ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Bertemu John Beck


__ADS_3

Aku slow up date, ya, Kakak-kakak.


Duduk bersisian di ujung dermaga. Menikmati sore hari dengan pemandangan danau membentang. Angin sepoi-sepoi berembus memberi kesejukan. Rambut Sandra yang tergerai pun ikut melambai.


Rencana melakukan sesi wawancara belum juga di mulai. Finn sudah menyiapkan beberapa pertanyaan, tetapi lidahnya kelu.


Finn meraih satu tangan Sandra dan mengecupnya. Mengusap lembut telapak halus tersebut. Berharap keberanian muncul. Ia menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan.


“Honey, ada yang ingin kamu tanyakan kepadaku?”


Finn menatap Sandra dan mengusap puncak kepala sang istri. “Ketahuan, ya?”


Sandra mengangguk. “Kamu gelisah? Apa yang membuatmu resah? Tanyakanlah.”


“Aku khawatir kepadamu.”


“Kenapa? Aku baik-baik saja.”


“Kemarin, kamu pergi ke mana bersama Vivian? Boleh aku tahu?”


Sandra terdiam sesaat. Ia menunduk dalam. “Aku … emm ….”


Finn memegang bahu Sandra dan menghadapkan ke arahnya. “Bee, beberapa waktu lalu, kita pernah bermasalah dengan komunikasi. Sekarang, ayo perbaiki semua. Aku minta maaf jika masih menyimpan rahasia. Aku pun tahu kamu memiliki dan mencoba menyembunyikan hal yang sama dariku. Benar, ‘kan?”


Sandra menghela napas. “Intinya kamu mau bicara apa?”


“Kita saling berterus terang. Buka semua rahasiamu. Aku pun.”


“Setiap orang masih berhak memiliki rahasia, meski mereka suami-istri. Asal bukan sesuatu hal yang merugikan pasangannya masing-masing. Kalau dulu, kita memang lost contact.”


“Aku tahu. Tapi, rahasia yang kita simpan rumit dan saling berkaitan.”


“Memang kamu punya rahasia apa?” tanya Sandra penasaran.


“Tak berbeda jauh dengan rahasiamu.”


Sandra membelalakkan mata, terkejut. “Kamu ….”


“Ya. Mengenai Alexander Hamilton. Itu rahasia kita, bukan?”


“Kemarin, aku bersama Vivian ke kantor Alex.” Akhirnya, Sandra mulai buka suara mengenai Alexander.


“Boleh aku tahu semua cerita detailnya?”


“Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama?”


“Ya.”


Sandra meraih tangan Finn dan menautkan jari kelingking mereka. “Janji.”


Finn tersenyum. “Janji.”


Sandra menceritakan semua. Mulai dari awal rencana bersama Vivian untuk mencari keberadaan Kanaya. Namun, sampai sekarang masih belum mengetahui keberadaan wanita tersebut.


"Kanaya ada di mansion Alex." Finn memberi tahu.


"Benarkah?"


"Iya."


Sandra mengembuskan napas kasar. Info tersebut cukup membuatnya terkejut. Kemudian, ia melanjutkan cerita.


Saat Sandra melihat seluruh calon dan klien Field Construction. Melihat ada nama Hamilton Company. Namun, bingung kenapa Finn dan Alex seolah-olah tak saling mengenal. Tapi, saat bertanya dengan sang suami justru jawaban yang di dapat kurang memuaskan.


“Jadi, aku mau mencari tahu sendiri. Pasti ada sesuatu terjadi antara kamu dan Alex.”


Finn mengembuskan napas secara kasar. Menarik kepala Sandra dan mencium kening sang istri cukup lama. Melepasnya dan membelai pipi halus wanita tercinta.


“Ya, memang benar. Sesuatu telah terjadi antara aku dan Alex.”


“Apa?”


Finn menceritakan kisah di balik tawaran proyek dari Hamilton Company, tetapi sangat mencurigakan. Lalu, ia menolaknya.


“Saat itu, aku tak tahu kalau Alex mengenalmu.”


“Alex menyukaiku. Kemarin Pak John memberi tahu.”


“Senang, huh?” Finn mengerucutkan bibirnya.


Sandra mengecup bibir tersebut. “Cemburu?”


“Tentu saja.”

__ADS_1


Sandra memeluk Finn dari samping. “Aku cintanya sama kamu, bukan Alex.”


“Dia mengejarmu sampai membuatku nyaris jatuh miskin. Itu ulahnya.”


“Aku tahu. Kemarin, Pak John menceritakan sedikit tentang hal tersebut.” Sandra menolehkan kepala Finn agar melihatnya. “Aku minta maaf. Semua karena aku,” sesalnya.


“Inilah alasan aku enggan bercerita kepadamu. Ketika mengetahui, kamu pasti seperti ini. Merasa bersalah.”


“Aku hanya tahu, Alex bangsawan yang memiliki attitude baik. Tapi, melihat kenyataan sekarang, entahlah. Jauh sekali berubah.”


“Kamu pernah mencintainya?”


Ya.


“Tidak. Aku hanya menganggapnya teman.” Maaf, Honey. Seperti yang aku katakan tadi. Setiap orang masih berhak memiliki rahasia. Toh, itu sudah masa lalu. Lagi pula, terkadang kebenaran sesekali harus ditutup demi kebaikan. Aku hanya tak mau kamu semakin gusar dan tambah membenci Alex. Kita semua harus berdamai dan hidup tenang.


“Kamu yakin?”


“Meragukan istrimu?”


“Tidak. Aku hanya mau mendengarnya lagi. Karena itu membuatku senang.”


Sandra tersenyum. “Kamu takut aku berpaling kepadanya?”


“Iya. Aku takut kamu tinggalkan.”


Sandra tertawa. “Mantan playboy sepertimu bisa punya rasa takut juga.”


“Manusiawi, Bee.”


Sandra mencubit pipi Finn kencang. “Gemas banget, sih.”


“Sakit, Bee.” Finn mengusap pipinya.


“Sengaja.” Kemudian, Sandra mengalungkan tangan di lengan Finn dan menyandarkan kepala disana.


“Lalu, ada urusan apa kamu dengan John Beck?”


“Ya, ampun! Aku lupa. Aku belum mengabari apa pun lagi.” Sandra menepuk jidat.


“Bee, ada rahasia apa lagi?”


“Tidak ada.”


“Jangan bohong. Lalu, kenapa kalian janjian bertemu hari ini?”


Finn mulai bercerita. Perihal rencana bersama Manda, Ramon, dan Tristan. Ia memberi tahu semua, tentang serangan virus, meretas email John Beck, mula-mula tahu pesan janjian tersebut pun dari sang sepupu.


“Maaf. Aku tidak jujur tentang pertemuan dengan Pak John. Aku hanya mau tahu apa yang ingin tangan kanan Alex katakan. Sepertinya, pria itu merencanakan sesuatu. Karena, ia bilang demi ketenangan semua. Entah, apa maksudnya?” Sandra menerangkan.


“Persis. John juga mengatakan hal yang sama denganku. Demi ketenangan semua, ia membutuhkanmu, begitu pun sebaliknya.”


“Kamu menemuinya? Honey! Tahu dari mana tempat kami janjian? Kak Manda?”


“Aku melakukan kloning aplikasi hijau milikmu,” ucap Finn berterus terang.


“Honey!”


”Bee, bisa marahnya nanti. Luapkan amarahmu malam saja di atas ranjang kita, okay.”


“Finn Elard!”


“Aku bercanda. Tapi, marahnya nanti, ya.”


Sandra memukul dada Finn satu kali. “Pokoknya hapus kloningan aplikasi hijauku di ponselmu! Aku tak akan mencurangimu! Justru apa yang istrimu ini lakukan itu untuk kita!”


“Iya, nanti aku hapus. Aku juga melakukannya demi keselamatanmu. Aku khawatir, Bee.”


“Kamu harus menebus kesalahan padaku.”


Finn mengembuskan napas lelah. “Okay. Kamu ingin berapa ronde, Aku siap melayanimu di atas peraduan.”


“Finn Elard! Mesum!”


“Loh, dengan istriku sendiri. Ada yang salahkah?”


“Honey!”


“Memang bukan itu?”


“Tentu saja bukan!”


“Hah, aku pikir. Padahal, aku sudah senang.”

__ADS_1


“Finn Elard!”


“Iya-iya. Okay. Berhenti berteriak. Aku mendengarkan.”


“Serius.”


Finn mengusap puncak kepala Sandra. “Iya. Maaf. Sekarang katakan.”


“Biarkan aku bertemu dengan Pak John.”


“Ti-dak!”


“Honey.”


“Apa yang membuatmu penasaran?”


“Aku tidak penasaran.”


“Lantas?”


“Ketenangan. Pak John mengatakan hal tersebut, bukan? Aku ingin hidup tenang bersamamu. Itu yang membuatku ingin bertemu dengannya.”


“Bee ….”


“Please.”


Finn memijat pelipis. Ah, shit! batinnya.


🌺🌺🌺


Dua hari kemudian


“Bee …,” Finn mengeratkan genggamannya kepada Sandra. “berteriaklah jika ia mulai macam-macam.”


“Iya.”


“Jangan lupa nyalakan perekam suara. Lainnya sudah semua kamu bawa, ‘kan?”


“Semua ada di dalam tas. Aku turun, ya.” Baru saja mau keluar dari mobil, Finn menahan. “Apalagi?” tanya Sandra.


“Aku benci denganmu yang keras kepala. Tapi, lebih bodohnya aku menurut.”


Sandra membelai pipi Finn lembut. “Honey, aku hanya bertemu Pak John.”


“Aku tahu. Hati-hati. Berteriaklah ….”


“Jika ia mulai macam-macam,” potong Sandra. “Kamu sudah mengatakannya tadi.”


Finn memeluk Sandra sesaat. “Turunlah.”


“Aku akan baik-baik saja. Aku janji.”


“Tentu. Kamu harus baik-baik saja.”


Sandra mengangguk.


🌺🌺🌺


“Pak John.”


“Ibu Sandra, akhirnya kita bertemu. Silakan duduk.”


“Terima kasih.”


Usai memesan minuman. Mereka mulai berbicara pada inti.


“Saya ingin meminta bantuan Anda. Kita harus bekerja sama agar tuan muda kembali ke London dan tidak balik ke Indonesia. Untuk ketenangan. Bukan hanya untuk kami pribadi, tetapi juga untuk Anda dan Pak Finn.”


“Kenapa harus saya?”


“Karena hanya Anda yang bisa membuat tuan muda mengerti.”


“Anda yakin, Pak John?”


“Kita coba dulu.”


“Coba? Artinya bisa berhasil, tetapi bisa juga tidak. Itu membahayakan saya, Pak John.”


“Saya akan menjaga Anda. Saya berjanji.”


“Terima kasih. Tapi, aku rasa jika Alex mengetahui kita bekerja sama. Ia akan membunuhmu.”


“Saya tahu. Tapi, tak ada jalan lain. Tuan muda begitu mencintai Anda. Dengan cara apa pun beliau ingin memiliki Anda. Itu membuat saya sedih. Cinta ini sudah berbelok menjadi obsesi. Bahkan, mengubah tuan muda menjadi seperti iblis. Padahal, ia pria yang baik.”

__ADS_1


Ya, dahulu ia pria yang baik dan sopan. Lalu, hanya karena cinta mengapa berubah drastis begini? Kenapa juga dulu kamu tidak berterus terang? Aku memang sempat menyukaimu. Tapi, memilih melupakan rasa yang singgah tersebut secepat mungkin. Karena merasa hanya khayalan kalau bangsawan terhormat mau mencintaiku. Tapi, ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Namun, sekarang aku sudah punya suami. Kami saling mencintai. Rasa untukmu pun sudah lama sirna. Maaf, Alexander Hamilton. Sandra membatin.


“Lalu, bantuan seperti apa yang Anda inginkan dari saya, Pak John?”


__ADS_2