ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Hangout


__ADS_3

Enam bulan kemudian


Ketenangan tengah dirasakan Sandra. Setelah beberapa bulan lalu selalu merasa was-was dan kesal akibat polah sang ceo. Akhirnya, kata-katanya pada pertemuan terakhir mereka mampu membuat Finn tak lagi mengganggu.


Sandra kembali menjalani hari dengan normal. Bahkan, semakin hari semakin sibuk. Pasalnya, benar yang diucapkan Tristan. Setelah bekerja dengan baik untuk Liam Group, klien akan berdatangan. Dan, itu terjadi.


Media memberitakan perihal CEO Liam Group yang menggunakan jasa perusahaan milik keluarga Sandra. Hanya selang beberapa jam dari berita itu turun. Telepon dari klien tiada henti berbunyi.


Mereka memercayakan Luxury Interior Design untuk renovasi, merancang dekor ruangan, dan sejenisnya.


Kebanjiran job, tentu membuat Tristan dan Sandra tersenyum bahagia. Keduanya lantas bekerja sangat keras untuk proyek-proyek di depan mata.


“Bang, ada apa? Gue sibuk ngejar deadline gambar buat besok.” Sandra masuk ke ruangan Tristan seraya berdiri tepat di depan sang kakak.


Suara berdeham membuat Sandra menoleh. Teriakan pun tak terelakkan saat melihat siapa di belakangnya. “VIVIAN! AH, KANGEN!” Ia langsung menubrukkan tubuhnya pada sang sohib.


“Gue juga kangen, Sand.”


Sandra dan Vivian melepas pelukan dan saling berpegangan tangan. Kemudian, berputar-putar gembira.


Tristan tersenyum melihat kelakuan dua orang wanita tersebut. Ia pun sudah menganggap Vivian sebagai adik.


Vivian merupakan tetangga sekaligus sahabat Sandra sejak masih berbentuk janin seukuran biji. Mereka berdua sangat dekat satu sama lain. Status pun kompak. Yakni, sama-sama masih jomlo.


Vivian kuliah di luar negeri. Sehingga keduanya harus berpisah sesaat. Di tambah, wanita cantik berambut panjang, tetapi berwajah dingin itu sempat bekerja beberapa tahun di Negeri Kanguru, Australia. Jadilah, kerinduan teramat dalam menyergap.


Tristan mendeham. “Inget, lagi dikejar deadline.”


Sandra menoleh dengan tatapan tajam. “Iya, tahu bos. Gue kelarin sekarang. Abis itu gue pulang, ya, mau hangout sama Vivian.” Kemudian, menarik sahabatnya keluar ruangan.


🌺🌺🌺


Sudah lama rasanya Sandra tidak tertawa bersama Vivian. Mereka berdua menikmati waktu sejak pukul tiga sore. Dan, saat malam tiba berakhir di club mewah di salah satu bilangan Selatan, Jakarta.


Waktu pun sudah menunjukkan pukul sebelas. Namun, keduanya belum ingin beranjak pulang.


Wanita-wanita penyuka shopping, traveling, dan hobi ekstrem itu memiliki prinsip hidup yang juga nyaris sama.


Membahagiakan diri sendiri adalah hal mutlak. Begitu selalu kata-kata Sandra dan Vivian.


Tapi, jangan berpikir mereka ke club untuk mabuk-mabukan. Di sana justru jus adalah minuman yang tersaji di atas meja. Sandra dan Vivian hanya ingin berjoget gembira di bawah lampu kelap-kelip.


“SEJAK LO KE LUAR NEGERI, GUE ABSEN DATANG KE CLUB! BORING SENDIRIAN!” teriak Sandra sambil terus berjoget.


“SAMA! GUE JUGA UDAH LAMA GAK KE CLUB! KITA MEMANG OTOMATIS CUPU KALO TERPISAH!”


Keduanya tertawa bersama.


Lelah berjoget. Sandra dan Vivian memutuskan kembali ke meja.


“Vi, gue toilet dulu.”


“Oke.”


Sepuluh menit berada di dalam toilet. Sandra keluar, tetapi tepat di depan pintu. Dua orang pria setengah mabuk menghadang. Sialnya, suasana di luar sedang sepi.

__ADS_1


“Hai, Cantik. Ayo, kita bersenang-senang bersama.”


Sandra menepis tangan salah satu dari mereka dengan kasar ketika ingin menyentuhnya. “Brengsek! Jangan coba pegang-pegang gue!”


“Enggak usah sok jual mahal. Berapa harga lu? Gue bisa bayar.”


Sandra mengepalkan kedua tangan ingin meninju.


Setelah peristiwa terakhir bersama Finn. Sandra bertekad untuk membentengi diri dengan salah satu seni bela diri. Sudah selama enam bulan berlatih dengan latihan intensif satu minggu sekali.


Namun, seketika Sandra tercengang. Baru saja mau melayangkan tinju, seseorang sudah lebih dulu melakukan.


“Finn.”


“Mundur, Baby.”


Finn meninju keduanya. Hanya dalam beberapa kali melakukan saja, pria-pria itu sudah tergeletak tak berdaya di lantai.


Puas menghajar mereka. Finn menghampiri Sandra seraya memegang kedua pipi berona merah muda itu.


“Baby, kamu gak papa?”


Refleks Sandra menggeleng.


Selang beberapa menit kemudian, petugas keamanan club datang.


Salah seorang dari mereka bertanya, “Bos Finn, kalian berdua tidak apa-apa?"


“Ya. Bereskan mereka. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi!”


Petugas keamanan bertubuh besar-besar segera membawa kedua cecunguk tersebut.


Finn merupakan pelanggan tetap yang cukup royal di Club. Jadi, tak heran jika ia begitu dikenal.


“Sekarang kita pulang dan jangan pernah lagi datang ke tempat seperti ini.” Finn menarik tangan Sandra.


Pulang? Loh, tunggu. Vivian ....


“Finn, lepas!”


“Tidak! Kita pulang.”


“Finn, aku gak mau pulang!”


Finn berbalik dengan wajah garang. Ia khawatir dengan Sandra. Oleh karena itu nada bicaranya agak tinggi. “Lalu, mau apalagi? Kurang puas tadi sudah diganggu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Misalnya di bawa ke hotel. Mau?”


Sandra mengernyit. Kemudian, kembali mencoba melepas pegangan tangan Finn. “Lepas! Tidak usah ikut campur urusanku. Aku bisa menjaga diri!”


“Menjadi urusanku kalau itu menyangkut kamu!” Finn menatap lekat Sandra. “Kita pulang. Jangan membantah!”


“Finn! Aku gak mau pulang. Vi ... FINN! TURUNKAN!”


Kesal dengan penolakan Sandra. Finn langsung menggendong wanita itu ala karung beras.


Sandra berontak. Memukul-mukul bahu dan punggung Finn sekuat tenaga secara membabi buta.

__ADS_1


Sial, kudu rajin latihan lagi. Karena, Finn masih lebih kuat. Buktinya pukulan gue kayak gak berpengaruh sama sekali. Malah tangan gue yang capek. Sandra membatin heran sekaligus kesal.


Finn memasukkan Sandra dengan paksa ke dalam mobil. Wanita itu mulai berontak lagi. Ingin keluar dari sana, tetapi ancaman menghentikan keinginan tersebut.


Finn mengancam jika masih berontak, akan merobek seluruh pakaian Sandra.


“Bajingan!”


“Iya. Kedua pria tadi memang bajingan.”


“Kamu juga sama dengan mereka.”


Finn mendekati Sandra. “Aku?”


“Jangan dekat-dekat, Finn!”


Finn tak peduli. Ia memasangkan seatbelt untuk Sandra. “Aku menolongmu. Lantas malah menyebutku sama dengan mereka. Kenapa?” suaranya mulai melembut.


“Aku tidak memintamu untuk menolong.”


Finn mengembuskan napas berat. Ia tengah menahan geram. “Tidak tahu terima kasih.”


Sandra tak memedulikan ucapan Finn. Ia mencoba membuka pintu mobil, tetapi terkunci. “Buka, Finn!”


“Aku antar kamu pulang dan jangan pernah datang ke club lagi. Oke, Baby.” Finn berkata dengan nada semakin lembut.


“Apa hakmu?”


“Jangan keras kepala.”


“Buka pintunya, Finn! Aku gak mau pulang. Ada Vi ....”


Finn langsung mendaratkan ciuman agar Sandra diam. Menahan tengkuknya dan mencium intens bibir kenyal itu.


Sandra mendorong tubuh Finn. “Dasar gila!”


“Aku bisa melakukan lebih gila lagi dari ini kalau kamu tidak menurut.”


“I hate you, Finn Elard!”


“I love you too, Sandra Rein.”


“Gila!”


“Tergila-gila sama kamu.”


“FINN ELARD!”


“Baby, bisa pelankan suaramu. Kita masih berada di parkiran club. Aku hanya takut orang menyangka teriakanmu adalah desahan kenikmatan. Atau kamu memang ingin making love denganku disini. Di dalam mobil ini. Hm, sensasinya pasti luar biasa bermain di tempat sempit begini. Mau mencoba?” Finn mengerling menggoda.


Sandra menggeram. “FINN ...,” Ia tersadar dan menurunkan ritme suaranya. “,... dasar mesum.”


Finn tertawa. Ia langsung tancap gas, melajukan mobilnya keluar dari club.


Sementara, Sandra pusing memikirkan sahabatnya yang tertinggal di Club. Ingin menghubungi Vivian pun tidak tahu bagaimana caranya. Karena, ponsel berada di dalam tas yang dititipkan kepada sang sahabat sebelum ke toilet.

__ADS_1


__ADS_2