
Vivian kembali dan melihat Sandra terbengang.
“Hei, kenapa lo?”
Sandra tersadar. Tersenyum. “Enggak papa.”
Vivian teringat sesuatu. “O, iya. Gue sampe lupa mau menanyakan ini sama lo.”
“Apa?”
“Ke mana Tristan? Tadi pagi, Bunda tanya gue. Kata Bunda sudah empat hari enggak ada kabar.”
“Entah.” Sori, Vi. Tristan berpesan sama gue untuk gak memberi tahu siapa pun di mana keberadaannya saat ini. Termasuk Bunda, Ayah, dan elo.
“Ish, adik macam apa, sih? Lo gak khawatir?”
“Tristan bukan anak kecil lagi, Vi. Dulu zaman doi kuliah pas mendaki. Terus hilang di gunung aja. Tahu-tahu nongol sambil cengengesan di Pos. Padahal, kita dan yang lain udah panik setengah mati. Inget gak?”
“Iya, sih.”
Sudah satu bulan mereka tidak bertegur sapa. Wanita itu masih dalam mode jengkel kepada Tristan. Namun, sekarang wajah Vivian terlihat cemas. Meskipun ucapan Sandra sedikit menenangkan, tetapi tetap saja tak memungkiri jika ia khawatir.
Karena sedang marahan. Jadi, Vivian tak tahu apa pun. Padahal, biasanya sering bertukar kabar.
“Vivian!” Berkali-kali memanggil, tetapi tak menyahut membuat Sandra pada akhirnya berteriak.
“Apa, sih, Sand?”
“Ayo, cabut.”
“Tunggu!” Vivian memegang tangan Sandra. “Kita balik aja, deh. Tiba-tiba selera berbelanja gue hilang.”
“Lo kepikiran Tristan?”
“Iyalah.”
“Astaga! Vi, sebelum Tristan raib. Doi telepon gue, katanya lagi ada urusan penting. Jadi, lo gak usah khawatir, ya.”
“Urusan apa?”
“Nanti doi pulang gue tanya. Oke.”
“Kalo Tristan pulang, langsung kasih kabar gue.”
“Cie, yang cemas. Sweet banget. Adik-kakak macam apa kalian?”
“Sandra! Resek lo!”
Sandra tertawa. “Ngambek aja terus.”
“Diem. Bawel.” Kemudian, menyeret tangan Sandra. “Ayo, gue anter pulang.”
🌺🌺🌺
Menyandarkan tubuh ke punggung atletis. Melingkarkan kedua tangan di perut sang suami dan menyelonong masuk ke dalam kaus. Mengelus perut kotak-kotak yang selalu membuat hilang kontrol ketika memandang.
“Kangen.”
Finn sempat terkejut kemudian langsung rileks kembali seraya tersenyum. Ia sedang tanggung menggambar rancangan bangunan. Kebetulan pria itu bekerja dengan berdiri.
__ADS_1
“Aku juga kangen.” Finn berkata dengan menahan sesuatu. Jemari lembut yang tengah menari itu membuatnya hampir kehilangan konsentrasi.
“Senang tidak aku pulang cepat?” Tangan Sandra semakin naik ke atas.
“Iya. Tapi, ada apa? Kalian bersenang-senang, ‘kan?”
“Hanya ke salon. Vivian badmood karena Tristan hilang. Jadi, gagal shopping.”
“Hilang?”
Sandra menceritakan perihal Tristan kepada Finn. Dengan sang suami, ia mengatakan semuanya.
“Jadi, begitu. Kamu yakin Tristan baik-baik saja?”
“Iya.”
“Ya, sudah. Nanti kapan-kapan berbelanja denganku.”
“Oke.”
Sandra melepas pelukan. Ia mau mengubah posisi, memeluk Finn dari depan. Masuk ke dalam kungkungan sang suami yang tengah serius di meja gambar.
“Bee, kenakalanmu bisakah menunggu sebentar lagi? Aku sedang tanggung.”
“Aku hanya mau peluk dari depan.”
“Dengan tangan menggerayangiku?”
“Suka?”
“Iya, aku suka. Sangat. Tapi, aku menjadi tidak konsentrasi.”
Finn menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Ia menelan saliva dengan susah payah. Tangan Sandra dengan seenaknya traveling di area punggung dan terus turun ke bawah.
“Siapa yang tadi pagi minta libur weekend?”
“Siapa? Aku lupa.”
Finn menegang, tetapi masih ia tahan. “Bee ....”
“Honey, aku mau berenang. Tanpa apa pun. Mau ikut?” bisik Sandra sensual seraya menggigit kecil telinga Finn. Meremas bokong sang suami. Kemudian, tanpa rasa bersalah pergi berlalu begitu saja.
Aksi menggoda dan genit yang sering Finn pertunjukan kepada Sandra. Sepertinya merasuk ke dalam pikiran sang istri. Buktinya, wanita itu mempraktikkan sama persis. Seandainya itu virus, adik dari Tristan itu fix sudah tertulari.
Finn memejamkan mata. Kembali menarik napas panjang, mengembuskan perlahan. Ia menoleh ke arah Sandra yang tengah berjalan hampir mendekati pintu. Di matanya kini, langkah sang istri terlihat menggiurkan.
“O, shit. Bee, kamu benar-benar, ya.” Seperti magnet, Finn langsung tertarik mendekat. Dengan cepat, ia membopong sang istri.
Sandra berteriak. Sejurus kemudian tertawa. “Menyerah, huh?”
“Awas, ya. Aku akan menghabisimu tanpa ampun.”
Sandra berpura-pura ngilu. “Itu mengerikan, Honey.” Kemudian, mengalungkan kedua tangan ke leher Finn dan mendaratkan ciuman.
Sepanjang perjalanan mereka saling mencecap. Menjelajah lembut dengan lidah. Pertempuran dua benda kenyal itu layaknya rasa kembang gula, terasa manis.
Finn tidak membawa Sandra ke kolam renang. Melainkan ke kamar mereka.
Mengubah posisi dengan menggendong di depan saling berhadapan. Menyandarkan sang istri di balik pintu tanpa berniat melepas perkelahian tersebut. Sandra pun mengalungkan kedua tangan di leher dengan melingkarkan kakinya ke pinggang Finn agar tidak jatuh.
__ADS_1
Puas melakukannya. Finn melepas pagutan mereka. Membawa Sandra ke atas pembaringan. Menaruhnya perlahan. Dengan tidak sabar, Finn merobek kemeja sang istri dan membuangnya sembarang.
“Hei, lelaki penuh gairah. Kamu merusaknya. Itu pemberian Mami.”
“Mami pun tak akan marah kalau tahu alasan dibalik rusaknya baju tersebut.”
Kabut gairah semakin menyelimuti. Peluit permainan pun telah berbunyi. Waktunya merasai surga duniawi.
Langit yang tadi masih kemerahan pada akhirnya lenyap. Berganti dengan kemunculan senyum rembulan.
Namun, peraduan belum juga usai. Hasrat asmara sang ceo begitu membubung tinggi. Sandra pun memilih pasrah oleh perang yang ia mulai tadi. Karena, serangan belum juga ada tanda-tanda akan berakhir.
Mengibarkan bendera putih pun Sandra rasa percuma. Pasalnya, stamina sang suami bagai kuda tengah berada di pacuan. Terus menunggang tanpa henti sebelum menyentuh garis finish.
🌺🌺🌺
Dering telepon berkali-kali berbunyi. Menggema seantero kamar. Dua insan yang kelelahan tak mengindahkannya.
Namun, dengan tak tahu malu. Telepon itu terus berdering. Mengusik ketenangan.
Sandra mulai membuka mata. Menyingkirkan tangan Finn dari perut. Akan tetapi, malah semakin mengeratkan.
“Honey, biarkan aku mengangkat telepon sebentar.”
Finn mengendurkan pelukan, tetapi tetap tak sepenuhnya melepas. Ia mengikuti ke mana Sandra bergeser.
Sandra mengangkat gagang telepon dengan Finn menganggu. Sang suami menciumi punggung polosnya. Membuat wanita itu merasa kegelian. Perang dahsyat tadi seolah-olah belum cukup.
“Halo.”
“Gue di depan pintu.”
Telepon terputus.
Sandra mengernyit mendengar suara bernada sedih. Terdiam sesaat. Kesadaran belum sepenuhnya hadir.
“Bee, siapa?”
Suara parau Finn mengembalikan jiwa Sandra. Dengan cepat turun dari kasur. Masuk ke kamar mandi sebentar dan memakai pakaian.
Baru mau melangkah keluar. Finn bertanya apa yang sedang terjadi.
Sandra menjawab siapa yang menelepon tadi.
Finn pun meminta waktu sebentar untuk ke kamar mandi dan memakai pakaian. Kemudian, keduanya melangkah keluar secara bersama-sama.
Sandra membuka pintu rumahnya.
Tanpa basa-basi menyapa. Seseorang yang tadi berada di balik pintu langsung menghambur kepelukan Sandra. Memeluknya sangat erat.
“Semua benar.”
Tengkiu sudah mampir.
Untuk jejak like, hadiah, vote, dan komen tengkiu juga.
Maapkeun belum sempat balas komentar kakak-kakak. Tapi, aku selalu baca kok.
Saranghaeyo ailophyuufull buat semua 😘💞🤗😉
__ADS_1