
Besok aku libur, yess 😉
Kehebohan menyelimuti kediaman keluarga Theo. Saat fajar menyingsing, Helena berniat membangunkan Sandra. Akan tetapi, sang putri tak ada. Kamarnya kosong.
Helena keluar dengan berteriak, sehingga membuat Tristan dan Theo lantas menghampiri. Wajah kebingungan kentara terlihat dari ayah dan anak itu. Di tambah melihat mimik panik sang ratu rumah tangga.
“Bund, ada apa?” tanya Tristan.
Pertanyaan yang sama juga terlontar dari Theo.
“Sandra … Sandra menghilang. Di kamarnya kosong.”
Refleks Tristan dan Theo masuk. Benar saja, Sandra tak ada.
Tiga puluh menit kemudian
Mencari di seluruh bagian rumah, tetapi tetap tak ada. Tristan keluar bermaksud ingin ke tempat kediaman Vivian. Berharap Sandra menginap.
Namun, baru saja keluar pagar. Sulung dari Theo itu bertemu dengan seorang pria. Yaitu, lelaki paruh baya yang berprofesi sebagai pengemudi ojek di pengkolan dekat rumah.
Kebetulan Tristan mengenal pria tersebut. Ia yang notabene mudah bergaul dan tidak pilih-pilih. Otomatis hampir satu lingkungan sekitar mengenal.
Pria yang bernama Yudi itu menyapa, “Mas Tristan, mau lari pagi, ya? Kok, tumben pake piyama?”
“Oh, enggak, Pak Yudi. Saya mau ke rumah Vivian. Bapak sendiri dari mana?”
“Dari rumah Mbak Vivian. Biasa, Mas, ambil amplop buat anak-anak sekolah. Di suruh datang pagi-pagi karena mau pada pergi,” ucap Yudi semringah.
Tristan mengangguk dan tersenyum tanpa menyahut. Baru saja mau pamit pergi, tetapi Yudi kembali bicara.
“Semalam mbak Sandra naik ojek saya. Tumben ngojek? Tidak di antar Mas Tristan?” lanjut Yudi bertanya.
Tristan terkejut, tetapi dengan cepat menguasai diri. “Oh, iya. Saya semalam lembur. Jadi, Sandra gak ada yang antar ke mal.” Ia sengaja asal sebut agar Yudi mengoreksi.
“Loh, bukan ke sana, Mas. Semalam minta antar ke gedung perkantoran ….” Yudi terlihat berpikir.
“Luxury Interior Design,” tebak Tristan asal.
“Namanya bukan itu, Mas? Gedung tiga lantai dan agak gelap.”
“Field Construction?”
“Nah, itu. Bahasa Enggres, Mas. Jadi, susah ingat.”
Tristan tersenyum. Kemudian, menepuk bahu Pak Yudi dan pamit ke dalam rumah.
Membuat Yudi mengernyit karena tadi bilang ingin ke rumah Vivian. Tapi, malah masuk ke rumah. Namun, lelaki paruh baya itu tak mau ambil pusing dan berlalu pergi.
Satu jam kemudian
Baru saja keluarga Theo ingin berangkat ke Field Construction. Sebuah mobil Rolls Royce berhenti di luar pagar. Terlihat Diana dan Chris keluar. Mereka langsung menghampiri sang besan.
“Mau ke mana pagi-pagi begini, Jeng Helena?” tanya Diana. Seperti biasa kedatangannya dan suami untuk menjenguk Sandra.
“Sandra menyusul Finn ke Field Construction,” jawab Helena.
“Apa?” Diana kaget. Tanpa meminta penjelasan, langsung saja ingin ikut. Kemudian, ia menarik tangan sang suami masuk kembali ke mobil.
Semua berangkat menuju Field Construction. Diana dan Helena membawa amarah. Chris dan Theo hanya ingin mengetahui kondisi putra-putri tercinta.
🌺🌺🌺
Bagian ini mengambil sudut pandang dari Sandra.
Bagai pesakitan, aku dan Finn duduk berdampingan dengan kepala menunduk. Di depan, sudah berdiri para orangtua dan Tristan. Sementara Roy disuruh keluar ruangan, atas titah Bundaku.
Aku memilih membisu, enggan berargumen. Apalagi, lawan saat ini adalah para orangtua. Diam sudah menjadi pilihan yang bijak, bukan? Sepertinya, Finn pun demikian karena sedari tadi juga bungkam.
Finn terus menggenggam erat tanganku. Semalam, kita memang sudah sepakat akan menghadapi masalah secara bersama-sama. Sekarang adalah saatnya untuk melakukan hal tersebut dan saling menguatkan.
Pasalnya, Bunda dan Mami terus menyerang suamiku. Lalu, memintaku untuk pulang. Namun, baik aku ataupun Finn tetap tak bersuara.
“Sandra! Menurut pada Bunda! Tinggalkan suamimu! Finn berselingkuh! Lantas, apalagi yang mau kamu harapkan?” Bunda berkata dengan nada cukup tinggi kepadaku.
“Lihat, Finn! Lihat! Akibat ulahmu, Sandra kecelakaan, keguguran. Apa kamu tidak malu sudah membuat istrimu menderita?” Mami pun turut memberi rangkaian kata menohok untuk suamiku.
“Bunda sudah tidak sudi lagi memiliki menantu suka main gila!” Aku mendongak mendengar ucapan Bunda. Aku syok! Lalu, tatapan Bunda yang tadi mengarah kepada Finn, sekarang beralih kepadaku. “Kamu akan sengsara Sandra!”
Kenapa Bunda sangat kaget? Bukankah, setelah tahu Finn putra tunggal Mami Diana yang konglomerat. Langsung melihat di internet siapa sosok pria yang digadangkan bakal calon suamiku. Anak orang kaya, tetapi playboy.
__ADS_1
Sudah tahu pun seolah-olah bungkam. Tetap ingin menjadikan Finn sebagai menantu.
“Mami kecewa denganmu, Finn! Bikin malu keluarga! Sekarang, jangan berani-berani kamu pulang ke rumah! Mami sudah tidak sudi membukakan pintu untukmu!” Aku melirik ke arah Mami yang sedang menatap tajam Finn. Ucapannya semakin pedas kepada suamiku.
Finn langsung melepas genggaman tangan dan bersujud di kaki Mami. “Finn minta maaf, Mi. Beri Finn kesempatan.”
“Tidak!” seru Mami kepada suamiku.
Aku menyaksikan dengan mata berkaca-kaca. Penolakan Mami kepada Finn membuatku sedih.
Lalu, Finn memeluk erat kaki Mami. “Mi, Finn minta maaf.”
“Lepas! Jangan sentuh Mami!” Mami mendorong bahu suamiku dan melangkah mundur.
Sepertinya, suamiku belum menyerah. Finn sekarang menghampiri Bunda dan bersujud. Tapi, sama seperti Mami, Bunda pun menolak dan melangkah mundur.
“Bunda, aku minta maaf. Beri aku kesempatan untuk membahagiakan Sandra. Aku tidak akan mengulangi kesalahan,” lirih suamiku.
Aku semakin merasa sesak melihat hal tersebut. Sementara kulihat Ayah dan Papi hanya diam.
“Tristan! Bawa adikmu pulang!” titah Bundaku. Aku masih enggan bereaksi.
Akan tetapi, Finn langsung beranjak bangun. Menghampiri dan langsung memelukku erat.
“Trist, gue cinta Sandra. Gue janji akan memperbaiki kesalahan. Tolong jangan bawa adik lo pergi dari gue,” lirih suamiku kembali.
“TRISTAN!” Bunda berteriak kencang.
Suara teriakan tersebut sepertinya membuat Abangku tersadar dari berdiam. Tristan mulai melangkah maju.
Aku yang sedari tadi diam, mulai muak oleh drama tak berkesudahan ini. Aku mulai angkat bicara, “Aku menyayangi Bunda, Ayah, Mami, Papi, Tristan.”
“Kita juga menyayangimu, Sandra.” Mami menyahutiku.
“Sandra, kita menyayangimu.” Bunda turut menimpaliku.
“Kalau begitu biarkan aku bersama Finn. Pria yang kalian pilih untuk menikah denganku.” Aku menatap Bunda dan Mami sendu. Mereka diam.
“Dulu, tak ada sedikit pun rasa suka terhadap lelaki yang sekarang telah resmi menjadi suamiku. Tapi, kalian memaksa sebuah pernikahan harus terjadi,” lirihku.
“Pada saat itu, apa ada yang bertanya kepadaku? Apakah aku tak takut menikah dengan pria yang sudah tersohor akan label playboy?” Aku memberanikan bertanya dan semua diam.
Aku menoleh. Memandangi wajah Finn yang terlihat sendu tengah menatapku juga. Kemudian, aku kembali mengarahkan pandangan kepada semua orang.
“Aku hanya mau menikah satu kali seumur hidup. Seperti Bunda dan Ayah.” Aku terdiam sejenak, begitu pun mereka.
Keadaan sesaat hening.
Aku Kembali bersuara, “Aku mencoba berpikir positif. Terus mencari dan memikirkan kebaikan-kebaikan Finn. Agar aku bisa ikhlas menerima pernikahan dan bisa mencintai sepenuh hati.”
Finn semakin mengeratkan pelukan kepadaku.
“Satu hari sebelum ijab kabul. Baru aku menyadari kalau perasaan telah hadir untuk Finn. Senang rasanya. Karena, akan menjalani hari-hari bersama pria yang sudah aku cinta,” ucapku berbinar-binar. Semua masih sama, terdiam.
Hening!
Aku melanjutkan kembali. “Lantas sekarang, dua keluarga melihat video dan foto Finn bersama Kanaya menjadi berang. Bukankah itu lucu? Dengan sifat Finn yang playboy, seharusnya tak perlu ada yang kaget atau marah. Maaf."
Padahal, saat itu aku sendiri bukan hanya kaget dan marah, tetapi menangis. Namun, sebisa mungkin aku akan menutupi hal tersebut dari para orangtua. Agar kebencian mereka tidak semakin menjadi kepada suamiku.
“Sandra,” suara Bunda terdengar lirih saat menyebut namaku.
“Finn dijebak Kanaya. Wanita itu memeras suamiku. Meminta uang sebanyak 200 juta,” ucapku menduga perkara jebakan itu.
Aku hanya asal bicara, meski hati merasa benar. Entahlah, mungkin nanti akan aku cari tahu.
“APA?” suara Tristan berteriak. Sepertinya abangku kaget.
“Tapi, Sandra, Finn juga tergoda.” Bunda menyanggah ucapanku.
“Tak ada yang terjadi di antara mereka, Bunda. Aku sudah mengetahui semua,” belaku.
Hening!
Lalu, aku melepas pelukan Finn. Menghampiri Bunda dan Mami. Kemudian, duduk bersimpuh di hadapan kedua ratu rumah tangga seraya menunduk.
“Bunda, Mami. Jika kalian sudah tak lagi bisa menerima suamiku sebagai anak dan menantu. Biarkanlah aku merentangkan tangan untuk Finn,” lirihku.
“Aku sudah memberi maaf. Lagi pula, tidak semua kesalahan ada pada Finn. Aku juga salah. Semua murni kesalahan kita berdua.” Aku semakin menunduk dalam.
__ADS_1
Tak lama, seseorang merangkul tubuhku. Aku melirik dan itu perbuatan Finn.
Aku dan Finn pun bersimpuh bersama.
“Di masa terberat Finn saat aku kecelakaan, kehilangan calon buah hati, mundur dari CEO Liam Group, lantas perlahan bisnisnya hancur. Sampai harus melakukan PHK massal. Semua hal tersebut … suamiku melewati sendirian.” Air mataku mulai meluruh dengan bibir bergetar.
“Bee, sudah. Jangan lagi meneruskan ucapanmu.” Suamiku mulai membuka suara.
Tapi, aku tak mau diam. Aku hanya ingin mereka tahu. Kalau aku dan Finn juga sama menderita.
Aku menggeleng. “Bunda, Mami. Tak cukupkah melihat penderitaan suamiku. Saat Finn terpuruk tak ada satu pun yang merangkul, mendukung, atau sekadar berbasa-basi menguatkan.”
“Bee, sudah, ya.” Finn memintaku berhenti lagi. Tapi, aku tidak bisa.
Kemudian, aku kembali berkata, “Jadi, cukup. Hukuman kalian sudah cukup banyak. Jangan menambahnya lagi dengan memisahkan kita hanya demi ingin melihat Finn tersiksa. Karena itu menyakitiku. Aku menerima semua masa lalu dan keburukan Finn. Begitu pun sebaliknya.”
“Bolehkah aku menentukan dan menjalani hidup ini sesuka hati? Sesuai apa yang aku mau dan suka,” lirihku.
Aku menangis dengan tubuh bergetar. Aku sudah tak kuat lagi menahan segala rasa. Aku bukan tahanan atau anak-anak yang terus hidup terkekang.
Finn memelukku erat. Menciumi puncak kepalaku. Dan, mengusap punggungku.
Hening!
“Bangunlah, Nak,” suara Ayah memecah keheningan. Aku pun menurut untuk bangun. Sekarang, Ayah sudah berada di hadapanku.
Kemudian, aku langsung memeluknya erat dan menangis. “Ayah, izinkan aku terus bersama Finn.”
“Kamu yakin?” Ayahku bertanya.
Aku mengangguk. “Iya. Aku yakin.”
“Kalau begitu keputusanmu, Ayah mengizinkan. Jadilah istri yang patuh dan baik. Rawat suamimu,” ucap Ayah lembut.
“Iya. Terima kasih, Ayah. Aku menyayangimu,” ucapku senang, tetapi masih menangis.
“Ayah juga menyayangimu. Berhentilah menangis, Nak,” pinta Ayah dengan suara semakin lembut.
Aku mengangguk. “Iya.” Perlahan, aku menghentikan tangisan.
“Sandra, pulanglah ke rumah jika suamimu kembali menyakiti,” pesan Ayahku.
Aku kembali mengangguk.
Kemudian, Ayah melepas pelukan dan menghampiri Finn seraya memegang bahu suamiku.
“Finn, berjanjilah untuk membahagiakan istrimu? Jadilah suami yang setia. Jaga Sandra baik-baik atau Ayah akan mengambilnya pulang,” pesan Ayah kepada suamiku.
“Iya, Ayah. Aku berjanji,” jawab suamiku.
“Kembalikan Sandra dengan benar kepangkuan Ayah, jika kamu sudah tidak menginginkannya lagi. Tapi, Ayah akan selalu berdoa untuk ke depan supaya kalian selalu berbahagia. Jika bertengkar, cepat selesaikan. Jangan pergi ke mana pun sebelum masalah selesai.” Ayah kembali berpesan kepada suamiku.
“Iya, Ayah. Finn akan mengingat itu. Terima kasih untuk kesempatannya, Ayah.” Finn memeluk ayahku sesaat.
“Ayah ….”
Bunda mau bicara, tetapi Ayah langsung memotong, “Bunda, anak-anak sudah dewasa. Biarkan mereka menyelesaikan urusan sendiri. Sandra pun berhak menentukan jalan hidupnya. Jika terjadi sesuatu, Sandra sudah tahu arah pulang ke rumah kita. Jadi, tidak perlu khawatir lagi. Lebih baik sekarang kita pulang. Ayo, Tristan.”
Sebelum beranjak keluar, Ayah menoleh ke arah Chris dan Diana seraya meminta izin untuk pamit pulang lebih dulu. Lalu, menepuk bahu Finn dan memelukku erat. Kemudian, Ayah menarik pelan tangan Bunda dan Tristan untuk pulang.
Begitulah Ayah, tak banyak bicara dan marah-marah. Akan tetapi, jika sudah bersuara, semua patuh dan menurut.
“Mami, sepertinya kita juga harus pulang.” Papi Chris membuka suara.
“Finn, jaga istrimu. Ini kesempatan terakhir untukmu. Jika menyakitinya lagi, belum tentu orangtua Sandra mau berbaik hati memberi maaf. Ingat itu baik-baik.” Mami memperingatkan suamiku kemudian berlalu pergi setelah memelukku erat.
“Ingat pesan para orangtua, Finn,” ucap Papi seraya menepuk bahu suamiku dan Finn mengangguk.
Kemudian, Papi memelukku. “Jaga dirimu, Nak. Kamu wanita dan istri yang hebat. Papi bangga memiliki menantu sepertimu. Papi pulang, ya.”
Aku mengangguk dan Papi melepaskan pelukan. Kemudian, mertuaku berlalu pergi.
Sejenak aku dan Finn membisu.
“Bee, terima kasih untuk pembelaanmu. Terima kasih sudah mau bersamaku terus. Dan, terima kasih, mau mencintaiku.”
Aku mengangguk. Kemudian, Finn menghambur memelukku.
Aku cukup tahu kalau jalan di depan masih terjal. Aku dan Finn juga harus kembali membangun apa yang kemarin telah runtuh.
__ADS_1
Aku hanya bisa berharap dan berdoa. Semoga Tuhan memberi kemudahan agar semua berjalan baik-baik saja.