
Tak ada hal di dunia ini yang bisa menggambarkan rasa bahagia Alexander saat bertemu sang pujaan. Sandra Rein sudah berdiri dengan cantik di hadapannya. Memakai dress putih berlengan sampai siku dan panjang pakaian selutut dengan rambut tergerai indah.
Sejak semalam mendapat telepon dari Sandra, Alexander pun menyiapkan pakaian terbaik. Kemeja putih dengan balutan jas dan celana hitam milik salah satu perancang ternama dunia. Dasi kupu-kupu pun melengkapi penampilannya malam ini. Bangsawan tersebut ingin membuat Sandra terpesona.
Satu restoran juga sengaja Alexander sewa hanya untuk bertemu Sandra. Ia tak ingin acara pertemuan mereka terganggu oleh kehadiran tamu lain.
Segala rupa hiasan romantis dengan bunga-bunga cantik menghiasi. Lantunan musik klasik bertema cinta turut mengiringi.
“Apa kabarmu, My Lady?”
“Kabar baik. Boleh aku langsung duduk? Maaf.” Sandra tak mau menanyakan kabar balik. Ia enggan banyak berbasa-basi.
Selain itu, Sandra pun tak ingin sampai salah bicara. Karena, Finn tengah memantaunya dari luar restoran menggunakan alat sadap suara yang terpasang di telinga. Meski dua pengawal turut masuk dan duduk dengan berjarak. Sang suami bersikeras harus mengetahui semua pembicaraan. Itu salah satu syarat jika ingin mendapatkan izin bertemu Alexander.
“Tentu saja. Silakan.” Alexander menarik kursi untuk Sandra. Menatap wajah cantik itu dengan semringah.
“Aku senang akhirnya kita bisa bertemu. Kau selalu cantik.”
“Terima kasih, Lex.”
Alexander mengangguk dengan senyum menawan. “Kau mau makan apa?”
“Aku hanya ingin bicara denganmu.”
“Aku tahu. Tapi, bukankah lebih baik kita makan terlebih dahulu.”
Sandra menggeleng. “Kita langsung saja berbicara.”
“Aku tidak menyukai idemu.”
“Aku tidak meminta pendapatmu,” ujar Sandra datar.
Alexander menahan rasa kesal. “Oke. Katakan.”
“Alex, aku minta maaf jika di masa lalu saat kita berteman dan sering bertemu memiliki salah terhadapmu.” Sandra memilih berbicara langsung ke inti.
Alexander menaikkan satu alisnya. “Apa maksudmu? Kau tak memiliki salah apa pun kepadaku.”
“Kalau begitu, bisakah kau berhenti menghubungi atau mengikutiku? Aku sudah bersuami.”
Hah! Apa-apaan itu? Mana bisa aku memenuhi permintaan tersebut? Lagi pula, persetan dengan Finn. Aku tak peduli sama sekali. Alexander membatin.
“Aku sangat mencintaimu. Tak bisakah kau mengerti?”
“Cinta yang kau miliki sudah salah, Lex. Kau mencintai istri orang.”
“Aku mencintaimu sejak kau masih gadis.”
“Apa maumu, Lex?”
“Katakan kepadaku. Apakah dulu kau pernah mencintaiku?”
Ya, batin Sandra. Namun, untuk selamanya, ia tak akan pernah mengatakan kepada siapa pun kalau dulu pernah jatuh cinta kepada seorang bangsawan bernama Alexander Hamilton. Masa lalu sudah terlewat, rasa tersebut juga sudah tamat. Kini, Finn Elard Liam adalah segalanya.
Alasan lain Sandra tak pernah jujur, baik kepada Finn atau Alexander karena tak mau keduanya semakin saling membenci. Sang bangsawan sudah pasti akan besar kepala dan terus mengejar. Suaminya pun bisa terluka hati, meski sudah masa lalu. Jadi, menyembunyikan hal tersebut menurut adik dari Tristan adalah jalan terbaik.
__ADS_1
“Tidak! Aku hanya menganggapmu teman. Tak pernah lebih dari itu.”
Sial! Cepat sekali Sandra menjawab. Bahkan, dengan suara tegas. Alexander membatin kesal.
“Lalu, mengapa kau berjanji jika tak mencintaiku?”
“Janji apa?” Oh Tuhan! Apa yang dahulu pernah aku katakan kepada Alex? Aku sungguh-sungguh tak ingat.
“Kau memang lupa atau sengaja melupakan?”
“Aku tak pernah merasa berjanji sesuatu kepadamu?” Sandra masih bingung.
“Kau janji akan menungguku kembali ke Indonesia.”
Demi Tuhan! Apakah hal tersebut benar? Sandra membatin dan mencoba mengingat-ingat.
Beberapa saat kemudian, Sandra mendapatkan memori tersebut. Saat terakhir Alexander ingin pulang ke Inggris. Lalu, meminta adik dari Tristan itu menunggu sang bangsawan datang kembali ke Tanah Air.
“Alex, kau salah paham. Aku mengatakan hal tersebut karena menganggapmu teman yang menyenangkan dan baik hati. Bukan karena aku cinta.”
“Kau menyakiti perasaanku, Sandra.”
“Maaf. Tapi, sungguh aku tak bermaksud demikian.”
“Sedikit pun, tak pernahkah kau ada rasa terhadapku?” Sakit sekali hati ini mendengarmu mengatakan hal tersebut, Sandra. Ternyata, cinta ini sudah bertepuk sebelah tangan sejak dulu sampai sekarang.
“Ya. Maaf.”
“Selama ini aku mengejar karena mencintaimu. Selain itu, aku pikir kamu juga merasakan hal yang sama meski hanya sedikit. Tapi, ternyata tidak ada sama sekali. Padahal, aku sudah melakukan segala hal agar kau tak bersama pria mana pun.”
“Apa maksudmu?” Sejenak Sandra berpikir. “Jangan bilang kalau kau yang selalu membuat hubunganku berakhir tragis kemudian putus? Persis Kanaya yang kau bayar untuk menggoda Finn."
Sandra mengepalkan tangan. Ingin sekali memaki dan memukul Alexander. Namun, ia tahan.
“Cinta jenis apa yang kau beri untukku? Kenapa harus mengorbankan orang lain dan juga perasaanku?”
“Aku sangat mencintaimu. Ingin hidup bersamamu selamanya. Berpisahlah dengan Finn. Aku berjanji akan membuatmu bahagia.”
Sandra memejamkan mata sesaat. Agar amarah minggat. Karena, rasa ingin menghajar sang bangsawan semakin kuat.
Sandra membuka mata kembali. “Saat rencana yang kau buat berhasil, mental ini jatuh dan hancur. Sekarang, kau mengulang kejadian serupa dengan Finn. Itukah cinta versimu? Menghancurkan hatiku terus-menerus.”
Alexander terkejut oleh kata-kata Sandra. Raut wajahnya tersirat penyesalan.
“My Lady, aku ….”
“Jika kau memisahkanku dengan Finn. Dua kemungkinan akan terjadi. Aku berakhir di pemakaman atau rumah sakit jiwa. Dan … kau tak akan mendapatkan apa pun selain melihatku di antara salah satunya.”
Alexander tercengang. “My Lady, jangan bicara seperti itu.”
“Kalau begitu, biarkan aku bahagia. Alex, aku yakin kau masih bernurani.”
“Kau cinta sejatiku.”
“Cinta yang kau gaungkan sudah tidak benar. Di sana ada ambisi. Alih-alih ingin membahagiakan, justru kau membuatku menderita."
“Semua kata-katamu yang keluar, apakah karena ingin membuat pendirianku goyah? Agar berhenti mendekatimu?”
__ADS_1
“Tidak sama sekali. Namun, telaah lagi hatimu, Lex.”
Alexander berdiri dan menarik taplak meja hingga semua yang berada di atasnya berjatuhan. Wajah sang bangsawan mengeras dengan tangan mengepal erat.
Para pelayan yang berada di sekitar tak berani mendekat. Mereka terdiam di tempat.
Sementara, Sandra bersikap tenang. Bahkan, tak beranjak dari tempat duduk. Ia pun memberi kode kepada kedua pengawal yang berjaga agar tak mendekat. Wanita itu memerhatikan terus polah Alexander yang tengah murka.
“Aku tidak mau tahu! Kau harus menjadi milikku!”
Sandra mengeluarkan senjata api dari dalam tas. Ia meletakkan di atas meja kemudian mendorongnya mendekat ke Alexander. “Ambil pistol itu. Arahkan ke kepalaku. Jadi, baik kau ataupun Finn tak bisa memilikiku.”
Alex tercengang. Kemudian, menurunkan emosi. Lalu, berbicara pelan, “Jangan seperti ini, My Lady. Aku mencintaimu. Tak mungkin aku membunuhmu.”
“Kau tahu, Lex. Aku bisa menemuimu hari ini berkat izin Finn. Aku meyakinkannya kalau kau pria yang baik. Karena, selama ini aku masih memercayai hal tersebut. Meski kau sempat berbuat kejam kepada kami.”
Alexander menunduk. “Aku tak pernah jatuh cinta sedalam ini kepada seorang wanita. Sampai hal gila pun aku lakukan. Aku sulit berpaling darimu.”
Sandra berdiri. “Enyahkan rasa cintamu kepadaku. Suatu hari nanti, kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Kembalilah lagi menjadi Alexander yang kukenal dulu, pria baik hati.”
“Kenapa kau begitu mencintai Finn? Padahal, dia bajingan.”
“Jika ada yang bertanya demikian, aku sendiri tak tahu harus menjawab apa. Lagi pula, Finn sudah berubah menjadi sosok suami setia.”
“Jadi, aku kalah?”
“Apakah kau menganggapku sebuah pertaruhan? Ada menang dan kalah.”
Alexander mengangkat kepala. Menatap lekat Sandra. “Bukan maksudku seperti itu.”
“Alex, meski kita tidak bisa bersama dalam ikatan cinta. Tapi, kita bisa berteman. Kau, aku, dan Finn.”
“Aku tak sudi berteman dengan Finn. Aku pun tak akan sanggup hanya sekadar menjadi temanmu.”
Sandra melangkah mendekati Alexander. Kemudian, berlutut tepat di depan sang bangsawan. Membuat pria itu terkejut.
“Alex ….”
“My Lady, apa yang kau lakukan? Bangunlah.” Alexander memotong ucapan Sandra.
Sandra menggeleng. Ia mengatupkan kedua tangan tepat di depan wajahnya. “Aku mohon, Lex. Biarkan aku hidup bahagia bersama Finn. Kami saling mencintai. Jangan lagi pisahkan kami. Tolong, kabulkanlah permohonanku.” Ia mulai menangis.
Alexander menganga tak percaya melihat Sandra memohon hal tersebut dan menangis. Ia mengangkat tangan wanita itu agar bangun.
Sandra menurut.
“Jangan menangis. Aku tak sanggup melihatmu berurai air mata.” Alexander menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Sandra dengan jemarinya. “Aku akan mengabulkan permohonanmu. Aku tidak akan mengganggumu lagi.”
“Sungguh?”
Alexander mengangguk. “Maaf, sudah membuatmu menderita. Berbahagialah bersama Finn. Katakan kepada suamimu, jika ia menyakiti wanita yang aku cinta. Aku tak segan kembali untuk merebutmu.”
Sandra mengangguk. “Terima kasih, Lex. Kau akan selalu menjadi temanku yang terbaik.”
Pedih di hati Alexander saat Sandra mengatakan hal tersebut muncul semakin terbuka lebar. Hanya teman. Namun, ia berusaha untuk tegar. Sang bangsawan tak ingin melihat wanita tercinta kembali menangis dan semakin menderita.
Apalagi, jika memaksakan kehendak. Alexander hanya takut apa yang Sandra katakan menjadi kenyataan, yakni kematian sang wanita tercinta atau berakhir di rumah sakit jiwa. Jadi, ia terpaksa mengalah.
__ADS_1
Beberapa kali, Alexander menepuk pelan kepala Sandra kemudian berucap lirih, “Sampai kapan pun, kau akan selalu ada di hatiku. Aku mencintaimu, Sandra Rein.” Ia menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. “Aku pergi.”
Cinta sang bangsawan laksana api membara. Sulit padam di tengah asmara yang sedang bergelora. Namun, rasa salah tempat tersebut harus berakhir meski berujung lara.