ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Baku hantam


__ADS_3

Episode ini hampir tiga ribu kata. Jadi, bacalah di saat senggang agar tak berhenti di tengah jalan atau ada yang kelewatan.


Sekadar informasi, beberapa episode lagi kisah Finn dan Sandra akan tamat.


Tengkiu untuk yang selalu setia mampir membaca. Tengkiu sekali lagi untuk jejak jempol, komen, hadiah berupa bunga dan kupi, juga vote. Saranghaeyo ❤️😘 Maapkeun jika banyak komen belum atau terlewat tak berbalas 🙏


Kuy, cekidooott 😉


Di tengah jalannya konferensi pers, Finn merasa gelisah. Dalam pikiran selalu terbayang Sandra. Bagaimana wanita cantik itu sejak kemarin merengek-rengek meminta waktu bersama seraya berlinang air mata. Pagi ini pun, dengan berat hati meninggalkan sang istri tanpa menunggunya bangun dari tidur.


Rasanya, Finn ingin menjadi amoeba. Agar bisa membelah diri supaya dapat berada di dua tempat sekaligus secara bersamaan.


Kegelisahan terus menyergap. Finn mencoba berbaik sangka jika rasa tersebut muncul karena mengkhawatirkan Sandra yang terus menangis. Kalau saja bukan sesuatu yang penting, ia pasti sudah hengkang dari tadi. Akan tetapi, apa daya. Usai konferensi pers, masih harus menghadiri rapat istimewa bersama semua petinggi perusahaan dan para pemegang saham.


Sejak awal, Finn sudah tak bisa konsentrasi. Karena, hati terus saja merasa tak enak. Untuk melegakan pikiran, ia meminta izin keluar sebentar dengan alasan ke toilet.


Finn meminta Roy mencatat semua poin penting. Jadi, bisa mengetahui info ketertinggalan selepas kepergiannya tersebut.


Sampai di dalam toilet, Finn mengeluarkan ponselnya. Satu notifikasi masuk. Ia membuka dan ternyata dari sang istri.


[Sudah semalam tak bertemu. Pagi ini pun begitu. Padahal, aku sudah memakai gaun tidur merah dan berdandan cantik. Kenapa tak dibangunkan? Tega!]


Membaca pesan tersebut membuat Finn merasa bersalah sekaligus lega. Karena artinya, sang istri berada di rumah.


Finn men-dial nomor Sandra. Tak berapa lama kemudian, sang istri mengangkat. Ia terkejut mendengar ucapan wanita tercintanya kalau ia tengah menyusul ke kantor. Kelegaan hati, hanya bertahan sesaat.


Sedang serius bertelepon, terdengar suara yang mengatakan kalau mobil mogok. Makin saja kegelisahan Finn menjadi-jadi.


Kemudian, terdengar lagi suara seseorang yang Sandra panggil John. Jelas, Finn cukup mengetahui siapa orang tersebut. Ia pun semakin terserang kecemasan.


Sejak Alexander nyaris menipu. Mulai dari sanalah, ia sudah kurang percaya dan respek terhadap sang bangsawan beserta konco-konconya.


Walaupun terakhir kali bertemu Sandra dan sang bangsawan mengalah. Namun, hal tersebut tak serta merta menambah porsi kepercayaan Finn kepada mereka.


“Honey, mobilku mogok. Kebetulan Pak John lewat, ia menawari tumpangan. Tunggu aku sebentar lagi sampai kantor, ya.”


Masih lewat sambungan telepon yang belum terputus. Sandra memberi informasi kepada Finn.


“Bee, aku tidak menyukai keputusanmu. Naik taksi online sudah pilihan yang sangat tepat.”


“Honey, Pak John orang baik.”


“Bee, please. Jangan terlalu naif. Semua orang kamu bilang baik.”


“Honey, aku hanya menumpang mobilnya. Satu pengawal juga ikut bersamaku.”


Mendengar hal tersebut, sedikit membuat perasaan Finn lega. Meski ia masih tak menyukai keputusan itu.


“Oke. Tapi, dengan satu syarat.”


“Apa?”


“Jangan matikan sambungan telepon. Dan, instal aplikasi pelacak lokasi di ponselmu. Lakukan sekarang, sebelum berangkat.”


“Itu dua syarat. Kamu ini berlebihan.”


“Mencegah lebih baik daripada mengobati. Mau menurut atau tidak?”


Sandra mengangguk patuh. Ia lupa sedang bertelepon, kenapa harus menganggut-anggut.


“Bee.”


Karena, tak melihat Sandra setuju, Finn memanggil sang istri.


“Iya, aku menurut.”


Sandra lekas mengerjakan apa yang Finn perintahkan. Mereka pun sudah terdaftar dan bisa mengetahui lokasi masing-masing.


Lalu, Sandra memasukkan ponsel ke dalam sela celana bagian belakang. Menutupinya dengan kemeja agar tak terlihat. Kemudian, masuk ke dalam mobil John.


Finn belum beranjak dari toilet. Ia sudah tak berselera lagi untuk mengikuti rapat.


Sesaat kemudian, terkejut ketika Sandra mengatakan jika mereka menuju arah luar kota. Saat itu juga, Finn memutuskan untuk menyusul sang istri.


Finn menuju tempat parkir untuk mengambil mobil. Mengendalikannya dengan kecepatan cukup tinggi.


Finn memutuskan untuk mematikan sambungan telepon dengan Sandra. Pikirnya, toh keberadaan sang istri terlacak.


Finn mencoba menghubungi Manda, Ramon, dan Tristan. Namun, semua tak ada yang mengangkat. Ia pun tidak terpikir untuk menelepon polisi. Kepanikan membuatnya lupa.


Finn memutuskan mengirimkan pesan kepada Manda, Ramon, dan Tristan. Pikirnya, mereka pasti akan membuka dan membacanya.


Di perjalanan menuju ke arah di mana Sandra berada. Finn nyaris saja menabrak seseorang yang tengah berlari. Ia turun dari mobil dan terkejut karena orang tersebut adalah sang pengawal.


“Ruth, kau tak apa-apa?” tanya Finn.


Dengan deru napas memburu, Ruth menjawab, “Tidak, Bos.”


“Lalu, di mana istriku?”


Ruth menceritakan semua. Kemudian, Finn memintanya naik ke dalam mobil untuk bersama menolong Sandra.


Finn memarkir mobil agak menjauh dari rumah tua tempat Sandra disekap. Sebelum turun, ia mengirim lokasi di mana keberadaannya kepada Manda, Ramon, dan Tristan.


Lantas, mereka keluar dari mobil. Finn membuka bagasi dan mengambil koper berisikan senjata api. Lalu, memberikan satu kepada sang pengawal.


“Berapa banyak orang di sana, Ruth?”


“Lumayan banyak, Bos.”


Finn mengangguk.


Mereka mencari tempat sepi untuk masuk ke dalam. Begitu menemukan, langsung melompati pagar dan mengendap mencari Sandra.


Saat melintasi jendela tanpa terali besi, Finn mengintip. Ia mendapati Sandra di dalam sana tengah terikat di sebuah kursi. Emosinya memuncak kala melihat John menampar sang istri.


“Ruth, pancing penjaga-penjaga agar menjauh dari ruangan di mana istriku berada. Aku mau membebaskan Sandra terlebih dahulu. Bisa?”


“Tentu, Bos.”


Mereka mulai berpencar. Finn membuka jendela tersebut yang kebetulan tak terkunci. Masuk perlahan dengan jari telunjuk menyentuh bibir, kode agar Sandra diam.


Sandra pun mengerti. Lalu, berkata kepada John. “Jika ingin membunuh, jangan terlalu banyak bicara. Lakukan saja dengan cepat. Atau … posisi kita akan berbalik.”


Kebetulan, posisi John membelakangi jendela. Keberuntungan pun sepertinya memihak. Karena, mereka hanya berdua di dalam. Jadi, hal tersebut memudahkan Finn beraksi tanpa ketahuan.


Tak banyak berbasa-basi, apa lagi mengeluarkan suara. Finn memukul tengkuk John hingga jatuh tersungkur dan pingsan. Untuk memastikan, ia menendangnya. Setelah yakin, ia mengambil pistol di tangan pria tersebut dan lekas menghampiri Sandra.


“Honey.”


“Bee, maaf aku datang terlambat.” Finn membuka ikatan kaki dan tangan Sandra. Kemudian, memeluk sang istri dengan erat.


“Aku pikir akan mati.”


“Tidak akan. Aku pasti datang. Bagaimana kondisimu? Pasti sakit?”


Sandra mengangguk. “John menamparku terus.”


Finn melepas pelukan dan menatap Sandra. Terdapat luka di sudut bibir dengan darah yang mulai mengering. Wajah cantik itu pun memerah akibat tamparan John.

__ADS_1


Finn mengusap lembut pipi Sandra. “Maaf, membuatmu harus seperti ini.”


Sandra menggeleng. “Meski nyeri, aku bisa tahan. Sekarang, lebih baik kita pergi dari sini secepat mungkin. Karena, anak buah John lumayan banyak.”


Finn mengangguk dan menarik sang istri keluar melalui jendela.


“Bee, aku akan mengantarmu ke mobil. Setelah itu, membantu Ruth.”


“Aku ikut saja.” Sandra mengambil pistol miliknya dari tangan Finn. “Aku punya senjata.”


“Bee, kamu sedang hamil. Jangan, ya. Berbahaya.”


Sandra lantas mengelus perutnya dan berbicara kepada sang janin. “Sayang, Mommy tahu kamu anak yang kuat. Apa pun yang terjadi, selama Mommy masih bernapas, kamu harus terus hidup di dalam sana. Oke.”


“Bee ….”


Sandra mengecup bibir Finn. “Semua akan baik-baik saja. Ayo, bantu Ruth.”


Finn terpaksa mengalah. “Tetap di belakangku. Jangan melakukan pergerakan yang tidak dibutuhkan. Oke.” Ia menunggu Sandra menyetujui peringatannya. Setelah sang istri mengangguk, baru melangkah bersama.


Finn melihat Ruth tengah adu jotos. Beruntung sang pengawal sangat piawai bela diri. Jadi, lumayan bisa mengatasi hal tersebut.


“Diam disini,” pinta Finn kepada Sandra.


Sandra menurut.


Finn mulai masuk dan ikut bertarung. Namun, beberapa saat kemudian, suara tembakan dua kali menghentikan perkelahian. Ruth terkena tembakan pada dada bagian atas dan kaki.


“Ruth!” teriak Finn.


Melihat kejadian tersebut, membuat Sandra refleks melangkah mendekat. Ia menembak tangan penjaga yang masih mengacukan senjata. Tembakan pun tepat mengenai sasaran.


“Bee, cepat papah Ruth ke mobil. Ia tahu di mana keberadaan kendaraan tersebut. Aku akan mengurus mereka dan segera menyusul.”


“Tapi ….”


“Bee, cepat! Kita tak punya banyak waktu!”


Sandra terpaksa mengangguk dan memapah Ruth menuju mobil. Ketika berada di luar dan bertemu dua penjaga. Ia mendudukkan sejenak sang pengawal di atas tanah dan mulai melawan mereka.


Sandra mengayunkan tinju dan tendangan. Perkelahian terus berlangsung dengan Sandra menguasai pertarungan.


Namun, tak dinyana dari arah belakang seorang penjaga lain memukul hingga Sandra jatuh tersungkur. Baru saja mau bangun, kakinya ditendang.


Menyaksikan sang nyonya muda dihajar, Ruth baru ingat jika masih memiliki pistol. Dengan menahan rasa sakit, ia mengambilnya. Lantas, melepas tembakan tepat ke arah pria tersebut. Sasaran berhasil tertembak di kaki.


Kesempatan pun tak Sandra buang sia-sia. Ia lekas bangun dan mulai kembali baku hantam.


Ingin menembak lagi, tetapi sang nyonya muda menghalangi pandangan. Takut salah sasaran, Ruth memilih mengurungkan niat tersebut.


Usai menghajar kedua penjaga sampai pingsan. Dengan napas tersengal-sengal karena lelah berkelahi, Sandra menghampiri Ruth. Ia memapahnya menuju mobil.


Sandra meletakkan Ruth di belakang. Ia melihat sang pengawal kesakitan.


“Ruth, bersabar sebentar. Kita tunggu Finn datang.”


Ruth mengangguk lemah.


Tak berapa lama, Finn muncul dengan luka tembak di lengan sebelah kanan.


“Honey!”


“Cepat masuk. Kamu yang bawa mobil. Aku khawatir di jalan celaka jika mengendarainya di tengah lengan terluka.”


“Tapi ….”


“Bee, cepat masuk!”


Finn yang tengah bersandar dan menahan rasa sakit, menoleh. “Bee, ayo jalankan mobilnya. Mereka sedang mengejar kita.”


Sandra menoleh dan berkata lirih, “Tapi, aku masih trauma menyetir. Terakhir kali, aku mengalami kecelakaan.”


Finn hampir melupakan hal tersebut. Tapi, mau bagaimana lagi. Tak ada pilihan lain. Ia pun mencoba meyakinkan sang istri.


“Bee, aku percaya kamu akan membawa kita dengan selamat. Kamu bisa. Ayolah, lihat Ruth di belakang juga tengah kesakitan.”


Sandra melihat Ruth kembali dari kaca spion depan. Lalu, memejamkan mata. Menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan.


Kemudian, saat membuka mata suara tembakan terdengar. Bunyi langkah kaki, semakin nyaring di telinga. Menandakan mereka kian dekat.


“Honey.”


“Bee, mereka semakin mendekat! Ayo, cepat jalankan mobilnya!”


Sandra menelan saliva dengan susah payah. Bulir keringat pun muncul di kening. Dengan tangan gemetar, ia terpaksa menyalakan mobil dan mulai menjalankannya secepat mungkin.


Sambil memainkan kemudi, Sandra berkata lirih, “Honey, aku ketakutan.”


“Tenanglah, kamu pasti bisa.”


Sandra mengangguk. Ia terus melajukan mobil. Sesekali menatap spion di samping.


“Honey, mereka mengejar kita.”


Finn menoleh ke belakang. “Ah, sial!”


Sandra terus mengemudi. Jalanan yang sepi menyulitkan mereka untuk meminta bantuan.


Bagai dalam film action, suara tembakan memecah keheningan jalanan.


“Honey, bagaimana kalau ….”


“Menyetir saja. Fokuskan pandangan ke depan.” Meski merasakan hal yang sama seperti Sandra, tetapi Finn tak mau sang istri tahu dan semakin khawatir.


Finn membuka kaca jendela dan mengeluarkan tangannya yang memegang senjata api. Ia membalas tembakan tersebut ke arah belakang.


Saling tembak tak terelakkan lagi. Suara peluru yang memelesat cukup memekakkan telinga.


“Sial! Peluru habis semua.” Seluruh senjata yang Finn pakai, baik miliknya, Ruth, atau Sandra telah kosong. Ia tak lagi memiliki persediaan.


“Honey, telepon Ramon atau siapa pun. Minta bantuan.”


“Ponsel milikku terjatuh di rumah tua itu saat berkelahi. Aku tak sempat mengambilnya,” jelas Finn


Sialnya, ponsel Sandra pun sama. Saat bertarung, jatuh dan tak sengaja terinjak. Ingin menyelamatkan berharap masih menyala. Namun, anak buah John yang mengetahui hal tersebut menambah injakan sampai benda pipih itu tak lagi tertolong.


“Lalu, bagaimana sekarang?”


“Terus saja menyetir.”


Sandra mengangguk. Ia mencoba tenang meski sudah ketakutan setengah mati. Wanita itu percaya, Finn akan menyelamatkan mereka semua. Jika pun tidak, ibu hamil itu merasa lega karena akan pergi ke alam baka bersama sang suami. Jadi, ketika semua berakhir tak perlu lagi mengurusi urusan dunia. Apalagi, perihal asmara gila yang membuat adegan baku tembak ini harus terjadi.


“Honey, aku mencintaimu.” Mata Sandra berkaca-kaca.


Finn menatap Sandra dengan sendu. “Aku juga mencintaimu.”


“Honey ….”


“Bee, aku akan melindungimu agar terus hidup. Jika pun terjadi sesuatu yang buruk denganku, jaga anak kita.”

__ADS_1


Sambil menyetir dan sudah berlinang air mata, Sandra berkata, “Apa maksudmu? Kamu tidak boleh mati sendirian.”


“Bee ....”


Sandra menggeleng. “Tidak. Jika kamu mati, aku pun ikut.” Ia berkata dengan bibir bergetar.


Finn menghela napas. “Baiklah, aku tidak akan mati. Berjanjilah untuk terus bertahan hidup apa pun yang terjadi nanti.”


“Iya, aku akan bertahan untuk terus hidup apa pun yang terjadi nanti. Aku janji.” Dadanya sudah terasa sesak membayangkan salah satu dari mereka meregang nyawa. Jika hanya Finn yang tewas, Sandra tak yakin bisa terus hidup tanpa ada sang suami di sisi.


Kalau pun salah satu dari kita harus tewas, semoga itu aku. Karena, aku tak akan pernah sanggup hidup tanpamu, Sandra Rein. Finn berkata lirih, tetapi hanya di dalam hati.


Finn cukup tahu diri. Sehebat apa pun ia memiliki ilmu bela diri, belum tentu sanggup melawan orang dalam jumlah lumayan banyak. Bahkan, sebagian besar dari mereka memegang senjata api. Di tambah lagi, lengannya terluka.


Finn hanya bisa berharap, semoga Tuhan berbelas kasih untuk memberi keselamatan kepada mereka. Itu saja.


Suara tembakan pistol menggema lagi. Kali ini, tepat mengenai ban mobil. Kendaraan pun mulai oleng.


“Honey, bagaimana ini?”


Dengan menahan rasa sakit, Finn turut memegang setir untuk ikut mengendalikannya. Mobil komplotan John terus menyenggol kendaraan mereka.


Pada akhirnya, mengadangi mobil Finn dari segala arah. Kendaraan pun berhenti melaju.


“Sial! Kita terkepung!” seru Finn.


“Bos,” panggil Ruth lirih.


Finn menoleh. “Ruth, bertahanlah. Apa pun yang terjadi tetap di dalam. Aku pasti membawamu ke rumah sakit.”


Sambil menahan sakit, Ruth mengangguk.


Semua anak buah John keluar dari mobil. Mereka berteriak, meminta Finn dan Sandra turun.


“Bee, setelah aku turun, kunci pintu mobil.”


Sandra menggeleng. “Aku ikut turun.”


“Jangan keras kepala.”


“Tapi ….”


“Bee, please.”


“Aku tidak mau berjanji. Jika di luar sana semakin membahayakanmu, aku akan turun.”


“Apa pun yang terjadi tetap di dalam.”


“Honey ….”


“Aku turun. Menurutlah.” Finn membuka pintu dan keluar.


Sandra menatap kepergian Finn dengan cemas.


“Bernyali juga.” John mengacungkan senjata api. Setelah siuman dari pingsan, ia lekas menyusul mengejar Finn dan Sandra.


“Jika merasa laki-laki. Mari bertarung dengan tangan kosong. Jumlah kalian lebih banyak, seharusnya tak perlu takut kalah, ‘kan?” Alasan, Finn harus memberikan itu. Agar mereka tak menggunakan senjata api di tengah tangannya yang tak memiliki pistol dan juga … sakit.


“Simpan senjata kalian. Habisi dia.” John memberi perintah. Semua anak buahnya langsung menurut dan mulai mengambil ancang-ancang untuk bertarung.


Saling beradu buku tangan berlangsung. Dengan menahan rasa sakit, Finn berlaga.


Sandra menatap perkelahian dengan hati serasa diiris sembilu. Mereka mengeroyok Finn. Meski beberapa kali sanggup menangkis dan membalas. Namun, tetap saja wajah tampan sang suami sudah terlihat babak belur.


“Finn.” Sandra memegang kemudi dengan erat.


Tak tahan lagi menyaksikan hal tersebut. Sandra memantapkan hati untuk membantu sang suami. Namun, sebelumnya berbicara terlebih dahulu kepada sang janin.


“Sayang, Daddy di luar butuh bantuan. Mommy pasti banyak melakukan pergerakan. Kamu anak yang kuat, cerdas, dan penurut. Ingat pesan Mommy, ‘kan? Selama Mommy masih bernapas, kamu harus terus hidup di dalam sana.” Sandra mengelus perutnya sejenak. Kemudian, mulai membuka pintu dan keluar.


“Sandra, kamu wanita yang kuat dan berani. Ayo, kamu bisa.” Sandra menguatkan dirinya dan mulai masuk arena pertarungan.


Satu tinju Sandra berikan kepada anak buah John yang tengah mencoba memukul dengan tangan kepada Finn. Lanjut lagi, wanita itu menendang pria tersebut.


Finn menoleh. “Bee! Kenapa keluar dari mobil?” Sambil terus mengayunkan tinju dan tendangan, ia melempar pertanyaan.


“Aku mau bantu kamu!” Meski tak selihai sang suami. Minimal Sandra memiliki semangat dan keberanian.


“Masuk kembali! Di luar berbahaya!”


“Tidak mau!”


“Bee ….”


“Honey, awas!”


Finn menoleh dan langsung menangkis tangan anak buah John yang mau meninju. Ia dan sang istri berdiri saling membelakangi dan menempelkan punggung. Mereka berada di tengah-tengah para lelaki yang memiliki postur tubuh nyaris sama semua, tinggi, tegap, besar, dan berotot.


“Bee, jangan jauh-jauh dariku.”


“Ya.”


“Kali ini, kamu aku beri kesempatan berkelahi. Lain waktu, jangan harap. Sekarang, kita habisi mereka bersama.”


“Ayo.”


Sepasang suami istri itu mulai beraksi lagi. Rasa sakit Finn serasa tak terasa karena kehadiran Sandra.


Pertempuran berjalan semakin seru. Saling meninju, menendang, membanting. Tak dinyana, Finn dan Sandra menguasai keadaan. Walaupun kondisi mereka juga cukup ngenas. Namun, terus bertahan.


Sebisa mungkin pun, Finn melindungi Sandra agar tak banyak melakukan pergerakan. Namun, tak memungkiri kalau bantuan sang istri sangat berarti.


John menyaksikan dengan tangan mengepal dan hati yang kesal. Ia tahu kekalahan sudah di tangan. Namun, pria itu kadung gelap mata.


Dua tembakan John lepas dan tepat mengenai punggung Finn. Badan sang ceo yang memang sudah kurang daya langsung tertelungkup dengan darah mengalir.


Sandra menoleh dan berteriak histeris. “FINN!” Ia melangkah mendekat.


Namun, dua tembakan kembali dilepas John dan tepat mengenai tubuh bagian depan Sandra.


Sandra pun terjerembab dengan pakaian sudah berubah menjadi basah oleh darah. Posisi kepalanya mengarah kepada Finn.


Setelah mendengar tembakan bertubi-tubi. Lalu, melihat Sandra dan Finn terkapar dari kaca mobil. Ruth memutuskan keluar untuk menolong. Nahasnya, baru saja menjejakkan kaki di atas tanah, satu tembakan tepat bersarang di tubuh bagian depan. Kemudian, ia pun jatuh dengan bersimbah darah.


“JOHN BECK!” Tembakan berkali-kali di lepas seseorang yang baru saja turun dari mobil hingga senjata api itu kosong. Semua peluru tepat mengenai tubuh bagian depan dan pria itu langsung tersungkur dengan bermandikan darah.


Finn dan Sandra tergeletak dengan jarak berdekatan. Mereka saling memandang, tetapi sudah tak berdaya untuk sekadar berucap atau bergerak.


Sandra mengeluarkan air mata seraya terus menatap sang suami. Hingga akhirnya netra itu terpejam.


Melihat sang istri menutup mata, Finn berusaha untuk mengeluarkan suara dan mendekat. Namun, tak kuasa melakukan kedua hal tersebut, karena rasa sakit sudah tak lagi bisa terbendung. Sampailah pada akhirnya sang ceo pun turut terpejam.


Jalanan telah berubah menjadi genangan darah. Tubuh yang tergeletak, sudah tak lagi bergerak. Denyut mereka masih ada, tetapi berdetak dengan pelan dan lemah.


“TIDAAAAAAAAKKKKK!” Suara teriakan histeris yang menyayat hati bergema.


Suara baling-baling dari dua helikopter terdengar. Pesawat udara tersebut berputar-putar di atas tempat kejadian perkara. Tak berapa lama, bunyi sirene mobil polisi turut bergaung.


Selang beberapa saat kemudian, tubuh terkapar di angkat ke atas untuk di bawa masuk ke helikopter. Agar secepatnya bisa mendapat pertolongan di rumah sakit.

__ADS_1


Harapan saat ini hanya satu, semoga jiwa masih bersama raga.


__ADS_2