ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Sang penerus


__ADS_3

Hai, Kakak-kakak. Maapkeun, aku jarang update. #salim #sungkem


Terima kasih, masih setia menunggu Finn dan Sandra, saranghaeyo ❤️


Postingan ini terakhir sebelum lebaran, ya. Aku update lagi Finn dan Sandra setelah Hari Raya. Tengkiu atas vote, komentar, semangat, like, dan hadiahnya. Ailophyuufull 😘 Sehat selalu untuk kita semua 🤗


Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏


Kuy, cekidot




Selama beberapa hari ini, saat menjelang tidur. Sandra memanfaatkan waktu tersebut untuk berbicara bertiga dengan sang janin. Finn hanya menurut. Tangan mereka berdua ditempel bersamaan di perut dan mengelus lembut area tersebut.


Kalimat sakti pun mulai meluncur dari bibir Sandra, “Sayang Mommy, besok pagi Daddy ada meeting. Kamu yang pintar dan anteng, ya. Biarkan Daddy menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Siang harinya, Kita akan berkunjung ke kantor opa.”


“Apa anak ini mengerti ucapanmu, Bee?”


“Tentu saja. Anak yang kukandung ini sangat cerdas.”


“Oke. Kita lihat besok pagi, apakah aku mabuk lagi atau tidak?”


“Kamu harus yakin juga. Tanamkan di kepalamu kalau besok tak akan mual dan muntah.”


“Iya.”


“Coba beri pengertian kepada anakmu.”


Finn mendekatkan kepalanya ke perut Sandra dan mulai berbicara. “Boy, sedang apa di sana? Berenang? Atau bersantai?”


“Honey, bicara yang benar. Lagi pula, kamu yakin sekali anak ini laki-laki?”


“Aku seribu persen yakin.”


Sandra menghela napas. “Ya, terserahlah.”


“Boy, menurut apa kata Mommy tadi. Oke. Besok yang pintar dan anteng. Daddy harus cari uang buat kamu dan Mommy. I love you, Sayang.”


“Aku juga mau kamu bilang ‘I love you’.”


Finn bangun dan mengecup pipi sang istri. “I love you. Mau berapa kali?”


“Sampai aku tertidur.”


Finn tersenyum. “I love you ….”


Entah sudah ucapan ke berapa? Namun, bukan Sandra yang tertidur lebih dulu melainkan Finn.


Sandra lantas mengecup pipi pria tercinta dan menaikkan selimut. Kemudian, ia pun turut terpejam.


🌺🌺🌺


Pagi yang cerah. Tampak juga wajah sepasang suami-istri sangat semringah. Tak ada kendala berarti hingga bisa melewatkan setengah hari dengan senyum merekah. Finn mulai percaya bahwa kalimat sakti Sandra kepada sang janin mampu membuatnya tak merasa mual dan muntah.


“Sudah kubilang, anakku ini cerdas.”


“Anak kita, Bee. Aku yang menyebar benihnya.”


Sandra mencubit gemas pinggang Finn. “Iya. Tidak usah terlalu gamblang.”


“Sakit, Bee.” Kemudian, Finn mendekatkan wajahnya ke perut Sandra. “Boy, lihat Mommy. Mencubit pinggang Daddy.”


Sandra memukul pelan punggung Finn. “Ih, apa, sih? Di sini yang tukang ngadu itu aku, bukan kamu.”


“Tu kan, punggung Daddy dipukul Mommy, Boy.”


“Finn Elard!”


Finn cengengesan kemudian mengusap perut Sandra. “Boy, terima kasih sudah menjadi anak pintar dan anteng pagi ini. Sebagai hadiah, nanti malam Daddy akan menjengukmu?”


“Honey, bicara yang benar dengan calon anak kita. Jangan mesum.”

__ADS_1


“Loh, itu sudah benar. Supaya calon anak kita tahu kalau aku sayang kepadanya dan sang mommy. Aku juga harus izin. Agar acara menjenguk nanti malam berjalan dengan lancar, Bee.”


Pipi Sandra berona merah. Malu sekaligus senang mendengar celoteh sang suami.


“Jadi, ke kantor papi?” Sandra mengalihkan pembicaraan.


“Jadi. Sudah siap?”


“Sudah.”


“Ayo, kita berangkat.”


Di Gedung Perkantoran Liam Group


Sepanjang perjalanan, Finn dan Sandra seperti biasa menjadi pusat perhatian. Hampir semua karyawan yang bertemu di lobi menyapa. Sepasang suami-istri tersebut pun dengan ramah membalas sapaan mereka.


Putra tunggal Chris Liam itu kebetulan memang terkenal tak pelit senyuman dan rajin menyahut. Di tambah sang istri pun sama, ramah. Oleh karena itu, para karyawan tersebut berani menyapa.


Karyawan yang berada di lobi menatap kagum kepada anak dan menantu pemilik gedung tempat mereka bekerja. Berjalan bersisian dengan tangan Finn berada di pinggang Sandra. Serasi, selaras, dan seimbang, begitu isi kepala para pekerja terhadap pasangan suami-istri tersebut.


“Papi, Sensei.” Finn menyapa Chris dan Ryuji Nobi. Kemudian, memeluk keduanya secara bergantian.


Sementara Sandra terpaku menatap sekeliling. Pandangan berhenti pada kursi kebesaran milik sang mertua. Kemudian, melihatnya dengan berbinar-binar. Padahal, sudah beberapa kali ke ruangan sang papi, tetapi hari ini istri Finn itu merasa ada yang berbeda. Sebuah perasaan bahagia.


“Sandra,” panggil Chris.


Sandra menoleh dan tersenyum. Lalu, menghampiri Chris dan Ryuji. Menyapa dan memeluk mereka secara bergantian.


“Papi.” Sandra memanggil dengan suara manja.


“Apa? Mau duduk dekat Papi?” tanya Chris menduga-duga.


Sandra menggeleng. “Aku mau duduk di sana. Boleh?” Ia menunjuk kursi kebesaran milik Chris.


Finn menaikkan satu alisnya. Menatap heran sang istri atas permintaan tersebut. Namun, ia diam saja.


Chris tersenyum lembut. “Kenapa mau duduk di sana? Tumben sekali. Kamu beberapa kali kesini, tetapi baru ini ingin mendudukkan diri di kursi Papi.”


“Entah. Aku hanya ingin,” ucap Sandra.


Sandra langsung menampilkan mimik bahagia. “Boleh aku naikkan kaki ke atas?” tanya Sandra.


“Lakukan apa saja sesuka hatimu. Papi tidak keberatan.”


Sandra memeluk chris dan mencium pipi sang mertua. “Makasih, Pi. Aku sayang, Papi.”


Chris tersenyum seraya menepuk punggung Sandra pelan. “Papi juga menyayangimu.”


Sandra melepas pelukan dan bergegas duduk di singgasana milik sang mertua. Dengan wajah semringah, ia memutar-mutar kursi.


Finn dan Chris sesaat memerhatikan polah Sandra dengan heran. Karena, duduk di kursi saja sebegitunya bahagia. Lalu, mereka mengalihkan tatapan kepada Ryuji dan mulai berbincang-bincang.


“Anak muda, bagaimana kabar terbaru pembangunan store milikmu? Masih macet?” tanya Ryuji.


“Sudah berjalan kembali, Sensei. Ya, meski masih lambat. Tapi, tahun depan aku berencana akan mengebutnya agar cepat selesai,” jawab Finn.


“Hei, Chris! Kau berilah modal untuk putramu. Kenapa pelit sekali?” goda Ryuji.


“Anak itu mana mau kuberi modal. Gengsinya seluas samudra,” ujar Chris.


“Aku bisa mencarinya sendiri, Sensei. Tenang saja, store itu akan berdiri kokoh pada waktunya nanti. Jika saat tersebut tiba, aku yakin seiring berjalannya waktu akan menjadi toko perkakas terbesar di Indonesia,” sela Finn.


“Well, aku senang dengan semangatmu. Meski tahu tengah terpuruk, tetapi bisa bangkit kembali dan tetap optimis juga pantang menyerah.” Kemudian, Ryuji menatap Chris. “Berbahagialah, Chris. Suatu saat, putra tunggalmu akan meraih kesuksesan yang sama denganmu.”


“Tentu, aku selalu bahagia sekaligus bangga dengannya,” sahut Chris semringah.


Ryuji mengangguk dan beranjak bangun. “Kalau begitu, aku pulang dulu.”


“Sensei, kita baru saja bertemu,” ucap Finn seraya ikut berdiri dengan Chris pun mengikuti.


“Aku sudah dua jam berada disini. Nanti kapan-kapan saja kita berjumpa lagi.” Ryuji menepuk bahu Finn dan Chris kemudian berlalu pergi.


Finn dan Chris kembali duduk dan berbincang.

__ADS_1


“Papi, ada apa memanggilku kesini?”


“Papi ingin memintamu kembali menjadi CEO.”


Finn tidak langsung menyahut. Ia terdiam sejenak. Baru kemudian berbicara, “Pi, aku sedang sibuk dengan Field Construction.”


“Sebelumnya, bukankah kamu bisa membagi waktu?”


“Sebelumnya, perusahaanku berjalan normal, Pi. Kalau sekarang, Field Construction sedang masa pemulihan setelah kehancuran. Butuh berfokus ke sana.”


“Tambah saja orang kita untuk membantumu. Jadi, kamu juga bisa mengurus Liam Group.”


“Tapi, Pi ….”


“Finn, kamu putra tunggal Papi. Siapa lagi kalau bukan kamu yang mengurus Liam Group? Lagi pula, Papi masih membantu sampai kamu benar-benar tidak lagi setengah hati mengurus perusahaan keluarga kita.”


“Papi, tidak usah menyindir. Tapi, aku memang sedang sibuk.”


“Kamu tega membiarkan Papi yang sudah tua ini mengurus semua sendirian?”


Finn menatap lekat Chris kemudian menggeleng. “Tidak, Pi.”


“Lalu?”


Finn menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. “Oke, Pi. Kapan penobatanku kembali menjadi CEO diresmikan?” Ia terpaksa mengalah. Karena, tak tega dengan nada bicara sang papi yang terdengar sendu.


“Bulan depan.”


“Oke. Selama satu bulan tersebut bisakah aku minta tolong kepada Papi? Agar membiarkanku berfokus dengan Field Construction?”


“Tentu.”


“Haruskah aku mengucapkan terima kasih?”


Chris menggeleng. “Mari berpelukan. Sebagai tanda bahwa kita menyepakati perjanjian tanpa hitam di atas putih bermeterai.” Ia berdiri dan merentangkan kedua tangan ke arah sang putra.


“Oke.” Finn beranjak bangun dan memeluk Chris.


Chris menepuk lembut punggung Finn. “Terima kasih, Nak.”


“Iya, Pi.” Mereka melepas pelukan. “Aku pamit dulu. Sore nanti ada janji bertemu klien.”


Chris mengangguk.


Finn dan Chris melangkah mendekati Sandra. Namun, betapa kagetnya mereka melihat wanita itu tengah tertidur di atas kursi.


Kedua kaki Sandra naik ke atas dan menekuk ke arah kiri. Posisi kepala pun berada di pinggir kursi dengan kedua tangan menjadi bantalan pipi.


Finn dan Chris saling pandang.


“Sandra pulas, Pi.”


“Bukan itu point-nya, Nak.”


“Memang apa?”


“Papi sudah mendapatkan calon penerus Liam Group. Tentu saja, Papi pastikan kali ini tidak akan setengah hati sepertimu.”


“Pi, tidak usah menyindir.”


“Papi serius.”


“Maksud, Papi?”


“Anak yang tengah di kandung Sandra adalah penerus Liam Group. Bukankah saat datang tadi, istrimu meminta duduk di kursi ini. Saat diberi izin, wajahnya langsung berseri-seri. Papi baru menyadari kalau itu adalah pertanda baik kalau calon anakmu menyukai tempat tersebut. Lihatlah Finn, masih di dalam perut saja sudah merasa nyaman berada di sana sampai tertidur pulas.”


“Asumsi Papi berlebihan.”


“No. Saat anakmu besar nanti, dialah yang akan menduduki kursi itu. Percaya pada Papi.” Chris tersenyum. “Akhirnya, aku punya penerus yang tulus, tidak terpaksa.”


“Papi, kenapa menyindirku terus? Tidak biasanya begitu.”


Chris mengabaikan ucapan Finn. Lalu, menepuk bahu sang putra. “Persiapkan anakmu mulai dari sekarang. Beri Sandra makanan sehat, bergizi, vitamin, dan jangan sampai telat memeriksakan kandungan. Kalau perlu panggil dokter gizi untuk mengatur makanan. Jangan membuatnya stres, kalau sakit segera bawa ke dokter, dan turuti apa pun yang istrimu inginkan. Semua harus yang terbaik untuk mereka berdua. Jaga menantu dan calon cucu Papi dengan sebaik mungkin. Mengerti, Nak.”

__ADS_1


Finn mengerjapkan mata mendengar penuturan Chris. Ia pun tidak dapat berkata-kata. Kemudian, mengangguk sebagai bentuk patuh terhadap sang papi.


Untuk Alex, nanti, ya. Akan ada masanya kita bahas Alex. Kalo sekarang, lagi pingin posting mereka berdua 😀


__ADS_2