
Bahagia bersama istri tercinta. Wanita tangguh, tetapi penurut dan manja. Hidup menjadi berwarna.
Mengawali pagi dengan saling berpelukan dan mengecup menjadi rutinitas wajib. Setelah meminum segelas air putih. Sang pangeran akan membawa princess menuju kamar mandi.
Usai mandi bersama. Masih mengenakan bathrobe, Sandra akan memilih baju untuknya dan Finn.
Dengan handuk masih melilit di pinggang, Finn lebih dulu memakaikan sang istri. Mulai dari pakaian dalam sampai untuk kerja.
Meski awalnya mendapat protes dari sang istri. Karena, merasa malu dan bukan lagi anak kecil. Akan tetapi, Finn tetap bersikeras.
Pasalnya, bukan hanya itu. Saat memakaikan pakaian, Finn akan dengan sengaja menyentuh area yang menonjol. Berlama-lama di sana dengan alasan susah mengancingkan. Membuat Sandra gemas. Akan tetapi, akhirnya pasrah dan menjadi kebiasaan.
Selesai dengan urusan sang istri. Finn akan memakai pakaiannya sendiri. Ia menolak untuk dibantu. Katanya tak sanggup dengan sentuhan Sandra. Membuat sang adik di bawah sana berontak.
Jadi, Sandra hanya bertugas menyiapkan pakaian, sepatu, kaus kaki, jam tangan, dan keperluan lainnya.
Sandra mengambil blazer hitam kemudian memakainya. Ia menoleh ke arah Finn.
Sandra mengernyit, tak biasanya Finn kesulitan memakai dasi. Sandra menghampiri dan memberi ultimatum agar sang suami diam.
“Mulai sekarang, tugasku bertambah satu. Memakaikan dasi.”
Finn tersenyum. Dan, aku harus menahan napas dari harumnya embusanmu. Juga mengalihkan pandangan agar tak menerkammu, batinnya.
Di meja makan pun. Pria yang telah mentransformasikan diri dari lady killer menjadi suami idaman. Dengan senang hati melayani sang istri.
Mengambilkan makanan ke atas piring. Sesekali menyuapi sang istri. Awalnya, bagi Sandra hal tersebut sangat membuat risi.
Pikir Sandra, bukankah seharusnya dia yang melakukan. Seperti sang bunda kepada Ayah Theo. Sempat mengutarakan, tetapi Finn bilang tak masalah dan senang melakukan hal tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu. Finn bersedia juga jika sang istri melayani. Meski terkadang masih tetap mengambilkan dan menyuapi Sandra.
Finn benar-benar memanjakan dan menganggap Sandra wanita yang sangat berharga. Menginjak tiga bulan usia pernikahan mereka pun, tak pernah ia marah. Sangat sabar menghadapi sifat dan tingkah adik dari Tristan itu.
“Bee, pulang kerja kamu ke kantor, ya. Aku lembur.”
“Iya, Honey.”
__ADS_1
“Bawa gaun tidur berwarna merah.” Finn mengerling menggoda.
“Honey, nanti kamu tidak akan konsentrasi bekerja.”
“O, ayolah, Bee. Biar aku rileks. Sebentar saja.” Finn menggenggam tangan Sandra. “Aku sedang mumet mengerjakan tiga proyek sekaligus.”
Sandra menatap raut wajah Finn yang memelas. “Iya. Tapi, bilang kepada Roy agar tidak menganggu. Jangan buat alasan jujur. Aku malu nanti.”
Finn tersenyum. “Oke, My Bee,” ucapnya lembut seraya mengecup tangan Sandra kemudian mengerling.
Sandra refleks ikut tersenyum. Ia terkadang merasa lucu sendiri melihat tingkah Finn. Sudah menikah, tetapi masih saja matanya genit. Sering mengerling menggoda. Namun, tak memungkiri ia mulai menyukai polah sang suami yang terlihat semakin menggairahkan.
🌺🌺🌺
Sandra menepati janji untuk datang ke kantor Finn. Ia melihat sang suami tengah duduk di sofa dengan setumpuk dokumen.
Sandra menghampiri. Menaruh makanan yang ia bawa di atas meja. Kemudian, mendudukkan diri di samping Finn.
Finn menoleh. “Bee.” Ia meletakkan dokumennya. Mengangkat tubuh Sandra ke atas pangkuan. “Aku merindukanmu.”
Setiap kali bertemu meskipun hanya pulang dari kantor. Finn akan berkata demikian. Bibir seksinya seperti tercipta memang untuk berbicara yang manis-manis. Begitu lihai dan memabukkan.
“Oke.”
Sandra turun dari pangkuan dan menyiapkan makanan. Lalu, melihat Finn sudah kembali serius dengan dokumen.
“Biar aku menyuapimu.”
Finn menoleh. “Maaf, Bee. Pekerjaanku banyak sekali.”
“Biasanya kamu menyuapiku. Kali ini, biarkan lebah ratumu yang melakukan.”
“Aku menurut.” Finn tersenyum.
Usai makan, Sandra merapikan semua dan melirik satu dokumen yang menarik perhatian. Ia mengambil dan membacanya.
“Honey, boleh aku ikut terlibat di dalam proyek ini?”
Finn menoleh dan melihat dokumen yang sedang dibaca Sandra. “Itu proyek amal, Bee. Ide dari Mami. Aku dan Pak Ryuji sedang mengerjakannya.”
“Kalau begitu, kamu harus ajak aku.”
__ADS_1
Finn tersenyum dan membelai puncak kepala Sandra. “Oke.”
Sandra tersenyum. Ia semakin kagum dengan keluarga sang suami. Merupakan konglomerat yang berhati mulia. Kepedulian sosial mereka tak perlu dipertanyakan. Begitu royal.
Satu jam menemani sang suami. Sandra merebahkan kepala di atas pangkuan Finn. Mengangkat kedua kaki dengan menyilang di atas sofa. Ia sibuk membaca berkas untuk pembuatan Gedung Yayasan Difabel. Ingin ikut mempelajari agar bisa membayangkan desain interior yang cocok.
Satu notifikasi di aplikasi hijau dari ponsel Sandra berbunyi. Ia merogoh tas. Kemudian, merebahkan kembali kepala di tempat yang sama. Bergerak mencari posisi yang enak seperti tadi.
Sandra membuka pesan tersebut kemudian mengernyit. Satu pesan kerinduan dari orang yang cukup ia kenal membuatnya cukup terkejut.
Finn hilang konsentrasi. Ia menyerah. Sudah dari tadi menahan, tetapi sang istri malah semakin tak bisa diam. Rencana ingin cepat menyelesaikan dokumen-dokumen itu terpaksa mengurungkan.
Finn memilih untuk melampiaskan gejolak yang kadung tengah membara lebih dulu. Karena, kepala atas dan bawah sudah berdenyut meminta obat kesembuhan.
Dia ada di Indonesia? Sejak kapan pulang? Sandra bertanya dalam hati.
Berniat ingin membalas. Namun, baru saja mau mengetik tubuhnya terangkat. Alhasil, ponsel tersebut terlepas dari tangan, jatuh ke sofa.
Finn mengangkat tubuh Sandra ke atas pangkuan. Menciumi seluruh wajah sang istri dengan lembut. Lanjut mengarah ke benda kenyal nan ranum. Mengecup dan menggigiti kecil bibir bawah wanita tercinta.
Puas melakukan. Finn melepas. Menatap lekat dengan mata penuh hasrat.
Kemudian, berbicara dengan suara parau, “Hati-hati menggerakkan anggota tubuhmu. Satu sentuhan jemari saja mampu menimbulkan sensasi menggelenyar. Apalagi, seperti tadi. Wahai, Lebahku. Aku tersengat.”
Sandra mengernyit, bingung. “Honey ....”
Finn mengecup bibir Sandra. “Lihat. Suaramu yang keluar, sekarang terdengar sangat seksi di telingaku. Kamu memang wanitaku yang menggairahkan.”
Finn membopong tubuh sang istri ke ruang istirahat. Meletakkan perlahan di atas pembaringan. “Gantilah dengan gaun tidurmu. Aku keluar sebentar,” lanjutnya.
Finn menemui sang asisten dengan dukumen di tangan. “Roy, tolong cek sisa dokumen itu. Kalau sudah selesai simpan untuk besok. Jangan menganggu! Proyek kolaborasi membutuhkan konsentrasi.”
“Baik, Bos.” Bilang saja mau merancang proyek kolaborasi berupa proses pembuatan embrio bareng Bu Bos. Dasar pengantin baru, pake alasan. Mantan fak boy mau di kadalin. Semoga kali ini sukses dan membuahkan baby cute, Bosque.
Roy tersenyum senang melihat kebahagiaan sang ceo.
Finn masuk kembali ke ruangannya. Mengunci pintu. Dan, bersiap memadu kasih dengan lebah kesayangan.
Sementara di tempat lain. Seorang pria yang merupakan Tuan Muda tengah mengamuk.
“Sudah terbaca, tetapi tidak membalas. Jadi, kamu benar-benar sudah melupakanku, Sandra.” Sang tuan muda memukulkan tangannya ke dinding seraya berteriak. “FINN ELARD! KURANG AJAR! KAU MEMBUATNYA MELUPAKAN GUE! BERENGSEK!”
__ADS_1