
Ramon, Manda, Tristan, dan Vivian berkumpul di Rumah Danau. Mereka mengobrol di meja makan sambil menikmati hidangan makan siang yang telah disiapkan.
Semua terkejut perihal berita kematian Kanaya. Menurut pandangan mereka, kisah hidup mantan kekasih Tristan itu sangat pilu. Sesaat keadaan hening.
“Tragis.” Manda memecah keheningan.
“Tak menyangka,” sahut Sandra.
“Menyedihkan,” timpal Ramon.
Meski membenci, tetapi rasa iba mengalahkan perasaan tersebut dan dengan ikhlas mereka memberi maaf. Sementara Finn sibuk mengelus punggung tangan Sandra. Sesekali menciumi rambut sang istri seraya menghirup aromanya dan mengecup pipi.
“Finn, lo gak memberi komentar?” tanya Tristan.
Finn menoleh. “Ironis.” Kemudian, kembali lagi pada aktivitasnya yang sempat terjeda.
“Tapi, gue masih penasaran dengan alasan Kanaya mau menjebak Finn,” ujar Tristan.
“Alasannya apa, ya?” Manda pun penasaran.
“Mungkin gak, kalau Kanaya menyetujui persekongkolan tersebut, selain karena uang, juga menginginkan ayah pengganti untuk calon bayinya itu? Finn target tersebut.” Tristan berasumsi.
“Benar juga.” Kemudian, Sandra menoleh ke arah Finn. “Untung waktu itu kamu masih sadar untuk menolak ajakan tidur. Kalau tidak …,” Ia menggelengkan kepala, seolah-olah enggan membayangkan hal buruk itu.
“Kalau tidak, bisa jadi Finn akan disuruh bertanggung jawab atas bayi yang di kandung oleh Kanaya.” Ramon meneruskan kata-kata Sandra.
Sandra langsung memeluk erat Finn. “Cincin pernikahan kita penyelamat.”
“Iya.” Baru saja Finn mau membalas pelukan sang istri. Sandra sudah melepasnya.
“Sekarang yang menjadi pikiran adalah Alexander. Dia tahu atau tidak kalau Kanaya itu mantan gue? Atau memang mengambil secara random perempuan, asal bisa dibayar?” Tristan mempertanyakan.
“Satu lagi, kenapa Alex masih berada di Indonesia? Semoga aja dia gak akan kembali berbuat ulah.” Manda menatap Sandra. “Sand, tetap waspada dan jaga diri. Oke.”
Sandra mengangguk. “Iya, Kak.”
“Pusing memikirkan semuanya. Nanya Kanaya kan gak mungkin. Kenapa kita gak tanya langsung aja sama bule klimis itu?” Vivian menimpali.
“Sayang, seandainya saja semudah itu,” sahut Tristan.
Semua saling sahut-menyahut. Hanya Finn yang sibuk sendiri seraya menatap Sandra dengan tatapan memuja.
Ramon, Manda, Tristan, dan Vivian bukan tak memerhatikan polah Finn. Hanya saja enggan untuk mengomentari meski melihatnya cukup jengah.
“Dek, minta tolong ambilkan mangkuk, boleh? Gue mau makan bakso.”
Sandra mengangguk. Ia beranjak bangun menuju rak piring. Finn mengekor sang istri.
Finn berjalan sambil menggenggam baju belakang Sandra. Ia terlihat seperti anak takut kehilangan ibunya. Sang istri duduk, pria itu pun ikut mendudukkan diri juga.
“Sand, bagi air es. Minta tolong ambilin, ya,” pinta Vivian sengaja.
Sandra beranjak bangun. Membuka lemari es dan mengambil satu botol air mineral. Finn mengekor lagi, melakukan hal yang sama seperti tadi.
Baru Sandra beranjak duduk dengan Finn mengikuti juga. Manda ikut iseng memberi titah, “Sand, punya kecap? Boleh tolong ambilkan?”
Sandra mengangguk. Berhubung asisten rumah tangga tak berada di tempat karena ia menyuruh mereka keluar semua. Jadilah, istri dari Finn itu bolak-balik dengan pria tercinta terus mengekor.
Ramon, Manda, Tristan, dan Vivian saling melempar pandangan. Namun, tak ada satu pun di antara mereka yang mengeluarkan suara.
Obrolan pun terus bergulir, tetapi Finn seperti tak memedulikan. Ia hanya berfokus kepada satu orang, Sandra. Mengecup tangan sang istri, membelai rambut, mencium pipi, jemari pun traveling turun-naik di sekitar lengan, menyandarkan kepala di bahu, dan polah lain yang membuat semua tidak lagi jengah, tetapi sudah tahap heran.
“Bee, aku mau juga.” Finn membuka mulut agar Sandra menyuapi daging rendang di atas piring sang istri.
Semua menganga. Bukan karena permintaan tersebut melainkan nada dan gesture tubuh Finn yang sangat manja.
Sandra menurut. “Mau makan paru sambal hijau juga? Enak.”
Finn mengangguk. “Pakai nasi. Aku lapar.”
“Oke.”
“Rendangnya yang banyak.” Sandra mengambilkan berikut sayuran, tetapi langsung ditolak Finn. “Jangan pakai sayur. Aku sedang tak akur dengan mereka.”
“Oke.”
Sandra menyuapi Finn. Sepasang suami-istri itu asyik berdua. Sementara yang lain melongo.
Dua jam kemudian
“Dek, kapan-kapan kita bikin acara barbeku disini. Seru pasti,” ujar Tristan.
__ADS_1
“Setuju.”
“Ikut.”
“Ayo aja.”
Semua menyahut. Sandra pun juga menyetujui.
“Atur waktu aja. Nanti ajak semua keluarga.” Sandra menimpali dengan senyum.
Finn tak merespons. Ia asyik memeluk sang istri dari belakang dengan kepala masuk ke ceruk leher Sandra.
“Kita balik, Finn, Sandra.” Semua berbicara sama.
Sandra mengangguk seraya tersenyum dan melambaikan tangan.
🌺🌺🌺
Keesokan harinya
Hari Minggu adalah waktu yang biasa Finn pakai untuk olahraga. Di mulai dari lari pagi, sit-up, push-up, tinju, atau berenang. Namun, kali ini ia memutuskan rihat dan hanya mau merebahkan tubuh di atas kasur.
Akhir-akhir ini, Sandra cukup heran melihat polah Finn. Karena, berbanding terbalik dengan kebiasaan. Ia berpikir kalau sang suami benar sakit. Tapi, saat mengecek suhu tubuh normal saja.
Sandra pun semakin dibuat bingung, kala Finn sering mengeluh pusing, mual, pemilih makanan, dan menjadi pemalas. Hobi baru sang suami kini adalah rebah-rebahan.
Roy pun memberi kabar kepada Sandra. Belakangan ini, ketika bekerja di kantor, Finn harus di push baru mau bergerak. Jika tidak, sang bos memilih untuk merebahkan tubuh di atas sofa dengan alasan capek.
Roy mengatakan lagi, energi Finn akan kembali begitu menjelang siang. Oleh karena itu, sekarang semua pertemuan ataupun pekerjaan di mulai ketika matahari tengah terik. Daripada menjadi berantakan akibat kemalasan sang atasan.
Ingin membawa ke dokter, tetapi Finn menolak. Ia bilang baik-baik saja. Sandra pun setuju dengan alasan sang suami. Karena dilihat dari segi fisik, memang sehat.
“Honey, sudah mau siang.”
“Hm. Kemarilah, Bee. Peluk aku.”
Sandra menurut. Ia menaiki kasur dan mendekap sang suami.
“Aku dari tadi mual, tetapi tak keluar apa pun. Herannya, kalau dekat kamu rasa itu hilang. Jadi, jangan jauh-jauh dariku. Atau aku harus bolak-balik kamar mandi.”
“Lebih baik kamu bangun dan mandi.”
“Tidak. Biar kamu segar aja.”
“Aku malas mandi. Air itu memusuhiku. Mereka bersikap dingin.”
Sandra memutar bola matanya malas. “Mandi air hangat.”
“No. Aku bukan bayi.”
“Honey ….”
“Bee ….”
“Boleh aku tanya bunda atau mami?”
“Tanya apa?”
“Kenapa kamu seperti orang sakit? Tapi, ternyata tidak. Di ajak ke dokter juga selalu menolak.”
“Sudah kubilang, beri tahu berita bahagia saja. Lain itu, jangan bercerita apa pun.”
“Aku hanya mau bertanya saja, tidak lebih. Siapa tahu bunda atau mami punya solusi?”
“Solusinya hanya kamu.”
“Aku?”
“Iya, seperti yang aku katakan tadi. Dekat kamu mualku hilang, pusing juga berkurang, makan pun mau.”
Aneh, batin Sandra.
🌺🌺🌺
Menjelang siang, Finn mulai memliki energi. Ia mandi dan mengajak sang istri jalan-jalan ke pusat perbelanjaan.
“Sudah lama aku tak mengajakmu berbelanja. Belilah apa pun yang kamu mau.”
Sandra menggeleng. “Aku sedang tidak mood berbelanja.”
“Loh, kita sudah disini.”
__ADS_1
“Kamu yang mengajakku. Aku hanya menurut.”
Finn mengembuskan napas. “Punya ide menarik? Kita sudah kadung disini.”
Sandra terlihat berpikir. Namun, belum juga menjawab, suara lembut memanggil.
“Finn.” Seorang wanita bertubuh langsing, tinggi, dan cantik dengan rambut ikal tergerai menyapa. Ia sudah berdiri tepat di belakang Finn.
Saat itu juga, Finn merasa ada yang salah dengan indra penciuman dan perutnya. Ia membalikkan badan dan seketika mual melanda. Namun, ia tahan.
“Maaf, Anda mengenal suami saya?” Sandra mencoba beramah-ramah.
“Saya Sonia. Mantan kekasih Finn.” Kata-kata tersebut meluncur dengan suara manja sekaligus penuh penekanan.
Sandra mengembuskan napas lelah. Sudah kuduga. Heran! Apakah sedang tren di era sekarang wanita dengan gamblang menyebut mantan kekasih di depan istri sah? Kan bisa bilang teman. Setidaknya jaga harga diri. Jangan seolah-olah bangga dan mengatakannya pun dengan suara seperti kucing minta kawin, batinnya.
“Aku tidak mengingatmu,” sahut Finn.
Mendengar perkataan Finn, ingin sekali Sandra tertawa. Terlalu banyak mantan di masa lalu, memang membuat sang suami banyak tak mengingat mereka.
“Lupa atau sengaja melupakan karena ada istrimu? Kita pernah menjalin kasih tiga tahun lalu. Ya, meski hanya satu bulan,” terang Sonia dengan raut wajah dipaksakan tersenyum.
Sandra ingin menyahut. Akan tetapi, Finn lebih dulu bicara.
“Sudah kubilang, aku tak mengingatmu. Apakah kata-kata tersebut belum jelas? Seandainya pun benar, aku sudah punya istri yang sangat cantik. Kau lupakanlah masa lalu. Mengerti!” Finn langsung menarik tangan Sandra menjauh.
Sonia menganga mendengar penuturan Finn. Ia pikir dengan wajah cantik hasil operasi seharga ratusan juta, bisa menarik kembali sang mantan. Tapi, ternyata zonk!
“Sial! Tak sengaja bertemu lagi. Aku kira, Finn akan terpesona. Cih, aku masih jauh lebih cantik dari istrimu itu!”
🌺🌺🌺
“Bee, tunggu disini.” Finn langsung berlari menuju toilet. Ia memuntahkan isi perutnya.
Sial! Pakai parfum apa wanita itu? Bau sekali, membuatku mual. Finn membatin.
“Honey.” Begitu Finn keluar dari toilet Sandra menghampiri dan memegang pipi sang suami. “Kamu baik-baik saja?”
“Wanita tadi membuat perutku mual.”
“Kamu muntah?”
“Iya.”
“Kita pulang saja, ya. Sepertinya, kamu sedang kurang sehat.”
“Aku sehat. Hanya bau wanita itu membuat perutku seperti diaduk. Sekarang sudah lebih baik.”
Bau? Perasaan wanita itu wangi. Sandra membatin heran.
“Kita pulang.”
“Bee.” Finn menggeleng.
“Ya, sudah. Kita pergi ke tempat lain.”
“Oke.”
Sandra memutuskan untuk pergi ke museum. The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara atau biasa disebut Museum MACAN. Tempat yang berlokasi di daerah Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Buka setiap hari Selasa-Minggu dari pukul 10.00-16.00. Ia langsung memesan tiket untuk dua orang via aplikasi biru-kuning.
Museum MACAN merupakan tempat pameran karya seni sekaligus liburan di Jakarta yang banyak digandrungi wisatawan. Terdapat banyak ratusan karya seni tingkat tinggi, mulai dari ciptaan seniman Indonesia sampai mancanegara.
Dari mulai pelajar, milenials sampai dewasa menyukai tempat tersebut. Belum lagi, bisa berfoto dengan latar karya yang instagramable. Semakin menyenangkan.
Salah satunya, karya dari seniman Jepang Yayoi Kusama. Bisa dinikmati oleh beragam orang, mulai dari penikmat serius sampai penikmat seni sekadar menjadikannya latar untuk berfoto unik.
Juga ada karya seniman tanah air, salah satunya adalah milik Henk Ngantung yang berjudul ‘Pemandangan Batavia (Batavia Scene), (1939)'.
Finn dan Sandra berkeliling mengitari museum. Menatap kagum karya-karya anak bangsa dan dunia.
Lelah menjelajah, mereka berkunjung ke kafe yang terdapat di dalam museum tersebut, tepatnya berseberangan dengan infinity mirrored room. Tempat yang semuanya berlapis dinding kaca. Sehingga membuat kita bisa menikmati pemandangan Kota Jakarta sambil menyeruput secangkir kopi dengan citarasa mahal.
“Setelah ini kita pulang, ya. Aku khawatir dengan kondisimu,” ujar Sandra.
“Aku baik-baik saja. Lihat, sudah tidak mual.”
“Honey, menurut. Oke.”
“Iya. Oke. Fine, My bee. Aku menurut.”
Sandra tersenyum dan membelai punggung tangan Finn dengan lembut.
__ADS_1