ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Apa maksudnya?


__ADS_3

Dari depan pintu masuk kafe, mata Finn menjelajah mencari sosok sang tangan kanan Alexander. Ketika menemukan, ia menghampiri dan mendudukkan diri tepat di depan John Beck.


“Menunggu seseorang?” Finn menyapa dengan bibir melengkung ke atas dan kendali emosi yang masih tenang. Namun, sorot matanya menatap lekat pria tersebut.


John terlihat terkejut. Namun, ia mencoba bersikap biasa. “Bukan urusan Anda.”


“Menjadi urusanku kalau orang yang kau tunggu adalah Sandra.”


“Ya, saya menunggu Ibu Sandra. Apakah informasi tersebut cukup untuk membuat Anda pergi sekarang juga?”


“Ah, aku diusir oleh pria yang ingin menemui istrinya secara diam-diam. Bernyali juga.”


“Apakah Anda menahan Ibu Sandra agar tidak datang?”


“Sekarang menuduh.” Finn berdecak. “Well, anggap saja aku mewakili Ibu Sandra. Sama saja, bukan?”


“Jelas berbeda. Urusan saya dengan Ibu Sandra pribadi dan tidak dapat diwakilkan.”


“Aku masih cukup sabar menghadapi kau. Jangan sampai kesabaranku habis.”


“Seharusnya, Anda membiarkan Ibu Sandra bertemu dengan saya agar hidup kita semua tenang.”


“Lelucon macam apa itu?”


“Saya serius.”


Finn langsung menarik kerah kemeja John Beck. “Dengar bajingan. Menjauhlah dari istriku. Jangan mengganggunya.” Berhubung di tempat umum, ia mengucapkan dengan pelan.


“Saya butuh istri Anda, begitu pun sebaliknya.”


“Apa maksudmu?”


“Ucapan saya sepertinya sudah sangat jelas.”

__ADS_1


Satu pukulan mendarat di wajah John Beck. Kemudian, Finn menghempas pria itu secara kasar. “Berengsek. Beruntung kau berada di tempat ramai. Kalau tidak, kau sudah mati berkalang tanah.” Ia berlalu pergi meninggalkan kafe dan kembali ke rumah danau.


Pikir Finn, menanyakan kepada John Beck tiada guna. Pria itu tak akan mengatakan apa pun. Jadi, lebih baik meninggalkannya sebelum emosi semakin tak terkendali.


🌺🌺🌺


“Ibu sudah bangun?” tanya Finn kepada salah satu asisten rumah tangganya yang ia suruh berada di dalam rumah menjaga Sandra selama ia pergi.


“Sepertinya belum, Pak. Karena, ibu belum turun.”


Finn mengangguk. “Kau boleh keluar.”


Finn melangkah menuju dapur kemudian membuka lemari pendingin. Ia mengambil satu botol air, duduk di kursi, dan menenggak minuman tersebut hingga tandas.


Finn menatap lurus ke depan. Pikirannya berputar-putar hanya sekitaran kata-kata John.


“Apa maksudnya? Haruskah aku bertanya pada Sandra?”


Finn menghampiri sang istri. Memandangi wajah cantik itu dengan tatapan dalam.


“Aku hanya mau rumah tangga kita rukun. Aku pun tak mau kamu tahu akan kegilaan Alex. Bule sinting itu begitu menginginkanmu. Tapi, ada apa antara kamu dan John Beck? Apa yang kalian rahasiakan? Lalu, misi apa yang kalian tengah rencanakan?”


Finn membaringkan diri dan menarik tubuh polos Sandra ke dalam dekapan. Sang istri sempat terganggu, tetapi terlelap kembali setelah ia mengusap punggung wanita tercinta.


Finn memejamkan mata. Berharap setelah bangun, pikiran menjadi jernih. Sehingga nanti bisa mewawancarai sang istri dengan tenang dan santai. Karena, ia ingin secepatnya tahu semua tanpa terlewat satu hal pun.


🌺🌺🌺


Sandra mulai membuka mata. Meski seluruh tubuhnya masih terasa pegal dan lelah. Ia memaksakan diri untuk bangun.


Namun, posisi Sandra yang berada dalam pelukan Finn dengan tangan sang suami di atas tubuh. Membuat bergerak menjadi susah. Ia ingin menyingkirkannya, tetapi justru malah semakin mengeratkan.


“Mau ke mana?”

__ADS_1


Sandra kaget. “Honey, kamu sudah bangun?”


“Dari sepuluh menit yang lalu aku sudah bangun. Tapi, tak tega menggeser tubuhmu yang sepertinya sangat nyaman berada dipelukanku. Jadi, aku menutup mata kembali.”


Sandra memutar bola matanya malas. “Singkirkan tanganmu, Tuan Pembual.”


“Mau ke mana?”


“Kamar mandi.”


“Aku akan membantumu membersihkan ….”


“Honey, cukup. Please. Aku ingin mandi sendiri. Tolong, kali ini kabulkan permintaan istrimu ini,” mohon Sandra dengan suara lirih.


“Kenapa kata-kata dan suaramu seolah-olah aku ini suami yang tak berperasaan?”


“Honey, please.”


“Oke.” Finn mengangkat tangannya dari tubuh Sandra.


Sandra langsung menarik selimut untuk menutupi semua asetnya. Agar Finn tak melihat dan kembali turn on. Ia melangkah dengan tertatih-tatih karena ternyata dipakai jalan terasa sedikit perih.


“Bee, aku bantu ke kamar mandi, ya? Kamu kesusahan jalan.”


“Tidak. Jangan mendekat atau aku berteriak.”


Teriak? Memang aku penjahat? batin Finn.


“Aku hanya berniat baik.”


“Honey, diam atau aku tidak mau lagi bicara denganmu selama 2x24 jam.” Sebelumnya juga berkata begitu. Tapi, berakhir kamu menggarapku. Menyebalkan. Untung cinta. Untung sayang. Untung enak. Eh ….


Finn yang sudah berada tepat di belakang Sandra, kicep. Ia menurut untuk diam. Daripada puasa selama dua hari tak mendengar suara berisik sang istri.

__ADS_1


__ADS_2