ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Klien kakap


__ADS_3



Tiga puluh menit berada di ruangan milik CEO Liam Group, menunggu sang empunya datang. Sandra pun menghabiskan waktu dengan mengamati setiap sudut ruang. Sesekali mencatat dan menggambar di laptop yang ia bawa.


Begitu juga dengan Benny, mulai berpikir untuk mencocokkan jenis barang-barang apa yang diperlukan untuk ruangan tersebut. Ia membuat coret-coret di buku agenda. Pria itu akan mendiskusikan dengan sang bos ketika di kantor nanti.


Sementara Ana dan Cira sibuk mengobrol. Keduanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan CEO tampan itu.


Sandra dan ketiga staf-nya dipersilakan menunggu di dalam oleh Roy. Kemudian, sang asisten ceo kembali mempersilakan mereka duduk di sofa kulit berwarna hitam yang memiliki jumlah seater tiga-dua-satu.


Ana, Benny, dan Cira duduk di tempat yang pas dengan jumlah mereka. Sementara Sandra mendudukkan diri di sofa double.


Selang beberapa menit, pintu terbuka. Finn masuk dan langsung mendudukkan diri di sofa single.


“Maaf, terlambat. Ada beberapa urusan sedikit tadi.” Finn menyatukan kedua tangannya mengarahkan kepada mereka berempat.


“Tidak apa, Pak Finn,” sahut Sandra tersenyum.


Ana dan Cira terpesona melihat wajah sang ceo. Air liur pun hampir menetes dari bibir mereka yang menganga lebar. Jangan lupakan juga kedua bola mata yang hampir melompat keluar.


Sandra menatap malu atas kelakuan Ana dan Cira. Ia memanggil mereka, tetapi tak ada sahutan.


Benny yang menyadari langsung menyenggol kedua temannya agar berfokus.


Ana dan Cira mulai tersadar dan menatap Sandra yang kini tengah melotot ke arah mereka. Keduanya spontan cengar-cengir seraya meminta maaf.


Finn tersenyum melihat Sandra dengan mimik yang menurutnya malah menggemaskan.


“Apa kabar, Sandra?” tanya Finn berbasa-basi.


“Kabar baik. Terima kasih.”


“Tidak mau menanyakan balik kabarku?”


“Oh, maaf. Bagaimana kabar Anda, Pak Finn?” Menyebalkan!


Finn tersenyum. “Satu bulan terakhir ini buruk karena aku terserang kerinduan padamu. Tapi, hari ini sudah terobati.”


Suasana seketika menjadi sunyi dan awkward.


Trio ABC pun menganga mendengar ucapan dari Finn.


Sandra berdeham untuk netralisasi kecanggungan. “Rupanya Anda orang yang cukup humoris, Pak Finn.”


“Tidak usah berbicara formal denganku. Panggil Finn saja dan aku akan memanggilmu ‘Sayang’. Ah, maksudku ‘Sandra’.” Finn tersenyum manis ke arah sang desainer interior kemudian mengerling menggoda.


Sandra tercengang oleh kelakuan sang ceo kepadanya. Ia cukup malu. Karena, Finn melakukannya di depan trio ABC. Akan tetapi, dengan cepat adik dari Tristan itu langsung mengembalikan mimik wajahnya menjadi normal. “Baiklah, Finn Elard.” Ia tidak mau ambil pusing. Asal bisa cepat selesai, lebih baik menurut saja.


“Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Kamu selalu cantik.”


Sandra masih mencoba menyembunyikan perasaan kesalnya. Ia menyunggingkan senyum. “Anda orang kesekian yang mengatakan itu. Jadi, saya tidak kaget.”


“Ah, begitu.”

__ADS_1


“Iya.”


“Aku memang tidak salah pilih seorang desainer interior.”


Hah! Apa hubungannya tadi dia memuji gue cantik dengan memilih desainer interior. Duh, kalo ngomong sama Finn, ucapan kudu banget ekstra hati-hati. Kalo gak, ya, menjadi kayak gini. Tu cowok pinter merangkai kata. Puyeng gue. Sandra membatin.


Ucapan yang terdengar ambigu pun cukup membuat Sandra sakit kepala.


Namun, Sandra menutupinya. Lalu, membalas untuk meluruskan kata-kata tersebut agar memiliki satu makna saja. “Tentu. Meskipun belum se-terkenal desainer lain, tetapi aku selalu melayani klien dengan baik. Rata-rata dari mereka pun selalu puas oleh hasil kinerjaku dan perusahaan."


Finn mengangguk. Lalu, mencondongkan tubuh. Memajukan kepalanya ke arah Sandra. Menatap lekat dan berujar dengan suara pelan lagi parau, “Ya, berikanlah yang terbaik untukku juga. Aku sudah tidak sabar untuk menerima pelayananmu yang memuaskan.” Ia menekankan kata-kata terakhirnya kemudian mengerling kembali.


Sandra menahan geram. Ingin membalas lagi, tetapi ia cukup tahu kalau Finn pasti akan menyahut kembali.


Pasalnya, kata-kata Finn hampir selalu bermakna ganda.


Trio ABC melemparkan pandangan secara bergantian ke arah Finn dan Sandra. Wajah melongo mereka persembahkan untuk keduanya.


Trio ABC tak menyangka jika sang bos cantik mengenal CEO hits itu. Bahkan, terlihat intimate.


“Maaf, bisa kita langsung mulai saja. Saya ....”


“Aku dan kamu. Panggil begitu. Jangan terlalu formal dengan memanggil ‘saya dan Anda'. Kita kan bukan orang lain,” sela Finn memotong ucapan Sandra.


Sandra menganga. Apa-apaan, sih, dia? Nyebelin banget! Sabar-sabar. Tahan jemarimu untuk tidak mencekiknya, batinnya mulai emosi jiwa.


Tapi, mau bagaimana lagi. Meskipun jengkel, Sandra tetap bersikap profesional. Ia hanya ingin urusan cepat selesai. Jadi, harus terus sabar dan sabar atas perkataan Finn yang menurutnya mulai menjijikkan.


“Baik, Finn. Bisa kita langsung berkonsultasi?”


Sandra mulai menerangkan mengenai ide-ide untuk ruangan. Lalu, mengambil laptopnya dan mencoba memperlihatkan denah sementara yang tadi dibuat.


Akan tetapi, belum juga memutar laptop tersebut ke arah Finn, CEO itu sudah berpindah tempat duduk. Mendudukkan diri tepat di sebelah Sandra.


Menyadari tatapan Sandra yang kurang mengenakkan. Finn memberi alasan, “Laptop itu nanti pusing jika diputar-putar. Jadi, aku mengalah untuk berpindah. Kamu pun menjadi lebih mudah untuk menerangkan, bukan?”


Hah! Mana ada yang begitu. Pria ini benar-benar pintar bermain kata. Sandra membatin geram.


Kalau tidak ingat Tristan. Rasanya Sandra ingin benar-benar mencekik leher berjakun itu.


Sandra mengembuskan napas lelah. "Konsep apa yang kamu inginkan, Finn? Aku tinggal menyesuaikan warna, furnitur, dan sedikit mengubah layout saja.”


“Hangat. Aku ingin ruangan ini menghangat. Sama persis dengan hatiku ketika kita bersitatap.” Finn berkata lembut seraya memandang Sandra intens.


Sandra menoleh. Melihat netra pekat milik sang ceo. Aku suka matamu, Finn. Hah! Tunggu. Gue ngomong apa barusan? Jangan terbuai, bodoh, batinnya.


Sandra memalingkan wajah. Berfokus lagi pada laptop. “Baik. Kita bisa mendominasi ruangan ini dengan elemen kayu. Mengaplikasikan ornamen tersebut agar terlihat natural. Furnitur berbahan kayu juga akan banyak kita pakai supaya atmosfer alami, segar, dan tentu hangat bisa menguar. Bagaimana menurutmu?”


“Oke.”


“Baik. Kita deal.”


“Well, satu lagi Sandra. Kamu lihat ruangan ini cukup besar, bukan?”


Sandra mengangguk. “Iya.”

__ADS_1


“Buatkan ruang istirahat.” Lalu, Finn berbisik di telinga Sandra. “Berikan satu tempat tidur king size di dalam sana. Siapa tahu suatu saat nanti kita berdua membutuhkannya?” Ia tersenyum penuh arti dan untuk kesekian kalinya mengerling menggoda kepada sang desainer interior.


Sandra mengembuskan napas berat. Ia membalas dengan berbisik juga. “Bajingan.”


Finn tersenyum simpul.


“Setelah dari sini akan aku buat konsepnya segera.” Lanjut Sandra agar trio ABC tidak curiga oleh bisik-bisik tadi.


“Terima kasih.” Finn berbisik kembali. “Cari kasur yang nyaman dan kuat agar tidak amblas ketika mengalami guncangan hebat.”


“Brengsek,” bisik Sandra membalas.


Sandra mulai jengah sekaligus muak oleh semua ucapan Finn. Namun, dengan sisa kesabaran ia tetap meneruskan.


Sandra menerangkan kembali perihal layout lain.


Akan tetapi, Finn berulah lagi. Ia menggeser duduknya sehingga menempel pada Sandra.


Sandra menoleh. Menatap tajam sang ceo.


“Lanjutkan. Aku mendengarkan,” ucap Finn berpura-pura tak tahu.


Trio ABC sedari tadi sudah seperti nyamuk. Mereka diam karena tidak cukup mengerti dengan apa yang terjadi dengan Finn dan Sandra. Ketiganya lebih memilih menonton.


“Finn, bisa sopan sedikit kepadaku?”


Finn langsung menggeser duduknya. “Maaf. Aku hanya antusias mendengar suara merdumu. Eh, maksudku ... caramu menerangkan.” Ia tersenyum manis kemudian mengerling lagi untuk kesekian kalinya.


Playboy tengik! gumam Sandra.


“So sweet!” seru Cira tanpa sadar.


Sandra melotot ke arah Cira.


Finn justru mengembangkan senyum, memamerkan deretan giginya yang rapi.


Ana dan Benny refleks langsung menutup mulut Cira.


Waktu terus berjalan. Tak terasa sudah dua jam berlalu. Akhirnya, tugas Sandra selesai. Wajah lega kentara terlihat. Ia lantas pamit pulang, tetapi tangannya ditahan oleh Finn.


“Kita makan siang dulu.”


“Maaf, Finn. Kita harus segera kembali ke Kantor. Masih banyak pekerjaan.” Sandra melepas pegangan tangan tersebut.


“Mbak Sandra, kita makan dulu aja. Laper,” sahut Cira polos.


Sialnya, Ana dan Benny mengangguk. Menyetujui ucapan Cira.


“Tapi ....”


“Ayo, ikut semua. Kita makan siang.” Finn memotong ucapan Sandra dan langsung menggiring trio ABC untuk keluar ruangan.


Sandra melongo melihat kelakuan trio ABC yang menurut pada Finn, bukan dirinya. Tanpa meminta persetujuan lebih dulu pun malah pergi begitu saja. Bahkan, sangat gembira, terlihat dari gestur tubuh yang bersemangat.


“Awas nanti kalian di kantor. Gue kasih tugas segunung. Nyebelin!”

__ADS_1


__ADS_2