ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Bunda minta mantu


__ADS_3

“Bang, nikah dong. Jadi, kan bunda gak menodong gue terus buat punya suami. Sebel!” gerutu Sandra seraya berdiri di samping Tristan.


Tristan beranjak bangun dan menjewer kuping Sandra. “Ini anak, sebel sama bunda sendiri!”


Sandra menepis tangan Tristan. “Sakit, sih, Bang. Resek lo. Gue sebel sama lo, bukan bunda.”


“Balik sana ke ruangan. Ganggu aja!” seru Tristan seraya meneruskan lagi pekerjaan yang masih menumpuk.


Terpaut usia lima tahun, tak lantas membuat mereka menjadi kaku dalam hubungan persaudaraan. Bahkan, selalu ‘ber-lo-gue' layaknya teman. Tristan yang meminta, ia bilang supaya terdengar santai.


Meskipun demikian, hampir setiap hari pasti ada saja bahan pertengkaran. Beradik-berkakak itu jarang terlihat akur. Tristan yang suka usil dan Sandra selalu marah-marah akibat tingkah sang abang.


Tristan dan Sandra akan terlihat manis jika di depan orang lain. Tapi, jika hanya berdua atau bersama keluarga, ada saja polah tingkah yang membuat bising suasana. Namun, biar pun begitu, jauh di lubuk hati masing-masing keduanya saling menyayangi.


Sandra Rein, wanita berparas cantik, tetapi kurang beruntung dalam urusan percintaan. Sialnya lagi, sudah dua bulan terakhir ini, sang bunda, Helena, selalu mengejar-ngejar. Meminta seorang menantu.


Helena beralasan, jika usia Sandra yang sudah menginjak 25 tahun cukup untuk berumah tangga. Namun, jangankan menikah, pacar saja tidak punya.


Sudah satu tahun terakhir Sandra menyandang status jomlo. Sang kekasih ketahuan tengah berbuat mesum dengan wanita lain. Tak perlu banyak berpikir, ia langsung memutuskan secara sepihak hubungan tersebut.


Beruntungnya, sudah dua tahun ini Sandra bergabung di perusahaan milik sang ayah. Jadi, ia bisa membunuh kesedihan dengan kesibukan.


Luxury Interior Design adalah perusahaan keluarga. Menyediakan layanan desain interior, dekorasi interior, dan dekorasi rumah. Aspek komersialnya meliputi dekorasi toko, dekorasi kantor, sampai furnitur yang dipesan khusus.


Kebetulan, Sandra memang senang mendesain ruangan. Hobi yang semakin terasah karena saat kuliah sengaja juga mengambil jurusan desain interior.


Bekerja di perusahaan milik sang ayah sesuai keahliannya yakni sebagai seorang desainer interior. Di dalam tim Sandra, pekerjaannya dibantu oleh Benny dan Cira sebagai dekorator interior.


“Bang, gue serius. Lo lamar dong kak Kanaya?”


“Mau lamar gimana? Kanaya aja masih di Ausie. Nanti doi kelar kuliah baru gue nikah.”


“Kapan S2-nya kelar?”

__ADS_1


“Dua tahun lagi.”


“Hah! Ini, sih, parah. Bisa makinan merongrong, nih, bunda.”


“Ya, udah. Cari pacar sana terus nikah.”


“Lo kira cari pacar buat di ajak nikah segampang itu, Bang. Kalo begini terus gue mau nge-kos aja, deh.”


“Yakin bunda kasih izin? Dulu kuliah di Bandung aja harus gue sama ayah yang turun tangan buat meyakinkan ibu suri.”


“Ya, udah. Lo sama ayah kasih keyakinan bunda lagi.”


“Ogah.”


“Bang ....”


“Udah pergi sana. Gue banyak kerjaan. Ganggu aja lo.”


Tristan berdecak. Tapi, langsung berfokus pada pekerjaannya lagi.


Sandra pun kembali ke ruangannya. Terbengang dengan pikiran melanglang buana sambil bertopang dagu di atas meja kerja. Sampai tak menyadari suara ketukan pintu, hingga akhirnya sang asisten masuk.


“Mbak Sandra."


Tak ada sahutan.


"Mbak Sandra!"


Suara panggilan kedua baru Sandra tersadar. Ana telah berada tepat di depannya tengah cengar-cengir.


“Ketuk pintu dulu dong, An.”


“Sudah, Mbak. Lima kali,” ucap Ana mengangkat lima jari.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Sandra mengalihkan pembicaraan.


“Ada email masuk dari Liam Group meminta kita untuk merenovasi ruangan CEO baru mereka.”


Liam Group? gumam Sandra merasa aneh.


“Kapan?”


“Besok, Mbak. Jam sepuluh pagi. Kita ke sana sekalian meninjau lokasi.”


“Pastikan aja ada sekretarisnya. Jadi, konsultasi bisa berjalan lancar.”


“Kita langsung bertemu CEO-nya, Mbak.”


“Hah! Memang dia gak sibuk sampe urusan begituan aja harus turun tangan sendiri?”


Sudah dua kali hari ini Sandra kaget. Pertama karena Abang tersayang dan sekarang kabar barusan.


“Mana aku tahu, Mbak? Tapi, bukannya malah bagus, ya. Aku denger CEO-nya ganteng puooooll, loh, Mbak. Wah, senangnya besok ketemu cogan,” ucap Ana bersemangat.


“Ana!” seru Sandra kesal melihat tingkah asistennya yang membuat mual.


“Maap, Mbak. Antusias.”


“Kalau sudah gak ada keperluan lagi, pergi sana! Segera beri tahu juga Benny dan Cira untuk besok.”


“Siap, Mbak.”


Bos rasa teman. Begitulah Ana, Benny, dan Cira menyebut Sandra. Mereka betah bekerja bersama anak pemilik perusahaan. Sudah cantik, baik hati pula. Meski kadang jika keleletan dan tingkah konyol trio ABC itu membuat atasannya naik darah.


Akan tetapi, Sandra tidak pernah benar-benar marah. Omelannya hanya sesaat. Sesudah itu akan dengan cepat baik kembali.


“Kenapa harus dia lagi? Sesempit itukah kota metropolitan ini. Menyebalkan.”

__ADS_1


__ADS_2