
Maapkeun, aku slow update, ya ✌️😇
“Tidak-tidak-tidak-tidak-titik.” Finn bersikeras, tetapi dengan ritme suara normal.
“Kamu menolak?”
“Iya. Sekali aku bilang tidak, tetap tidak.”
“Honey!”
“Bee, menurut padaku.”
“Kamu tidak mau hidup kita tenang?”
“Persetan dengan ucapan John. Aku akan mencari ketenangan itu tanpa melibatkanmu lagi. Sudah cukup aku was-was dengan polahmu belakangan ini. Aku akan mengurus semuanya dan kamu diam-diamlah di rumah. Tidak perlu lagi pergi ke kantor. Sandra Rein, mulai detik ini, kamu dipecat dari Field Construction.”
“Finn Elard!”
“Sandra Rein.”
Sepasang suami-istri tersebut berdebat sengit dengan saling melemparkan tatapan tajam. Namun, hanya Sandra yang bersuara dengan nada tinggi. Finn menanggapi dengan intonasi biasa, tetapi tetap memberi aksen tak mau dibantah. Keduanya berkukuh pada pendirian masing-masing.
Sementara para penonton hanya bisa melongo. Mereka pun tak berniat untuk melerai. Tapi, tidak berkeinginan juga untuk meninggalkan arena pertunjukan perang mulut tersebut.
“Aku tidak mau bicara lagi denganmu!” Sandra berseru, mungkin lebih ke arah mengancam.
“Lakukan saja. Daripada aku mengizinkanmu masuk ke kandang harimau berkedok rusa.”
Sandra memukul dada Finn berkali-kali. “Jahat! Kamu sudah gak cinta aku lagi! Masa aku mau mogok bicara sama kamu, tetapi dibiarkan. Seharusnya kamu rayu atau menurut? Aku benci sama kamu!”
Finn menangkap kedua tangan Sandra. “Bee, hentikan.”
“Kamu jahat, tega, kejam! Kamu gak sayang aku lagi!”
Finn mengembuskan napas lelah. Kemudian, berkata dengan suara sangat lembut, “Aku minta maaf. Bukan begitu maksudku.” Ya, Tuhan! Wanita, oh, wanita. Berlagak merajuk, ditantang panik sendiri. Ujungnya bilang kita tak lagi sayang. Cinta, kau membuat pria perkasa sepertiku lemah tak berdaya. Apakah mengalah kepada istri adalah takdir para suami?
Para penonton pun semakin dibuat menganga. Pertunjukan romansa yang tengah berkonflik seru di depan mereka, sungguh membuat bokong enggan untuk beranjak.
Permintaan John agar Sandra berbicara berdua saja dengan Alexander ditolak oleh Finn. Ia tak mau sang istri bicara empat mata dengan bule tersebut meski niatnya baik.
Mengingat kelakuan Alexander yang sanggup berbuat apa saja demi mendapatkan Sandra. Ia sangsi kalau bangsawan itu mau mendengarkan sang istri. Salah-salah nanti malah wanita tercintanya disekap persis seperti Kanaya.
Finn tak mau ambil risiko apa pun jika itu menyangkut Sandra. Menyetujui sang istri berbicara dengan John saja sudah cukup membuat hati tak tenang. Sampai harus menghubungi Ramon untuk meminta tambahan anak buahnya berjaga di sekitar wanita tercinta.
__ADS_1
“Kamu tu kalau posesif jangan keterlaluan.”
“Posesif? Aku khawatir dengan keselamatanmu. Oh, atau kamu memang ingin berbincang berdua saja dengan Alex untuk mengenang masa lalu?” tanya Finn penuh selidik.
“Finn Elard!”
“Sandra Rein.”
Kembali mereka melempar tatapan tajam.
Lalu, Sandra kembali memukuli Finn. “Teganya kamu fitnah aku!”
Finn mengembuskan napas lelah. Ia menghentikan pergerakan tangan tersebut dan meraih tubuh sang istri dan memeluknya. “Bee, menurut, ya. Aku juga ingin hidup kita tenang, tetapi bukan dengan cara mengumpankanmu kepada Alex.”
“Aku bisa menjaga diri. Aku janji akan baik-baik saja.”
“Please, jangan keras kepala.”
“Honey ….”
Finn melepas pelukan. Lalu, menyambar bibir sang istri agar diam. Alih-alih marah, justru Sandra membalas.
Namun, baru saja sebentar beradu bibir. Suara berdeham menghentikan aktivitas tersebut. Mereka menoleh dan tersenyum kikuk. Keduanya lupa kalau di rumah juga ada Tristan, Vivian, Ramon, dan Manda.
“Bisa terusin nanti kalo kita udah pulang, ‘kan?” Manda menyindir.
“Duduk,” titah Tristan kepada Finn dan Sandra. Mereka menurut.
“Rumah tangga lo berdua ruwet. Gue jadi mikir lagi mau nikah. Takut kejadian sama gue,” ucap Vivian mulai sedikit ngeri.
“Sayang, rumah tangga kita nanti gak akan seperti mereka. Kamu kan gak berisik dan ribet seperti Sandra. Aku juga bukan Finn yang playboy,” sanggah Tristan kepada Vivian untuk meyakinkan sang calon istri. Namun, sayang kata-kata tersebut mendapat reaksi kesal dari sang adik.
“Bang! Apaan, sih! Awas aja, nanti gue adukan ayah!” sewot Sandra.
“Dasar tukang ngadu.” Kemudian, Tristan menatap Vivian. “Lihat tu Sandra, berisik, ‘kan?”
“Abang!” Kemudian, bergelayut manja di lengan Finn dan mengadu, “Honey, Tristan tu, masa mengatai kita. Kamu usir aja Abangku dari sini, ya?”
“Tu kan, ngadu aja terus. Dasar pengadu,” ejek Tristan. Ia rindu menggoda Sandra. Rasanya sudah lama tak bertengkar dengan sang adik.
“Abang …!”
“Bee.” Finn menaruh jari telunjuk di bibir sang istri kemudian menggelengkan kepala. Lalu, membelai puncak kepala Sandra.
“Enaknya punya saudara kandung. Bisa diajak berantem. Sebagai anak tunggal gue iri,” ucap Manda seraya bertopang dagu.
“Bener, Mand. Gue pun semakin bersemangat untuk punya anak banyak. Biar enggak kayak gue, ributnya sama lo dan Finn doang. Itu pun kalo ketemu.” Ramon menimpali.
__ADS_1
“Untung tetanggaan sama Sandra dan Tristan, kebagian rame. Jadi, gak berasa anak tunggal,” sahut Vivian.
Sandra dan Tristan saling melempar pandangan kemudian tersenyum. Mereka tak menyangka keributan antara beradik-berkakak yang sering membuat pening sang bunda. Justru sangat diinginkan orang lain.
Tiga puluh menit kemudian
Suasana mengharu-biru antara Sandra-Finn, berlanjut dengan Sandra-Tristan, telah berakhir dengan damai. Kini saatnya kembali pada mode serius. Rencana mulai mereka rancang bukan hanya untuk Alexander, tetapi untuk bangkitnya Field Construction.
“Kita mulai rencana pertama.” Finn menatap satu per satu semua dengan senyum terpatri.
🌺🌺🌺
Dua hari kemudian
Finn, Ramon, dan Roy secara eksklusif mendatangi kantor Alexander. Cukup sulit untuk bertemu CEO Hamilton Company tersebut. Namun, setelah mengancam akan membeberkan bukti kepada media, jika mereka berbuat curang kepada Field Construction. Lewat perantara John Beck, sang bangsawan mau menemui juga.
“Hubungi para pengusaha yang Anda ancam agar tak bekerja sama dengan Field Construction. Tarik kata-katamu kepada mereka dan bersihkan kembali nama baik perusahaanku. Atau aku akan menyeretmu ke meja hijau dengan banyak tuduhan,” terang Finn dengan gesture tenang.
“Apa maksudmu dengan banyak tuduhan?” tanya Alexander merasa tak terima.
“Pak Ramon, beri tahu Pak Alexander tuduhan-tuduhan itu.” Finn melempar jawaban kepada sang sepupu.
“Perbuatan tidak menyenangkan, memanipulasi tender, pencemaran nama baik, penyekapan seorang wanita ….”
“Jangan bicara sembarangan! Wanita siapa yang saya sekap?” Alexander mulai naik pitam.
“Kanaya. Wanita yang Anda bayar untuk menggoda saya agar Sandra meminta cerai. Licik, tetapi sayangnya rencana Anda gagal total,” jelas Finn.
“Menuduh tanpa bukti bisa menjeratmu juga masuk ke dalam sel!” seru Alexander.
“Lakukanlah. Kita bertemu di pengadilan.” Finn menantang dengan santai.
Alexander semakin kesal. Ia berteriak kepada Finn. “Sandra bukan milik Anda! Saya yang bertemu lebih dulu dengannya!”
Sejenak, Finn tertawa. Kemudian, menatap lekat Alexander seraya berkata, “Hidup bangsawan sepertimu seharusnya menyenangkan, tetapi ternyata menyedihkan. Anda tahu? Sandra sangat mencintaiku. Kami saling jatuh cinta.”
“Sandra pun sudah tahu kalau Anda pria yang penuh manipulatif. Coba pikir, apakah istriku mau dengan lelaki seperti itu? Dulu saja kalian hanya berteman, padahal namamu masih bersih. Lalu, sekarang dengan kelakuanmu yang sudah minus, Anda mengharapkan apa, Tuan Konglomerat? Belajarlah untuk menerima kenyataan,” sambung Finn.
“Berengsek!”
“Dengar, Tuan Bangsawan. Saya enggan banyak bicara. Saya tunggu satu minggu dari sekarang, jika tak ada satu pun klien datang. Itu berarti Anda memang menginginkan kasus ini dibawa ke jalur hukum. Satu lagi, jangan berani mengganggu istriku atau Anda akan menyesal pernah mengenal Finn Elard Liam. Ingat itu, Alexander Hamilton.” Meniru sang papi, Finn berbicara dengan sikap tenang, tetapi bersuara tegas, dan tak lupa menatap lawan bicara tanpa mengalihkan sedikit pun pandangan.
Usai mengatakan hal tersebut, Finn, Ramon, dan Roy berlalu pergi keluar dari ruangan Alexander. Mereka tersenyum penuh kemenangan. Rencana pertama berjalan cukup mulus.
Ketiganya pun berharap mendapat hasil sesuai dengan yang diharapkan. Karena jika tidak, terpaksa menjalankan rencana kedua.
Sementara sang bangsawan langsung mengamuk. Ia melempar semua benda yang berada di atas meja kerjanya dengan wajah murka.
__ADS_1
John yang dari awal berada di dalam ruangan dan belum beranjak ke mana pun hanya bisa menunduk. Namun, diam-diam bibirnya melengkung ke atas.