ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Ponsel misterius


__ADS_3

Mengambil tas yang berisikan flashdisk. Saat membuka, justru terlihat ada benda pipih berwarna hitam di dalam. Finn melirik nakas di samping kasur yang mana di atasnya terdapat ponsel milik sang istri. Ia mengernyit dan merasa janggal karena tahu betul Sandra hanya memiliki satu buah saja.


Penasaran, mencoba menyalakan, tetapi sayangnya benda pipih tersebut mati. Finn mengambil charger di dalam laci dan mengisi daya ponsel itu sambil duduk di pinggir kasur.


Sepuluh menit berlalu, Finn menyalakan ponsel misterius itu. Tak berapa lama, banyak pesan masuk. Semakin disergap rasa curiga. Ia membuka satu per satu.


[My Lady, baru saja kita bertemu. Tapi, aku sudah rindu]


[My Lady, aku mencintaimu. Bahkan, cintaku lebih besar daripada suamimu]


[My Lady, aku ingin bertemu]


[My Lady, nyalakan ponselnya. Aku rindu]


[My Lady, kamu masih ingat apa yang kukatakan, bukan? Nyalakan ponselnya]


[My Lady, aku tidak bisa mencintai wanita lain. Hati ini sudah sepenuhnya kuberikan untukmu]


[My Lady, aku cinta padamu]


[My Lady, baca pesanku. Kita harus bertemu]


[My Lady, aku hanya menginginkanmu untuk menjadi istri. Sekaligus ibu dari anak-anakku kelak]


[My Lady, ayo kita bertemu]


[My Lady, aku merindukanmu]


Finn langsung syok, kecewa, marah. Aliran darah pun terasa mendidih dengan kepala ikut memanas. Rahangnya turut mengeras.


“APA-APAAN INI! SINTING!” Finn menggemeretakkan giginya.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan menampilkan Sandra. Finn masih berfokus menatap ponsel. Ketika sang istri melontarkan pertanyaan, pria itu baru tersadar akan kehadiran wanitanya.


Finn menoleh. Melempar tatapan sedingin es kepada Sandra. Sampai kembali sang istri bertanya lagi, baru ia menyahut dan memberi pertanyaan balik.


Sandra pun terkejut oleh pertanyaan Finn. Ia baru menyadari ketika sudah ingat perihal ponsel yang Alexander beri beberapa waktu lalu.


Akibat syok dan rasa takut datang berbarengan, Sandra menjadi gugup. Kegugupan itu justru semakin membuat Finn salah paham. Penuturan sang suami yang seolah-olah menerima kecurangan asal ia bahagia, membuat wanita itu mengenyahkan ketakutan. Karena, merasa harus menyelesaikan semua secepat mungkin.


Namun, melihat Finn ingin pergi begitu saja tanpa menyelesaikan masalah terlebih dahulu. Membuat Sandra kesal. Ajakan untuk berbicara selalu ditolak dengan alasan ingin mendinginkan kepala dulu.


Sandra semakin emosi. Ia tak ingin Finn pergi ke mana pun sebelum masalah selesai. Akan tetapi, sang suami tetap pada pendirian. Membuat adik dari Tristan itu terpaksa memberi ultimatum.


Namun, Finn malah memberi pertanyaan dengan nada menantang. Sandra yang kadung sudah lelah, tak kalah sengit. Akhirnya, mereka saling melempar tatapan tajam.


Sepuluh menit saling bersitatap. Sandra mengalah. Ia memutuskan lebih dulu tatapan tersebut.


“Ini rumahmu. Tetaplah disini. Biar aku yang pergi. Kirim saja pesan ketika kamu sudah lebih tenang. Aku akan menemuimu.” Sandra mengambil ponsel dan tas kemudian melangkah keluar kamar.


Sandra hanya tak mau Finn yang sedang berselimut amarah keluar dari rumah. Lalu, kembali melakukan kesalahan bodoh.


Finn pun tak mencegah. Ia mematung di tempat. Sifat egois muncul lagi. Namun, beberapa saat kemudian kesadaran kembali.


“Ah, Sial!”


Finn berlari menuruni tangga. Saat pintu lift berdenting dan Sandra keluar. Ia langsung memeluk erat sang istri.

__ADS_1


“Aku minta maaf. Jangan pergi.”


Sandra menangis. “Aku lelah.”


“Maaf.”


“Aku benci kamu.” Sandra memukul pelan punggung Finn beberapa kali.


“Aku memang pantas kamu benci. Maaf.” Finn menciumi puncak kepala Sandra.


Kemudian, Finn membopong Sandra menuju sofa panjang di ruang tamu. Ia memangku sang istri dan kembali memeluknya erat.


Sandra masih menangis. Kali ini, Finn tak memintanya berhenti. Namun, ia mengusap punggung sang istri dengan lembut. Menciumi terus bahu bergetar wanita tercinta dengan perasaan menyesal.


Hingga akhirnya, Sandra tertidur. Menangis dengan durasi cukup lama membuat ia kelelahan. Di tambah pelukan sang suami cukup nyaman. Jadilah, wanita cantik itu terlelap.


Menyadari Sandra tak lagi menangis dan tenang. Finn melepas pelukan dan melihat wajah sang istri. Lantas, ia membopongnya menuju kamar mereka.


Finn membaringkan pelan-pelan Sandra di atas ranjang. Menghapus sisa jejak air mata di pipi. Menarik selimut sampai ke dada.


Finn tak beranjak ke mana pun. Ia tetap duduk di pinggir kasur seraya memandangi wajah Sandra. Rasa menyesal dan bersalah terus menghinggapi. Bahkan, semakin membuat dadanya terasa sesak.


Finn membelai lembut pipi Sandra. “Maaf. Belum menjadi suami yang baik untukmu. Kala mengetahui ada pria bangsawan dan dari segi finansial jauh di atasku mencintaimu. Sejak saat itu, aku takut kamu tinggalkan.”


Finn meraih tangan Sandra dan mengecupnya. “Padahal, aku tahu kamu wanita terhormat. Tak mungkin mengkhianatiku. Justru aku yang pernah berkhianat dan menyakitimu.”


Finn menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. “Saat itu, dengan besar hati kamu malah memberiku maaf dan tetap mau bersama. Aku memang bajingan. Selalu saja membuatmu menderita dan menangis. Maaf, My Bee.”


Dua jam kemudian


Finn yang terus menunggui Sandra dan berada di depan jendela kamar langsung menoleh. Ia bergegas menghampiri sang istri.


“Bee, tenanglah. Aku disini.” Finn mendudukkan diri di pinggir kasur seraya menghapus bulir keringat tersebut.


Sandra menatap Finn sesaat. Kemudian, memeluknya dengan erat.


“Jangan ke club. Jangan ke mana pun.”


“Iya. Aku tidak pergi ke mana pun. Mau minum?”


Sandra mengangguk.


Finn melepas pelukan. Menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikan kepada Sandra.


Sandra menerimanya. Ia langsung menghabiskan minuman dengan cepat.


🌺🌺🌺


Hari sudah sore, matahari sudah tak lagi terik. Sandra dan Finn memutuskan untuk duduk berdua di ujung dermaga.


Sandra membuka pembicaran. Ia menceritakan perihal pertemuannya dengan Alexander saat berniat janjian dengan Vivian beberapa waktu lalu. Ponsel milik sang bangsawan yang berada di dalam tas pun tak luput dari penjelasan.


“Aku ingin memberi tahu, tetapi ketika sampai ruanganmu ada mami dan bunda. Jadi, aku lupa. Di teruskan dengan berita menggembirakan karena aku hamil. Semakin saja terlupakan. Bahkan, hingga saat ini tak mengingat sama sekali semua hal tersebut. Sampai kamu menemukan ponsel itu, baru semua memori muncul.”


“Apa rencanamu sekarang?”


“Sejak mengetahui perasaan Alex kepadaku. Lalu, pria itu yang menyebabkan usahamu hancur. Aku ingin bicara dengannya. Tapi, kamu tak mengizinkan hal tersebut.”

__ADS_1


“Kenapa ingin berbicara dengannya?”


“Aku ingin tahu alasan kuat di balik menggebunya untuk menghancurkanmu.”


“Alex menginginkanmu, apalagi?”


“Aku tahu. Tapi, kenapa sampai setega itu?”


“Lalu, kamu mau apa?”


“Aku mau meluruskan semua. Alex pria yang baik.” Sandra meraih tangan Finn dan menatap sang suami. “Bukan aku mau memuji, tetapi pasti ada salah paham hingga dia berbuat nekat sampai kehilangan logika.”


“Kamu ingin bertemu dengannya?”


“Jika kamu beri izin. Aku percaya, setelah kami bicara, Alex akan mengerti. Selama ini ia menggila mungkin karena pria itu merasa ada yang belum selesai.”


“Kalian benar dahulu hanya berteman?”


“Ya. Aku menganggapnya begitu. Tapi, tak tahu sama sekali jika ternyata Alex memiliki perasaan.”


“Aku masih berat memberimu izin.”


“Aku hanya lelah hidup seperti ini. Aku capek. Aku ingin menyudahi tingkah Alex.”


“Kamu yakin dia mau mendengarkanmu?”


“Ya, aku yakin.”


“Kenapa kamu seyakin itu?”


“Sudah kubilang, Alex pria yang baik. Maaf, Honey. Aku tak bermaksud memujinya kembali. Percaya padaku, setelah kami bertemu semua akan baik-baik saja. Hidup kita akan berjalan normal.”


“Kamu masih percaya Alex baik, setelah sempat menghancurkan usahaku?”


“Untuk itulah, kita luruskan semua. Tanya apa maunya dan beri dia pengertian. Selesaikan semua masalah sampai ke akar.”


“Haruskah aku menurutimu?”


“Tidak harus. Aku hanya istri yang mesti menurut kepada suami, bukan? Aku pun membawa janin di perut. Aku mengerti kekhawatiranmu. Namun, selamanya hidup kita akan dicekam kecemasan jika terus dibiarkan. Hentikan semua agar tak berlarut-larut. Sesegera mungkin.”


“Kamu yakin Alex tidak akan menyakitimu saat kalian bertemu?”


“Seribu persen, aku yakin.”


Finn menatap lekat Sandra. Di kepalanya sedang bertarung antara memberi izin atau tidak. Kecemburuan yang besar karena takut kehilangan mendominasi isi pikiran agar tak mengizinkan. Namun, kata-kata sang istri ada benarnya juga. Semua harus disetop agak tak semakin panjang.


Kisah cinta sang bangsawan yang sudah keluar dari koridor akal sehat, harus segera berakhir. Jika tidak, akan memakan lagi korban. Entah Finn, Sandra, atau sang janin untuk kedua kali.


Finn menghela napas. “Aku mencintaimu. Katakanlah hal sama agar aku bisa memutuskan yang terbaik untuk kita.”


Sandra menarik kaus Finn dan mendaratkan ciuman pada bibir seksi sang suami. Mencecapnya dengan lembut. Namun, semakin lama semakin menuntut. Beberapa saat kemudian, melepas pagutan tersebut.


“Kamu satu-satunya pria yang aku cinta. Aku hanya mau hidup bersamamu sampai kita tua renta. Kemudian, menutup mata menghadap Sang Pencipta.”


Finn tersenyum. Ia meraup bibir Sandra. Membalas ciuman tadi dengan memanas.


Di bawah naungan langit senja yang mulai memerah. Hidup telah kembali bergairah. Senyum sudah merekah.

__ADS_1


__ADS_2