ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Sang mantan


__ADS_3

Maapkeun, slow update #salim #sungkem ✌️😇


Beberapa hari kemudian


Tristan menghubungi John Beck untuk menanyakan kabar Kanaya. Namun, tercengang dengan jawaban pria itu. Tangan kanan Alexander bilang, sudah membebaskan sang mantan usai mereka menyatroni atasannya tiga bulan lalu.


Penasaran, Tristan menanyakan alasannya. John mengatakan kalau Kanaya tengah hamil. Jadi, Alexander membebaskan. Itu saja.


Padahal, di balik semua itu adalah karena Alexander tak mau orang menuduh yang tidak-tidak. Apalagi, kalau sampai Sandra mendengar, bangsawan itu bilang takut sang wanita yang ia cinta salah paham dan semakin menjauh. Untuk pernyataan ini, John tak memberi tahu Tristan.


John memberi satu alasan lain lagi. Yaitu, karena Finn sudah mengetahui kalau Kanaya adalah umpan. Jadi, Alexander merasa wanita tersebut sudah tak berguna dan bukan lagi sebuah ancaman.


“Sayang!” Vivian memanggil dan melangkah mendekati. “Mau ke mana?”


Tristan terkejut dengan kedatangan Vivian yang tiba-tiba. Ia tersenyum kikuk. “Aku … itu ….”


“Boleh aku ikut?”


“Ikut? Sayang, aku ….”


“Aku tahu kamu mau menemui Kanaya, bukan?”


Diam-diam, Vivian pun bertanya kepada John Beck perihal Kanaya. Ia pun sempat kaget karena tangan kanan Alexander itu mengatakan kalau sang kekasih juga bertanya hal yang sama.


Tristan langsung menghampiri Vivian dan meraih kedua tangan sang kekasih. “Sayang, jangan salah paham. Aku hanya mau memastikan dia memang berada di rumah orangtuanya, itu saja.”


“Kalau begitu, biarkan aku ikut. Kalau tidak, sudah pasti aku salah paham. Aku bukan posesif. Hanya saja tak suka melihatmu mengkhawatirkan wanita licik itu. Nanti dia bisa kembali merayumu.”


Meski kesal mendengar Tristan masih memiliki rasa kepada Kanaya. Tapi, Vivian mengabaikan sesaat. Karena, tak mau merelakan begitu saja lelaki yang ia cinta jatuh kembali kepelukan sang mantan.


Tristan mengembuskan napas lelah. Kemudian, menarik tangan Vivian. “Oke. Ayo.”


Tristan tak mau sang kekasih salah paham terlalu jauh. Jadi, lebih baik mengalah.


🌺🌺🌺


Tristan memarkir mobil di sebuah lahan kosong di pinggir jalan. Karena, untuk mencapai rumah Kanaya harus melewati gang dengan kapasitas hanya motor saja yang dapat melalui.


Tristan dan Vivian sudah berada tepat di depan sebuah rumah sederhana. Mengetuk dua kali. Kemudian, pintu terbuka dengan menampilkan sosok wanita paruh baya. Wajah sepuh itu tampak panik.


Saat melihat siapa sosok yang datang. Wanita itu langsung memeluk erat Tristan kemudian menangis.


“Ibu, ada apa?” tanya Tristan bingung.


“Kanaya ada di dalam. Anak ibu sedang kesakitan. Tolong, Tristan.”


Belum juga Tristan menjawab. Suara teriakan Kanaya menggema. Mereka langsung melangkah masuk dengan Vivian mengekor.


“Kanaya,” panggil Tristan.


Tristan dan Vivian cukup syok melihat keadaan Kanaya. Wajah yang biasa terlihat cantik dan mungil, kini kusut tak terurus. Di tengah kehamilan bahkan sangat kurus.


Kanaya berteriak, “SAKIT! TOLONG!” Ia memegangi perutnya. Darah dan air bening pun mengalir dari sela kaki.


Tanpa banyak kata, Tristan langsung membopong Kanaya dan membawanya ke rumah sakit. Kedua orangtua sang mantan turut serta.


Vivian mengambil alih kemudi. Ia melajukan mobil dengan raut wajah panik. Karena, kali pertama membawa wanita hamil.


🌺🌺🌺


Wajah cemas kentara terlihat dari kedua orangtua Kanaya dan Tristan. Mereka berada di depan ruang operasi. Dokter meminta keluarga menyetujui untuk melakukan bedah sesar karena air ketuban mulai mengering.


Usai keluarga menyetujui dan Tristan selesai mengurus administrasi. Operasi mulai dilakukan.


Beberapa jam kemudian suster keluar untuk memanggil suami pasien. Ia menghampiri Tristan dan menyuruhnya masuk. Tanpa bantahan, Abang dari Sandra itu menurut.


Vivian yang tengah duduk tepat di depan ruang operasi dekat Tristan hanya bisa terpaku. Demi kemanusiaan, ia memilih diam. Tapi, sahabat dari Sandra itu tak memungkiri kalau hatinya kini remuk dan miris dengan kisah percintaannya.


“Pak, istri Anda baik-baik saja. Namun, sekarang masih belum siuman. Karena, kita membiusnya total. Sementara putri Anda harus menjalani perawatan intensif di ruang NICU. Ia terlahir prematur dengan usia kehamilan 27 minggu,” terang sang dokter.


“Iya. Terima kasih sudah melakukan yang terbaik, Dok.” Tristan tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi, hanya itu yang bisa ia ucapkan.


Beberapa saat kemudian, Tristan keluar dan menghampiri kedua orangtua Kanaya. Ia mengatakan semua apa yang dokter katakan.


“Terima kasih sudah mau menolong, Tristan. Ibu sedih dengan keadaan Kanaya. Kita cukup terpukul ketika tiga bulan lalu anak itu pulang dan bilang tengah mengandung.”


“Ibu sudah menghubungi ayah dari anak yang di kandung Kanaya?” tanya Tristan.


“Kata Kanaya, ayah anak itu sudah meninggal karena overdosis di Australia. Jadi, ia kembali ke Indonesia. Di sana, tak ada satu orang pun teman yang mau menampung setelah hidupnya susah,” jawab wanita sepuh itu.

__ADS_1


Tristan tahu benar pergaulan Kanaya di Negeri Kanguru, sangat bebas. Lalu, setelah mendengar rentetan kisah hidup lain, ia menjadi iba. Mirisnya lagi, ayah anak itu sudah berpulang.


Tunggu! Kanaya hamil kemudian sang kekasih meninggal. Lalu, kembali ke Indonesia dan menjebak Finn. Apakah Alexander tahu umpan perempuan untuk penjebakan adalah mantanku? Dan, mungkinkah wanita itu memiliki maksud lain sampai menyetujui rencana keji tersebut? Misal, mencari ganti untuk menjadi ayah calon anaknya kelak? Ah, semakin kusut saja. Tristan membatin.


“Maaf, saya membuat Ibu sedih dengan menanyakannya,” sesal Tristan.


“Tak apa, Tristan.” Kali ini Bapak Kanaya bersuara. “Bolehkah Bapak meminta sesuatu darimu?”


“Apa?” tanya Tristan.


“Maukah Tristan menikahi Kanaya? Bapak hanya khawatir tentang anaknya yang tidak memiliki seorang ayah. Pasti menjadi bahan cemoohan.” Pria tua itu memohon.


Vivian dengan jelas mendengar permintaan tak lazim tersebut dan cukup terkejut. Tapi, ia diam. Wanita itu menunggu reaksi Tristan. Apakah menyetujui atau tidak?


“Itu ….”


“Tristan, tolong keluarga kami. Kasihan anak dan cucu Bapak,” potong pria tua itu dengan wajah memelas.


Tristan terdiam cukup lama. Vivian melihat itu mulai muak.


Vivian kesal melihat Tristan terlihat berpikir. Seperti mempertimbangkan permintaan tersebut.


Seharusnya, jika kamu mencintaiku. Kamu akan langsung menolak tanpa berpikir lama. Tapi, ternyata rasa cintamu lebih besar kepada Kanaya ketimbang aku. Aku kecewa, Trist. Vivian membatin.


Tak mau terlihat menyedihkan di depan Tristan. Vivian memilih beranjak bangun. Ia ingin pergi dari situasi yang membuat jantungnya seperti diremas, mendongkolkan.


Namun, baru saja Vivian ingin melangkah. Tristan yang berdiri tepat membelakangi sang kekasih, meraih tangan wanita tersayang dan menggenggamnya erat.


“Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Saya sudah memiliki calon istri.” Tristan menarik tangan sang kekasih agar mendekat. Kemudian, dengan bangga memberi tahu kedua orangtua Kanaya. “Wanita ini bernama Vivian, ia segalanya untuk saya. Kita berdua saling mencintai dan akan segera menikah.”


Bapak dan Ibu Kanaya terlihat malu. Mereka menunduk dalam.


“Tristan ….”


“Jangan pergi.” Tristan memotong ucapan Vivian.


“Maaf, bapak bicara melantur tadi.” Kemudian, menatap Vivian. “Bapak tidak mengetahui kalau kamu ternyata adalah calon istri Tristan.”


“Tak apa, Pak,” sahut Vivian ramah seraya tersenyum.


“Tristan, kita tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya rumah sakit. Itu ….”


“Terima kasih, Tristan.” Kemudian, Ibu Kanaya menatap Vivian. “Kamu beruntung, Nak. Tristan pria yang baik.”


Vivian tak menyahut, tetapi memberikan seulas senyum dan mengangguk.


🌺🌺🌺


Beberapa jam kemudian


Kanaya sudah dipindah ke ruang rawat. Tristan memberinya kamar VVIP. Sebelumnya, telah meminta izin kepada Vivian dan sang kekasih mengangguk setuju.


“Tristan, aku minta maaf,” ucap Kanaya seraya meraih tangan sang mantan dan menggenggamnya erat.


Di dalam kamar rawat, hanya ada Kanaya, Tristan, dan Vivian. Kedua orangtua sang mantan berada di luar agar mereka leluasa berbicara.


“Aku sudah memberimu maaf.” Tristan melepaskan genggaman Kanaya dan menaruh kedua tangannya ke belakang. Lalu, mundur dua langkah agar tidak terlalu dekat dengan sang mantan. Ia tak mau menciptakan masalah baru sehingga membuat Vivian salah paham atau cemburu.


“Sampaikan maafku juga untuk Sandra dan suaminya,” ucap Kanaya lagi.


“Aku akan menyampaikannya,” sahut Tristan.


“Terima kasih.” Kanaya tersenyum semringah.


“Kalau begitu, aku pulang dulu,” pamit Tristan.


“Trist, apa besok kamu datang lagi?” tanya Kanaya.


“Entahlah.” Tristan menjawab singkat.


“Jika pun datang, gue pasti ikut,” sela Vivian.


“Jangan bilang kalau kalian memiliki hubungan,” tuduh Kanaya.


“Ya. Vivian calon istriku.” Tristan menjawab cepat.


Kanaya tercengang. Bulir air mata mulai mengalir.


“Ternyata kamu tak berbeda jauh denganku. Kamu juga berselingkuh, Trist.” Kembali, Kanaya menuduh.

__ADS_1


“Aku tidak berselingkuh. Aku dan Vivian menjalin kasih setelah kita putus,” sanggah Tristan.


“Secepat itu kamu melupakanku,” ucap Kanaya dengan tidak tahu malu.


Vivian mulai geram. Ia mengepalkan tangan. Kalau saja Kanaya tidak habis melahirkan, mungkin sudah kena bogem mentah.


“Kita berdua pamit. Semoga lekas pulih, Kanaya.” Tristan yang tahu Vivian kesal. Memilih untuk mengakhiri pembicaraan dengan cara pulang daripada terjadi keributan.


“Tristan, aku masih cinta kamu,” lirih Kanaya.


Tristan tak memedulikan ucapan Kanaya. Ia langsung menarik Vivian keluar dari ruangan.


🌺🌺🌺


“Heran! Ada, ya, manusia tidak tahu diri! Kesalahan sudah menggunung sama kamu, tetapi dengan mudahnya bilang ‘aku masih cinta’ sungguh menjijikkan!” seru Vivian.


“Sayang, sudah. Berhenti mengomel. Aku kan tidak menanggapi.”


Namun, tetap saja sepanjang perjalanan pulang, Vivian masih mengoceh.


“Aku tidak mau tahu. Kamu harus segera mengenyahkan perasaan terhadap Kanaya atau kita lebih baik putus!”


Tristan mengembuskan napas lelah. Ia tak perlu bertanya dari mana Vivian tahu tentang perasaannya terhadap Kanaya.


Karena, pada hari saat mengobrol dengan Sandra, sang bunda memberi tahu kalau Vivian datang menjenguk. Akan tetapi, tak lama kemudian malah pamit pulang. Tristan menduga pasti kekasihnya mendengar sedikit obrolan tersebut.


Sejak hari itu, Vivian pun sudah tak datang menjenguk. Tristan memilih membiarkan. Maksudnya, agar sang kekasih tenang dulu baru nanti mereka bicara dengan kepala dingin.


Tapi, tadi pagi justru Vivian datang. Belum sempat menjelaskan, tetapi sang kekasih harus ikut terlibat kisah pelik di hari ini. Namun, pada akhirnya Tristan tak menyesal akan kehadiran wanita tersayang.


“Iya. Sekarang, aku lebih mencintaimu. Hanya kamu yang aku inginkan. Sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anakku kelak.”


“Terus, kapan aku dilamar?”


“Aku pernah bilang, setelah Sandra memiliki anak. Minimal satu saja.”


“Oke. Mulai besok, aku akan meneror Sandra agar cepat kembali hamil dan melahirkan.”


“Lakukanlah sesukamu, Sayang.”


🌺🌺🌺


Keesokan hari, Tristan mendapat telepon dari rumah sakit kalau anak Kanaya meninggal dunia akibat komplikasi. Ia dan Vivian pun bergegas datang.


Kondisi Kanaya terguncang hebat. Wanita itu terus menangis dan berteriak. Membuat Tristan dan Vivian iba.


Kemudian, Tristan bersama Bapak dari Kanaya mengurus penguburan sang jabang bayi yang baru berumur satu hari. Sementara Vivian menemani Ibu dari mantan sang kekasih di rumah sakit.


Selesai semua urusan, sepasang kekasih tersebut pamit pulang. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan.


“Sayang, sudah sampai. Tidak mau turun.” Tristan membelai pipi Vivian lembut.


Vivian yang tengah terbengang menoleh. “Aku memang membenci Kanaya. Tapi, melihat hidupnya sekarang. Aku kasihan.”


“Kita berdoa saja semoga Kanaya dan keluarganya selalu dalam keadaan baik.”


Vivian mengangguk.


Dua hari kemudian


Tristan dan Vivian kembali pada rutinitas mereka. Pekerjaan menumpuk akibat beberapa hari absen masuk kantor.


Tristan pun sudah tidak lagi datang ke rumah sakit. Toh, ia pikir ada kedua orangtua Kanaya yang menjaga.


Namun, saat ponsel berdering. Tristan mengangkatnya kemudian langsung bergegas pergi menuju butik untuk menjemput Vivian. Lalu, mereka berdua menuju rumah sakit.


Tangis pecah dari kedua orangtua Kanaya. Vivian menghampiri Ibu Kanaya dan memeluknya erat.


Tristan tak dapat berkata-kata. Pria itu tak menyangka akan begini akhir hidup sang mantan, tragis.


Tristan pun hanya bisa berdiam diri di depan kamar jenazah. Di dalam sana, jasad Kanaya terbujur berlumuran darah. Pria itu tak kuat berlama-lama melihatnya. Jadi, memilih segera keluar.


Kanaya tewas bunuh diri. Ia melompat dari lantai teratas rumah sakit. Tubuhnya terjerembap dengan keras di atas aspal. Sesaat kemudian jiwa terlepas dari raga.


Kanaya merasa tak lagi ada gunanya masih bernapas di dunia. Anak telah berpulang. Memiliki orangtua pun tiada arti. Karena, terus-menerus menyalahkan atas kehidupan yang gagal. Padahal, kondisi belum juga pulih benar.


Kanaya pun merasa sudah tak lagi memiliki masa depan dan harapan. Apalagi, Tristan juga menolaknya karena sudah bersama Vivian.


Hidup adalah masalah. Masalah adalah hidup. Tinggal bagaimana kita menyikapi kedua hal tersebut agar kewarasan tetap terjaga.

__ADS_1


Peran orang-orang terdekat sangat penting dalam menjaga pikiran ibu yang baru melahirkan supaya tetap baik. Namun, sayang tidak dengan Kanaya. Bukan dukungan dan semangat yang di dapat, justru menerima tekanan. Itulah yang membuatnya depresi. Lalu, memilih mengakhiri hidup.


__ADS_2