
Sandra dan Finn akhirnya memutuskan untuk menyudahi acara santai mereka. Keduanya hanya memberi alasan ada urusan. Tak ada satu pun di antara mereka yang tertarik untuk bertanya lebih jauh.
Sandra memutuskan langsung ke tempat parkir. Melajukan mobil menuju perumahan elite di kawasan pondok indah.
Finn tak langsung berangkat. Karena, Roy menelepon.
Dua puluh menit perjalanan, Sandra tiba. Ia memasuki pekarangan salah satu rumah mewah tersebut kemudian langsung turun dari mobil.
Helena, Diana, dan pemilik rumah terlihat sedang asyik bercengkerama di kursi taman.
Sandra menghampiri dan menyapa, “Sore, tante-tante semua.”
Ketiganya menoleh dan tersenyum ke arah Sandra. Hampir semua teman sang bunda mengenal Sandra. Karena, setiap ada acara arisan, pasti ia yang mengantar jemput sang bunda.
“Anak saya sudah jemput. Jeng Diana mau ikut bareng saja?” ajak Helena.
“Iya, Tante. Nanti aku antar sampai rumah.” Sandra menimpali.
“Terima kasih. Kamu sudah cantik, baik, perhatian. Tapi, anak tante sudah dalam perjalanan menuju kesini.”
Sandra mengangguk seraya tersenyum.
“Ya, sudah. Jeng Diana dan Jeng Merry, saya duluan pulang, ya.”
Sebelum pulang, Sandra mencium kedua tangan teman sang bunda.
Sandra, kamu menantu idaman sekali, Nak, gumam Diana.
__ADS_1
🌺🌺🌺
Sepanjang perjalanan Helena cemberut.
“Bund, ada apa lagi? Sehabis berkumpul bersama teman itu seharusnya bahagia.”
“Tidak usah mendikte orangtua. Bunda lahir lebih dulu daripada kamu.”
Sandra menghela napas berat. “Iya, Bund. Iya.”
“Kapan kamu menikah?”
“Enggak ada yang mau sama aku, Bund.”
“Seandainya kamu itu sedikit feminin saja. Bunda pasti percaya diri mengajukan kamu untuk dijodohkan dengan anak Jeng Diana.”
Hah! Perasaan dandanan gue perempuan banget. Apa karena punya hobi ekstrem, terus dianggap cewek macho, begitu? Bunda, oh, Bunda. Untung gue sayang. Sandra membatin, lelah.
“Sandra! Tipe pria kamu itu seribu satu. Susah mencarinya. Sekalinya ada belum tentu mau sama kamu. Perempuan, tetapi gagah. Sebenarnya kamu itu asli wanita atau bukan?”
Astaga! Nyokap gue ucapannya macam netizen nyinyir, pedes pake banget. Gue ini anaknya atau bukan, sih? Masa menyangsikan keabsahan gue sebagai wanita hanya karena hobi berbeda dari perempuan kebanyakan. Padahal, gue kalo berpakaian layaknya perempuan, kok, batin Sandra. Semakin lelah menghadapi sang bunda.
🌺🌺🌺
“Mi, mau apa? Finn akan belikan.”
Diana membuang muka.
__ADS_1
Finn mengembuskan napas lelah. Kemudian, melepas satu tangan dari kemudi dan mengenggam erat tangan sang mami. Ia berucap semakin lembut. “Mi, ada pameran berlian loh. Kita ke sana, mau? Mami bebas pilih apa pun.”
Diana menghempas tangan Finn. “Jangan pegang-pegang Mami! Dan, tidak perlu merayu. Kalau Mami mau, tinggal minta Papi.”
Finn tidak kehabisan akal. “Mami, mau ke salon? Finn bisa menemani.”
“Ke mana saja kamu? Kemarin-kemarin selalu menolak dengan alasan malu pria berada di salon lama-lama.”
Finn memijit pelipisnya. Ia masih mencari ide agar sang mami berhenti merajuk. “Kita shopping, bagaimana? Finn sering menemani Mami, ‘kan?”
Meskipun sering mempermainkan wanita. Akan tetapi, Finn selalu bersikap penuh kasih sayang dan lembut kepada sang mami. Tidak pernah satu kali pun ia berkata kasar atau berbicara dengan nada tinggi.
Kecuali ke salon, memang benar adanya jika Finn sering menemani Diana berbelanja. Bahkan, akan memegang erat tangan sang mami sepanjang menjelajah mal.
“Mami sedang tidak mood shopping.”
“Lalu, Mami mau apa? Sebisa mungkin Finn kabulkan.”
Diana menoleh. “Mami mau kamu menikah.”
Sudah gue duga. Menikah lagi pembahasannya, gumam Finn.
“Iya, nanti kalau sudah ada calon, Finn menikah.”
“Mami punya teman arisan. Dia punya putri cantik, manis, baik, perhatian. Tadi baru bertemu. Ingin sekali Mami menjodohkan kamu sama anak itu.”
“Mami Finn yang cantik. Era modern begini, mana ada wanita yang mau dijodohkan. Sebelum Mami ditolak, lebih baik jangan. Nanti Mami sakit hati.” Kalau tu cewek tahu mau dijodohkan sama Finn Elard, pasti langsung mau. Mana ada perempuan yang berani menolak gue. Ah, tunggu. Sandra. Iya, hanya doi yang terang-terangan gak mau sama gue.
__ADS_1
“Iya, tentu. Mami juga mikir seribu kali dulu kalau melakukan itu. Secara anak itu gadis baik-baik, belum tentu mau juga sama kamu yang playboy. Heran, dosa apa Mami dan Papi di masa lalu. Punya anak, kok, begini banget!”
Ya, ampun. Mami mulutnya kayak samyang, pedes banget. Omongan kayak nyesel punya anak macam gue. Untung gue sayang, batin Finn, lelah.