
Spoiler dikit, yes. Kisah Finn dan Sandra mendekati ending 😊
“Tuan Muda, Anda dari mana?” John memandang dari atas sampai bawah. Wajah sang bos tak sesuai penampilan, sangat kusut dan sendu.
“Undur semua jadwal kerja sampai satu minggu ke depan. Selama masa tersebut, kau dan semua pelayan keluarlah dari mansion. Datang saat sarapan, makan siang, dan malam saja. Selebihnya, jangan ada yang berani kesini. Aku sedang ingin sendiri.”
John mengernyit. “Apa yang terjadi, Tuan Muda? Adakah sesuatu yang mengganggu Anda?”
“Tidak. Cepat perintahkan kepada mereka sekarang. Setelah itu, kau pulanglah. Ini sudah malam.”
“Tapi, Tuan Muda ….”
“KERJAKAN SAJA APA YANG AKU KATAKAN! TIDAK PERLU BANYAK BICARA! ENYAH KAU!” Alexander mengendurkan dasi kupu-kupunya. Lalu, pergi meninggalkan John ke kamar.
Alexander berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Ia menatap sendu sebuah pigura berukuran besar yang berada di dinding tepat di atas kepala ranjang. Bingkai berisikan foto dirinya dan Sandra saat dahulu berada di tengah arena pacuan kuda.
“Sandra, aku mencintaimu. Selamanya akan terus begitu.”
Alexander mendudukkan diri di pinggir kasur. Menunduk dalam. Kemudian, mengangkat kepala dan menatap lurus ke depan.
“Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Hidup ini terasa berat.”
Alexander beranjak bangun. Berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Menyugar rambut ke belakang. Lalu, mengusap wajah secara kasar.
“Sandra, apakah bisa aku menemukan seseorang yang lebih baik darimu? Karena kau wanita terbaik. Cinta yang tertanam di hatiku untukmu pun kadung melekat kuat.”
Alexander keluar kamar. Ia melangkahkan kaki menuju dapur. Keadaan sudah sepi. John Beck dan semua pelayan mematuhi perintah sang bangsawan.
Alexander mengambil sebotol air mineral di dalam lemari es. Menenggaknya dengan cepat. Lalu, melempar botol tersebut sembarang. Kemudian, ia menunduk dalam. Memejamkan mata. Mencoba menetralkan hati agar rasa sakit sedikit berkurang.
Lalu, kembali mengangkat kepala. Membuka mata dengan pandangan kosong.
Hanya dalam hitungan beberapa menit berubah murka. Apa yang berada di dekatnya dilempar sampai hancur. Dapur nyaris luluh lantak. Suara teriakan turut mengiringi.
Sang bangsawan tak lagi bisa menahan amarah yang tengah memuncak. Kalau bukan demi kebahagiaan Sandra. Mungkin ia tak akan mau mengalah kepada Finn.
Sang wanita tercinta, kini hanya ada dalam angan saja. Ingin mengirim Finn ke alam baka pun percuma. Karena, ia tetap tak akan mendapatkan Sandra.
“SANDRAAAAAAA! AKU MENCINTAIMU!”
__ADS_1
🌺🌺🌺
Satu jam kemudian
Alexander mendudukkan diri di sofa yang terdapat di ruang keluarga. Tangan memegang gelas berisikan wine. Di meja pun telah tersaji beberapa botol minuman beralkohol tersebut.
Sang bangsawan ingin mengenyahkan frustrasi. Karena, nyaris menghancurkan dapur, belum berhasil mengusir rasa tersebut. Jadi, ia memilih untuk mabuk agar semua terlupakan meski hanya sejenak.
Dua botol wine nyaris tandas. Alexander pun sukses tergeletak di atas lantai. Mulutnya terus menceracau nama Sandra. Hingga akhirnya, ia tak sadarkan diri.
Keesokan harinya
Matahari tengah memancarkan cahaya teriknya. Namun, tubuh tinggi dan tegap yang semalam tergeletak belum juga tersadar, tetapi sudah berpindah ke atas kasur.
John dan para pelayan memindahkan sang tuan muda. Mereka pertama kali menemukan tubuh tersebut, setelah salah satu pelayan mengabarkan kalau dapur berantakan.
Merasa was-was. Sang tangan kanan beserta beberapa pengawal menelusuri seisi mansion dan menemukan Alexander.
Satu jam kemudian, Alexander mulai membuka mata. Ia mencoba duduk, tetapi kepalanya terasa sakit. Jadi, memilih tetap berbaring seraya memijat pelipis.
“Tuan Muda.”
Suara John Beck terdengar. Alexander memaksakan diri untuk bangun. Ia mendudukkan diri di pinggir kasur dengan kepala menunduk.
Tanpa menyahut, John dengan sigap menuang air putih ke dalam gelas. Memberikannya kepada Alexander. Menatap lekat sang tuan muda. Segala macam pertanyaan muncul di kepala.
Alexander menerima gelas tersebut. Meminumnya dengan cepat. Kemudian, menaruh gelas kosong di atas nakas.
“Tuan Muda, Anda baik-baik saja?”
“Pergilah. Kosongkan mansion.”
“Baik, Tuan Muda. Saya akan menyuruh semua keluar. Tapi, izinkan saya tetap berada di dalam mansion bersama Anda.”
“Jaga jarakmu denganku. Jangan sampai aku melihatmu.”
“Baik, Tuan Muda.” John merasa lega. Meski tak boleh berdekatan. Setidaknya, ia bisa memantau aktivitas Alexander.
Beberapa hari terakhir, John terlampau sibuk mengurus pacuan kuda yang tengah mengadakan turnamen. Jadi, kurang memerhatikan sang tuan muda. Saat mengunjungi mansion pada pukul delapan malam. Tak ada satu pekerja pun yang mengetahui keberadaan Alexander.
__ADS_1
John sempat murka dan menampar wajah semua pekerja di mansion. Bahkan, pengawal yang biasa menjaga sang tuan muda tak luput menjadi sasaran.
Para pengawal tak mengikuti sang tuan muda lantaran mendapat mandat langsung dari Alexander. Jika menentang, ancaman pemecatan dengan tidak hormat akan terbit. Jadi, terpaksa patuh. Nasib bawahan terkadang memang serba salah.
🌺🌺🌺
Beberapa hari kemudian
Kesedihan mendalam semakin tersirat di wajah Alexander. Ia selalu duduk di pinggir kolam ikan. Menatapnya tanpa ekspresi.
Makan pun hanya sedikit. Setiap malam bermabuk-mabukan sampai tak sadarkan diri. Ketika pagi, John dan para pelayan akan memindahkan ke kasur. Begitu terus tingkah sang ceo Hamilton Company selama beberapa hari terakhir.
Masa rihat sudah mau berakhir, tetapi tak menunjukkan ada perubahan. Hati sang bangsawan masih terserang lara. Padahal, dua hari lagi sudah harus kembali beraktivitas seperti biasa.
Berbagai upaya telah John lakukan agar Alexander berhenti minum. Namun, justru mendapat makian dan pukulan.
Sebagai tangan kanan, John Beck tak diam begitu saja melihat kelakuan tiba-tiba tersebut. Ia mencari tahu ada apa gerangan yang terjadi dengan sang tuan muda?
John menghubungi orang suruhannya agar mencari tahu hal tersebut. Ia cukup tercengang saat mengetahui apa yang terjadi. Informasi tersebut didapatkan satu hari setelah Alexander pertama kali ditemukan tergeletak di lantai.
John Pikir, Alexander sudah tak lagi memikirkan Sandra. Karena, sang tuan muda tak lagi mengganggu wanita dan suaminya tersebut. Namun, ternyata di balik ketenangan tersimpan rencana. Ia mengakui kalau saat ini kecolongan dan berjanji kepada diri sendiri tak akan terjadi lagi untuk kedua kali.
Ketika malam tiba, suasana mansion yang sepi menjadi ramai. Pasalnya, Alexander yang tengah mabuk tiba-tiba muntah darah.
John yang memang selalu memantau diam-diam sang tuan muda terkejut. Segera saja ia masuk kamar Alexander.
Lalu, menghubungi pelayan dan penjaga yang selalu berada di luar mansion. John memerintahkan mereka agar menyiapkan kendaraan untuk membawa Alexander ke rumah sakit.
Di rumah sakit
Alexander langsung mendapatkan penangan cepat di rumah sakit. Dokter memeriksa secara mendetail keadaan sang bangsawan. CEO Hamilton Company tersebut mengalami tukak lambung sehingga menyebabkan muntah yang keluar adalah darah. Terlalu banyak mengonsumsi alkohol secara terus-menerus adalah tersangka utama.
Dokter langsung melakukan endoskopi dengan cara memasukkan tabung tipis yang telah dipasang kamera. Benda tersebut dimasukkan ke dalam mulut sampai lambung.
Dokter melakukan hal tersebut, agar bisa melihat kondisi lambung. Supaya setelah itu, Alexander bisa mendapatkan pengobatan yang tepat.
Usai pemeriksaan, sang dokter berbicara dengan John. Dokter berpesan, jika sudah pulang nanti agar Alexander menghentikan kebiasaan minuman beralkohol. Juga berhenti dahulu mengonsumsi asupan teh, kopi, minuman bersoda, makanan pedas, asam, dan mengandung gas. Dokter lebih menyarankan untuk banyak mengonsumsi air putih, sayur, buah, dan makan dalam porsi sedikit, tetapi sering.
Namun, untuk saat ini Alexander harus dirawat di rumah sakit sampai keadaan membaik. Saat ini, sang bangsawan belum sadarkan diri.
__ADS_1
Selesai berbicara dengan dokter. John kembali ke kamar rawat Alexander. Menatap sedih sang bangsawan.
John mengepalkan tangan dengan erat. “Ibu Sandra, Anda harus membayar semuanya.”