
Sepanjang perjalanan, wajah Sandra merengut. Tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir. Ia mogok bicara. Hal tersebut adalah bentuk demo untuk Finn agar membawanya pulang, sesuai kata-kata sang ceo ketika di Club. Bukan malah mengajak ke tempat lain.
“Ayo, turun.”
Sandra memalingkan wajah dengan bibir mencebik.
“Mau dicium lagi?”
Sandra semakin melengos.
Finn mengembuskan napas lelah. Ia turun dari mobil lebih dulu. Kemudian, berputar untuk membuka pintu penumpang.
“Merajuk, huh?” Finn membelai pipi Sandra lembut. “Turun sendiri atau kugendong.”
Sandra menepis tangan Finn dan turun dari mobil. Ia berjalan menjauh dari sang ceo. Akan tetapi, wanita berparas cantik itu menghentikan langkah ketika melihat pemandangan di depan.
Sandra menajamkan penglihatan untuk menembus gelapnya malam. Namun, beberapa menit kemudian suasana sekitar sedikit terlihat lebih terang. Di depannya tersaji sebuah danau buatan dan tak jauh dari sana ada sebuah bangunan belum jadi.
Sebelumnya, Finn menelepon salah satu mandor bangunan untuk menyalakan lampu sorot agar Sandra bisa melihat sedikit lebih jelas.
“Apa itu?”
Finn memeluk Sandra dari belakang. Melingkarkan tangan di perut dan mendaratkan dagu di bahu sang desainer interior.
Saking fokus pada pemandangan di depan, Sandra sampai tak menyadari. Ia diam saja.
“Suka?” tanya Finn seraya sesekali mengecup leher Sandra.
“Suka apa? Itu danau atau apa?”
“Ya. Itu danau. Kamu suka?"
“Cukup menarik ketika malam hari. Mungkin akan jauh lebih indah jika memiliki penerangan yang baik.”
“Itu belum jadi.”
Sandra mengangguk. “Lalu, bangunan apa itu? Rumah?”
“Ya. Rumah danau untuk kita.” Finn menjawab seraya mengecup lagi dan lagi.
Karena, beberapa kali melakukan hal tersebut, Sandra hanya bergerak seperti menahan geli tanpa protes. Finn pun menjadi semakin berani. Ia menciumi sang desainer interior intens di tempat yang sama.
“Rum-ahh danau ... Finn ...,” Sandra melenguh. Sepersekian menit kemudian baru ia menyadari hal tersebut. “FINN!” Gadis itu terbelalak dan berteriak. Lalu, mendorong kepala sang ceo dari lehernya dan melepaskan tangan kekar yang melekat di perut. “Lepas!”
__ADS_1
Finn melepaskan Sandra dan menatapnya lekat. “Sandra ....”
“Finn! Kenapa sikapmu selalu kurang ajar? Jangan samakan aku dengan wanita-wanita yang pernah bersamamu. Brengsek!” Sial! Bodoh-bodoh. Gue juga pake acara terbuai. Bikin malu.
“Maaf. Aku terbawa suasana,” ucap Finn menyesal. Lalu, meneruskan lagi ucapannya, “Rumah Danau ini sengaja aku bangun untukmu, untuk kita.”
Sandra terdiam sejenak. “Kita? Siapa yang mau tinggal denganmu?”
Tiba-tiba, Finn berlutut di depan Sandra. Ia memegang tangan mungil itu dan mengecupnya satu kali.
Sandra diam memerhatikan tingkah Finn. Di kepala hanya berisi kebingungan dan pertanyaan. Mau apa dia? batinnya.
“Saat pertama melihatmu, aku terpesona. Sejak itu, entah mengapa dorongan untuk memilikimu begitu kuat. Awalnya, memang hanya ingin menjadikanmu sebagai kekasih. Namun, kata-kata terakhirmu menyadarkanku. Kalau kamu wanita berbeda. Ti amo, Sandra Rein.”
“Finn, are you okay?” tanya Sandra mengernyit bingung.
Sandra bukan tak paham maksud dari pernyataan cinta itu. Hanya saja terlalu dini untuk mengungkapkan. Apa lagi, citra buruk yang melekat pada Finn tentu membuatnya semakin menyangsikan kata-kata tersebut.
“Aku mau menikahimu, Sandra Rein.”
“Finn, jangan bercanda,” ucap Sandra menggelengkan kepala. Ia melepaskan pegangan tangan Finn.
“Sandra, aku serius. Maaf, jika terkesan terburu-buru. Aku pun tidak menyiapkan apa pun termasuk cincin.”
“Jangan bilang kalau kamu sedang melamarku?” Kalo lo jawab ‘iya’. Oh, sungguh lamaran macam apa ini? Di waktu tengah malam, temaram. Di pinggir danau. Gue berasa Miss Kunti yang sedang dilamar Mr. Vampire.
Oh, no! Kejadian juga. Please, jangan Finn orang yang akan menjadi pasangan hidup gue. Tuhan, tolong hamba-Mu yang selalu nelangsa dalam urusan asmara. Pria ini bajingan, playboy tengik. Tidak-tidak! Seumur hidup belum pernah ada laki-laki melamar. Kenapa, sih, mesti si brengsek ini yang mengucapkannya pertama kali? Sandra membatin. Ia bingung harus berkata apa.
“Finn, dengar. Lelucon ini tidak lucu sama sekali.”
“Aku tidak sedang membuat lelucon, Sandra.” Wajah Finn terlihat serius.
“Oke. Kamu tidak bercanda. Tapi, kita tidak saling mencintai. Mengenal pun baru beberapa saat.”
Finn berdiri. Meraih kedua tangan Sandra. “Terakhir pertemuan kita, bukankah kamu bilang mencari suami. Dan, aku bersedia untuk itu. Kita bisa segera menikah. Aku juga sudah bilang cinta padamu dua kali malam ini.”
Sandra tercengang oleh ucapan Finn. Hah! Jadi, dia benar-benar serius sama omongan gue. Dan, kata-kata cinta dan lamaran itu ... duh, bagaimana ini? Kalo gue tolak, kata orang dulu pamali. Bisa jadi perawan tua. Tapi, gak mungkin buat nerima. Sekali lagi gue bilang, ini cowok playboy. Siapa tahu kan, ya, memang sudah biasa mengucapkan kalimat tersebut sama banyak perempuan di luar sana? batinnya.
Sandra menarik napas dan mengembuskan perlahan. Mencoba untuk tenang dan berkata lembut, “Finn. Aku memang sudah enggan untuk berpacaran. Tapi, bukan berarti seperti ini juga. Kita baru mengenal. Dan, reputasi burukmu sebagai playboy, membuatku ragu. Maaf.”
“Sandra ....”
“Beberapa bulan menghilang. Tiba-tiba muncul kembali dan melakukan hal seperti ini. Apa salah kalau aku semakin ragu, Finn Elard?”
“Aku punya alasan kenapa menghilang?”
Flashback on
__ADS_1
Semalaman berpikir perihal konsep pernikahan versi sendiri. Harus mempersiapkan apa? Lalu, memikirkan bagaimana masa depan perkawinan agar tidak ada perceraian. Satu kali seumur hidup. Finn menginginkan itu.
Meskipun tersemat citra buruk, tetapi ia juga ingin seperti kedua orangtuanya yakni bersama terus hingga tua. Kalau perlu sampai ajal menjemput.
Oleh karena itu, Finn belum ingin menikah. Karena, memang belum menemukan sosok yang klik. Sampai akhirnya bertemu dengan Sandra.
Berbekal keyakinan kalau Sandra akan menjadi pelabuhan terakhir, juga ucapan-ucapan Ramon dan Manda. Finn mulai merealisasikan persiapan terlebih dahulu.
“Bos, kita berangkat sekarang.”
Finn mengangguk.
Tiba di lokasi, Finn langsung menelusuri tempat yang akan ia bangun menjadi sebuah rumah dan danau.
“Roy, segera hubungi Pak Agam. Pinta ia urus semua surat jual-beli.”
“Baik, Bos.”
Saat senggang, Finn memanfaatkan waktu untuk menggambar. Ia akan membuat hunian terindah, ternyaman, dan terbaik untuk keluarganya kelak. Rumah Danau adalah konsep pilihan sang ceo.
Sebagai salah satu lulusan arsitek terbaik saat kuliah di Amerika Serikat dan pernah menerima penghargaan dari arsitektur Indonesia. Finn akan mendesain sendiri tempat tinggal keluarganya.
Setiap hari, Finn akan mengecek sudah seberapa jauh bangunan dibuat lewat anak buahnya. Ketika libur atau lowong, ia pun akan berada di lokasi. Memantau dan memastikan semua agar tak memiliki kendala berarti.
Jadwalnya sekarang semakin padat. Sibuk dengan segudang pekerjaan dari Liam Group, belum lagi mengecek perusahaannya sendiri, dan terakhir turun tangan langsung untuk menangani pembuatan rumah danau.
Baru malam ini, Finn merasa penat. Butuh penyegaran otak. Akan tetapi, baru saja tiba di club dan berniat ingin ke toilet terlebih dahulu malah bertemu Sandra. Dengan dua cecunguk sedang menggoda sang wanita tercinta.
Kepenatan telah mempertemukannya dengan Sandra. Benar-benar hilang sudah rasa lelah di badan dan otak. Wanita itu telah sukses memorak-porandakan hati dan pikiran. Bahkan, berhasil menata jalan hidup sang ceo agar berada di koridor yang benar.
Finn pun langsung memutar laju mobilnya menuju rumah danau. Ia tak sabar untuk memperlihatkan mahakaryanya kepada Sandra.
Walaupun belum sepenuhnya rampung dan hari pun semakin malam. Finn tak peduli. Minimal sang calon ratu di rumah danau nanti tahu kalau ia serius ingin menjalin hubungan lebih jauh lagi.
Flashback off
Sandra mendengarkan dengan saksama setiap kalimat yang terucap dari bibir Finn. Ia tak menyangka jika sang ceo akan seserius itu.
“Finn, kamu yakin memilihku?”
“Ya. Aku sangat yakin.”
“Tapi, aku belum. Maaf.”
“Aku harus melakukan apa agar kamu yakin? Katakan?” Finn mengecup kedua tangan Sandra seraya berkata kembali, tetapi dengan nada lirih, “Please. Beri aku kesempatan. Aku akan membuktikan kalau sudah berubah dan benar-benar mencintaimu.”
Sandra menatap lekat Finn. Perkataan selanjutnya langsung membuat mimik muka sang ceo terlihat pasrah.
__ADS_1