dengan Vivian di halaman belakang. Sementara Finn bersama Tristan di depan.


“Vi, tadi siang gue periksa semua calon dan klien Field Constrution. Di situ ada perusahaan Hamilton Company mengajukan berkas kerjasama, tetapi tak berlanjut. Entah alasannya apa? Padahal, nominalnya wow banget!”


“Hamilton Company? Siapa? Kenapa?” tanya Vivian beruntun.


Sandra menjelaskan siapa dibalik CEO Hamilton Company. Ia pun menerangkan hubungannya dengan Alexander. Bahkan, memberi tahu jika mereka satu hotel yang sama di puncak ketika honeymoon beberapa hari lalu.


“Aneh gak, sih? Padahal, mereka pernah bertemu. Gue pun yakin, baik Finn ataupun Alex saling mengetahui nama masing-masing. Tapi, waktu di hotel kayak orang gak pernah kenal.”


“Lo mencurigai apa?” tanya Vivian.


“Pasti ada sesuatu hal terjadi di antara mereka. Gue yakin itu.”


“Finn jealous kali sama Alex?”


“Jealous? Gue sama Alex hanya teman.”

__ADS_1


“Terus, lo mau tahu apa? Si sundel aja sampai sekarang kita belum ketemu titik terangnya ada di mana? Lo mau nambah lagi nyari tahu tentang Alex dan Finn?”


“Gue memang harus cari tahu. Karena, kalau hanya bisnis yang batal gak akan membuat mereka seolah-olah bersikap tidak saling mengenal, ‘kan?”


“Kenapa gak nanya langsung aja sama Finn, sih?”


“Iya, nanti gue tanya. Tapi, gue yakin seratus persen kalau Finn gak akan tu bicara secara gamblang.”


“Sumpah, Sand! Lo ribet!”


“Lo bilang mau bantu gue.”


“Oke. Besok cari alasan sana sama Finn. Kita cabut berdua.”


“Oke.”


“Mau mulai dari mana?”


“Kantor Alex. Gue akan mengajukan berkas kerjasama.”


“Hah! Sinting! To the point banget, sih, lo! Bahaya, Sand!”


Sandra menggeleng. “Alex yang gue kenal itu baik banget dan juga sopan. Dari mana bahayanya?”


“Orang bisa berubah, Sand.”


“Mau bantu, gak?”


“Iya-iya.”


“Nah, gitu dong.” Sandra tersenyum misterius.


🌺🌺🌺


Finn dan Tristan tengah tertawa. Menertawakan Hamilton Company yang tengah kocar-kacir. Tadi sore, mereka mendapat pesan dari Manda. Kalau ia tiga kali mengerjai mereka dan berhasil tanpa ketahuan.


"Gue penasaran sama Alex? Pasti bangsawan itu murka banget."


"Pastinya."


Finn dan Tristan saling bertos ria.


“Sepupu gue yang satu itu memang juaranya teknologi.”


Tristan mengangguk setuju. “Terus, besok jadi kita ke rumah Manda?"


“Jadi. Nanti gue beri tahu alamatnya sama elo, Trist.”


“Oke. Lalu, Sandra?”


“Gue akan buat alasan besok supaya Sandra gak ikut.”


“Oke.”


🌺🌺🌺


“Ini kali pertama aku bermalam di rumahmu. Juga di kamar ini.”


Sandra mengangguk. “Aku lega kita semua berdamai. Akhirnya, bunda dan mami melunakkan hati untuk kita.”


“Aku pun senang. Restu sudah aku dapatkan kembali.”


Sepasang suami-istri itu tengah berada di balkon kamar Sandra. Finn mengungkung tubuh sang istri dari belakang dengan tangan berpegangan pada pembatas besi.

__ADS_1


“Honey.”


“Apa?”


“Di bawah sana saat kita berpisah, kamu selalu berdiri memandangi kamarku. Waktu itu, kamu merindukanku, ‘kan?”


“Bicara yang lain, ya. Aku malu, Bee. Ketahuan sekali aku bucin sama kamu.”


Sandra tersipu. Ia menyikut pelan perut Finn menggunakan siku. “Benarkah kamu bucin kepadaku?”


Finn memeluk Sandra. Menyembunyikan wajah malunya di kepala bagian belakang sang istri. Menenggelamkan diri pada rambut wanita tercinta. “Sudah, ya, bicara yang lain saja. Please.”


Sandra membalikkan badan. Menatap lekat Finn. “Bilang cinta padaku.”


“Ti amo.”


“Seperti apa aku di matamu?”


“Lebah adalah binatang kecil yang menarik, dari keunikannya punya keistimewaan tersendiri, memiliki harga diri, seperti kamu. Lebah juga tidak pernah menyerang, tetapi ketika diganggu, ia akan menyengat. Persis saat kamu meninju perutku. Aku tahu tinju tersebut adalah bentuk serangan karena telah menyakitimu.”


“Kita impas.”


Finn mencubit pipi Sandra. “Gemas banget, sih.”


Sandra tersenyum. “Honey, besok aku mau pergi bersama Vivian boleh, ya?”


“Mau ke mana?”


“Jalan-jalan saja.”


“Oke.” Kebetulan sekali. Jadi, aku tak perlu bersusah-payah untuk mencari alasan.


Sandra tersenyum. “Honey, boleh aku bertanya sesuatu?”


“Apa?”


“Tadi siang aku melihat data klienmu ada berkas Hamilton Company dengan CEO-nya adalah Alexander Hamilton. Lalu, kenapa di hotel kalian seolah-olah tidak saling mengenal?”


Finn terdiam sejenak. Kemudian berkata, “Aku terlalu terkejut ternyata kamu mengenalnya.”


“Alex hanya temanku ketika di Bandung.”


“Iya, aku percaya.” Finn mengalihkan pembicaraan. Ia enggan membahas bajingan tengik itu. “Aku ingin memiliki banyak anak denganmu.”


“Berapa?”


Finn terlihat berpikir. “Sepuluh mungkin. Rumah kita pasti ramai sekali.”


Sandra kaget. “Honey, kamu mau buat kesebelasan?”


“Aku anak tunggal. Sepi berada di rumah, Bee.”


“Dua saja.”


“Delapan.”


“Tiga.”


“Tujuh.”


“Lima.”


“Oke. Fix. Lima.” Finn langsung memeluk erat Sandra agar sang istri tidak lagi protes.

__ADS_1


Sandra menghela napas. Membayangkan ia akan melahirkan sebanyak lima kali membuatnya menelan saliva.


Namun, beberapa saat kemudian membatin, lima orang anak? Pasrah, deh. Toh, Daddy kandungnya Finn Elard Liam. Anak-anakku nanti pasti berkualitas tinggi. Bibitnya kan unggulan. Ia tersenyum senang karena pikiran tersebut dan langsung membalas pelukan sang suami.


__ADS_2