
Mon maap, Kakak-kakak. Aku slow update #salim #sungkem #peyukonline 😇 Tapi, aku pasti menamatkan cerita ini, kok. Jadi, jangan khawatir, yess 😉
Tengkiu untuk vote, like, hadiah, dan komentarnya, ya, Kakak semua. Ailophyuufull 😘💞
Kuy, langsung ke cerita. Cekidot 😉
Mereka melemparkan tatapan tajam dengan wajah berang ke arah suami-istri tersebut.
Sandra pun refleks melangkah mundur dan berdiri di belakang sang suami.
“FINN!” teriak Manda dengan wajah marah seraya berkacak pinggang.
“Manda, santai.” Ramon memperingatkan. Kemudian, menatap suami dari Sandra itu dengan serius. “Finn, kita harus bicara.”
Kehadiran Ramon, Manda, Tristan, dan Vivian cukup mengejutkan Finn dan Sandra. Belum lagi tatapan yang mereka lemparkan. Membuat suasana sedikit mencekam.
“Oke. Kita bicara di luar.” Finn menyetujui.
Namun, Sandra memeluk Finn dari belakang dan melingkarkan tangan di perut sang suami. Ia enggan berjauhan.
“Bee, aku berjanji akan segera kembali.” Finn meyakinkan Sandra.
“Dek,” panggil Tristan.
“Gue gak mau pulang. Gue mau terus sama Finn.” Sandra semakin mengeratkan pelukan. “Honey, jangan biarkan Tristan membawaku. Aku mau hidup sama kamu, selamanya.”
“Dek, gue ….”
“Pergi, Bang!” usir Sandra.
“Percayalah tak akan ada yang akan membawamu pergi dariku.” Finn kembali memberi keyakinan kepada Sandra.
Sandra masih trauma dengan insiden di Field Construction beberapa hari lalu. Tristan atas titah sang bunda ingin membawanya pulang.
Meski tak berhasil, tetapi bukankah sang bunda pergi dalam keadaan terpaksa karena menurut Ayah Theo. Jadi, ia takut Tristan mendapat perintah berulang.
“Tapi ….”
Finn memotong ucapan Sandra dengan lembut. “Percaya padaku, ya?”
“Dek, gue gak bakal bawa lo pulang. Gue janji. Tapi, apa lo gak rindu sama gue? Berilah pelukan.” Tristan menatap sang adik yang tengah berlindung di belakang Finn dengan sendu. Seolah-olah ia Abang yang jahat. Dadanya cukup sesak melihat sikap Sandra.
Sandra mulai mengendurkan pelukan kemudian menghambur memeluk Tristan. “Benar janji? Jangan pisahkan gue dan Finn, Bang.”
Tristan membalas pelukan Sandra. “Iya.” Ia mengusap lembut punggung sang adik.
Vivian melangkah maju. “Biar Sandra aku yang menjaga. Jadi, kalian berempat bisa tenang mengobrol.”
Ramon, Manda, dan Finn mengangguk setuju.
🌺🌺🌺
Sandra dan Vivian masih berdiri di depan pintu usai kepergian Finn, Tristan, Manda, dan Ramon. Tak ada satu pun di antara mereka yang bersuara.
Sampai pada akhirnya, Vivian berdeham untuk netralisasi kecanggungan. Ia menatap sang sahabat yang tengah menunduk.
__ADS_1
“Lo gak mau peluk gue? Enggak kangen sama gue? Gue masih sohib lo, ‘kan? Atau sekarang hanya dianggap tetangga, tok?” Rentetan pertanyaan diberikan Vivian.
Sandra menoleh. “Gue takut lo marah. Karena gue memilih untuk bersama Finn.”
Vivian langsung memeluk Sandra. “Bodoh banget, sih, lo. Lo kira gue siapa harus banget marah sama keputusan tersebut. Asal lo Bahagia dan Finn pun udah tobat, gue ikut senang, Sand.”
Sandra membalas pelukan Vivian. “Thanks, Vi.”
Vivian melepas pelukan mereka seraya tersenyum. “Lantas, kabar lo gimana sekarang? Bahagiakah?”
Sandra mengangguk. “Banget!”
Vivian semakin melebarkan senyum. “Jawaban itu udah cukup bikin gue lega. Tristan pun pasti senang mendengarnya.”
“Lo emang sohib terbaik.”
“Iya, dong. Betewe, kalo gue mengungkit si sundel, lo tersinggung, gak?”
Sandra menggelengkan kepala. “Lo penasaran?”
“Iya.” Vivian melipat kedua tangan di dada. “Kok bisa perempuan murahan itu yang menjadi biang keladi atas rusaknya rumah tangga lo kemarinan? Lagian, kapan juga dia balik dari Ausie, sih? Itu orang memang beneran seniornya sundel bolong, gentayangan ke mana pun. Sekalinya menampakkan diri, tetapi dengan membawa aura seram bin suram. Terus, benerankah si Finn dijebak?”
Sandra melangkah menuju kursi dan mendudukkan diri disana. Ia menghela napas. “Soal dijebak itu sebenarnya asumsi gue doang, Vi. Supaya gak ada lagi yang menghakimi Finn. Tapi, gue berniat akan mencari tahu. Secara tebakan gue itu bisa jadi benar. Karena, kalau memerhatikan dari video seperti direkam secara sengaja.”
Vivian mengekor dan ikut duduk. “Lo mau cari tahu sendiri?”
“Iya.”
“Gue bantu lo.”
“Enggak usah, Vi.”
“Lo gak boleh menolak bantuan gue. Berdua lebih baik daripada sendirian, bukan?”
Sandra berpikir sejenak kemudian mengangguk. “Oke. Tapi, please jangan sampai Finn, Tristan, atau siapa pun tahu. Ini rahasia antara lo dan gue aja.”
“Oke.”
🌺🌺🌺
“Dari mana kalian tahu gue ada disini? Apakah Roy yang memberi tahu?” tanya Finn penuh selidik.
Semua mengangguk.
“Finn, bagus juga Roy memberi tahu. Gue bukan mau ikut campur. Tapi, Sandra itu adek gue. Lantas, pergi berdua hanya dengan pengawasan asisten lo dan beberapa anak buah. Bahaya! Kondisinya sedang ada yang mengikuti,” terang Tristan.
“Gue bisa menanganinya, Trist. Gue bakal jaga Sandra.” Finn meyakini Tristan.
“Lawan lo bukan orang sembarangan. Dia pernah satu kali ke kantor mengajak kerja sama, tetapi harus Sandra yang menangani. Gue menolak dan akhirnya dia urungkan sendiri.” Tristan memberi tahu.
Roy sudah memberi tahu semua kepada Tristan dan Ramon. Bahkan, memperlihatkan foto Alexander kepada mereka. Jadi, tak heran jika Abang dari Sandra itu mengenali siapa sosok bule tersebut.
“Apa?” Finn kaget.
“Saat itu, gue sama sekali gak tahu kalo ternyata Alexander mengincar Sandra. Dari semua teman adek gue, sepertinya hanya dia yang gak gue kenal,” tambah Tristan lagi.
“Jadi, segala macam usaha dia lakukan untuk mendapatkan Sandra. Bangsawan sinting!” geram Finn.
“Segala cara? Maksud lo?” tanya Tristan.
Finn menceritakan secara urut perihal Alexander. Mulai dari kerjasama aneh yang pria bule itu tawarkan, tetapi suami dari Sandra itu menolaknya.
Kejutan yang tak terduga kalau ternyata bangsawan Inggris itu mengenal Sandra. Bahkan, berteman akrab ketika di Bandung.
Lalu, Finn kembali bercerita perihal informasi yang diberi Roy kemarin. Jika Alexander menyukai Sandra dan ingin merebut sang istri. Bahkan, sampai mengikuti ke mana mereka berdua pergi.
“Kalian tahu, Alexander adalah orang yang membayar Kanaya untuk menjebak gue di Club. Beruntung gue gak tergoda terlalu jauh. Karena jika iya, kelar sudah semua. Rumah tangga gue benar-benar berantakan.” Finn menambahkan.
__ADS_1
“Finn, tetapi lo gak tidur sama perempuan itu, ‘kan?” tanya Manda butuh kepastian.
“Demi Tuhan, Manda! Gue gak tidur sama dia ataupun perempuan lainnya. Seumur-umur gue hanya meniduri satu perempuan, Sandra Rein. Paham sampai disini, Sepupuku Sayang." Finn menerangkan.
Ramon, Manda, dan Tristan mengerjap. Kemudian, tertawa karena merasa lucu dengan kata-kata Finn.
Di sela tawa, Manda berkata, “Lo … apa? Lo mau bilang masih perjaka, begitu?” Ia tertawa semakin kencang.
“Terserah lo semua mau percaya atau enggak! Buat gue Sandra memercayai hal tersebut aja cukup. Gue gak peduli dengan yang lainnya lagi,” imbuh Finn.
Semuanya terdiam dan menatap penuh selidik kepada Finn.
“Tapi, berita ….”
Finn memotong ucapan Manda. “Bohong! Semua fitnah.”
“Tunggu. Kenapa lo gak meniduri mereka? Apa alasan lo sekuat itu? Padahal bisa hampir setiap hari dekat dengan wanita seksi.” Masih Manda yang penasaran. Sementara Ramon dan Tristan hanya menyimak saja.
“Gue memang suka gonta-ganti pacar. Hanya buat iseng, gak lebih. Tapi, gue bukan cowok murahan yang mau begitu aja tidur dengan perempuan. Sper-maahh gue teramat berharga buat diberikan kepada wanita murahan.” Finn menatap lekat Manda. “Bisa hentikan pembicaraan ini. Kita fokus ke topik utama.” Finn mulai jengah sendiri.
“Tapi, lo tergoda di club?” Manda masih belum puas untuk terus membombardir Finn dengan pertanyaan.
Finn mendengus. “Manda Sayang, oke. Gue mengakui hampir khilaf. Tapi, gak ada yang terjadi. Bisa kita melanjutkan ke topik utama.” Ia mengulangi permintaannya seraya menatap tajam sang sepupu.
“Kenapa lo ke club?” tanya Manda mengabaikan permintaan berulang Finn.
“Gue dan Sandra miss komunikasi. Sama-sama sibuk. Hubungan kita sedang renggang. Gue hanya mau menyegarkan pikiran. Gak ada niatan untuk cari perempuan. Wanita itu yang menghampiri, tetapi gue juga mengaku salah meladeni. Oke. Cukup, ya, Manda. Please.” Finn memohon seraya menangkupkan kedua tangan di depan dada ke arah Manda.
Manda cengengesan. “Sorry, gue kan hanya mau tahu detailnya. Biar Kakak ipar lo dengar juga. Kalo dibalik sikap tengil nan genit ternyata lo cowok baik-baik. Bahkan, masih suci ketika menikah. Sumpah, bagian ini gue kaget, terharu, sekaligus bangga karena lo masih ngotak.” Kemudian, ia menatap Tristan. “Trist, sampaikan sama Bunda Helena, ya. Supaya menjadi bahan pertimbangan dalam pemberian maaf untuk Finn. Kita semua kan keluarga, kudu akur. Betul, ‘kan?”
Finn, Ramon, dan Tristan melongo mendengar penuturan Manda. Mereka pikir wanita itu ingin menggoda saja, tetapi ternyata berniat baik.
“Manda ….”
“Enggak usah berterima kasih, Finn. Ketika lo udah balik kaya, cukup kirim gue satu mobil aja ke rumah. Oke,” potong Manda seraya mengerling.
“Gue mengakui sebagai saudara sepupu kalian sangat kompak. Dan, ya, gak usah khawatir. Gue bakal meyakini bunda agar memberi Finn maaf dan menceritakan semua.” Tristan berjanji.
“Ah, makasih, Tristan. Lo ternyata ipar yang baik.” Manda menepuk pelan tangan Tristan yang berada di atas meja seraya tersenyum.
“Oke. Cukup mendengar cerita sang mantan playboy kita.” Ramon menepuk Pundak Finn. “Sorry, kalo selama ini kita semua salah sangka.”
Finn hanya mengangguk tanpa menyahut. Kemudian, menatap sang kakak ipar. “Trist, thanks.”
Tristan mengangguk dan tersenyum.
“Oke. Kita kembali ke topik. Menyimak cerita lo dan Tristan, gue merasa dia jugalah orang dibalik hancurnya Field Construction.” Ramon berasumsi.
“Sebenarnya, gue juga bingung perihal tersebut. Kenapa bisa gak ada satu pun klien yang mau memakai jasa gue? Bahkan, tender yang gue incar jatuh ke tangan lain. Sedikit mencurigakan memang,” sahut Finn.
“Tapi, berhubung pada waktu itu di otak gue sedang berpusat pada Sandra seorang. Ya, semua gue anggap sebagai ujian bisnis. Bukankah dalam dunia kita itu biasa terjadi. Kecurigaan tersebut gue abaikan. Istri gue lebih penting,” tambah Finn.
“Finn, kita bantu lo cari tahu semua.” Manda menyahut.
“Gue gak mau merepotkan. Gue ….”
Manda memotong ucapan sang sepupu. “Lo gak boleh menolak. Bukankah berempat lebih baik daripada sendirian. Kita kerahkan orang-orang kita semua. Inget, Finn. Lawan lo itu bangsawan konglomerat yang memiliki pengaruh sangat kuat. Lo gak mau kan kehilangan semuanya, termasuk Sandra?”
Finn langsung menggeleng dengan cepat.
“Gue setuju. Kita harus bersama-sama.” Tristan ikut menimpali.
“Ayo, kita bekerja sama.” Ramon pun menyetujui.
“Tunggu. Bisakah hal ini jangan sampai terdengar Sandra? Bukan apa, istri gue kan belum lama mengalami kecelakaan,” pinta Finn.
“Gue juga khawatir nanti ini menjadi bebannya. Lebih parah, takut merasa bersalah. Karena, bagaimana pun Alexander melakukan semua dengan cara keji bukankah untuk mendapatkan Sandra. Meski ini bukanlah salah istri gue,” sambung Finn.
__ADS_1
“Oke. Gue akan menutupinya dari Vivian juga. Mereka itu bersahabat, takut keceplosan.” Tristan menambahkan.
Semua mengangguk setuju. Rencana pun mulai disusun.