ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Pulang


__ADS_3

“Akhirnya, kita pulang.” Finn tersenyum ke arah Sandra.


“Kenapa dua bulan kemarin kamu tidak tinggal disini? Malah memilih tidur di kantor.”


“Rumah danau ini mengingatkanku sama kamu. Daripada makin tersiksa rindu. Lebih baik tinggal di kantor untuk sementara waktu.”


Sandra memeluk Finn. “Ayo, kita masuk.”


Finn mengangguk.


Usai makan, mandi, dan memakai baju, Sandra membaringkan diri di atas kasur. Hari ini, istri dari Finn itu berniat ingin membalas dendam dengan istirahat yang banyak. Ia berharap semoga saja tak ada yang mengganggu waktu tidurnya nanti.


Badan dan mata Sandra terasa lelah akibat mengobrol dengan Finn sampai Subuh. Belum lagi, baru beberapa jam terlelap harus terpaksa bangun. Karena, ada persidangan dadakan dengan hakim para orangtua.


Jadi, saat sekarang mata Sandra mulai terpejam. Membuatnya dengan mudah pergi ke alam mimpi.


Tiga puluh menit kemudian, Finn keluar dari kamar mandi. Usai berganti pakaian, ia melihat sang istri sudah tertidur.


Finn ikut naik ke atas kasur. Menarik tubuh Sandra ke dalam dekapan dengan erat. Kemudian, turut memejamkan mata.


🌺🌺🌺


Tepat pukul empat sore, Finn bangun. Dengan perlahan membuka mata. Menggeliat sesaat seraya menguap. Ia melirik jam di dinding. Kesadaran belum sepenuhnya pulih. Raga pun masih betah berbaring di atas ranjang.


Sesaat kemudian, Finn membelalakkan mata dan berteriak, “SANDRA!”


Finn baru menyadari sang istri hilang dari dekapan. Di atas pembaringan mereka pun tak ada. Padahal, sebelum tidur mendekap sangat erat.


“SANDRA!” Finn berteriak lagi.


Finn beranjak bangun. Mencari sang istri di setiap sudut kamar. Tapi, tak ada.


“Oh, tidak. Jangan bilang kejadian kemarin dan hari ini adalah mimpi? Sandra belum kembali?” Wajah Finn mulai panik. Ia langsung bergegas keluar kamar.


Finn menuruni anak tangga dengan cepat. Ia menelusuri seluruh bagian rumah yang tampak sepi.


Tidak mau berkeyakinan jika kehadiran Sandra hanya bunga tidur. Finn kembali menyusuri dengan teliti setiap ruangan. Jendela kaca besar yang tertutup tirai sehingga keadaan luar tak terlihat, luput terlewat.


“SANDRA!”


“BEE!”


“MY BEE!”

__ADS_1


“SANDRA REIN!”


Finn terus berteriak. Meneriakkan nama sang istri. Berharap Sandra menyahut, tetapi senyap. Tak ada tanda-tanda keberadaan wanita tercinta di dalam rumah.


Finn mulai gelisah. Wajah sudah pucat pasi. Jantungnya berpacu dengan cepat. Rasa sedih kehilangan sang istri selama dua bulan kemarin kembali menyergap.


Finn keluar rumah. Mencoba menyusuri danau dengan perasaan takut. Ia ketakutan setengah mati sang istri juga tak ada di sana.


Saat tiba di dermaga, Finn melihat di ujung sana ada sosok yang sedang ia cari. “Sandra, itu kamu atau khayalanku saja.”


Untuk memastikan wanita tersebut bukan sekadar mimpi. Finn memejamkan mata sejenak dan berharap saat membukanya sosok tercinta masih ada.


Perlahan, Finn membuka mata. Terdiam sesaat kemudian tersenyum. “Masih ada.”


Ya, Sandra masih di sana. Duduk di ujung dermaga seorang diri dengan kaki menjuntai.


Tanpa membuang waktu, Finn berlari ke arah Sandra. Ia terduduk dan langsung memeluk sang istri dari belakang.


“Ini bukan mimpi, ‘kan? Kamu benar Sandra, ‘kan? Kamu, My Bee, ‘kan?” tanya Finn terus-menerus agar yakin dengan deru napas memburu. Ia memarkir wajahnya di bahu sang istri dengan menelungkup.


“Honey, kamu kenapa? Ini bukan mimpi. Aku memang Sandra, istrimu,” jawab Sandra bingung dengan polah aneh sang suami.


Usai bangun dari tidur dan berada dalam dekapan Finn. Sandra tersenyum. Kemudian, perlahan melepaskan diri.


Lalu, Sandra keluar dari rumah. Ia rindu suasana dan udara di sekitar danau. Jadi, memutuskan pergi ke sana. Duduk di ujung dermaga dan menikmati keadaan sekitar sendirian.


“Astaga, Honey. Kamu seperti orang trauma.”


“Sepertinya begitu, mungkin karena aku pernah kehilanganmu. Tadi, aku ketakutan setengah mati. Takut kalau kehadiranmu sebelumnya tak nyata.” Finn memeluk Sandra semakin erat. “Demi Tuhan, Bee! Jangan pernah meninggalkanku, ya. Tak sanggup diri ini jauh darimu.”


“Cinta mati padaku, huh?” Sandra menggoda.


“Iya, aku cinta mati padamu. Ya, Tuhan! Jangan pisahkan lagi aku dari wanita cantik ini.” Finn menciumi bahu Sandra kemudian berkata dengan lirih, “Berjanjilah tak akan pernah pergi dariku, Bee. Janji, ya?”


“Tergantung.”


“Bee, please. Jangan bercanda.”


Sandra cekikikan. Kemudian berkata lembut. “Asal kamu setia. Aku tak akan pernah pergi darimu.”


“Aku janji. Satu kesalahan saja sudah cukup. Aku tak mau lagi mengulangi.” Finn menghela napas lega karena semua ternyata memang nyata. Bukan sekadar ilusi semata.


Sandra-nya memang telah kembali. Finn pun berjanji tak akan pernah mau berbuat bodoh lagi. Rasa jauh dari sang istri seperti mati suri. Menjalani hidup pun setengah hati.

__ADS_1


“Aku tak pernah menyangka jatuh cinta bisa membuat hampir gila begini,” ucap Finn mengungkapkan perasaannya dengan jujur.


“Terkadang, kita memang harus kehilangan seseorang lebih dulu. Baru tahu rasanya tersiksa karena cinta. Dua bulan perpisahan kita, apakah sudah cukup membuatmu kapok melirik wanita lain?”


“Aku bukan hanya kapok. Keisengan tersebut yang pada akhirnya berbuah petaka adalah pukulan telak.”


“Jangan lagi nakal atau kamu akan menyesal.”


Finn menggeser duduknya di samping Sandra. Meraih satu tangan sang istri dan mengecupnya beberapa kali. “Nakal denganmu masih boleh, ‘kan?”


Keduanya saling berpandangan.


Kemudian, Sandra mengerling. “Aku rasa itu wajib.”


Finn mengembangkan senyum. “Bee, ibaratkan saja langit itu adalah cinta. Kita adalah bumi.”


Sandra mengernyit. “Lalu?”


“Langit selalu memayungi bumi sepanjang hari, bukan? Pagi, siang, sore, dan malam.”


“Benar.”


“Jadi, kamu dan aku, kita selalu berada di bawah naungan cinta. Sepanjang waktu.”


Refleks Sandra menabrakkan lengan mereka. Kemudian, menutup wajah dengan tangan lain yang masih bebas. “Honey, hentikan. Kita seperti remaja yang baru jatuh cinta. Bikin salah tingkah.”


Finn tertawa kecil dan merangkul Sandra. “Usia boleh tua, tetapi semangat jatuh cinta tidak boleh kalah oleh mereka.”


“Dasar perayu.”


“Merayu istriku sendiri.”


Sandra menoleh. “Entah, aku pun senang kamu rayu. Meski mendengarnya sering tersipu.”


Finn tersenyum. “Aku cinta kamu.”


“Aku pun, cinta kamu.”


Finn mendekatkan bibir mereka. Sesaat menyesapnya lembut. Kemudian, menatap lekat sang istri.


“Anggaplah matahari, bulan, bintang, dan hujan adalah ujian kehidupan untuk cinta kita.”


“Bisa Anda menjelaskan, Tuan Perayu?”

__ADS_1


Finn memainkan rambut Sandra dengan jemari. “Hidup ada kalanya panas seperti terik matahari. Menenangkan seperti rembulan malam. Indah laksana jutaan bintang. Dan, penuh air mata bagai hujan turun. Tapi, langit tak pernah beranjak ke mana pun. Ia akan selalu memayungi bumi. Percayalah, setelah semua fase itu, cerah pasti akan datang kembali.”


Sandra mengangguk kemudian memeluk Finn erat. Hidupnya kini memang sedikit berat. Tapi, ia yakin dengan bersama-sama terus semua beban pasti perlahan terangkat.


__ADS_2