
Tengkiu, Kakak-kakak atas doa-doanya. Saranghaeyo 😘 Semoga kita selalu diberi kesehatan, aamiin.
Manda, Ramon, dan Tristan begitu terkejut ketika membuka pesan dari Finn. Lekas mereka saling menghubungi satu sama lain dan segera menelepon polisi.
Ramon juga langsung menelepon anak buahnya untuk pergi ke lokasi. Tristan pun lekas cabut dari kantor menuju rumah Manda. Mereka janjian di sana agar pergi bersama.
“Oh Tuhan, selamatkanlah Sandra.” Tangan Tristan gemetar. Wajahnya menyiratkan kegelisahan teramat sangat.
Tristan tak tahu harus memberi alasan apa kepada kedua orangtuanya jika sesuatu terjadi kepada Sandra. Si bungsu yang begitu mereka sayang. Apalagi, kondisi sang adik tengah mengandung.
“Trist, Finn sudah tiba di sana. Percayalah, sepupu gue pasti akan membawa Sandra dalam keselamatan.” Manda mencoba menenangkan.
Tristan menganggut-anggut. Namun, tetap saja tak mengurangi takaran keresahan yang tengah bergelayut.
Ramon tak mampu berkata-kata. Karena, informasi yang baru saja ia dapat dari anak buahnya cukup membuat resah kalau jejak Finn menghilang.
Mereka mengatakan, kemungkinan ponsel sang sepupu rusak. Jadi, pencarian hanya bisa berpatokan dari lokasi yang sebelumnya dikirim.
Ramon pun tak mau membagi kecemasan. Ia hanya tidak ingin Tristan semakin terserang kekalutan.
🌺🌺🌺
Baru beberapa jam siuman. Wajah masih pucat pasi. Selang infus pun masih terpasang. Namun, seorang kepala pelayan di mansion datang ke rumah sakit dengan membawa kabar yang menurut Alexander sangat buruk. Pekerja tersebut mengatakan kalau mendengar John akan segera menghabisi Sandra.
Sontak saja Alexander murka. Ia bertanya alasan John melakukan hal tersebut.
Kepala pelayan memberi kabar pun karena ia pikir titah tersebut dari Alexander. Namun, dari pertanyaan yang terlontar sudah jelas mengindikasikan kalau pria keturunan bangsawan itu tidak tahu menahu mengenai apa pun. Seketika pekerja itu menjadi ketakutan.
Alexander langsung menelepon orang kepercayaannya yang lain untuk menyelidiki kebenaran. Selang satu jam kemudian semua informasi di dapatkan. Sang bangsawan cukup terkejut mendengar Sandra sudah disekap oleh John.
Sebelumnya, para pengawal tak bereaksi atas hal tersebut karena mereka pikir itu atas titah sang tuan muda. Dugaan yang sama seperti kepala pelayan. Setelah mengetahui kebenaran pun semua anak buah Alexander cukup terkejut atas polah sang tangan kanan yang berani melangkahi bos mereka.
Alexander tak peduli dengan rasa sakit di tubuh atau kondisi yang masih lemah. Bahkan, mengabaikan dokter dan suster yang mencoba untuk mencegahnya keluar dari rumah sakit.
Alexander meminta selang infus dilepas saat itu juga. Karena takut, petugas medis menurut.
Sang bangsawan lekas mengerahkan banyak anak buahnya untuk turut serta menolong Sandra. Dua helikopter ia terjunkan juga untuk mempercepat pencarian.
Konvoi mobil Alexander dan anak buahnya memenuhi jalan. Sepanjang perjalanan pun ia cemas memikirkan keselamatan Sandra. Dan, ketika teringat John, wajah sang bangsawan langsung berubah sangat marah.
“Pria tua sialan! Akan aku bunuh kau jika berani menyentuh Sandra!” ancam Alexander seraya mengepalkan tangan.
Walaupun cintanya tak berbalas. Alexander tak mau melihat Sandra tersakiti lagi. Ia merasa sudah cukup dulu menyakiti hati dan mental sang wanita tercinta. Oleh sebab itu, pria keturunan bangsawan tersebut begitu murka dengan apa yang dilakukan John.
__ADS_1
Samar, terdengar suara tembakan. Alexander menegang. Ia meminta pengemudi mempercepat laju mobil.
Tiba di lokasi, Alexander keluar dari mobil. Ia terkejut mendapati Sandra terjerembab dengan John berdiri tak jauh dari sang wanita tercinta seraya masih mangacungkan pistol. Kemudian, melihat sang tangan kanan kembali melepas peluru ke arah seorang pria.
“JOHN BECK!” Lima peluru yang berada di dalam pistol dilepas hingga tepat mengenai dada John. Tanpa basa-basi lagi, sang tangan kanan langsung tersungkur bermandikan darah.
Dada Alexander terasa ada yang mengimpit. Pria yang sejak ia kecil mengabdi dan menjadi orang kepercayaan, kini telah terkapar di tangannya sendiri.
Dengan kaki bergetar, Alexander menghampiri Sandra. Hatinya begitu sakit melihat wanita yang ia cinta tergeletak bersimbah darah.
“TIDAAAAAAAAKKKKK!” teriak Alexander histeris dan terdengar menyayat hati.
Alexander meluruh. Lalu, ia mengangkat tubuh Sandra ke atas pangkuan dan memeluknya erat.
“My Lady, bangun.”
“Tuan muda, kita harus segera membawa mereka ke rumah sakit.” Salah seorang pengawal berkata.
Alexander terdiam sesaat. Kemudian berkata, “Bawa John ke mansion menggunakan mobil. Dia pasti sudah tewas. Urus mayatnya. Dan, kalian segera angkat tubuh dua pria itu ke helikopter.” Sang bangsawan menunjuk Finn dan Ruth. “Wanita ini, biar aku yang mengangkatnya sendiri ke dalam pesawat. Lekas juga telepon rumah sakit untuk menyiapkan tiga brankar dorong di rooftop. Kita akan mendarat di sana.”
“Baik, Tuan Muda. Lalu, bagaimana yang lainnya?”
Belum juga Alexander menyahut, suara sirene polisi terdengar.
Tubuh terkapar Sandra, Finn, dan Ruth lekas diangkat untuk dibawa masuk ke helikopter. Agar secepatnya mendapat pertolongan di rumah sakit.
🌺🌺🌺
Tiba di lokasi, Manda, Ramon, dan Tristan tak menemukan sosok yang mereka cari. Kemudian, seorang polisi mengatakan kalau ada tiga orang yang di bawa ke rumah sakit menggunakan helikopter.
Selang beberapa menit kemudian, satu pesan masuk di ponsel Tristan. Isinya adalah sebuah pemberitahuan kalau Sandra dan Finn di bawa ke rumah sakit di Jakarta.
Ketiganya langsung bergegas menuju rumah sakit tersebut. Lalu, satu pesan lagi masuk, sebuah informasi tentang keberadaan Finn dan Sandra di tempat tersebut.
Dua jam kemudian
Tangis pecah di depan ruang operasi. Tempat di mana keberadaan Finn, Sandra, dan Ruth.
Diana dan Helena tak hentinya meraung-raung menangisi putra-putri dan calon cucu mereka. Theo dan Chris pun tak luput dari kesedihan.
Ramon dan Manda terdiam dengan dada begitu sesak melihat kenyataan yang terpampang di depan mata. Sementara Tristan tak hentinya menyalahkan diri sendiri. Karena lagi-lagi tak bisa menjaga sang adik.
Vivian pun hanya bisa memeluk erat sang kekasih seraya terus mengusap punggungnya agar lebih tenang. Meski ia tahu semua itu sia-sia.
__ADS_1
Seseorang dari kejauhan pun turut berlinang air mata. Ia tak berani untuk menghampiri keluarga Sandra dan Finn. Rasa bersalah Alexander terlampau besar. Ya, sang bangsawan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian mengerikan tersebut. Jika saja bisa lebih bijak menghadapi kenyataan, mungkin John tak akan melakukan hal gila atas nama pembelaan. Membelanya dari rasa sakit hati akibat penolakan.
🌺🌺🌺
Satu minggu kemudian
Jemari mulai bergerak. Perlahan mata pun terbuka. Semua berucap syukur atas hal tersebut.
“Sss-ssand-ra.”
Semua membisu begitu mengetahui ucapan pertama kali yang keluar adalah Sandra. Finn sekali lagi melafalkan nama tersebut dengan masih terbata.
Diana menghampiri semakin dekat, menggenggam erat tangan sang putra. “Finn, syukurlah kamu sudah siuman.”
“Ssan-dra.” Finn mencoba bangun, tetapi ditahan Diana.
“Kamu baru saja siuman, jangan dulu bangun.”
Finn melirik sang mami dan kembali berkata dengan terbata. “Sss-ssand-ra.”
“Setelah kondisimu membaik, nanti kita jenguk Sandra.”
Tiga hari kemudian, dokter memindahkan Finn dari ruang ICU ke HCU. Meski sudah sadar, tetapi masih perlu pengawasan ketat dari tenaga medis.
Setiap harinya, Finn selalu bertanya mengenai Sandra. Keluarga pun menjawab sama, akan mengantar untuk menjenguk setelah kondisinya lebih baik.
Alasan yang membuat Finn frustrasi. Ia merasa tak puas sebelum melihat dengan mata kepala sendiri mengenai kondisi Sandra.
Hampir satu bulan berada di High Care Unit (HCU). Akhirnya, dokter memindahkan ke ruang rawat inap. Saat tersebut dimanfaatkan untuk meminta kepada kedua orangtuanya agar mengantar menemui Sandra.
Chris dan Diana pun pada akhirnya mengantar Finn menuju ruang ICU. Namun, harus menggunakan kursi roda karena kondisi belum pulih benar.
Dari balik kaca, Finn memandangi tubuh Sandra yang masih tergeletak tak berdaya dengan banyak selang dan alat-alat medis lain. Kemudian, Diana mendorong kursi roda masuk ke ruangan ICU.
Tubuh Finn bergetar. Ia menyentuh tangan Sandra.
“Bee ….” Finn tak sanggup meneruskan kata-katanya. Melihat tubuh sang istri dari dekat membuatnya semakin tak tega.
Diana mengusap kepala sang putra untuk menguatkannya.
Dengan suara bergetar Finn berkata, “Peluk Finn, Mi. Finn ....”
Diana segera memeluk Finn. Tumpah sudah semua air mata dipelukan sang mami. Tangisan pilu dari seorang pria yang merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi istri tercinta.
__ADS_1
Bahkan, Finn merasa menjadi manusia egois. Karena, ia telah siuman sementara sang istri masih belum tersadar dari koma.