ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Desakan menikah


__ADS_3

“Bunda ... Ayah! Sandra cantik pulang!”


“Sandra!” Satu tarikan di kuping dari sang bunda yang gemas melihat anak gadisnya pulang dengan berteriak sukses mendarat.


Sandra pun mengaduh kesakitan. “Bunda, nanti kalo kuping aku panjang kayak kelinci gimana?”


“Salah kamu sendiri! Anak perawan pulang teriak-teriak. Bagaimana ada yang mau melamar?”


Ya, Tuhan! Ini lagi yang dibahas. Sandra membatin, lelah.


Sandra mencium tangan Helena dan Theo kemudian cepat-cepat pamit ke kamar. Cara terbaik untuk menghindari pembicaraan berbau pernikahan.


Ketika berada di dalam kamar, Sandra melempar tas kerjanya. Berdiri di depan cermin. Memegang bibirnya dengan jemari. Wajahnya mendadak berubah.


Sandra menjatuhkan diri di kasur. Mengambil bantal, menaruh di atas muka dan memukul-mukulnya.


Kesal, marah, dan benci. Semua rasa kumplet untuk satu nama, Finn Elard. Umpatan pun keluar untuk sang ceo.


“Brengsek!”


“Mesum!”


“Gila!”


Suara ketukan pintu menghentikan aktivitas emosi Sandra. Ia duduk di pinggir kasur. Mengembuskan napas berat seraya mengusap dada. Menurunkan ritme detak jantung yang memacu sangat cepat agar tenang. Mimik wajah dibuat santai. Bibir ditarik ke kiri dan kanan. Berangkat ....


“Bunda.”


“Mandi dan turun makan malam.”


“Iya, Bund.”


🌺🌺🌺

__ADS_1


“Abangmu lembur lagi, Sandra?”


“Meeting, Bund.”


“Sibuk sekali anak itu.”


“Banyak kerjaan di kantor, Bund.”


“Bagaimana kalau Ayah kerja lagi untuk membantu Tristan?”


“NO!” Sandra dan Helena kompak menjawab.


Theo mengangkat kedua tangan, menyerah. Semenjak satu tahun lalu ia terkena serangan jantung hingga sampai kolaps. Istri dan kedua anaknya tak lagi mengizinkan untuk bekerja. Semua kendali dipegang Tristan dan Sandra menjadi pelengkap untuk membantu.


Usai makan malam, Ayah dan anak itu bercengkerama di ruang keluarga. Sandra memeluk erat Theo dari samping. Ia memang sangat dekat dengan sang ayah.


Bagi Sandra, Theo adalah kekasih pertamanya. Satu-satunya pria yang tak pernah menyakiti atau membentak.


Akan tetapi, sang bunda tiba-tiba datang merusak suasana romantis ayah dan anak. Helena menyelak tempat duduk di tengah-tengah Sandra dan Theo. Bahkan, dengan sedikit memaksa melepaskan pelukan mereka.


“Kenapa? Mau marah sama Bunda?”


Helena pun sengaja mendudukkan diri di tengah keduanya. Ia ingin menyentil sang putri agar segera menikah.


Sandra menggeleng seraya berpindah tempat duduk. “Aku mana berani.”


“Makanya cari suami. Jadi, bisa ada yang dipeluk. Kalo Ayah punya Bunda, bukan punya kamu.”


Astaga! Nyokap gue, kenapa jadi kayak ABG gini? Kan gue anak suaminya juga. Masa cemburu, batin Sandra heran.


Sandra mengadu dengan suara lirih kepada Theo. “Ayah, lihat tuh. Bunda mulai lagi.”


“Bunda, nanti juga Sandra nikah. Jangan dipaksa terus,” bela Theo.

__ADS_1


“Terus aja bela, Yah. Anak ini sudah gede. Seharusnya cepat menikah. Terus, kapan kamu bawa calon menantu ke rumah ini, Sandra?”


Theo menghela napas lelah. Sebenarnya, bukan hanya Sandra. Ia pun lelah dengan permintaan Helena yang hampir setiap hari dilayangkan untuk sang putri. Namun, mau bagaimana lagi. Ibu suri di rumah itu tak suka jika dibantah.


Belum menikah di usia 25 tahun aja, Bunda sudah heboh. Padahal, sekelas Sandra Dewi yang nyaris sempurna aja nikahnya di atas usia 30 tahun. Dan, lihat akibat buah kesabaran menunggu, dapatnya pangeran tampan yang setia. Kali kan gue nasibnya bisa kayak gitu juga. Biarin nikah lama yang penting dapet suami-able. Nama aja udah sama. Sama-sama Sandra. Sandra membatin.


“Abang dulu, Bund. Baru aku.”


“Kanaya masih kuliah. Kamu saja dulu.”


“Mau nikah sama siapa? Pacar aja gak punya?”


“Nanti Bunda jodohkan.”


“Iya, gak papa. Asal tampan, baik hati, penyayang, tanggung jawab, mobilnya banyak, rumah di mana-mana ada, pengusaha, punya harta gak bakal habis tujuh turunan. Pokoknya keturunan konglomerat, dan harus setia.”


“Sandra!”


“Itu tipeku, Bund. Kalau bunda bertemu pria tersebut, aku pasti langsung mau.” Dan, itu tak akan pernah ada Bunda.


Sandra hanya asal berbicara. Impian pernikahan dan suami ideal baginya cukup sederhana. Tidak harus kaya raya. Asal sang pria pekerja keras, bertanggung jawab, mencintainya, dan setia. Itu saja cukup.


Helena melotot. “Tidak usah terlalu banyak memilih. Yang penting punya kerjaan, bertanggung jawab, dan sayang sama kamu aja, udah cukup.”


“Bund, tetapi aku senang shopping, traveling, belum lagi hobi-hobiku yang lain. Semua butuh uang banyak.”


“Anak ini. Bikin emosi orangtua saja!” kesal Helena.


Sandra cengar-cengir. Ia pusing setiap hari selalu saja ditodong untuk menikah. Mau mulai menjalin kasih lagi, tetapi masih enggan. Takut jika perselingkuhan kembali terjadi.


Kadang Sandra heran sendiri. Ia merasa dirinya cantik, baik, dan sudah sangat setia. Tapi, entah kenapa selalu hubungan asmaranya berakhir mengenaskan dengan bumbu perselingkuhan pula.


Sandra kadang berpikir, harus bagaimana ia menjadi seorang wanita dan kekasih yang baik dan benar. Supaya para lelaki tersebut setia.

__ADS_1


Sandra mengembuskan napas lelah. Jodoh gue, lo di mana, sih? batinnya nelangsa.


__ADS_2