ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Pesan lewat mimpi


__ADS_3

Baru tiga bulan menjabat kembali sebagai ibu rumah tangga, tetapi kebosanan sudah melanda. Selama masa tersebut, Sandra pure hanya berdiam di kediamannya. Makan, tidur, santai, dan ketika Finn berangkat kerja otomatis kesepian.


Field Construction sudah mulai bisa bernapas. Beberapa hari setelah Finn, Ramon, dan Roy menyatroni Alexander, bule itu memenuhi keinginan mereka. Tapi, bangsawan tersebut masih berada di Indonesia.


Klien Field Construction mulai berdatangan kembali. Karyawan yang dahulu di-PHK diminta untuk bekerja lagi seperti biasa. Perlahan, tetapi pasti, kebangkitan mulai terlihat.


Finn dan Sandra pun sudah bisa tersenyum semringah. Meski masih resah karena sang bangsawan belum hengkang dari Tanah Air. Walaupun selama tiga bulan tidak membuat ulah. Owner Field Construction itu tetap waspada.


Sandra tak lagi diberi izin mengemudi. Sopir selalu setia mengantar ke mana pun sang nyonya muda pergi. Tapi, ketika mau keluar rumah, perizininan dari Finn mutlak harus ada. Jika tidak, sang pengemudi tak akan melajukan mobilnya.


Awalnya, Sandra protes keras. Tapi, apa daya. Finn mendapat dukungan dari dua keluarga. Bunda dan mami yang biasa memihaknya pun, kali ini setuju dengan apa yang dilakukan sang suami. Jadi, suka atau tidak, ia harus menurut.


Alasan Finn mengekang Sandra karena Alexander belum kembali ke Inggris. Ia hanya mau memastikan sang istri selalu aman dan baik-baik saja.


Bahkan, ketika mendengar alasan tersebut, Diana memberi dua pengawal kepada Sandra. Untuk lebih menjaga keamanan sang menantu.


Oleh karena itu, Sandra semakin enggan pergi ke mana pun. Bagi wanita itu, semua sangat berlebihan dan menyebalkan. Ia tak menyukai hal tersebut. Jadi, memilih banyak berdiam di rumah. Pikirnya, daripada keluar kemudian menjadi pusat perhatian layaknya selebriti.


Namun, semalam sang bunda menelepon. Mengabarkan jika Tristan sakit.


Pagi ini, Sandra berkunjung menjenguk. Ia datang bersama Finn. Sang suami hanya mengantar. Masuk sebentar untuk menyapa Bunda Helena dan Ayah Theo. Setelah itu, langsung berangkat ke kantor.


“Bund, abang belum bangun?” tanya Sandra.


“Belum. Tapi, nanti Bunda bangunkan sekalian mau bawa sarapan ke kamar Tristan,” jawab sang bunda.


“Biar Sandra yang bawa sarapannya untuk abang.”


“Kamu mau menyuapi abangmu?”


“Wah, manja sekali pria itu. Jadi, selama sakit bunda menyuapi.”


“Daripada abangmu tidak makan.”


“Ya, sudah. Nanti aku akan menyuapi abang.”


“Bisa?”


“Bunda meremehkan aku?”


“Kamu makan saja paling Finn yang menyuapi.”


“Loh, kok, Bunda tahu? Finn mengadu?”


“Jadi, benar. Finn sering menyuapi kamu? Padahal, Bunda asal bicara tadi.”


Sandra tersenyum kikuk. “Aku juga pernah menyuapi, Bund. Lagi pula, Finn yang merelakan dirinya melakukan hal tersebut. Aku tidak menyuruh.”


Helena menjewer telinga Sandra. “Kamu itu, sudah menikah masih tidak berubah. Bukannya kamu yang mengurus suami, kenapa malah jadi terbalik?”


“Sakit, Bund.” Sandra mengusap telinganya setelah sang bunda melepas.


“Urus suami yang benar!”


“Iya.” Memang kenapa kalo dimanja suami sendiri? Lagi pula, hanya menyuapi. Ah, tidak-tidak, lebih dari itu, deh. Kadang dimandikan, hampir selalu dipakaikan baju, dan beberapa hal lain. Benar juga, aku jarang mengurus Finn. Tapi, aku selalu menyervisnya di atas ranjang. Meminta gaya apa pun dan di mana saja, aku mau. Imbang, ‘kan? Eh, tunggu, itu, sih, kewajiban istri. Duh, pusing. Tak tahulah! Bunda terus saja berceramah. Belom nikah dapet siraman kalbu. Eh, udah sold out masih juga sama. Untung sayang.


🌺🌺🌺


Tanpa mengetuk pintu, Sandra masuk ke kamar Tristan dengan membawa baki berisi bubur ayam dan air putih. Ia melihat sang abang masih tidur dengan selimut tersingkap. Semakin mendekat, wajah kekasih dari Vivian itu seperti tengah ketakutan. Bulir keringat menguar dari dahi. Padahal, AC menyala. Keningnya pun mengerut.


Sandra lekas menaruh baki di atas nakas dan duduk mendekat. Ia memegang dahi Tristan yang terasa hangat di tangan. Kemudian, mengusap bulir keringat yang membanjir.

__ADS_1


“Kanaya.”


Sandra tercengang kala Tristan mengingau menyebut nama tersebut.


“Kanaya.”


Kembali, Tristan menceracau nama sang mantan.


“Kanaya, jangan pergi.”


Sandra tak tahu harus kesal atau iba mendengar Tristan melantunkan nama tersebut. Perlahan, ia membangunkan. Menepuk pipinya dengan pelan. Namun, justru pria tersebut menggenggam erat tangan sang adik seraya memanggil nama ‘Kanaya’.


Setelah hampir setengah jam membangunkan. Mata tersebut perlahan terbuka.


“Kanaya.”


“Bang, gue Sandra. Adik lo yang super cantik.”


“Sandra.” Tristan mengucek-ngucek kedua matanya dan menatap lekat sang adik. “Sorry, gue ….”


“Merindukan Kanaya?”


🌺🌺🌺


Sandra menggantikan pakaian Tristan yang sudah basah oleh keringat. Kemudian, meminta sang abang duduk bersandar. Ia menyuapi dengan telaten bubur ayam sebelum membombardir dengan pertanyaan.


Sandra cukup bangga dengan dirinya hari ini. Karena, kali pertama menyuapi Tristan hingga makanan tersebut tandas. Ia berencana akan memamerkan kepada sang bunda. Sebagai bukti kalau si bontot juga bisa mengurus orang sakit.


“Mau nambah?” tanya Sandra.


“Cukup.”


“Merindukan Kanaya?” Sandra kembali bertanya pertanyaan yang sama. Karena, sebelumnya Tristan tak menjawab.


“Gue selalu memimpikan Kanaya. Dia minta maaf dan bilang mau pergi. Tiga hari ini, mimpi tersebut selalu datang.”


“Oh, ya?”


“Dek, gue serius.”


“Bang, lo bisa sampe bermimpi tentang Kanaya, kenapa? Apa sebelumnya teringat doi karena rindu?”


“Dek ….”


“Bang, lo bukan kembaran Kanaya sampe bisa punya ikatan batin. Gue rasa, kalian berdua sedang saling merindukan. Terus, pada akhirnya bermimpi. Berengsek lo, Bang!”


“Dek, gue lagi sakit. Kok, lo marah-marah?”


“Jelas marah kalo bener lo masih merindukan Kanaya? Inget, Bang. Lo pacar sahabat gue. Enggak akan gue biarkan lo menyakiti Vivian. Apalagi, alasannya karena si sundel itu.”


“Dek ….”


“Perempuan itu juga hampir merusak rumah tangga gue. Ish! Gue benci banget sama tu sundel!”


“Dek, dengar dulu.”


“Oke. Gue kasih waktu sepuluh menit.”


“Iya. Akhir-akhir ini gue memang memikirkan Kanaya.” Tristan mengakui.


Baru saja Sandra ingin protes, tetapi langsung diminta untuk diam oleh Tristan sampai selesai bicara. Ia menurut.

__ADS_1


“Gue hanya khawatir dengan keadaannya. Kita sama-sama tahu di mana keberadaan Kanaya, bukan? Entah sekarang, apakah masih hidup atau tidak?” Tristan menambahkan.


“Lantas, lo mau apa?”


“Gue mau menemui Alex supaya membebaskan Kanaya.”


“Sinting! Jangan cari gara-gara, Bang.”


“Dek, bagaimanapun buruknya Kanaya, tetapi dia pernah jadi orang penting dalam hidup gue. Sepuluh tahun, itu bukan waktu yang sebentar.”


“Lo masih cinta Kanaya? Jawab jujur.”


Tristan menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. “Iya.”


“Lalu, Vivian? Lo gak cinta?”


“Gue juga cinta Vivian.”


Sandra tertawa mengejek. “Ternyata lo lebih berengsek dari Finn ketika bujang.”


Sayangnya, percakapan tersebut didengar oleh Vivian dari balik pintu yang sedikit terbuka. Wanita itu datang bermaksud untuk menjenguk. Namun, mendengar pernyataan sang kekasih, ia langsung melangkah pergi.


“Dek, gue selalu berusaha mengenyahkan Kanaya dalam pikiran. Gue mau menolongnya dari sekapan Alex pun bukan karena ingin kembali.”


“Lantas?”


“Seharusnya Kanaya gak perlu terlibat dalam perseteruan. Alex hanya menjadikannya sebagai alat untuk menjebak Finn.”


“Lo mau bilang Kanaya gak bersalah?”


“Iya. Sorry, Dek. Tapi, kita harus melihat dari berbagai sisi. Dalam kasus rumah tangga lo, Kanaya hanya figuran yang sengaja dibayar. Pemeran utama, tetap lo dan Finn. Sementara Alex adalah antagonisnya.” Tristan menjelaskan.


“Dek, coba analisis lagi kasus rumah tangga lo. Telaah kembali peran Kanaya yang menurut gue hanya pelengkap sementara, bisa dibilang juga gak penting. Toh, kita semua tahu dia hanya perempuan bayaran,” sambung Tristan.


Sandra terdiam sejenak. Pikirannya memasuki mesin waktu untuk memundur ke belakang. Kemudian, menatap Tristan lekat. Menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan.


“Ya. Kanaya tidak sepenuhnya bersalah.”


Tristan tersenyum. “Gue hanya berniat membebaskan. Lo gak usah khawatir. Perasaan gue hanya tinggal sedikit untuk Kanaya. Mungkin tak lama lagi akan sirna. Sekarang, Vivian adalah segalanya. Sahabat lo itu sangat berarti buat gue.”


“Secepatnya, enyahkan perasaan yang tinggal sedikit itu, Bang. Supaya gak lagi berkembang. Karena, gue gak akan pernah merestui lo bersama si sundel itu. Bunda dan ayah gue rasa satu pemikiran dengan gue.”


“Iya, dek. Janji, ya, jangan beri tahu Vivian.”


Sandra mengangguk. “Tapi, lo gak akan semudah itu bisa membebaskan Kanaya. Karena, sampai sekarang pun Alex tak mengakui telah meyekap seorang wanita. Dia juga gak mungkin mau melepaskan begitu saja, mengingat perempuan tersebut termasuk ancaman.”


“Gue akan cari cara untuk membebaskannya.”


“Bang, minta bantuan tangan kanan Alex, John Beck. Dia memihak kita, meski di depan bosnya terlihat membela.”


“Benar juga.”


“Tapi, sorry, Bang. Gue gak bisa bantu. Lo tahu sendiri kan pengawal gue selalu mengadukan apa pun tingkah adik lo ini kepada Finn.” Sandra menggeram. “Hidup gue layaknya princess, penuh kekangan dan pengawal!”


“Makanya, sewaktu masih bebas jangan bandel. Nurut sama suami.”


“Bang, kok, lo gak bela gue?”


“Enggaklah, gue tim Finn Elard.”


“Abang!”

__ADS_1


__ADS_2