ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Sindrom couvade


__ADS_3

Finn menjalani hari dengan terpaksa. Ia tak memiliki semangat. Merancang desain pun harus dengan pengawalan Roy. Kalau tidak, suami dari Sandra itu akan mendaratkan tubuh di atas sofa.


Ulah sang bos, membuat Roy belakangan ini sering marah-marah. Bagus, ia memiliki tameng, Sandra. Karena jika tidak, Finn akan memarahi balik.


Roy melakukan itu semua atas titah Sandra. Finn mengetahui hal tersebut. Oleh karena itu, tak bisa berkutik kala sang asisten sudah mengancam akan mengadukan kelakuannya kepada wanita tercinta.


Makan pun Finn sangat sulit, untung memiliki seorang asisten yang cekatan. Roy dengan rela menyuapi sampai tandas. Jika tidak, makanan itu tak akan tersentuh.


Meski sang bos menurut karena takut diadukan. Namun, acap kali mereka bertengkar perkara makan, meminta istirahat dengan alasan sakit kepala, pekerjaan yang tiada habis, bahkan hal sepele seperti wangi ruangan. Hal-hal yang dahulu tak pernah dipedulikan, tetapi kini menjadi biang keributan.


Akhirnya, setelah mendapat banyak pengaduan dari Roy. Sandra meminta izin sang suami untuk memperbolehkannya menemani di kantor. Tanpa banyak berpikir, kali ini Finn langsung mengiakan.


Roy pun merasa lega. Ia tak perlu adu mulut lagi dengan sang bos.


Di kantor, Sandra pure hanya duduk menemani. Finn sudah tak memperbolehkan bekerja.


Namun, dua hari terakhir ini, Sandra memiliki kesibukan baru. Menjadi seorang blogger. Tentu sudah atas izin sang suami beserta rentetan catatan. Yaitu, menyudahi aktivitas tersebut ketika sudah waktunya pulang kantor. Di rumah, jika ada Finn, dilarang keras membuka blog. Postingan hanya boleh berisi tentang seputar interior desain.


“Bee, bagaimana hobi barumu? Menyenangkan?”


“Iya. Aku senang skill-ku cukup banyak membantu orang.”


Sandra menuruti sang suami, hanya membuat blog tentang interior desain. Banyak yang berkomentar menanyakan tentang ruangan mereka di laman miliknya tersebut. Ia pun dengan senang hati menjawab satu per satu pertanyaan audiensi.


Sandra banyak memberi masukan kepada para pembaca yang bertanya. Hampir semua dari mereka puas akan saran dan ide yang diberikan.


Dalam jangka waktu dua hari itu, blog Sandra yang ia beri nama ‘Red Rose Interior Design’ ramai pengunjung. Wanita itu mengerjakan semua dari kantor Finn. Tepatnya, duduk bersebelahan dengan sang suami.


🌺🌺🌺


“Honey, aku ke kafe depan sebentar untuk bertemu Vivian.”


Raut wajah Finn langsung berubah tidak enak. “No. Suruh saja Vivian kesini.”


“Honey, ini pembicaraan rahasia antar wanita. Aku hanya sebentar.”


“Aku tidak akan mengganggu.”


“Honey, kamu tu kenapa jadi menyebalkan gini, sih?”


Finn menghela napas kasar. Ia pun bingung kenapa dia menjadi sangat over protektif dan posesif berlebihan. Padahal, pengawal masih setia menemani ke mana pun Sandra pergi.


“Jangan lama-lama. Lekas kembali jika urusan sudah selesai.” Akhirnya, dengan berat hati Finn mengalah.


“Oke.” Sandra mengecup pipi Finn kemudian bergegas pergi.


Vivian baru memberi tahu jika ia akan datang terlambat akibat mobilnya mogok di tengah jalan. Sandra pun sudah kadung berada di kafe. Jadi, ia membuka blog untuk membunuh waktu. Para pengawal pun duduk agak menjauh, tetapi tak lepas memantau sang nyonya muda.


Tiga puluh menit kemudian, seorang pria berpakaian serba hitam. Dengan menggunakan kacamata dan masker beserta topi yang juga berwarna senada, berjalan mendekati Sandra.


Lelaki itu dengan sengaja menaruh sebuah ponsel di meja Sandra. Kemudian, mendudukkan diri tepat di samping meja wanita itu dengan arah mereka berhadapan.

__ADS_1


Pria itu duduk membelakangi pengawal-pengawal Sandra. Lalu, membuka kacamata dan masker yang ia pakai. Kemudian, tersenyum penuh arti ke arah target.


Sandra sontak kaget, tetapi begitu mengetahui siapa si pelaku, ia diam. Karena, tak ingin terjadi keributan.


Ponsel yang diberi tadi berbunyi. Sandra segera mengangkat dan mendekatkan ke telinga. Meski duduk hanya berbeda meja saja. Namun, cara tersebut dinilai sang pria aman.


“Halo, My Lady.”


“Alex, kau mau apa?”


“Mau dirimu.”


“Jangan macam-macam, Lex. Aku dikawal penjaga.”


“Aku tahu, My Lady.”


“Kalau begitu pergilah. Jangan menggangguku.”


“Jadi, menurutmu aku pengganggu?”


“Lex, aku sudah memiliki suami.”


“Aku ingin kita berbicara empat mata.”


“Aku tak ingin berbicara denganmu.”


“Kalau begitu, aku akan kembali mengusik suamimu beserta usahanya. Kali ini, aku pastikan tak akan bisa bangkit kembali.”


“Bawa ponsel itu dan sembunyikanlah. Aku akan memberi tahu di mana dan kapan kita bertemu.”


“Lex, jangan gila.”


“Aku akan benar-benar menghancurkan suamimu dengan sangat serius jika kau menolak.”


Alexander mematikan telepon dan segera pergi.


“Sandra!” Vivian memanggil dan segera menghampiri sahabatnya.


Buru-buru, Sandra segera menaruh ponsel tersebut ke dalam tas dan melambaikan tangan kepada Vivian. Ia menampilkan mimik dan gesture seolah-olah tak terjadi apa pun.


“Lama banget! Sumpah gue hampir berkarat.”


Vivian cengar-cengir. “Sorry, mobil gue ngambek. Nunggu mobil derek dulu, baru bisa kemari naik ojol."


“Punya pacar CEO, kenapa gak dimanfaatkan? Minta beliin yang baru dong.”


“Kalem dong. Nanti kalo udah resmi baru gue banyak minta. Kalo sekarang jangan dulu, biar gak diputusin gara-gara matre. Bisa gagal nikah.”


“Hati-hati, keluarga doi dengar. Berabe nanti kalo ampe tahu rencana lo.”


“Tenang aja. Keluarganya sayang banget sama gue.”

__ADS_1


Keduanya tertawa.


Obrolan bergulir. Seperti biasa saja, mereka membicarakan fashion terkini, rencana belanja bareng, dan pergi ke salon. Keduanya pun berencana untuk menonton pertunjukan fashion show dari salah satu desainer hit Tanah Air.


Dua jam kemudian, Vivian pulang dan Sandra kembali ke kantor. Ia terkejut ketika membuka ruangan sudah ada sang bunda dan Mami.


“Bunda, Mami.” Sandra menghampiri dan memeluk mereka satu per satu. “Sudah lama disini?”


“Baru sepuluh menit,” jawab Helena.


Sandra lantas mendudukkan diri di samping Finn, tepat di seberang para ratu.


“Mami dan Bunda dari mana?” tanya Sandra.


“Habis arisan. Terus, ingat kamu ada di kantor Finn. Jadi, Bunda dan Mami kesini.” Helena menerangkan.


“Tumben arisannya hari biasa?” Sandra kembali bertanya.


“Tuan rumahnya lusa mau ke Luar Negeri. Bulan depan baru kembali. Jadi, terpaksa arisan dimajukan,” jawab Helena.


Sandra mengangguk.


“Sandra kamu hamil?” tanya Diana dengan mimik serius.


“Hamil? Tidak, eh, entah, Mi.” Tiba-tiba Sandra ragu.


“Feeling Bunda dan Mami kamu itu hamil.” Helena memberi dugaan.


“Aku tidak mengalami gangguan apa pun seperti wanita hamil pada umumnya, Bund. Sepertinya, aku juga merasa belum telat datang bulan." Untuk yang terakhir Sandra agak ragu mengatakan. Karena, ia lupa kapan terakhir menstruasi. "Bunda dan Mami sudah ingin menimang cucu, ya? Maaf, kita belum bisa memberi.” Ia menampilkan senyum terpaksa.


“Mami, Bunda, kita bicara yang lain saja, ya,” sela Finn karena tak mau melihat sang istri bersedih.


“Loh, Finn. Kata Roy, kamu belakangan ini sering mual, pusing, perubahan pola makan, dan sensitif terhadap wangi-wangian. Itu sudah pertanda.” Diana menjelaskan.


Sandra dan Finn saling pandang. Kemudian, kembali menatap para ratu di depan mereka.


“Maksud Mami?” tanya Finn.


“Pria juga bisa mengalami rasa ngidam saat istri tengah hamil, Finn. Namanya couvade atau biasa disebut dengan kehamilan simpatik. Meski kata dokter Brennan yang Mami baca dalam sebuah majalah online 'HaiBunda.com' tidak mengenali sindrom tersebut karena tidak ada diagnosis medis.” Diana memberi penjelasan.


“Tapi, mengutip kata dokter Brennan dalam penelitiannya bersama spesialis di St. George’s, University of London yang telah memantau banyak pasangan hamil. Hasil dari pantauan tersebut salah satu pria mengalami kram perut dan yang lain ngidam makanan tertentu. Beberapa penelitian lain juga mengatakan, ada yang mengalami sakit di beberapa bagian anggota tubuh, tetapi setelah diperiksa ternyata sehat. Ciri-cirimu seperti mual dan lain-lain mirip sindrom tersebut,” sambung Diana.


“Nah, bagaimana untuk membuktikan kalau Sandra benar hamil atau tidak, kita bawa ke dokter kandungan untuk diperiksa. Bunda dan Mami akan ikut mengantar.” Helena memberi saran dan siap menemani sang putri.


“Setuju.” Diana menyahuti sang besan.


Finn dan Sandra kembali saling beradu pandang. Tak memungkiri, jika itu benar mereka cukup bahagia mendengar hal tersebut. Namun, takut kalau sudah memeriksa lantas mengecewakan kedua ratu yang terlihat sangat antusias.


Bagaimanapun kedua ratu tersebut sangat menginginkan seorang cucu. Dan, hanya Sandralah satu-satunya harapan bagi Diana.


Helena sendiri masih memiliki Tristan, tetapi sang putra belum menikah. Jadi, hanya Sandra harapan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2