
Usai bekerja dan tiba di rumah, Finn langsung mencari Sandra. Ia menemukannya di balkon kamar tengah duduk sambil membaca buku. Menghampiri dan memeluk erat sang istri dan menciumi wajah cantik itu.
“Kangen.”
“Ya, ampun, Honey.” Sandra kaget, tetapi pasrah.
“Tidak kangen?”
“Iya, aku kangen juga.” Sandra membelai pipi sang suami.
Finn tersenyum dan mengangkat tubuh semampai Sandra ke atas pangkuannya. “Sudah makan?”
“Sudah. Hari ini makanku banyak sekali. Entah, belakangan ini aku sering merasa lapar.”
“Aku senang mendengarnya. Biar semakin montok.”
Sandra mencium pipi Finn. “Kamu sendiri sudah makan?”
“Sudah. Tapi, tak banyak. Aku sedang tidak berselera.”
“Mau aku temani makan?”
Finn menggeleng. “Tidak. Aku mau langsung tidur.”
“Mau mandi dulu?”
Finn kembali menggeleng. “Aku mau langsung tidur.”
“Ya, sudah. Ganti baju dulu baru tidur. Aku ambilkan piama.”
Finn hanya mengangguk. Ia menggendong sang istri masuk.
Beberapa menit kemudian, Sandra kembali dengan membawa pakaian tidur untuk Finn. Ia melihat sang suami sudah duduk bersandar di atas kasur dengan wajah sangat kecapaian.
__ADS_1
“Akhir-akhir ini aku sering merasa lelah. Apalagi, kalau pagi hari begitu tiba di kantor. Kepala pusing, mual, dan hawanya mau rebahan saja,” ujar Finn.
“Kamu sakit?”
“Mungkin masuk angin.”
Sandra membuka kemeja Finn. “Aku balur minyak kayu putih, ya?”
“Kamu tidak capek?”
Sandra menggeleng. “Aku akan mengurusmu seperti Tristan saat sakit beberapa hari lalu.”
“Mengurus seperti apa?”
Sambil membalur tubuh sang suami dengan minyak kayu putih. Sandra berceloteh girang. “Aku menggantikan baju Tristan yang lepek karena keringat. Terus, menyuapinya bubur ayam sampai habis.”
“Pintar.” Finn mengusap puncak kepala Sandra.
“Selesai. Tidurlah.”
“Kemari, peluk aku dulu.” Finn merentangkan kedua tangan.
Sandra menurut. Ia langsung menemplok di atas dada sang suami.
“Honey, aku mau belajar mengurusmu.”
“Kamu sudah melakukannya.” Finn mengeratkan pelukan dan menciumi puncak kepala sang istri.
“Aku hanya menyiapkanmu pakaian. Selebihnya, asisten rumah tangga yang mengerjakan.”
“Tidak usah memasak, kamu kan tak suka dapur. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang tidak kamu suka. Bersih-bersih rumah juga ada banyak asisten rumah tangga. Mau apa lagi?”
“Kata bunda, kita terbalik. Harusnya aku yang mengurusmu, bukan sebaliknya.”
__ADS_1
“Maksudnya bagaimana? Aku kurang paham, Bee.”
“Bunda tahu kamu sering menyuapiku. Untung tidak tahu kamu sering membersihkan tubuhku dan memakaikan pakaian. Kalau sampai mengetahui, pasti aku dijewer lagi.”
Finn tertawa kecil. “Begitukah?”
“Kamu sendiri, kesal tidak punya istri tak becus sepertiku? Tidak pandai apa pun di rumah ini. Terkadang aku ingin sekali membenarkan ucapan bunda. Aku wanita atau bukan?”
“Bee, bicara apa, huh? Aku justru senang mengurusmu. Aku memang ingin kamu diam-diam disini tak perlu melakukan apa pun. Kamu selalu berada di sisiku saja, sudah cukup. Tugas kamu di rumah, berdandan saja yang cantik dan berpakaian seksi ketika aku pulang kerja. Itu sudah membuatku bahagia.” Senyum nakal terbit dari bibir Finn.
“Honey, kamu tu omongannya menjurus gitu, sih?”
“Loh, aku bicara apa adanya. Bee, dengar. Aku tidak membutuhkan istri yang pandai bersih-bersih rumah atau memasak. Karena, aku bisa membayar orang untuk melakukannya. Jangan membuat dirimu lelah dengan mengerjakan hal tersebut. Simpan saja energimu untuk pergulatan panas kita.”
“Tu kan, arah pembicaraanmu ke sana terus. Mesum!”
“Mesum dengan istri sendiri itu wajib.”
“Honey.” Sandra mencubit pinggang Finn hingga sang suami mengaduh. “Diam. Aku malu mendengarnya.”
Finn tertawa kecil. Kemudian, mengusap lembut punggung sang istri. “Sekarang, kalau bunda masih berbicara hal-hal tersebut, mengangguk saja. Jangan membantah. Toh, maksud orangtuamu baik.”
“Memang kamu tidak ingin aku mengurusmu seperti rumah tangga orangtua kita?”
“Kenapa mesti menyamakan rumah tangga kita dengan mereka? Kita adalah kita. Sebenarnya, apa yang sedang mengganggu pikiranmu? Setiap hari, aku sudah cukup bahagia melihatmu berada di rumah, Bee.” Finn merasa heran.
“Bunda menceramahiku.”
“Kalau begitu, lebih baik mulai sekarang, tidak perlu banyak bercerita tentang isi rumah tangga kita kepada siapa pun. Termasuk bunda dan mami. Kecuali, membagikan kisah bahagia. Lain itu, kuncilah rapat-rapat hanya untuk konsumsi kamu dan aku saja. Oke.”
Sandra mengangguk. “Bijaknya. Aku makin cinta.”
“Aku pun, My Love.”
__ADS_1