ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Curiga


__ADS_3

Berkutat dengan banyak pekerjaan dari Liam Group. Memeriksa dokumen dan menandatanganinya. Beberapa proyek masuk juga untuk Field Construction.


Membaca salah satu proyek bernilai fantastis. Sang owner sekaligus founder Field Construction tentu senang bukan main. Akan tetapi, merasa ada yang janggal. Finn langsung memanggil Roy lewat saluran interkom.


Tak berapa lama, Roy masuk dengan lebih dulu mengetuk pintu. Ia menghampiri Finn. Mendudukkan diri di depan sang bos.


“Ada yang bisa saya bantu, Bos?”


Finn memberikan satu dokumen kepada Roy. “Tolong periksa itu dengan saksama. Lalu, cari tahu siapa owner dan profil lengkap perusahaan tersebut.”


Roy mengambil dokumen itu dan mengangguk. “Baik, Bos.”


“Roy, selesaikan hari ini. Aku membutuhkannya.”


“Siap, Bos.” Roy keluar dari ruangan.


Satu jam kemudian


Suara ketukan pintu terdengar. Finn mempersilakan masuk.


“Bos, Pak Ryuji ingin bertemu.”


“Suruh masuk, Roy.” Finn berdiri dan berjalan ke arah pintu. Bersiap menyambut Ryuji.


“Mengganggu?” tanya Ryuji ketika masuk.


“Tentu saja tidak , Sensei.” Finn memeluk Ryuji. “Selalu bugar dan bersemangat.”


Ryuji menepuk pelan punggung Finn. “Kau harus meniru itu dariku.”


“Tentu, Sensei.” Finn melepas pelukan dan membawa Ryuji duduk.


“Sudah kau persiapkan gambar rancangan desainnya?”


“Sudah.”


“Bawa kemari. Aku ingin menilai kejeniusanmu.”


Finn tersenyum. “Tentu. Tunggu sebentar.”

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Finn kembali dengan sebuah laptop.


“Jangan mengecewakanku, Anak Muda.”


Finn mendudukkan diri di samping Ryuji. Membuka laptop dan menunjukkan hasil gambar rancangan bangunan yang ia buat selama hampir empat bulan.


“Aku tidak berani mengecewakanmu, Sensei.” Finn tersenyum penuh percaya diri.


“Kita lihat saja.”


Ryuji mengamati setiap detail gambar desain tersebut. Kepalanya menganggut-anggut. Sesekali tangan memegang janggut.


Ryuji menatap Finn. Ia menepuk bahu sang ceo seraya tersenyum penuh arti.


“Kau maju dengan pesat, Anak Muda.”


“Juga berkat sensei yang tak pelit ilmu.”


“Ilmu tidak dibawa mati. Jadi, kita harus berbagi. Dan, ya, aku mengakui kecerdasanmu, Anak Muda. Terus tingkatkan itu.”


“Siap. Terima kasih, Sensei.”


Ryuji mengangguk. “Baiklah, Anak Muda. Kapan-kapan kita buat sesuatu yang menakjubkan lagi dan lagi.”


“Karena aku juga memiliki partner yang briliant. Ingat, Anak Muda, kau aset Negara. Pembangunan sebuah Negeri tak lepas dari peran arsitek-arsitek hebat. Kau adalah salah satu penerusnya.”


Finn tersenyum. “Aku akan terus berkarya, Sensei. Terima kasih semangatnya. Menambah energiku.”


Ryuji tersenyum. “Lalu, gambar desain itu apakah ingin merealisasikannya menjadi nyata?”


“Tentu. Tapi, tidak dalam waktu dekat. Aku harus mengumpulkan pundi-pundi untuk membeli tanah dan membangunnya.”


“Kau suka merendah.”


“Aku tidak merendah, Sensei. Kebetulan aku sedang membangun sesuatu dan itu menguras banyak sekali uang. Setelah selesai dan modal berikut keuntungan kembali, baru aku mulai lagi.”


“Tidak berminat meminta Chris?”


“Tidak. Aku ingin berusaha sendiri.”

__ADS_1


“Jadi, benar yang Chris bilang jika kau mempunyai perusahaan sendiri?”


“Sudah ketahuan, ya.”


Ryuji tertawa. “Aku semakin bangga denganmu, Anak Muda. Satu pesanku. Hati-hati menerima proyek. Salah-salah kau bisa dianggap menipu dan merugi bukan hanya uang, tetapi nama baik. Jika itu sudah terjadi, habis sudah. Hanya keajaiban yang bisa mengembalikan semuanya menjadi normal kembali.”


Meskipun berusia lebih tua dan senior. Namun, ia begitu mengagumi sosok anak muda di sampingnya. Sudah jarang pemuda bergelimang harta dan cikal bakal pewaris tunggal, tetapi masih mau bekerja keras. Semangat pun berkobar bagai api abadi, tak pernah padam.


“Baik, Sensei. Aku akan selalu mengingat pesanmu. Terima kasih.”


Ryuji mengangguk. “Kau tahu, Anak Muda. Aku jarang menyukai orang. Tapi, kau dan kedua orangtuamu, aku suka kalian. Penuh inspirasi, bersemangat, hebat.”


“Jika Mami mendengar, aku yakin setiap hari akan membuat kue keto untukmu, Sensei.”


“Ah, kau benar. Beri tahu itu kepada Diana. Katakan aku mengatakannya dengan tulus, tetapi menerima jika kue keto mampir ke rumah setiap hari.”


Finn dan Ryuji tertawa. Sang ceo begitu mengagumi dan menaruh rasa hormat kepada sosok masterpiece of arsitektur tersebut. Memiliki jam terbang tinggi, tetapi tidak jemawa. Bahkan, mau mengajari banyak hal.


🌺🌺🌺


Selepas kepergian Ryuji, Finn kembali dengan segudang pekerjaan. Sudah pukul 8 malam, tetapi separuh pun belum rampung. Mata sudah lelah menatap layar dan tumpukan dokumen. Sedari tadi pun terus menguap.


Roy membuka pintu. Ia hanya menyembulkan kepala. Baru setelahnya mengetuk.


Finn mendongak. “Ada apa, Roy?”


Roy melangkah masuk dan memberikan beberapa lembar kertas kepada Finn. “Berkas yang Anda minta, Bos.”


Finn mengambilnya dan membaca dengan teliti. “Cukup bergengsi. Pantas menawarkan proyek fantastis.”


“Mereka perusahaan asing yang sudah berkecimpung cukup lama di Indonesia, Bos.”


“Mereka sedang melebarkan sayap lagi di berbagai kota?”


“Betul, Bos. Apa Anda menyetujui bertemu mereka lebih dulu? Besok jam 9 pagi pertemuan, jika Anda ingin atau penasaran.”


“Ya. Katakan kita akan datang.”


“Baik, Bos.” Roy pamit keluar ruangan.

__ADS_1


Finn menyandarkan tubuh pada kursi. Memijat kedua pelipis. Lanjut menyugar rambut ke belakang dan mengusap wajah dengan kasar. Lalu, memegang leher belakang dan menggerakkan kepala ke kiri dan kanan. Lelah mendera tubuh dan pikiran.


Kemudian, Finn menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. “Sandra, aku membutuhkanmu.”


__ADS_2