
“BODOH! APA SAJA KERJA ANAK BUAHMU, JOHN? SAMPAI BISA KECOLONGAN INFORMASI SEPENTING INI!” seru Alexander kesal akibat Sandra kembali kepelukan Finn.
“Maaf, Tuan Muda. Kami lengah.”
“Sial! Ternyata membuat Finn terlihat bajingan dan nyaris miskin tidak mempan untuk Sandra.”
“Tuan Muda, apakah tidak sebaiknya kita pergi meninggalkan Indonesia dan kembali ke London? Biar urusan bisnis disini diurus oleh orang-orang Anda. Saya yakin pun Anda akan menemukan wanita lain yang lebih baik dari Lady Sandra.” John merasa kasihan sekaligus sedih melihat Alexander berubah menjadi tak berperasaan hanya karena cinta.
“DIAM KAU, JOHN! SERING SEKALI KAU BILANG BEGITU! SUDAH KUKATAKAN BERIBU KALI! AKU HANYA MENCINTAI SANDRA REIN! TIDAK ADA YANG LAINNYA LAGI!”
“Maaf, Tuan Muda.”
“Keluar kau! Segera cari tahu apa rencana rivalku. Berikan informasi secara mendetail.”
“Baik, Tuan Muda.” John segera keluar dan meninggalkan Alexander sendirian.
“Sandra, kali ini aku tak mengerti akan jalan pikiranmu? Kenapa kamu bisa kembali lagi dengan Finn? Apa yang mau kamu harapkan dari si berengsek itu? Sudah dibuang keluarga, usahanya hancur, berselingkuh. Tak ada yang bagus lagi.” Heran Alex.
“Padahal, aku jauh lebih baik. Seorang bangsawan konglomerat, setia kepadamu. Tapi, kamu malah memilih bajingan itu!” lanjut Alexander geram.
Alexander mengepalkan tangan. Dahulu, ia tak pernah gagal. Pria bangsawan itu selalu berhasil memutuskan hubungan Sandra dan kekasihnya dengan cara yang sama. Yakni, menjebak dengan mendatangkan wanita penggoda.
“Sandra, sejak pertama kita bertemu. Aku sudah jatuh hati kepadamu. Aku hanya mau dirimu. Aku begitu merindukan masa-masa dulu kita bersama.”
Kejadian beberapa tahun lalu di Kota Kembang, Bandung ….
Sandra merupakan salah satu mahasiswi di sebuah Universitas Negeri di Kota Bandung. Ia tinggal dengan menyewa satu kamar kos seorang diri dekat kampus. Meski hidup sendiri, tetapi keluarga selalu mengawasi dan wanita itu pun pandai menjaga diri.
Hidup sendirian membuat Sandra cukup bebas pergi ke mana pun. Namun, saat senggang dan ingin keluar untuk berkegiatan. Ia selalu memilih tempat-tempat yang menurutnya menyenangkan. Seperti panjat tebing, paralayang, berkuda, atau naik gunung. Semua hobi yang sering dilakukan bersama Tristan dan Vivian.
Terkadang bepergian bersama teman-teman kampus. Jika semua tak bisa, Sandra akan pergi sendirian.
Suatu hari, ia mendengar teman kampusnya bilang. Kalau di sebuah tempat pacuan kuda milik bangsawan keturunan Inggris akan mengadakan pertandingan. Kebetulan, tempat tersebut juga memiliki peternakan hewan berkaki empat itu.
Sandra pun tertarik dan berniat ingin pergi ke sana. Namun, sayang teman-temannya tak bisa menemani. Jadi, ia pergi sendirian menonton para penunggang berpacu dengan kuda mereka.
Beberapa kali datang ke sana dan memang selalu seorang diri. Hari ini pun begitu. Duduk di bangku penonton dan tersenyum semringah ke arah arena pacuan kuda.
Tanpa Sandra sadar, pria pemilik tempat tersebut menatap intens dengan senyum terpatri. Alexander Hamilton, putra tunggal Hans Hamilton dan Febiola. Pria bangsawan tampan keturunan Inggris-Indonesia.
Saat itu juga, usai pertandingan. Alexander menyuruh John untuk mencari tahu tentang gadis cantik di barisan penonton. Satu-satunya wanita yang mengenakan floppy hats, topi bertepi lebar.
Beberapa saat kemudian, John datang dengan informasi dari para penjaga di arena pacuan. Jika wanita itu kerap kali datang untuk menonton.
Saat itu, Alexander yakin jika wanita tersebut sangat menyukai kuda. Jadi, menyuruh John untuk menemui gadis itu. Mengiming-imingnya untuk melihat peternakan hewan berkaki empat itu.
Tawaran tersebut ternyata bersambut. John memberi tahu sang tuan muda, jika perempuan itu tanpa ragu telah mengiakan. Wanita itu pun sedang dalam perjalanan menuju peternakan dengan di antar salah satu anak buah Alexander.
Alexander senang bukan main. Ia bergegas pergi menuju peternakan. Karena tak mau gadisnya menunggu terlalu lama.
Padahal, sudah satu bulan Alexander menginjakkan kaki di Kota Bandung, Indonesia, tempat kelahiran sang mommy. Ia selalu berkata ‘bosan’. Namun, sekarang sepertinya berubah pikiran.
Dari kejauhan, Alexander melihat gadis cantik itu dengan wajah semringah. Bersyukur sejak kecil sang mommy selalu membiasakannya dengan dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Jadi, tak akan terlihat seperti bule yang baru singgah di Negeri yang terkenal dengan penduduk yang ramah-tamah.
Alexander menghampiri. Menyapa Sandra seraya membungkukkan badan dengan satu tangan memegang perut dan tangan lainnya ke arah belakang. “Halo, My Lady.”
Sandra menoleh, tetapi diam dengan wajah bengang. Karena, pria di hadapannya terlampau sopan sekali sampai membungkuk.
“Halo, Sir.”
Alexander berdiri tegak kembali. Kemudian, mengulurkan tangan. “Alexander.”
Akan tetapi, Sandra tak langsung merespons. Gadis itu diam saja seraya menatap Alexander lekat.
“Alexander.” Pria bangsawan itu mengulangi lagi menyebut nama dengan tangan masih menggantung belum bersambut.
Beberapa menit kemudian, baru Sandra tersadar. Ia terlalu fokus menatap kagum pria sopan dan tampan di depannya. Sampai tak melihat jika sebuah tangan sudah menjulur.
“Ah, iya. Sir.” Sandra menjabat tangan tersebut.
Tangan yang mungil dan lembut sekali, My Lady, batin Akexander.
“Panggil saja Alex. Lalu, siapa namamu?”
Sandra tercengang. “Kau fasih sekali berbahasa Indonesia.”
“Aku menguasainya sejak kecil.”
“Begitu.”
“Siapa namamu?”
Sandra tersadar kalau ia belum menyebutkan nama. Sekarang, ia bingung harus memberi tahu atau tidak karena teringat pesan sang bunda.
“Apakah aku harus menyebutkannya?” tanya Sandra seraya melepaskan jabatan tangan mereka.
__ADS_1
“Tentu saja. Agar aku bisa memanggil sesuai namamu.” Benar-benar menggemaskan. Hanya menyebut nama saja gadis di hadapanku ini terlihat enggan. Kelihatan sekali hati-hati. Tentunya, ia pasti wanita baik-baik.
“Maaf. Apakah kau adalah Tuan Muda yang disebutkan anak buahmu tadi? Karena, katanya Tuan Muda Hamilton memintaku kesini untuk melihat peternakan?”
“Benar. Aku Alexander Hamilton. Tapi, jangan memanggilku Tuan Muda. Panggil Alex saja.”
Sandra tersenyum. “Sebelumnya aku ucapkan terima kasih. Aku sangat menyukai kuda. Jadi, langsung mengiakan ajakan tersebut.”
Alexander mengangguk. “Aku justru senang kamu mengiakannya, My Lady.”
“Jangan panggil aku ‘My Lady’. Aku hanya wanita biasa yang suka dengan kuda.”
“Lalu, aku harus memanggil apa? Sementara kamu tak menyebutkan nama sama sekali.”
“Maaf, kata bundaku, jangan sembarangan memberi tahu nama kita kepada orang asing.”
Alex tersenyum. “Anak yang patuh. Tapi, aku orang baik. Kau tidak perlu khawatir.”
Sandra tersenyum. Senyuman yang cantik dan meneduhkan hati Alexander. Lelaki itu semakin jatuh hati.
“Aku akan menyebutkan nama. Tapi, bolehkah aku masuk melihat kuda-kuda sekaligus menyentuhnya? Sungguh aku sangat menyukai mereka.”
“Bahkan, kau boleh menungganginya.”
“Sungguh?” Sandra berbinar-binar.
“Aku serius.”
“Sandra Rein.” Sandra langsung menyebutkan namanya dengan lengkap.
Ah, akhirnya. Kau menyebutkan namamu, My Lady, batin Alexander senang.
“Sandra, dalam bahasa Inggris artinya penolong umat manusia. Rein dalam bahasa jepang adalah permata. Biasanya pemilik nama tersebut memiliki karakter pekerja keras, bersemangat, menyukai tantangan, penuh pesona, glamor, berkarisma, dan menyukai pria dengan intelektual tinggi. Apakah aku benar?”
Sandra mengerjapkan mata beberapa kali mendengar penuturan Alexander kemudian tersenyum. “Kau hanya menebak karakterku lewat nama saja. Jadi, aku tak mau menjawab benar atau salah. Kita belum saling mengenal.”
Alexander tertawa kecil. Sepertinya aku akan menarik kata-kata jika bosan berada disini. Ternyata, berada di kota ini sangat menyenangkan. Tentu, karena kehadiran Sandra Rein, batinnya.
“Kalau begitu, mulai sekarang kita harus lebih mengenal lagi.”
“Kau tidak akan menyukaiku begitu mengenal lebih jauh.”
“Oh, ya? Kalau begitu kita akan buktikan mulai dari sekarang. Apakah hal tersebut benar atau tidak? Kita sekarang berteman.”
“Kau seorang bangsawan. Apakah tidak akan malu memiliki teman biasa sepertiku?”
Sandra tersenyum. “Berhubung kau pria sopan dan baik. Aku tak akan menolak menjadi temanmu.”
“Aku senang mendengarnya. Ayo, jangan membuang-buang waktu. Kita langsung ke dalam.”
“Oke.”
Alexander menunjukkan semua kuda di peternakan. Sandra terlihat senang bukan main. Menyentuhnya dan membelai lembut beberapa kuda di sana.
Kemudian, Sandra berfokus pada satu kuda yang memiliki kandang berbeda, lebih besar dan bagus. “Wah, warna kuda itu sangat seksi sekali, ia juga gagah dan tampan. Alex, bolehkah aku menghampirinya?” tanyanya menoleh ke Alexander, meminta izin.
“Tentu. Ayo!”
Sandra mengembangkan senyum. “Siapa nama kuda ini, Lex?”
“Kau ingin memberinya nama?”
“Apakah boleh?”
“Tentu. Nama apa kira-kira yang cocok untuk kuda jantan ini?”
Sandra terlihat berpikir sebentar kemudian menjawab, “Bagaimana dengan ‘Dark’? Cocok sekali dengan kulitnya yang gelap.”
“Aku menyukainya.”
“Terima kasih, Alex.”
Alexander tersenyum senang melihat Sandra terlihat Bahagia. “Kau ingin menungganginya?”
“Boleh?”
“Tentu saja. Kau bisa berkuda, ‘kan?”
“Iya, tetapi tidak hebat sekali.”
“Tak apa. Aku akan sering-sering mengajakmu kesini untuk menunggangi si Dark dan kau akan semakin pintar berkuda.”
“Terima kasih, Alex. Padahal, kita baru bertemu. Tapi, kau baik sekali.”
Sejak saat itu, Alexander dan Sandra sering bersama untuk sekadar menunggang kuda atau menikmati hari di peternakan. Bersenda gurau. Sesekali pergi berkeliling Kota Bandung.
__ADS_1
Kadang, Alexander juga menyambangi kampus Sandra untuk menjemput. Ia memberi alasan ingin mengajak berkuda.
Di mata Sandra, Alexander pria berkelas yang baik dan sopan. Tak pernah satu kali pun kurang ajar atau menyentuh sembarang meski itu hanya sentuhan tangan.
Seperti salah satu contoh ketika ingin membantu Sandra naik ke atas kuda. Alexander pasti akan meminta izin untuk melakukan hal tersebut.
Jadi, tak ada alasan bagi Sandra untuk menolak ajakan sang pria bangsawan yang menawan hati. Nyaris sempurna.
“Kau sudah memiliki kekasih?” tanya Alexander.
Sandra menggeleng. “Belum.”
Sandra dan Alexander tengah beristirahat di padang rumput dengan pohon rindang memayungi keduanya. Kuda mereka pun diikat di salah satu pohon besar tak jauh dari tempat berteduh.
“Aku juga belum.”
“Sayangnya aku tidak bertanya.” Sandra tertawa kecil.
“Kau kejam sekali. Aku menjadi sedih.”
“Pria sepertimu pasti dengan mudah bisa mendapatkan wanita mana pun.”
“Jadi, menurutmu begitu?”
“Iya.”
“Apa kriteria pria idamanmu, My Lady?”
“Aku sungguh sebal saat kau menyebutku ‘My Lady’. Sangat tidak cocok denganku yang bukan dari keluarga bangsawan atau kaya raya seperti dirimu.”
“Kau wanita terhormat. Jadi, aku akan tetap memanggil begitu.”
“Kau keras kepala, Alex.”
Alex tersenyum. “Kau belum menjawab pertanyaanku? Jangan mengalihkan pembicaraan, My Lady.”
“Aku tidak memiliki kriteria khusus dalam mencari kekasih. Asal dia setia dan bukan pria malas. Itu saja cukup.”
“Kriteria yang sangat sederhana. Kau tahu? Dua hal tersebut ada padaku.”
Sandra mengernyit. “Aku rasa itu sudah pasti. Aku juga merasa kau pria yang nyaris sempurna. Lalu, kenapa masih sendiri?”
“Aku ingin langsung menikah saja denganmu. Setelah kau lulus kuliah.”
Seketika itu juga, Sandra salah tingkah, tetapi ia mencoba bersikap biasa. Ia tak mau menganggap serius kata-kata Alexander.
Alexander terlalu tinggi untuk digapai. Sandra cukup sadar.
Menurut Sandra, Alexander bak pangeran di Negeri Dongeng. Sementara, ia rakyat biasa yang hanya berani menganggumi sang putra mahkota dalam diam.
Sandra pun mengomando hatinya. Agar tak terlalu jauh berharap atau jatuh cinta kepada sang bangsawan. Karena, saat pertama kali bertemu, ia tak memungkiri terpesona oleh wajah charming milik Alexander.
“Lelucon itu tepat mengenai jantungku, Alexander. Untung aku wanita yang kuat.” Menikah denganmu? Mana mungkin. Kau pria bangsawan konglomerat. Sementara aku hanya berasal dari keluarga biasa saja. Ah, Sandra, Alexander tadi juga hanya bercanda denganmu. Jangan terbawa perasaan, bodoh!
Alexander tertawa. “Kau ini sungguh menggemaskan.”
“Alex, aku tidak pernah melihat kedua orangtuamu? Ke mana mereka?” tanya Sandra agar pembicaraan beralih pada yang lain.
“Mereka ada di London. Bulan depan aku juga harus kembali ke sana, ada urusan bisnis. Mungkin untuk beberapa tahun kita tak akan bertemu,” terang Alexander seraya menyembunyikan perasaan sedihnya karena akan berjauhan sementara dengan Sandra.
Sandra terdiam. Benar kan jangan terlalu banyak berharap kepada pria berkelas macam Alex. Lihat, ia mau kembali ke Negara asalnya dan meninggalkanmu, Sandra Rein, batinnya serasa ada yang mencubit di hati.
“My Lady, kau mau menungguku kembali ke Tanah Air?” lanjut Alex bertanya.
Sandra yang sudah tak mau terlalu banyak berharap. Dan, hanya ingin menganggap hubungan mereka murni pertemanan dengan mudah mengangguk. “Tentu saja.”
Alex tersenyum. “Kalau begitu tunggu aku kembali.”
Sandra mengangguk dengan wajah innocent. Membuat Alexander tersenyum semringah.
Alexander menganggap anggukan tersebut sebagai keseriusan dari Sandra. Padahal, artinya tidak demikian.
🌺🌺🌺
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Alexander. Ia mempersilakan orang tersebut untuk masuk.
“Tuan Muda, ada informasi penting mengenai Lady Sandra.”
Alexander yang tengah merebahkan tubuh dengan kaki menekuk di atas sofa langsung bangun dan duduk. “Katakan, John.”
“Lady Sandra dan suaminya akan menginap di salah satu hotel di kawasan puncak salama 5 hari. Besok pagi, mereka akan berangkat.”
“Pesankan kamar untukku tepat di samping kamar mereka.”
__ADS_1
“Baik, Tuan Muda.” Usai mendapatkan mandat, John segera pamit undur diri.
Alexander tersenyum misterius. Sorot matanya tajam menatap lurus ke depan.