
Eksekutif muda dengan wajah tampan dan penyayang. Dulu, selain sang mami tersayang. Semua wanita akan ia sayang. Sekarang hanya ada Sandra seorang.
Lady killer itu sepenuhnya kapok dalam mempermainkan wanita.
Sang mantan playboy pun berbulan-bulan menjalani kesibukan yang tiada habis. Finn bertekad menyelesaikan rumah danau secepatnya. Siang-malam ia berkutat pada seputar tumpukan pekerjaan. Mengorbankan banyak waktu kebersamaan bersama Sandra. Mereka pun tak lagi pernah bertemu sejak terakhir acara makan malam.
Untuk melepas rasa rindu, Finn akan video call. Pesan kerinduan pun tak pernah absen pada pagi, siang, dan malam hari. Bahkan, satu kuntum mawar merah akan selalu mampir ke tangan Sandra setiap harinya.
Finn rela berjauhan sesaat demi bisa bersama Sandra selamanya. Bahkan, menahan kesakitan akibat merindu.
Suara ketukan pintu terdengar. Finn mempersilakan masuk.
“Bos ....”
“Roy, apa jadwalku hari ini?”
Roy membuka tablet berukuran 7 inci dan membacakannya untuk sang bos. “Satu jam lagi kita ada meeting dengan PT. Angkasa Raya. Pukul 12, makan siang bersama dengan para komisaris perusahaan sekaligus membahas perihal rencana pembangunan yayasan. Jam dua, meninjau lokasi pembangunan gedung untuk restoran fastfood. Sekaligus meeting.”
“Lain kali cek siapa owner dari proyek dengan detail. Jangan terima jika pemiliknya seorang wanita yang kesepian. Memuakkan!”
“Baik, Bos.”
Roy menahan tawa. Biasanya sang bos akan senang bekerja sama dengan wanita cantik nan menggoda. Tapi, sekarang seperti alergi.
Proyek tersebut pun diterima oleh perusahaan milik Finn pribadi. Jadi, otomatis ia harus turun tangan sendiri. Karena, sang ceo bertanggung jawab juga menjadi arsitek pembangunan.
“Periksa berkas itu.” Finn memberikan beberapa dokumen.
“Kita juga harus membawa gambar bangunannya, Bos. Apa sudah siap?”
“Ambil di sana.” Tunjuk Finn lewat ekor matanya ke arah meja dekat sofa.
“Bos, jam tujuh malam jadwal terakhir. Kita langsung berangkat ke kantor Pak Ryuji Nobi untuk berdiskusi mengenai proyek kolaborasi.”
“Jangan lupa bawakan sesuatu untuk Pak Ryuji.”
“Baik, Bos.”
“Roy, selesai jam berapa kira-kira malam ini?”
“Jika sudah bertemu Pak Ryuji waktu seharian pun tak cukup, Bos. Tapi, beliau pukul sepuluh malam sudah harus berangkat ke Bandara. Jadi, kemungkinan sekitar jam sembilan pekerjaan hari ini selesai.”
Finn mengangguk. “Keluarlah.”
“Permisi, Bos.”
🌺🌺🌺
Mengikuti jadwal satu per satu dengan urut.
Saat ini, tiba waktu Finn dan Roy menyambangi lokasi pembangunan gedung fastfood. Sekaligus meeting dengan sang owner. Pemiliknya seorang pengusaha wanita bernama Vanessa.
“Selamat siang, Pak Finn. Apa saya terlambat?”
“Lima menit.”
“Maaf?”
Finn tersenyum. ”Tidak apa. Kita langsung mulai saja.”
“Baiklah. Silakan duduk.”
__ADS_1
Sepuluh menit baru berlalu, tetapi sangat terasa lama bagi Finn.
Pasalnya, ia harus menahan jengkel oleh kelakuan Vanessa yang terus memberi gestur menggoda.
Finn baru sadar, ternyata wanita sejenis Vanessa sangat menjijikkan. Menyesal dulu ia pernah menyambut beberapa perempuan semacam itu. Cantik memang, tetapi terlihat murahan.
Pakaian Vanessa pun di nilai oleh Finn tak cukup pantas untuk ukuran orang yang sedang bekerja. Memakai pakaian seksi dengan belahan dada rendah. Bahkan, saat berbicara, aksen suara dibuat seperti bunyi mendesah.
Entahlah, apa isi pikiran wanita tersebut. Finn hanya bisa mengembuskan napas berat.
Demi kesopanan dan atas nama profesionalitas, Finn pun selalu tersenyum.
Satu jam berlalu. Rapat dengan Vanessa usai sudah. Finn dan Roy pamit.
Akan tetapi, saat bersalaman dengan Finn. Vanessa memberikan sesuatu di tangan sang ceo.
“Aku tunggu malam ini di Apartemen. Aku akan membuatmu senang.” Vanessa berbisik dengan aksen berdesah.
Finn memundurkan langkah. Melihat sesuatu di tangan yang diberikan Vanessa tadi. Sebuah kartu akses apartemen.
Finn tersenyum seraya mengembalikan kartu tersebut dan berkata, “Maaf. Saya permisi pamit, Ibu Vanessa.”
Finn berlalu pergi dengan Roy mengekor. Meninggalkan Vanessa dengan wajah kesal.
Vanessa tak menyangka, pria dengan citra pencinta wanita itu telah menolaknya mentah-mentah. Kepalan tangan beserta umpatan pun dengan lancar keluar. Tentu, mengatai sang ceo.
Tiba di kantor, Finn langsung berkutat pada lembaran besar kertas proyek. Menggambar dengan teliti.
Beberapa jam kemudian
“Bos, sudah saatnya berangkat.” Roy menyembulkan kepalanya tanpa berminat untuk masuk.
Tak terasa waktu pun sudah malam. Saatnya menyelesaikan rutinitas terakhir di hari ini.
“Sudah, Bos.”
Finn mengangguk. Meninggalkan gambarnya untuk tugas lain dari Liam Grup.
Tiga puluh menit kemudian
B&W Twins adalah nama gedung kembar berlantai lima. Sesuai namanya tersebut, tempat itu berwarna hitam dan putih. Desain unik karya Ryuji Nobi sendiri. Tempat itu sangat terkenal seantero Indonesia.
Pria berusia enam puluh tahun tersebut pun, sudah langganan menerima penghargaan bergengsi sebagai arsitek terbaik. Belum lagi beberapa penghargaan lain dalam kategori bangunan gedung dengan arsitektur ikonik.
Kebetulan, sang masterpiece of architecture itu kenal dekat dengan Chris dan Diana. Finn pun menganggap Ryuji sebagai salah satu gurunya.
Sukses berkolaborasi dengan mahakarya hunian apartemen hits di Jakarta beberapa waktu lalu. Mereka kini berniat untuk bekerja sama kembali. Rencananya, kedua arsitek itu akan merancang bangunan. Sebuah gedung yayasan untuk penyandang difabel.
Proyek tersebut merupakan ide dari Diana. Sang mami meminta Ryuji dan Finn untuk merancang bangunan tersebut.
“Apa kabar, Sensei?”
“Kabar baik, Anak Muda.”
“Papi dan Mami menitipkan salam.”
“Ah, aku tidak mau memberi salam kembali. Suruh mereka main ke rumah. Jangan lupa bawakan kue keto buatan Diana.”
Finn menyunggingkan senyum. “Akan Finn sampaikan.”
“Jangan datang minggu ini. Aku harus kembali ke Jepang.”
__ADS_1
Finn mengangguk. “Titip salam untuk Ryuko, Sensei.”
“Anak itu tidak akan bisa tidur begitu tahu mendapat salam darimu.”
Finn tertawa. “Gadis cantik yang menggemaskan.”
“Mau menunggunya sepuluh tahun lagi?”
“Kalau Mami mengizinkan Finn tidak menikah selama masa tersebut. Finn tak keberatan, Sensei.”
“Jangan mengatakan kepada Diana tentang pembicaraan ini. Nanti aku bisa mati digantung. Karena, menyebabkan putranya lama menikah akibat menunggu gadis kecil tumbuh dewasa.”
“Siap, Sensei.”
Finn dan Ryuji tertawa.
“Baiklah, Anak muda. Kita langsung saja membahas proyek.”
“Iya.”
“Sudah memiliki ide untuk rancangannya?”
“Finn sudah memiliki bayangan.”
“Baiklah. Kita mulai saja berdiskusi terlebih dahulu.”
Finn mengangguk patuh.
Tepat pukul sembilan malam. Pembicaraan serius tersebut harus terpaksa berakhir. Benar apa kata Roy, waktu seharian saja tidak cukup apalagi hanya dua jam.
Finn dan Roy kembali ke kantor.
“Roy, jam berapa besok jadwalku di mulai?”
“Pukul tujuh pagi, Bos.”
Finn menghela napas. “Pagi sekali. Kapan bisa berduaan dengan Sandra?”
Kerinduan memang seringkali menyerang Finn. Terkadang, ingin sekali menyeret Sandra ke Kantor Urusan Agama. Agar setiap hari bisa melihat sang wanita tercinta di rumah. Tapi, apa daya. Syarat pernikahan itu menjadi penghalang.
“Kenapa Anda tidak menyambangi Ibu Sandra di rumahnya saja, Bos? Malam ini.”
Finn mengernyit. “Apa itu sopan?”
“Mengejar cinta jangan terlalu kaku, Bos. Sesekali melanggar aturan saya rasa tak apa.”
“Hah! Kau bajingan juga rupanya.”
“Sama sepertimu, Bos. Kita mantan *playb*oy.” Roy cengengesan.
“Sial kau, Roy!”
“Saya pulang duluan, Bos. Sudah malam.” Roy keluar dari ruangan. Akan tetapi, ia masuk lagi dengan hanya menyembulkan kepala seraya berteriak kepada Finn untuk menggoda. “Jangan lupa bawa satu kuntum mawar seperti biasa, Bos!”
Spontan Finn melempar Roy dengan kalender yang berada di atas meja. “Pulang sana kau! Berengsek!”
Terdengar gema tawa dari Roy. Sampai akhirnya suara itu menghilang di telan jarak. Sang asisten sudah masuk ke dalam lift.
Roy dan Finn adalah salah satu contoh atasan dan bawahan dengan gaya santai. Sang asisten pun cukup tahu, kapan waktunya bekerja dan menjadi teman. Begitu pun sebaliknya dengan pewaris tunggal Liam Group. Intinya, mereka bisa menempatkan diri pada waktu yang tepat.
Usai kepergian Roy. Finn merenungkan kata-kata sang asisten. Selang beberapa menit kemudian setuju oleh ucapan tersebut.
__ADS_1
“Benar juga apa yang dikatakan oleh Roy.” Finn tersenyum kemudian beranjak bangun. “Berangkat. Tunggu kedatanganku, Baby.”