
“Bee, aku keluar sebentar, ya.”
“Mau ke mana? Aku ikut.”
“Sudah larut malam.” Ponsel digenggaman Finn kembali berbunyi. Ia melihat sekilas siapa si penelepon di layar tanpa mengangkat. “Aku hanya sebentar saja.” Setelah mengecup kening sang istri, putra tunggal Chris Liam itu bergegas pergi.
Sandra menatap kepergian Finn dengan kening berkerut. Insting kewaspadaan istri sayang suami seketika muncul. Bukan ia tak percaya, hanya saja takut pria tercinta digondol perempuan berambut panjang, memakai daster putih, memiliki kulit pucat, berlubang punggung, kaki mengambang, dan hobi mengonsumsi sate dengan bayaran daun kamboja.
“Duh, otak gue film kunti banget.” Sandra memukul pelan kepalanya.
Diam-diam Sandra menguntit. Namun, urung mendekat begitu tahu siapa lawan bicara sang suami. Mungkin urusan pekerjaan yang urgen, pikirnya saat itu.
Sandra memilih kembali ke kamar. Ia akan menanyakan nanti kepada Finn.
Satu jam kemudian
Suara pintu terbuka. Sandra memejamkan mata, berpura-pura tidur.
Finn masuk dan mendekati Sandra. Mengecup kening dan bibir sang istri. Membelai lembut puncak kepalanya kemudian berbisik, “Good night and sweet dream, My Bee. I’ll see you in dreamland.” Satu kecupan lagi mendarat di pipi.
Finn beranjak bangun dan berdiri membelakangi Sandra. Membuka hardcase box koper yang ia bawa masuk tadi.
Sandra yang berpura-pura tidur, membuka sedikit mata. Mengintip aktivitas sang suami.
Sandra sempat tercengang melihat Finn mengangkat tinggi sebuah pistol sampai ke atas bahu. Ia menatap dengan wajah heran. Bertanya-tanya untuk apa senjata api tersebut.
Kemudian, ponsel Finn berdering. Pria itu menoleh sejenak ke belakang. Memastikan kembali Sandra masih tidur. Begitu yakin, ia langsung mengangkatnya.
Sebelum Finn menoleh, Sandra sudah lebih dulu menutup matanya kembali.
“Halo.”
Tak lama kemudian, Finn mengucapkan kata-kata yang membuat Sandra bingung.
“Pastikan semua aman. Kecoh mereka agar tak bisa mengikutiku.”
“….”
Finn berkata kembali. Masih dengan seseorang diseberang sana.
“Jadi, mereka bekerja sama?”
“….”
“O, shit.”
“….”
“Rupanya pesaingku tak main-main.”
“….”
“Baiklah.”
__ADS_1
Finn menutup telepon. Menaruh kembali pistol ke dalam hardcase box koper. Kemudian, mengganti pakaian dan beranjak naik ke atas kasur. Menarik Sandra ke pelukan. Lalu, ikut tertidur.
Setelah sekitar 10 menit menunggu sang suami terlelap. Kepala Sandra yang berada tepat di atas dada bidang itu pun merasa yakin akan hal tersebut. Karena, detak jantung Finn mulai melambat, menandakan jika pria tercinta memang sudah tertidur pulas.
Sandra mulai membuka mata. Pikirannya pun melanglang buana. Ia membatin ….
Ada apa? Aman? Keamanan siapa? Mengecoh, mengikuti. Apakah ada orang yang berbahaya di sekitar Finn dan aku?
Lalu, siapa bekerja sama dengan siapa?
Siapa yang dimaksud dengan lawan tak main-main itu? Apakah musuh dalam bisnis Finn?
Lantas, pistol untuk apa? Kenapa Roy membawakan suamiku senjata api tersebut? Segenting itukah?
Kenapa juga hanya Finn yang memegang pistol? Curang sekali. Aku juga mau untuk berjaga-jaga.
Siapa tahu kan lawan bisnis Finn juga mengincarku. Ah, iya, sial sekali. Pistol milikku tertinggal di Field Construction. Setelah kembali ke Jakarta, aku akan mengambilnya dan akan membawa ke mana pun.
Sepertinya, hidup dengan suamiku saat-saat ini sensasinya seperti film thriller. Seru, sih, tetapi penuh misteri. Lumayan memacu adrenalin dan menguras otak untuk berpikir dalam memecahkan teka-teki.
Lalu, perlukah aku bertanya kepada Finn besok apa yang tengah terjadi? Tapi, maukah suamiku menjawab?
Oh, Tuhan. Kenapa hidup ini rasanya rumit sekali? Kapan aku bisa hidup tenang?
Honeymoon yang menegangkan.
🌺🌺🌺
Keesokan harinya
Pertanyaan-pertanyaan semalam tak satu pun ada yang Sandra tanyakan kepada Finn. Pikirnya, ia tak mau merusak momen bulan madu kedua mereka.
Namun, bukan Sandra namanya jika hanya berdiam diri. Ia sudah memikirkan beberapa hal dan akan mulai aksi setelah honeymoon usai.
Sandra pun memiliki keyakinan jika saat ini Finn pasti menjaga keamanan mereka. Jadi, Sandra bisa sedikit bernapas lega. Meski begitu, ia akan tetap mewaspadai keadaan sekitar.
Melihat wanita tercinta melamun. Finn mendaratkan kecupan di pipi dengan tangan mengalung di leher Sandra. Ia menatap wajah sang istri dari cermin seraya tersenyum.
“Melamunkan apa?” tanya Finn lembut.
“Kamu,” jawab Sandra singkat seraya tersenyum.
“Ah, hatiku langsung berbunga-bunga mendengarnya.”
Sandra menyentuh pipi Finn yang sudah bersih dari berewok. Ia turut menatap sang suami dari cermin. “Honey.”
“Kamu selalu cantik. Istri siapa, sih?” tanya Finn dengan nada menggoda dan mengecup kembali pipi Sandra. Ia pun sama, masih mengenakan bathrobe.
“Honey, jangan mulai. Apa permainan kita di bathtup tadi belum cukup? Aku hampir meriang,” jawab Sandra dengan lirih. Ia teringat skidipapap di kamar mandi tadi sampai melewatkan jalan pagi di kebun teh.
Finn langsung bergegas pergi ke arah meja. Kembali lagi dengan secangkir teh manis hangat di tangan dan berdiri di samping sang istri. Sambil tersenyum, pria itu menyodorkan minuman tersebut kepada Sandra.
“Aku pria bertanggung jawab, ‘kan? Lihat, aku buatkan kamu teh panas, sepanas permainan ranjang kita. Ada campuran gula juga, agar manis seperti cinta kita.”
__ADS_1
Pagi-pagi, pipi Sandra sudah berona merah. “Honey, kenapa harus mencampurkannya dengan gula?”
Finn mengernyit. “Supaya manis. Apalagi?”
“Seharusnya, cukup mencelupkan lidahmu saja ke dalam teh itu. Aku jamin minuman tersebut langsung manis, seperti kata-katamu, Tuan Perayu.”
Finn menaikkan satu alisnya kemudian tersenyum nakal. “Pantas saja kian hari aroma dan rasa tubuhmu makin manis. Mungkin karena aku terlalu sering mencecapnya dengan lidah. Rasa bibirmu pun juga menjadi sangat ….”
Sandra yang jengah mendengar hal tersebut. Langsung bangun dan membekap mulut Finn. “Honey, bicara apa, sih? Jangan diteruskan.” Ia memukul satu kali dada bidang sang suami.
Finn tersenyum dan langsung menarik pinggang Sandra agar mendekat. “Mau menunggangku, Nyonya Finn Elard Liam? Aku pasrah.” Ia mengerling menggoda.
“Finn Elard!”
Finn menaruh cangkir di atas meja rias dan membelai lembut pipi Sandra. “Iya, Nyonya Finn Elard Liam.”
Sandra memohon, “Sudah, ya.”
Finn mencubit gemas pipi Sandra. “Oke. Kita bisa melakukannya lagi nanti saat pulang dari bepergian hari ini.”
Sandra menghela napas lelah. Ia pasrah.
Finn mengambil cangkir teh tadi dan memberikan kepada Sandra. “Minumlah perlahan dan habiskan. Setelah ini kita sarapan dulu. Aku sudah memesan makanan tadi.”
Sandra mengangguk patuh.
Tiga puluh menit kemudian, suara bel berbunyi. Finn beranjak bangun. Tak lama kembali dengan koper di tangan.
“Loh, itu kan koper di hotel. Memang kita tak akan kembali ke sana?” tanya Sandra bingung.
“Tidak. Aku meminta Roy mengambilnya.”
Sandra mengangguk. Ia enggan banyak bertanya.
Sambil sarapan, Sandra dan Finn berbincang-bincang.
“Mau ke mana hari ini, Bee?”
“Nonton cowboy show.” Seketika Sandra beraksi, mengacungkan telunjuk dan ibu jari ke depan seolah-olah itu pistol. Ia pun menirukan bunyinya, “Dor! Dor! Dor! Suara tembakan menggema di arena pertunjukan. Inilah dia, Wild Wild West Show!” Kemudian, adik dari Tristan itu meniupkan kedua jari tersebut dan tersenyum ke arah Finn. “Ah, Honey. Aku suka sekali mendengar suara tembakan. Di telingaku terdengar seksi.”
“Apa? Seksi? Bee, kamu cukup mengerikan.”
“I am.” Sandra menarik kedua sudut bibirnya.
Satu jam kemudian, mereka sudah siap berangkat. Finn mengenakan kaus putih di bagian dalam dan melapisinya dengan kemeja kotak-kotak lengan pendek. Ia pun membiarkan bagian kancing tiga teratas tak terpasang.
Pada bagian luar, Finn mengenakan lagi jaket parka berbahan kain high twist yang memiliki warna senada dengan kemeja, yaitu navy. Suami dari Sandra itu pun menyelipkan sebuah pistol pada holster di pinggang.
Sementara Sandra memakai celana dan kaus warna hitam. Pada bagian luar mengenakan lagi jaket parka dengan bahan dan warna yang sama dengan Finn. Untuk riasan, ia hanya memoles tipis bedak dan lip gloss bening dengan rambut tergerai.
Finn dan Sandra siap berangkat. Namun, saat membuka pintu keduanya terkejut saat beberapa orang sudah menunggu di depan pintu.
Mereka melemparkan tatapan tajam dengan wajah berang ke arah suami-istri tersebut.
__ADS_1
Sandra pun refleks melangkah mundur dan berdiri di belakang sang suami.