
Halo, kakak-kakak. Tengkiu like, vote, hadiah, dan komentarnya. Ailophyuufull 😘💞
Masihkah kakak-kakak kuat membaca kisah Finn & Sandra? Kalo masih, mari kita lanjut. Kalo separuh kuat, intip-intip aja sambil bawa bantal, guling, boneka, handuk, atau apa pun bakal buat remek-remek tangan supaya emosinya tersalurkan. Kalo sudah gak sanggup, aku sarankan stop dulu membaca cerita ini. Silakan kembali lagi kalo suasana cerita sudah adem, ayem, tentrem ✌️😊
Well, semua keputusan ada di tangan kakak-kakak. Karena, aku akan terus melanjutkan cerita sesuai apa yang ada di kepala. Maafkan aku yang tega ini #salim #sungkem #pissandloph ✌️🙏💞😘
Kuy, cekidot 😉
Episode kali ini mengambil sudut pandang dari Sandra.
Sudah satu bulan aku keluar dari rumah sakit. Hari ini giliran untuk kontrol. Memastikan semua sudah benar-benar pulih. Aku datang bersama Bunda dan Mami.
Sejak keluar dari rumah sakit, secara sepihak bunda memutuskan agar tinggal di rumah keluargaku. Aku hanya bisa diam, enggan berargumen.
Setiap hari, Mami Diana menjengukku tanpa satu kata pun menyinggung Finn. Aku ingin bertanya, tetapi urung. Takut jawaban yang akan kudapat nanti menyakitkan hati.
“Bunda, Mami. Aku mau ke toilet dulu.” Setelah mereka mengangguk, aku segera pergi.
Namun, siapa sangka. Usai melakukan ritual di dalam kamar mandi. Saat ingin keluar, melihat suster yang dulu sebagai penyambung via telepon antara aku dan Roy. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Aku langsung menarik perawat itu masuk ke toilet.
Tingkah konyolku tentu saja mengagetkan suster tersebut. Hampir saja perawat itu berteriak. Kalau aku tidak langsung menutup mulutnya dengan tangan.
“Suster, jangan berteriak. Saya hanya mau bertanya.” Aku melepas tangan, setelah perawat itu mengangguk.
“Ibu Sandra, mau bertanya apa?”
“Suster, masih ingat nama saya?”
“Tentu saja.”
Aku tersenyum senang. Lalu, mulai bertanya mengenai Roy yang menelepon. Kenapa asisten dari Finn itu tak langsung menemuiku saja?
Terlihat dari raut wajahnya kalau suster itu ragu sekaligus takut untuk berbicara. Namun, aku meyakinkan tak akan terjadi apa pun pada pekerjaannya. Aku pun berjanji akan tutup mulut.
Akhirnya, suster itu mengangguk setuju. Ia mulai buka suara. Mengatakan kalau Roy beberapa kali datang ingin menemuiku, tetapi ditolak bunda dan mami. Sehingga, meminta tolong untuk menjadi penyambung via telepon.
Lebih mengejutkan lagi, suster itu bercerita hal lainnya yang membuatku mematung. Namun, aku menyimak setiap kata yang keluar dari bibir perawat itu. Rasa hatiku begitu sakit mendengar cerita tersebut.
Suster pun menyudahi pembicaraan. Kata perawat itu sudah terlalu lama berada di dalam toilet. Takut ada yang mencari.
Sebelum suster itu pergi, aku meminta nomor telepon Roy. Tapi, sayang. Ponsel yang dulu digunakan untuk penyambung bukanlah milik perawat itu. Melainkan kepunyaan asisten Finn.
🌺🌺🌺
Seluruh rangkaian pemeriksaan telah selesai. Hasilnya akan keluar minggu depan. Aku bersama Bunda dan Mami langsung pulang.
Mami tidak mampir lebih dulu. Kata Mami sedang ada urusan lain. Aku dan Bunda pun mengangguk kemudian mengucapkan terima kasih. Karena, sudah menemani dan mengantar jemput.
__ADS_1
Aku dan Bunda melangkah masuk. Namun, baru sampai garasi, kejutan lain menyapa. Dari jauh aku melihat Alexander sudah duduk manis di kursi depan rumahku.
Aku jelas bertanya-tanya. Mau apa dia?
“Sandra, bukankah itu Alexander?” Bunda bertanya kepadaku.
Aku kaget mengetahui kalau Bunda mengenalnya. Karena, seingatku, tak pernah mengenalkan Alexander kepada siapa pun. Apalagi, keluargaku.
Aku menoleh dan bertanya, “Bunda mengenalnya dari mana?”
“Beberapa kali, bule itu datang menjengukmu saat masih di rumah sakit. Tapi, selalu berkunjung pada saat kamu tidur. Jadi, tidak pernah bertemu. Bunda pun lupa untuk bercerita.”
Aku terdiam. Kemudian, melangkah bersama Bunda menghampiri Alexander.
“Alex,” panggilku.
Alexander menoleh dan tersenyum. Menyapa Bundaku lebih dulu dengan sangat sopan seraya menyerahkan dua paper bag besar. Melihat dari nama yang tertera di kantong tersebut, aku menaksir kalau isinya adalah kue-kue lezat.
“Terima kasih, Lex. Kenapa repot-repot?” Aku berbasa-basi.
“Aku tidak merasa repot. Bagaimana kabarmu, Sandra?” tanya Alexander kepadaku dengan mimik khawatir. Sungguh, aku tidak menyukai raut wajah tersebut.
“Sedikit masih pusing. Sepertinya aku masih butuh banyak istirahat.” Aku berpura-pura sakit kepala agar bisa menghindar. Bagaimana pun juga statusku masih memiliki suami. Tak elok rasanya menerima tamu laki-laki.
Mendengar ucapanku, Bunda dan Alex terlihat percaya. Karena, langsung menyuruhku masuk agar bisa beristirahat.
Aku membuka beberapa berita. Aku tak percaya jika Finn mengundurkan diri sebagai CEO Liam Group tepat satu hari setelah kecelakaan tersebut. Aku membuka video yang menampilkan Papi Chris.
Papi mengatakan jika Finn mengundurkan diri karena ingin mengurusku pasca kecelakaan. Tentu, aku tak terima.
Permainan apa yang tengah dua keluarga ini mainkan? Sungguh sangat tidak lucu. Mereka mau mempermainkanku atau apa? Kenapa satu pun tak ada yang menjelaskan kepadaku?
Aku pun memutuskan terus mencari berita-berita mengenai Finn. Salah satu artikel menarik perhatianku untuk membuka.
Kejutan demi kejutan sungguh membuatku ingin menodong Finn dan semua keluarga dengan banyak pertanyaan. Aku tidak suka dipermainkan. Aku akan sangat marah jika ada yang melakukannya.
Lalu, melihat kenyataan kalau saat ini semua orang termasuk Finn mempermainkanku. Jelas saja aku tak suka. Sekarang, aku benar-benar marah.
Segera saja aku mencari alamat email Field Construction.
Begitu dapat, segera aku mengirimkan email. Bertanya langsung pada inti, di mana keberadaan Finn.
Aku yakin seribu persen kalau Roy yang akan menjawab. Karena, pria itu kaki tangan Finn.
Satu notifikasi masuk. Tanpa banyak berpikir membuka dan membaca. Benar saja, Roy yang menjawab. Asisten Finn itu mengatakan kalau suamiku berada di Field Construction.
Roy pun memberikan alamat dan kode pin akses masuk ke gedung. Ia menambahkan posisi persis keberadaan Finn.
__ADS_1
Notifikasi kembali masuk. Roy mengirimkan video dan beberapa foto beserta satu kalimat panjang yang membuat kelu.
🌺🌺🌺
Usai makan malam tanpa kehadiran Tristan yang sedang sibuk di kantor. Aku pamit ingin langsung ke kamar.
Kalau saja kondisi Ayahku sehat. Mungkin sudah memberondong dengan ribuan pertanyaan.
Di dalam kamar, aku merenung. Aku teringat akan perselingkuhan Finn dengan Kanaya.
Seketika darahku mendidih. Di tambah teringat calon anakku yang keguguran.
Aku melangkah menuju lemari, mengambil sebuah brankas kecil. Terdapat sebuah pistol yang kusimpan rapi dan rapat. Aku memandangi senjata api itu dengan sorot tajam dengan wajah Finn terus menari-nari di kepala.
Finn, aku tidak suka dipermainkan. Kamu harus membayarnya. Kematian calon anakku, kesedihanku, dan perselingkuhanmu.
Segera saja aku berganti pakaian. Mengambil pistol, mengisinya dengan tiga peluru. Kemudian, menaruh di selipan celana belakang.
Lalu, keluar mengendap-endap lewat pintu belakang. Begitu berhasil kabur dari rumah, segera aku berjalan cepat dan menaiki salah satu ojek yang terdapat di pengkolan.
Tujuanku adalah Field Construction. Finn adalah targetku.
🌺🌺🌺
Tanpa banyak berpikir, aku melangkah masuk. Gedung itu memiliki penerangan temaram, seperti tak terurus. Namun, aku tetap bertekad ke dalam.
Setelah berhasil membuka pintu gedung dengan nomor pin yang diberi Roy. Aku mantap mengayunkan kaki menuju ruangan Finn. Aku berjalan seraya menggenggam sebuah pistol di tangan.
Aku mendorong pintu. Begitu terbuka langsung menampilkan sosok yang memang menjadi target. Aku melangkah masuk. Mengacungkan pistol tepat ke arah Finn. Aku sudah sangat siap menembak.
Finn menatapku. Wajah suamiku terlihat tak terurus dan menyedihkan.
Finn berkata dengan nada sedih. “Tembaklah, Bee. Aku tidak akan menghindari pelurumu. Kirim aku ke akhirat menemui anak kita.”
Merasa ditantang, aku bersiap melepaskan peluru.
Namun, sebelumnya mengucapkan kata cinta sekaligus kebencian. “FINN ELARD, I LOVE YOU BUT I HATE YOU!”
“INI UNTUK CALON ANAKKU!” Tembakan pertama, aku lepas.
“INI UNTUK KESEDIHANKU!” Tembakan kedua, sukses meluncur.
“INI UNTUK PERSELINGKUHANMU, BAJINGAN!” Tembakan ketiga sekaligus yang terakhir pun melesat cepat.
Setelahnya tubuhku meluruh ke lantai bersamaan dengan tangisan yang meraung-raung. Selesai sudah. Semua rasa sakit, berakhir.
__ADS_1