ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Sandra Rein


__ADS_3

Baru saja memasuki kamar pengantin. Finn dengan cepat menguncinya. Kemudian, menyandarkan Sandra di pintu.


“Baby, kiss me.”


Satu kecupan mendarat.


Finn menaikkan satu alis dan mencubit gemas pipi Sandra. “Kenapa hanya mengecupnya, Baby?”


Sandra tersenyum kikuk. “Finn, aku ganti baju dulu, ya. Boleh?”


Finn tak menjawab melainkan menubrukkan bibir mereka. Sejenak saling bertukar saliva. Lalu, melepasnya dan mengusap benda kenyal sang istri dengan ibu jari.


Finn menatap lekat Sandra. Merengkuh pinggang ramping sang istri. Kemudian, berbicara dengan suara menggoda, “Aku bantu.”


Belum juga mendapat persetujuan, Finn membalik pelan tubuh Sandra. Menurunkan ritsleting gaun pengantin dan bustier. Punggung berkulit putih dan mulus itu tersingkap. Ia menatap tanpa berkedip seraya memainkan jemari di tubuh polos tersebut.


“Finn, biarkan aku melepasnya dulu. Aku juga butuh mandi dan berganti pakaian. Gerah,” pinta Sandra dengan suara lirih.


Finn membalik kembali tubuh Sandra sehingga berhadapan. Ia membelai rambut dan pipi sang istri. “Mandi bersamaku.”


“Finn ....”


“Baby, aku mau memanjakanmu.”


Memanjakan macam apa, Finn? Astaga. Baru beberapa menit berada berdua di dalam kamar saja rasanya gemetar. Punya suami kenapa lihai begini? Sampai tak menyia-nyiakan kesempatan sedetik pun. Sandra membatin.


Finn mulai menurunkan gaun Sandra. Akan tetapi, suara bel menghentikan aktivitas sang ceo. Ia mengembuskan napas berat. Menaikkan kembali baju pengantin sang istri.


“Baby, tunggu sebentar disini. Sabar, ya. Aku buka pintu dulu.”


Hah! Sabar? Enggak terbalik? gumam Sandra heran.

__ADS_1


Sandra menurut untuk tetap menunggu di balik pintu.


“Sorry, Finn,” ucap Ramon sedikit ngeri melihat wajah kesal sang sepupu.


“Lo tahu ini malam apa buat gue, ‘kan? Bisa gak, jangan mengganggu,” sewot Finn.


“Iya, tahu. Tapi, masih ada tamu. Mereka mau ketemu lo.”


“Astaga, Ramon. Bilang aja gue udah tidur. Susah banget. Heran.”


“Ini teman kuliah kita di U.S. Kasihan jauh-jauh datang buat ke acara pernikahan lo. Mereka juga gak punya waktu banyak. Sebenarnya tadi sore sampe. Tapi, pada jetlag, terus ketiduran. Pas bangun langsung kesini.”


“Serius? Mereka disini?”


“Iya. Ayo!”


“Gue bilang Sandra dulu.”


“Sekalian hapus bekas lipstik di bibir lo. Oke.” Ramon menepuk bahu Finn. Kemudian, berlalu pergi meninggalkan sang sepupu.


Finn melongo. “O, shit.” Ia menghapus jejak tersebut dengan ibu jari. Kemudian, masuk ke kamar.


“Finn.”


“Baby, ada beberapa teman kuliahku datang. Sebentar aku menemui mereka. Kamu mandi duluan saja, ya.”


Sandra mengangguk. Syukurlah, batinnya.


Sebelum pergi Finn berkaca sebentar. Setelah memastikan sudah tak ada lagi jejak gincu. Ia menghampiri sang istri. Mengelus pipi dan membelai puncak kepala Sandra kemudian keluar kamar.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Dua jam lalu ....


Televisi LED layar besar seketika hancur. Kemarahan berkobar saat melihat wanita tercinta bersanding dengan pria lain. Merasa belum cukup meluapkan emosi. Apa pun yang berada di depan mata dilempar. Suara teriakan turut mengiringi.


“SANDRA! KAMU HANYA BOLEH MENJADI MILIKKU!”


Kilat marah tampak pada netra hitam milik sang tuan muda. Tangan pun mengepal, meninju beberapa kali dinding hingga terluka sampai berdarah.


“FINN ELARD LIAM! BERENGSEK! GUE AKAN MEREBUT SANDRA!”


“Maaf, Tuan Muda. Saya sudah mengetuk pintu, tetapi Anda tidak menyahut. Jadi, saya masuk,” ucap seorang pria bertubuh tegap kepada sang atasan seraya menundukkan kepala.


Sang tuan muda menoleh. “Sudah kau dapatkan, John?”


“Sudah, Tuan.”


“Berikan.”


“Ini, Tuan.”


Sang tuan muda membuka berkas tersebut. Membaca dengan saksama. Kemudian, menyeringai dengan mengerikan.


“Besok pagi suruh semua anak buahmu berkumpul. CEO itu harus hancur, begitu pun dengan rumah tangga mereka. Bagaimanapun caranya, keduanya harus berpisah. Agar aku bisa bersama Sandra.”


Perjalanan pulang kembali ke Tanah Air dengan wajah sumringah. Pasalnya, kerinduan akan segera terobati. Akan tetapi, malah disambut oleh berita pernikahan.


Sang tuan muda merasa kecolongan. Ia tak pernah mendengar kabar Sandra memiliki seorang kekasih. Tapi, kenapa tiba-tiba menikah. Sontak lelaki itu berang.


Sang tuan muda pun merasa heran. Bagaimana bisa Sandra menikahi pria hidung belang? Padahal, wanita itu pernah bilang sangat anti sekali dengan lelaki bajingan.


Sang tuan muda merasa Sandra berkhianat. Padahal, selama ini ia sudah sangat setia untuk tak menjalin kasih dengan siapa pun.

__ADS_1


“Sandra Rein, aku tidak peduli dengan statusmu sekarang. Kamu harus menjadi milikku.”


__ADS_2