ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Kepanikan


__ADS_3

Usai kepergian Kanaya dan Roy, tak lama Sandra keluar meninggalkan ruangan sang suami. Ia tak mau banyak bicara di tengah suasana hati yang panas dengan kepala berasap. Tapi, sebelumnya mengatakan kepada Finn akan menunggu di rumah untuk menyelesaikan masalah. Tentu saja, setelah pekerjaan pria itu selesai.


Sandra tak mau berbicara di kantor, selain karena tahu Finn akan ada meeting satu jam lagi. Berbicara di rumah lebih bebas dan leluasa. Untuk jaga-jaga juga, siapa tahu mereka bertengkar. Jadi, tak perlu ada yang mengetahui mengenai kisruh di dalam rumah tangga, tetapi mungkin Roy pengecualian.


Baru saja duduk di dalam mobil. Ponsel Sandra terus saja berbunyi, Seolah-olah tengah mendapat serangan pesan.


Sandra mengambil benda pipih tersebut dan membuka aplikasi hijau. Ada seseorang tak dikenal mengirimi begitu banyak pesan berupa foto dan video. Ia membuka dan tersentak kaget.


Pesan tersebut berisi foto dan video sang suami bersama Kanaya semalam. Dalam video menyiratkan ekspresi Finn yang senang. Duduk berdua di club, bersulang, meneguk minuman seraya tertawa bahagia.


Bahkan, saat Kanaya menyentuh Finn, sang suami hanya diam saja. Di tarik pun menurut. Lalu, keduanya tengah masuk ke dalam sebuah kamar yang terdapat di club.


Seketika Sandra membenci pikirannya yang melanglang buana. Ia takut khayalan tentang sang suami menjadi kenyataan. Rasa tak sanggup membayangkan aktivitas Finn dan wanita lain di atas ranjang.


Sakit kepala yang sedari tadi ditahan semakin menjadi. Sandra hanya bisa menelungkupkan kepala di atas kemudi seraya menahan pusing.


Namun, tanpa sadar air mata luruh, mengalir deras dengan suara pilu dari Sandra mengiringi. Sakit! Sesak! Rasa tak sanggup akan kegetiran kehidupan rumah tangganya yang baru seumur jagung. Meski semua belum jelas, tetapi kesedihan tersebut tak bisa ditahan.


Sandra pun tak menyangka, Finn akan tergoda. Bahkan, Kanaya bisa menyentuhnya dengan mudah meski bagian tangan saja.


Sandra hanya berharap, semoga Finn masih memiliki kewarasan. Namun, jika benar mereka tidur bersama. Ia sudah mantap akan meminta berpisah.


Bagi Sandra dua hal yang tak bisa ia toleransi. Kekerasan dalam rumah tangga dan perselingkuhan.


Selang beberapa menit kemudian Sandra berteriak. Mengacak rambutnya secara kasar. Memukul kemudi dengan kencang berkali-kali.


Kemudian, kembali menelungkupkan wajah di atas kemudi. Menangis lagi, kali ini lebih kencang dengan suara menyayat hati. Ia mulai frustrasi.


Siapa pun yang telah mengirimkan foto dan video tersebut telah sukses membuat Sandra nelangsa. Saat menangis pun membuat semua tubuh bergetar hebat. Menandakan betapa tersiksanya jiwa dan raga.


Sekitar sepuluh menit meratapi nasib bersama tangisan. Sandra mengangkat kepalanya yang semakin berdenyut. Air mata masih mengalir walaupun volume tersebut sudah berkurang. Ia menyalakan mobil dan tancap gas keluar dari tempat parkir gedung Liam Group.


Selama perjalanan ia banyak terbengang. Air mata pun akhirnya berhenti mengalir dengan meninggalkan jejak sembap.


Seketika Sandra teringat akan kisah cintanya beberapa tahun terakhir ini. Semua berakhir dengan pola yang sama. Perselingkuhan di atas ranjang.


Beberapa ketahuan karena ada yang mengirimkan video dan foto, persis kasus Finn saat ini, hanya berbeda isi. Untuk kisah terakhir, baru Sandra menyaksikan langsung adegan ranjang sang mantan.


Mantan yang membuatnya enggan memiliki hubungan lagi dengan pria lain. Sebelum pada akhirnya bertemu Finn kemudian menikah.

__ADS_1


Dulu ketika kejadian, Sandra akan dengan mudah memutuskan jalinan kasih. Tapi, sekarang dan jika itu benar. Butuh waktu dan proses untuk berpisah. Kedua keluarga pun pasti ikut campur. Mengingat hubungan dengan Finn saat ini adalah suami-istri.


🌺🌺🌺


“Bos.”


Tak ada sahutan.


“Bos!”


Hening!


“BOS!”


“Roy! Aku tidak tuli, pelankan suaramu!”


“Maaf, Bos. Saya sudah memanggil dari suara biasa, tetapi bos diam saja. Jadi, saya menaikkan volume.”


Finn menunduk lemah seraya bertanya dengan lirih, “Apakah rumah tanggaku masih bisa bertahan, Roy?”


Roy tidak tahu masalah apa yang tengah terjadi sebenarnya. Tapi, melihat seorang wanita diusir secara kasar oleh Sandra. Ia berspekulasi kalau sang atasan bermain-main dengan jalang dan ketahuan.


Finn menatap Roy lekat. Mencerna sesaat ucapan sang asisten. “Ya. Kau benar. Salah paham ini harus cepat diluruskan. Aku akan menelepon Sandra lebih dulu. Kau boleh keluar.”


Roy mengangguk dan ingin melangkah keluar. Namun, suara sang bos menghentikan ayunan kaki.


“Roy, terima kasih,” lanjut Finn tulus.


Roy tersenyum dan mengangguk. “Apa pun demi kebaikanmu, Bos.” Kemudian ia berlalu pergi keluar dari ruangan.


Finn mengambil ponselnya. Ia melihat begitu banyak pesan di aplikasi hijau dari sang istri.


Finn berniat akan membuka pesan-pesan tersebut setelah menelepon Sandra. Namun, satu panggilan tak diangkat. Kedua-ketiga terabaikan. Begitu keempat kali, baru sang istri mengangkat, tetapi membisu.


Finn tak peduli, yang penting Sandra mau mengangkat saja sudah bagus.


“Bee, aku pulang sekarang, ya. Tunggu aku,” suara Finn lembut.


Tak ada sahutan. Sandra tetap tanpa suara.

__ADS_1


“Bee, ti amo. Kamu segalanya untukku. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu.”


Sandra masih tak menyahut.


“Aku tutup teleponnya, ya. Aku langsung jalan sekarang.”


Namun, belum juga menutup telepon. Suara keras dengan teriakan dari Sandra mengiringi, terdengar cukup memekakkan telinga. Membuat Finn tersentak kaget. Refleks ia berdiri.


Sejenak terdiam kemudian memanggil sang istri. “Bee. Bee! Apa yang terjadi?” Finn mulai panik. “Sandra! SANDRA! APA YANG TERJADI? BEE! SANDRA! SANDRA REIN!”


Finn menatap layar ponselnya, masih tersambung. Kemudian, meletakkan kembali di telinga. Sayup terdengar suara yang cukup ramai beserta ucapan mereka dengan samar. Ia menajamkan pendengaran. “Oh, tidak! SANDRA!” Segera ia keluar, meminta Roy agar ikut dengannya.


Sontak Roy kaget dan bertanya, “Bos, ada apa?”


“Roy, cepat buka berita online, media sosial, atau apa pun itu. Cari berita kecelakaan yang baru saja terjadi. Segera, Roy. Sekarang!” Finn berbicara sambil berlari.


Roy menurut. Sambil ikut berlari mengikuti sang bos, ia membuka ponsel dan mencari berita tersebut.


🌺🌺🌺


Aplikasi hijau milik Sandra berdering. Ia melirik sekilas Apple CarPlay, melihat nama yang tertera di layar.


Sandra mengabaikannya. Namun, lama-lama rasa tak tega muncul. Kemudian, dengan setengah hati menerima panggilan tersebut. Tapi, memilih diam.


Sandra menyimak ucapan Finn. Sang suami bilang akan pulang sekarang. Ia tersenyum tipis, tetapi masih membisu.


Lalu, Finn mengatakan cinta dan bilang tak bisa hidup tanpanya. Seketika Sandra ingin menangis kembali, tetapi ia tahan. Tak mau jika sang suami mengetahui hal tersebut.


Sandra begitu merindukan polah dan ucapan manis dari Finn. Tapi, sampai masalah selesai, ia hanya berniat akan diam tak mau jujur akan kerinduan tersebut.


Sandra semakin tenggelam dalam bisu. Pikirannya kembali berkelana. Sehingga kurang berfokus pada jalan. Ia menyetir dalam bengang.


Tanpa sadar, Sandra menaikkan kecepatan mobil. Sehingga melaju cepat dan menabrak sebuah truk beroda delapan persis di depan.


Mobil Sandra terjungkal, bergulingan di atas aspal jalan tol. Kendaraan tersebut baru berhenti ketika menabrak separator jalan.


Teriak kesakitan dari bibir Sandra tak terelakkan. Sebelum kesadaran menghilang, ia berucap lirih seraya berusaha memegang perut.


“Janinku.”

__ADS_1


__ADS_2