ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Demi perdamaian


__ADS_3

Kehadiran calon anak dan cucu pertama pasti di nantikan. Tersemat begitu banyak doa dan pengharapan. Layaknya putra mahkota adalah cara mereka memperlakukan. Semua ingin memberikan yang terbaik bagi sang janin. Tak heran, jika Sandra sedemikian dijaga mulai dari pola makan sampai pergerakan.


Ketika Sandra berkeinginan keluar rumah seperti mal atau tempat yang mengharuskan banyak berjalan, wajib menggunakan kursi roda. Seperti biasa, Helena dan Diana mendominasi. Harus begini dan begitu.


Saat para orangtua pulang dan tinggal berdua saja, Sandra menangis. Ia tak mau pergi ke mana pun menggunakan kursi roda. Tapi, sang bunda dan mami memintanya melakukan hal tersebut dengan alasan agar tidak kelelahan. Alhasil, wanita itu membatalkan rencana pergi.


Awalnya, Sandra merasa senang mendapat curahan perhatian yang banyak dari mereka. Tapi, lama-lama merasa terkekang. Karena, aturan yang dibuat semakin banyak.


“Aku tidak mau menaikinya.” Sandra menangis dipelukan Finn di kamar mereka.


“Mami dan bunda hanya ingin yang terbaik untukmu. Apalagi, ini cucu pertama dan kamu pernah keguguran. Ambil sisi positifnya saja, kalau mereka melakukan hal tersebut karena sayang denganmu dan calon anak kita.”


“Aku tahu. Tapi, biasanya ibu hamil yang menggunakan kursi roda kalau kehamilan memiliki risiko dan membutuhkan perhatian dan istirahat lebih. Sedang aku kan tidak, meski pernah keguguran. Aku masih kuat jalan. Kalau lelah pasti bilang dan istirahat.”


Finn mengusap punggung Sandra dan mengecup berkali-kali puncak kepala sang istri. “Ya, sudah. Lain kali kalau mau pergi, usahakan jangan sampai mami dan bunda tahu. Bilang kepadaku kapan kamu mau keluar. Biar aku menemani.”


“Honey, bilang mami dan bunda. Jangan memperlakukanku berlebihan.”


“Jangan menyinggung perasaan mami dan bunda. Mereka melakukan hal tersebut juga karena euforia menyambut cucu pertama.”


Sandra memeluk Finn semakin erat. “Jangan biarkan aku memakai kursi roda. Aku tak mau.”


“Iya.”


“Besok sehabis periksa, aku mau pergi ke mal. Kamu sibuk, tidak?”


“Sudah pasti sibuk. Tapi, aku beri waktu dua jam di mal. Setelah itu, kamu pulang, istirahat. Aku kembali ke kantor.”


“Iya.”


“Sudah jangan menangis lagi.”


Sejujurnya, Finn cukup pusing berada di tengah keinginan wanita-wanita tersayang. Memihak salah satu dari mereka, jelas tak mungkin.


Finn tahu, apa yang orang tua mereka lakukan adalah hal baik demi sang janin dan Sandra. Tapi, apa mau dikata. Istrinya sendiri tak terlalu menyukai pilihan tersebut.


Finn enggan memaksakan kehendak para orangtua kepada Sandra. Karena, sang istri pasti akan kembali merajuk sebab merasa tak didengarkan dan juga tidak dianggap.


Jadi, Finn membuat pilihan sendiri. Mengiakan apa pun perkataan para orangtua di depan mereka Setidaknya, tak ada yang tersinggung karena merasa terabaikan. Jadi, perdamaian dunia rumah tangga bisa tercipta tanpa perlu ada perdebatan sengit.

__ADS_1


Lalu, menuruti kemauan sang istri di belakang orangtua mereka. Toh, Finn tahu apa yang Sandra inginkan tidak membahayakan. Masih hal wajar-wajar saja. Jadi, tidak perlu ada kekhawatiran.


🌺🌺🌺


Keesokan harinya


Sandra tengah melakukan pemeriksaan USG. Si kecil muncul di layar komputer. Tercetak jelas gurat bahagia di wajah mereka.


Menatap terus layar tersebut membuat mata Finn berkaca-kaca. Ia menciumi tangan Sandra seraya mengucap banyak terima kasih kepada Tuhan dan sang istri. Karena, bakal anak mereka dalam keadaan sehat dan semua normal.


Hingga akhirnya, air mata meluruh. Finn menangis bahagia. Kesulitan dalam masa kehamilan sang istri. Karena, harus menanggung segala rasa ibu hamil kepada dirinya, dirasa tiada arti setelah melihat sang janin.


Menyaksikan hal tersebut, Sandra berbahagia. Ia merasa beruntung memiliki sosok suami seperti Finn. Meski sering nyeleneh saat berbicara dengan sang janin. Tapi,sudah pasti pria itu sangat menyayangi calon anak mereka.


Usai pemeriksaan, Finn memenuhi janji untuk mengajak Sandra ke pusat perbelanjaan. Mereka memutuskan untuk ke restoran terlebih dahulu. Kebebasan makan untuk ibu hamil tersebut benar-benar membahagiakan untuknya. Memesan apa pun sesuka hati.


Satu jam kemudian, usai makan. Sandra menarik tangan Finn untuk masuk ke kedai es krim. Ia memesan hampir semua rasa. Seperti biasanya saja, wanita itu menyuapi sang suami. Mereka selalu menghabiskan apa pun berdua.


“Bee, akhir-akhir ini aku sudah jarang olahraga. Makan pun mengikutimu. Lama-lama, perut ini bisa membuncit. Bagaimana kalau suatu saat aku berubah menjadi pria gendut yang tak lagi menawan? Masihkah kamu mencintaiku?”


“Tentu saja. Apa pun bentukmu nanti, aku akan selalu mencintaimu. Lagi pula, lebih baik begitu, agar tak ada wanita yang sudi melirikmu. Cukup aku saja yang jatuh cinta denganmu.”


“Oh, masih berharap ada yang menggoda, huh?”


“Itu realitas kehidupan. Bukan berarti aku ingin digoda.”


“Kalau begitu, aku tidak perlu mengkhawatirkannya.”


“Kenapa?”


“Kamu lupa beberapa hari lalu memanggil notaris ke rumah? Memintanya membalik 80% asetmu atas namaku. Jadi, kamu hanya punya 20% saja. Sekarang, akulah yang kaya raya. Jadi, jangan macam-macam atau aku akan menendangmu ke jalan.”


Finn tercengang sesaat kemudian tertawa. Ia benar-benar lupa telah melakukan hal tersebut.


“Benar juga. Ah, aku menyesal melakukannya.”


“Honey.” Sandra mengerucutkan bibir.


Finn tertawa. “Aku bercanda.”

__ADS_1


Sandra kembali tersenyum. “Aku mau beli pakaian dalam khusus orang hamil beserta pakaian-pakaiannya.”


“Sekarang?”


“Iya. Mumpung tak ada mami dan bunda. Jadi, tak perlu naik kursi roda. Aku mau beli semua sekalian. Kalau masih ada yang kurang, nanti aku beli online saja.”


“Siap, My Bee.”


Sandra tersenyum. “Masih ada waktu berapa jam lagi?”


“Satu jam.”


“Tak bisakah hari ini full time untukku?” tanya Sandra dengan tatapan mode puppy eyes.


Finn menghela napas. Mana tahan melihat tatapan tersebut. “Oke. Sebelumnya, aku telepon Roy dulu sebentar.” Ia mengusap kepala Sandra dan mulai menelepon sang asisten.


“Nanti saat kehamilanku berusia tujuh bulan. Kita seperti ini lagi, ya. Diam-diam saja membeli keperluan bayi.”


“Iya, My Bee.”


Sepanjang berkeliling mal, Finn tak melepas genggaman kepada sang istri. Mereka tentu tak hanya berdua saja. Melainkan dikawal oleh dua pengawal yang biasa menjaga Sandra.


Ketika Sandra berhenti untuk memilih-milih barang. Finn berdiri di belakang. Memeluk dan melingkarkan tangan di perut ibu hamil tersebut.


Kesempatan itu juga dipakai Finn untuk mengelus lembut perut yang berisikan anak mereka. Sekaligus menciumi rambut Sandra. Lama-kelamaan, dengan tak tahu malu mengecup terus-menerus leher sang istri. Hingga membuat wanita hamil tersebut menoleh dan mendelik.


“Honey, ini di mal,” bisik Sandra seraya menahan geram.


Para pegawai sebagai saksi mata, baik yang tengah melayani ataupun berada di sekitar, mengulum senyum. Mereka menatap malu-malu pasangan suami-istri tersebut. Pasalnya, perlakuan sang pria kepada wanitanya kelewat mesra untuk ukuran berada di tempat umum.


Beruntung barang yang sedang dipilih Sandra adalah baju hamil. Jadi, para pegawai tahu kalau pasangan tersebut adalah suami-istri.


Sementara Finn tak peduli. Ia justru menampilkan senyum memikat hati untuk sang istri. Kemudian, dengan agresif menciumi pipi Sandra. Berhenti, ketika satu cubitan di pinggang mendarat sempurna. Keintiman salah tempat, akhirnya berakhir.


Kala cinta menggoda. Dunia serasa milik berdua. Begitulah, polah Finn kepada Sandra.



__ADS_1


__ADS_2