
Aku terhibur banget baca komentar kakak-kakak. Kalian warbiasaakk 👏😍
Kita jadi saling menghibur, yes 🤗 Maapkeun belum membalas.
Okelah. Kuy, langsung ke cerita.
Cekidot 😉
Berbincang hangat usai makan malam. Tak ada pertanyaan seputar anak. Finn sudah mewanti-wanti Diana dan bersyukurnya sang mami pun mengerti.
Walaupun ingin sekali menimang cucu. Akan tetapi, Diana tak mau menyakiti hati Sandra. Memang niat bertanya ada. Hanya sekadar menanyakan, tidak menuntut. Akan tetapi, ketika Finn menelepon dan mengatakan untuk tak menyinggung hal tersebut. Ia mengurungkannya.
Toh, melihat sang putra yang playboy mau menikah dan tobat saja, Diana sudah bersyukur. Jadi, ia tak mau banyak meminta lagi.
Memang Finn merupakan anak yang sangat membanggakan. Sekolah selalu juara. Anak yang patuh, tak banyak tingkah atau menuntut, dan tidak manja. Nyaris sempurna.
Hanya satu yang membuat Diana sering naik darah terhadap sang putra. Yaitu, sifat suka mempermainkan wanita.
Terlahir sebagai anak tunggal. Kedua orangtua Finn tak pernah sekali pun mengekang hidup sang putra.
Finn tumbuh sebagai anak yang bebas. Mau bersekolah di mana dan mengambil jurusan apa saja, Chris memperbolehkan. Ingin melakukan apa pun, silakan.
Hanya satu pesan sang papi, bertanggung jawab atas risiko perbuatan sendiri apa pun itu. Dan, Finn selalu mengingat pesan tersebut sampai sekarang.
Memiliki orangtua kaya raya pun tak lantas membuat Finn meminta sesuatu dengan mudah. Meski semua ada dan tersedia. Chris selalu mengajarkan hidup mandiri. Di luar fasilitas. Jika ingin sesuatu harus menabung dari uang saku.
Hanya dua kali dalam setahun permintaan Finn apa pun itu pasti terkabul. Yakni, saat pengambilan rapor sekolah. Ia boleh meminta apa saja sesuka hati sebagai hadiah.
Berapa pun nilai akademik yang sang putra raih, Chris menerima. Akan tetapi, seperti kata Finn sendiri jika ia terlahir sebagai pria berkompeten dan cerdas. Nilai pun selalu bagus dan membanggakan.
Memiliki paras tampan, otak encer, dan kaya raya membuatnya menjadi bintang. Para wanita pun sudah tergila-gila kepada Finn sejak masih sekolah.
Oleh karena itu, ia selalu gonta-ganti pacar. Bahkan, sering memacari beberapa perempuan sekaligus dalam waktu bersamaan. Sudah playboy sejak zaman sekolah. Dan, itu terus berlangsung sampai dewasa sebelum akhirnya bertemu Sandra. Wanita yang sempat membuatnya frustrasi dalam pengejaran.
“Sandra, apakah Finn memperlakukanmu dengan baik? Katakan jujur. Jangan takut dengan suamimu. Mami akan mengusirnya kalau berani menyakitimu,” tanya Diana dengan mata mendelik ke arah sang putra.
“Mami Finn yang cantik. Putra kebanggaanmu ini sangat mencintai menantu Mami. Tentu memperlakukannya dengan baik,” jawab Finn menegaskan dengan nada lembut.
__ADS_1
“Mami bertanya kepada Sandra. Bukan kamu.” Diana protes kepada Finn.
“Finn berkata benar, Mami. Ia memperlakukanku dengan sangat baik seperti seorang ratu. Begitu memanjakan.” Sandra membenarkan ucapan Finn.
“Benarkan.” Finn tersenyum ke arah sang istri, lanjut kepada Diana.
Diana ikut tersenyum. “Mami senang mendengarnya. Finn, kamu harus selalu begitu kepada Sandra, ya.”
“Iya, Mami. Tentu saja.” Finn mengecup tangan Sandra seraya menatapnya lekat.
“Ya, sudah. Lebih baik kita istirahat. Sudah malam. Kalian juga pasti lelah, ‘kan? Bawa istrimu ke kamar, Finn,” ucap Chris.
“Iya, Pi,” sahut Finn.
Sandra dan Finn memutuskan menginap. Kebetulan, setelah menikah belum satu kali pun mereka bermalam disini.
🌺🌺🌺
Ini kali pertama Sandra menginap dan berada di kamar sang suami. Ia menjelajah riang. Warna putih mendominasi seluruh ruangan. Meski sudah tak menempati lagi, tetapi kebersihan dan kerapian terjaga.
Usai berkeliling, Sandra masuk ke dalam ruang ganti pakaian. Bermaksud ingin mengambil baju untuk sang suami yang sedang mandi. Ia membuka satu per satu lemari mencari keberadaan barang tersebut.
“Bee, sedang apa?” Finn memeluk Sandra dari belakang dengan handuk yang masih melilit di pinggang.
Sandra berbalik dan menghempas tangan Finn. “Lepas! Jangan sentuh aku lagi.”
Finn mengernyit. Menaikkan satu alisnya dan bertanya, “Ada apa? Kenapa tiba-tiba marah?”
Sandra membuka lemari itu lebar-lebar. “Lihat! Apa tidak bisa kamu membuangnya? Kamu kan sudah menikah. Masih saja mengoleksi pakaian perempuan. Sampai dalaman-dalaman pun kamu simpan. Menyebalkan!” Ia mau beranjak pergi, tetapi keburu ditahan Finn.
“Nyonya Finn Elard, itu milikmu,” ucap sang ceo kepada Sandra. Ia melingkarkan kedua tangan di perut Sandra erat agar berhenti berontak.
“Kapan aku ke rumahmu dengan membawa baju-baju? Lagi pula, itu jelas bukan milikku. Masa kepunyaan sendiri aku tidak mengenali.”
Finn membalik tubuh Sandra dan menyambar bibir sang istri. Melahap dengan rakus. Kemudian, terpaksa melepaskan. Karena, wanita tercinta mengigit bibirnya.
“Bee, bisa tidak jangan menggigit terlalu dalam. Kamu melukainya.” Finn mengusap bibir karena sedikit berdarah akibat gigitan.
__ADS_1
“Salah kamu sendiri. Aku kan lagi kesal. Masa main cium-cium aja.”
“Siapa suruh bikin gemas? Itu memang pakaianmu. Mami yang membelikan sewaktu kita mau menikah.”
Sandra terdiam. Kemudian, cengengesan. “Oh, Maaf. Kamu, sih, gak pernah cerita.” Ia bersiap kabur.
“Eh, mau ke mana?” Finn menarik dan mengungkung tubuh Sandra di depan pintu lemari.
Sandra masih dalam mode cengengesan. “Kamu pakai baju, ya. Nanti masuk angin.”
“Aku kuat kok. Mau bukti?” Finn tersenyum nakal dan ingin melepas handuknya.
Dengan cepat Sandra menahan. “Jangan ... nanti aku ... tergoda,” ucapnya pelan di akhir kata. Lalu, menunduk dalam, malu.
“Tergoda? Hm.” Finn merengkuh pinggang Sandra. Mengangkat dagu sang istri. “Sudah sering melihat dan merasakan, kenapa masih tersipu?”
“Honey, diamlah. Aku malu.” Sandra memarkir wajahnya di dada polos sang suami untuk menutupi rasa tersebut.
Finn tertawa. Kemudian memeluk erat Sandra. “Sangat menggemaskan melihat rona pipimu ketika malu. Sandra Rein, kamu sukses membuatku jatuh cinta sampai tergila-gila. Hasrat pun tidak pernah padam kepadamu”
“Aku pun.”
Finn mengangkat tubuh sang istri. Sandra pun melingkarkan kedua kaki di pinggang suaminya dengan mengalungkan tangan di leher.
Finn menatap lekat Sandra. “Cinta adalah kamu. Hidup adalah kamu. Jiwa raga ini aku persembahkan hanya untukmu.”
Sandra tersenyum. “Selalu manis.”
Finn ikut tersenyum. “Mau berkuda denganku malam ini?”
“Di atas kasurmu yang berukuran king size?”
“Ingin di tempat lain?”
“Terserah.”
Finn tersenyum nakal. Mencium pipi Sandra dengan hidungnya yang mancung. “I love you, My Bee.”
__ADS_1
Memiliki rumah tangga manis. Pasangan yang romantis. Hidup menjadi harmonis. Berjalan bersama pun semakin dinamis.