
Baru mengetuk satu kali, sang empunya ruangan pun belum menyuruh masuk, tetapi pintu sudah dibuka. Kepala menyembul lebih dulu dengan wajah ceria. Kemudian, melangkah ke dalam dan duduk tepat berhadapan dengan sang ceo.
“Sayang, aku tidak mengganggu, ‘kan?” tanya Vivian santai.
“Kalau aku bilang mengganggu nanti akan ada drama merajuk.” Tristan menjawab seraya tersenyum.
Vivian mencebik. “Nyebelin.”
Tristan tertawa kecil.
Sejak mereka resmi mengubah status jomlo menjadi sepasang kekasih. Sejak saat itulah keduanya melunturkan panggilan ‘lo-gue’. Sekarang sudah gunting pita dengan ‘ber-aku-kamu’. Memanggil pun sepakat menggunakan kata ’sayang’. Lain itu masih sama, tetap saling usil, terkadang bertengkar kecil.
Kata Tristan, ‘tetangga cantik pemilik hatiku’.
Kata Vivian, ‘Abang tampan pujaanku’.
Kata mereka, ‘kamu dan aku saling i love you’.
Romansa cinta baru yang masih menggebu. Setiap hari bertemu. Sehari saja absen rasa merindu. Saling berkata ‘sayang’ hingga pipi bersemu.
“Ada apa, hm? Masih kangen? Padahal, tadi pagi kita baru saja bertemu,” goda Tristan seraya menaik turunkan alis.
“Aku cari Sandra.” Vivian memberi alasan yang tak sepenuhnya berbohong. “Tapi, kata asistennya per hari ini sudah tidak lagi bekerja. Kenapa kamu gak bilang?”
“Aku lupa. Maklum akhir-akhir ini sibuk.”
“Kenapa Sandra resign?”
“Mau mengurus total suaminya, Sayang. Apalagi?”
Vivian terlihat berpikir sejenak. Tristan memerhatikan dengan alis mengangkat satu.
“Kalau kita berjodoh? Kamu maunya aku di rumah atau bekerja?” tanya Vivian dengan wajah serius.
“Bekerja boleh, tetapi jangan jauh dariku. Akan aku beri beberapa ruangan di gedung ini untukmu bekerja. Jadi, kita masih bisa bertemu setiap saat. Kalau perlu tempatmu nanti berada persis di sebelah ruanganku.”
“Lalu, butikku bagaimana?”
__ADS_1
“Kamu itu perancang busana, bukan penjaga toko. Jadi, bekerja di mana saja bisa. ‘kan? Kalau ada klien, suruh datang kesini. Beres. Kalau mengharuskan pergi ke butik, jangan di waktu jam makan siang atau pulang kerja. Sesederhana itu, hidup jangan dibuat sulit.”
Vivian mengernyit. “Posesif sekali. Lagi pula, tidak sesederhana itu, Sayang. Aku harus bekerja di dekat toko fisikku.”
“Ya, sudah. Nanti kita cari ruko dekat sini untuk butik barumu.”
“Nah, itu boleh.”
“Ada lagi yang mau kamu tanyakan Nona Vivian?”
“Tentu saja ada.”
“Apa?”
“Kapan aku resmi menjadi nyonya Tristan Owen?” tanya Vivian.
“Jarang ada wanita yang mendesak lebih dulu meminta pernikahan. Barangkali hanya kamu saja.” Tristan menjawab santai.
Meski sudah mengubah status, tak lantas membuat keduanya juga ikut berubah sifat. Mereka masih bersikap seperti biasa.
“Aku ini realistis. Hidup itu harus jelas dan pasti. Kalau abu-abu lebih baik mengakhiri sebelum ada yang sakit hati.”
“Janji?” Vivian mengacungkan kelingkingnya ke arah Tristan.
“Janji.” Tristan menautkan jari kelingking mereka.
Keduanya tersenyum senang.
“Bagaimana weekend nanti kita mengunjungi Sandra? Kita buat acara barbeque di sana. Wah, pasti menyenangkan malam-malam berada di pinggir danau.” Vivian antusias.
“Oke. Lalu ...,” Tristan membelai pipi Vivian lembut. “mau menemaniku disini sampai sore nanti?”
“Hari ini aku memang ambil libur. Tadi rencananya mau mengobrol dengan Sandra mengenai acara fashion show salah satu desainer beken Tanah Air. Sekalian mau mengajak makan siang di kafe yang baru buka di daerah Jakarta Selatan. Kata salah satu temanku recommended banget, tempat pun cozy.”
Tristan mengangguk. “Ya, sudah. Makan denganku saja di sana. Oke.”
“Traktir, ya?”
__ADS_1
Tristan menyipitkan mata. “Dari kecil sampai sebesar ini mana ada cerita jalan denganku kamu makan kemudian bayar, Sayang.”
Vivian cengengesan. “Benar juga.”
Tristan menggeleng dan mengacak rambut Vivian. “Lalu, kamu berdandan secantik ini, yakin hanya berniat bertemu Sandra?”
“Sepertinya aku ketahuan berdandan buat kamu, ya?” Vivian cengar-cengir.
“Hm. Jadi, Sandra hanya alasan, ‘kan?”
“No. Itu benar, Sayang. Hanya saja aku yang cerdas ini juga memakai asas manfaat sebuah peribahasa. Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Niat memang bertemu Sandra, tetapi sekalian mejeng kece di depan pacar. Mubazir dong! Masa kesini hanya bertemu adiknya doang. Abangnya yang tampan gak boleh disia-siakan.”
Tristan tertawa seraya mencubit gemas pipi Vivian. “Kenapa enggak dari dulu aku memacari kamu?”
“Itulah bodohnya seorang Tristan dulu. Gadis cantik di depan mata tak terlihat, iblis betina dari jauh kelihatan jelas.”
“Jangan mulai.”
“Tapi, aku bersyukur sekarang kamu sudah lepas dari jerat sundel bolong itu. Memang wanita murahan seperti dia gak cocok untuk pria baik kayak kamu.”
“Vivian, berhenti mengolok-olok orang lain. Aku tidak membela, catat! Hanya saja ucapan kamu merusak suasana. Sudah jangan bicarakan dia lagi.” Tristan sangat muak mendengar apa pun tentang sang mantan. Ia memang bersyukur sudah lepas dari wanita tersebut sebelum semua terlambat lantas menyesal.
“Iya.” Vivian mengalungkan tangan di leher Tristan. Mengecup bibir sang kekasih sekilas. “Aku mau ke kantin bawah dulu. Ingin makan soto mie dan segelas es teh manis.”
“Telepon saja. Biar diantar kesini.”
“Perjalanan dari kantin menuju ke ruanganmu memakan waktu. Nanti soto mie itu menjadi tidak enak.”
“Oke. Langsung kesini begitu makanmu selesai.”
“Iya, Tuan Posesif.”
Sejak menjalin kasih dengan Vivian. Tristan menjadi pria posesif, untung masih dalam batas normal. Padahal, dulu dengan Kanaya biasa saja.
Sepertinya pengaruh dulu LDR dan dengan segala kelakuan buruk Kanaya. Membuat Tristan lebih posesif sekaligus protektif di waktu yang bersamaan kepada Vivian.
Intinya, Vivian tidak boleh berada pada jarak yang jauh. Kabar pun harus selalu diberi tahu. Itu saja.
__ADS_1
Tristan seperti trauma jika berjauhan akan ada pengkhianatan kembali. Oleh sebab itu, ia ingin selalu dekat dengan Vivian.