
Keputusan akhir dari ketakutan Sandra adalah menghadapi. Toh, mau tak mau, suka atau tidak. Situasi yang tengah pelik antara ia dan suami harus diselesaikan.
Sandra memilih menapakkan kaki pada anak tangga satu per satu daripada menaiki lift yang akan menimbulkan suara. Melangkah pelan. Begitu tiba di lantai dua, berjalan mengendap bagai pencuri cantik yang ingin mencuri hati sang tuan rumah.
Menatap pintu kamar yang setengah terbuka. Tempatnya beristirahat bersama sang suami kini terlihat seperti gedung pengadilan. Dari luar sudah memancarkan aura menegangkan.
Namun, dengan segenap jiwa raga mengumpulkan keberanian demi pengampunan. Sandra mendorong pintu perlahan. Menyembulkan kepala lebih dulu. Mencari sang hakim untuk menjelaskan duduk perkara agar mendapat keringanan hukuman.
Kosong!
Sandra mengernyit. “Finn ke mana?” Ia melangkah masuk. Namun, baru saja tiga langkah menjejaki kaki di kamar. Terdengar suara pintu tertutup.
Jantung Sandra rasanya ingin melompat. Berkali-kali juga menelan air liur. Wajahnya menegang. Kegugupan menyerang secara brutal, mengeroyok setiap inci sendi dari berbagai macam arah sehingga menjadi kaku.
Hening!
Sandra perlahan membalikkan badan. Tepat di hadapannya kini berdiri sesosok Hellboy tadi yang telah bermetamorfosis menjadi Bruce Wayne. Tampan, atletis, tinggi, menawan, tetapi sayang wajah tersebut lempeng. Di tambah pria itu menguarkan aura dingin.
“Honey,” panggil Sandra takut-takut.
__ADS_1
Tak ada sahutan. Finn menatap lekat Sandra dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.
Sandra diam di tempat. Tak berani bergeser ke arah mana pun.
Mata pun tak berani melihat lama-lama kepada wajah yang datar tersebut. Untuk pertama kalinya ia mati kutu di depan Finn. Saat itu juga, rasanya Sandra ingin berlari keluar. Melompat ke danau, menenggelamkan diri disana, dan berharap tak lagi muncul ke permukaan.
Sepuluh menit Sandra dan Finn dengan posisi yang sama. Tak ada kemajuan walaupun tak juga ada tanda-tanda kemunduran. Mereka larut dalam buaian sepi.
Sampai pada akhirnya, suara Sandra memecah kesunyian. “Honey, aku minta maaf. Aku ....”
Finn berjalan maju, tetapi melewati Sandra. Ucapan permohonan maaf yang belum tuntas pun tak digubris.
Finn hanya tak mau menjadi pecundang dengan membuat Sandra sedih dan sakit hati. Pasalnya, ia ingin sekali berteriak kencang ke arah sang istri. Meneriakkan keadilan untuknya yang tak dianggap sebagai suami.
Finn tidak ingin melakukan sesuatu yang salah hingga berakhir dengan penyesalan. Jadi, ia memilih meredam kemarahan yang tengah aktif tersebut dengan mengabaikan Sandra dan istirahat.
Sandra berbalik. Menatap Finn yang terus melangkah ke arah ranjang. Memerhatikan setiap geraknya yang cepat. Sang suami naik ke atas kasur dan menarik selimut sampai ke dada.
Finn, ini pertama kalinya kamu mendiamkanku. Aku minta maaf. Beri waktu tiga hari lagi saja aku bekerja. Setelahnya, kamu akan menjadi prioritas, batin Sandra hanya berani bersuara di dalam hati.
__ADS_1
Bibir Sandra kelu. Rencana untuk menyelesaikan masalah urung dilakukan. Kekuatan yang tadi dikumpulkan seketika berhamburan. Pasalnya, rasa takut masih menyergap.
Sandra memilih mengikuti Finn naik ke atas kasur mereka. Menatap sang suami yang membelakanginya dengan mata berkaca-kaca. Tanpa sadar, bendungan air mata itu telah mengalir.
Sandra mengusap air mata. Menahan sesak di dada.
Sabar. Hanya itu kini yang bisa Sandra lakukan. Pada akhirnya, lelah badan membuat mata sendu itu tertutup. Ikut pergi ke alam mimpi bersama sang suami.
Tidur dalam keadaan sama-sama menahan segala rasa. Egoistis yang tengah menguasai tanpa mereka berdua sadar telah menjadi bumerang.
Para dedemit yang notabene tak menyukai kedamaian bertepuk tangan. Mereka juga telah memenangkan tender. Merusak sepasang suami-istri tersebut adalah salah satu proyek besar. Makhluk-makhluk tak kasat mata tersebut meraih kemenangan dengan mudah. Bahkan, menang telak, setidaknya untuk malam ini setan-setan berpesta.
Finn terlelap dengan kemarahan. Sandra penyesalan.
Finn enggan merajuk. Sandra tak berani membujuk.
Sepasang pengantin yang belum banyak mengenyam manis-pahitnya berumah tangga. Harus melalui masa sulit di beberapa bulan setelah pernikahan.
Cinta yang kata mereka adalah segalanya. Entahlah. Apakah lima huruf tersebut bisa menyelamatkan pernikahan yang sedang goyang tersebut? Atau akan berakhir nelangsa.
__ADS_1