ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Rencana Finn


__ADS_3

Finn memukul setir beberapa kali. Lebih baik meluapkan kekesalan kepada benda tersebut. Agar saat bertemu sang istri tak emosi.


“Sandra! Sandra! Sandra! Tak bisakah kamu diam-diam berada di dekatku? Baruuuuu saja tenang dengan hasil medical chek-up-mu yang bagus. Lalu, sekarang harus gelisah lagi. Oke, kamu memang wanita cerdas, aku bangga! Tapi, otak pintarmu saat ini sungguh sangat membuatku belingsatan. Demi Tuhan! Aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Bee.”


Finn membelah jalanan ibu kota dengan wajah kesal. Ia hanya tak habis pikir, apa yang sang istri inginkan dari John Beck si begundal? Sebelum semuanya terlambat hingga berakhir dengan sesal. Pria itu merasa harus melakukan sesuatu hal.


Begitu sampai di rumah danau, Finn langsung bergegas keluar mobil dan berjalan cepat. Masuk ke rumah, ia melihat satu orang asisten rumah tangga di dapur. Pria itu menghampiri pekerjanya.


“Di mana ibu?”


“Tadi ibu bilang ingin berenang, Pak.”


Finn mengangguk. “Sudah selesai dengan pekerjaanmu?”


“Sudah, Pak.”


“Keluarlah. Jangan ada yang kesini kalau aku atau ibu tidak memanggil.”


“Baik, Pak.” Sang asisten rumah tangga segera keluar rumah.


Finn membuka jas dan sepatunya. Ia melangkah menuju lift untuk menemui sang istri.


Pintu lift berdenting kemudian terbuka. Finn keluar dan mendekati kolam renang. Terlihat Sandra tengah berenang dengan gaya bebas.


Bola mata Finn terus bergerak mengikuti gerakan sang istri. Ia menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan agar emosinya memudar.


Kemudian, Finn tersenyum dan menyeburkan diri ke dalam kolam renang. Bergerak lincah mengejar sang istri. Tubuh mungil semampai Sandra berhasil tertangkap.


Sandra spontan kaget dan berontak. Tapi, saat tubuhnya dibalik dan kacamata renang dibuka, langsung berhenti meronta-ronta.


“Honey! Astaga kamu mengangetkanku.” Sandra membuang napas kasar.


“Memang kamu pikir siapa? Mana ada yang berani melakukan hal ini kepadamu selain aku? Apalagi, di rumah ini.”


“Iya. Aku hanya kaget.”


“Kaget atau ada yang sedang kamu pikirkan?”


Sandra mengernyit. “Honey, ada apa?”


Finn langsung tersadar akan sikapnya kemudian tersenyum. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukanmu.” Tristan, bagaimana gue bisa marah dengan adik lo yang menggemaskan ini. Biarlah, tidak usah bertanya tentang John Beck. Gue akan mengurus tangan kanan Alex itu. Tentu dengan cara gue sendiri.


Sandra mengecup bibir seksi sang suami. “Aku pun.”


Finn mengeratkan pelukan dan mendaratkan bibirnya pada benda kenyal milik sang istri. Menyesapnya mulai dari perlahan sampai menggebu.


Dengan lihai Sandra membuka kancing Finn. Melepas kemeja itu hingga tubuh atletis sang suami terekspose. Ia pun mengalungkan kedua tangan di leher dan memarkir kakinya melingkar di pinggang ramping pria tercinta.


Di dalam air di tengah kolam renang. Keduanya masih betah saling menyesap, mencecap, bertukar saliva, dan beradu lidah.


Perlahan, Finn melangkah di dalam air. Untuk menepikan tubuh mereka tanpa melepas pagutan.


Bahkan, satu tangan Finn bekerja sangat cepat. Menarik tali bikini Sandra bagian atas hingga terlepas dan melemparnya ke dalam air.


Finn melepas penyatuan bibir mereka. Lalu, mendudukkan Sandra ke pinggir kolam renang.


Sejenak memandangi tubuh bagian atas sang istri yang terbuka dengan tatapan kagum. “Sempurna dan indah.”


Sandra menutupinya dengan kedua tangan. “Honey, jangan menatapnya begitu. Aku malu.”


Finn tersenyum. Kemudian keluar dari air dan duduk di samping Sandra. “Oke. Aku berhenti melihat. Karena, aku mau merasakan kelembutannya masuk ke sini.” Ia menunjuk mulut sendiri.


Finn memulai aksi dengan menyingkirkan tangan Sandra. Mula-mula menangkupkan benda kenyal nan lembut menggantung itu dengan kedua telapaknya yang besar. Pandangan pun sangat fokus ke area sana.


“Lihat, Bee. Waktu kali pertama kupegang sangat pas. Sekarang tak lagi cukup. Sepertinya mereka menggelembung sangat cepat.”


“Finn Elard! Apa, sih? Malu. Sudah sana singkirkan tanganmu.” Sandra mencoba menepisnya, tetapi gagal.


“Hei-hei-hei, ini mainanku. Kalau sudah mendarat disini sudah tidak bisa bergeser lagi.”


“Kamu tu selalu saja banyak bicara. Bisa tidak kalau sedang seperti ini diam. Tidak perlu mendeskripsikan apa pun. Aku malu mendengarnya.”


“Aku sedang memuji milikmu. Kenapa malu? Seharusnya kamu senang.”


“Honey, sudah. Langsung saja action.”


“Nah, ya, ketahuan sudah tidak tahan, ‘kan?”


Sandra melongo. “Ih, gak gitu.” Kemudian cemberut.


Finn tertawa kecil kemudian menunjuk mulut Sandra lewat ekor mata. “Tidak usah memajukan bibirmu, bikin tambah gemas saja.”


“Honey ….”


Finn beranjak bangun. Kemudian, mengangkat tubuh Sandra dan menaruh perlahan di atas kursi santai kolam renang.


Finn melepas semua kain yang masih melekat di tubuh mereka. Kini, keduanya sudah polos.


“Love is you, My Bee,” ucap Finn dengan kilat gairah. Lalu, segera beraksi.


Waktu pun terus berjalan. Langit sore menjadi saksi dua insan berlabel halal tengah mereguk manisnya madu.


🌺🌺🌺


Sandra pikir, permainan di atas kursi santai kolam renang tadi sudah cukup dan telah berakhir. Ternyata tidak. Babak kedua berlanjut di kamar mandi. Niat ingin membersihkan tubuh dengan cepat, gagal. Sang suami seperti biasa dengan alasan ingin membantu justru mengerjainya lagi.


Bagai koboi, Finn menunggang Sandra kembali dengan semangat masih membara. Tenaganya persis kuda jantan di tengah arena, cepat, tepat, dan kuat.


Satu jam kemudian


Masih mengenakan bathrobe, Sandra membaringkan diri di atas kasur. Dari 100% energi hanya tinggal 10% saja.


“Bee, aku bawa makanan. Ayo makan dulu.”


“Aku tak kuat bangun.”


Finn menghampiri. Menaruh makanan di atas nakas dan duduk di tepi kasur. Ia mengangkat tubuh sang istri, mendudukkannya agar bersandar di bahu ranjang.


“Duduklah, aku akan menyuapimu.”


“Setelah makan, aku mau tidur. Aku lelah,” lirih Sandra.


“Buka mulutmu.” Finn mengabaikan ucapan Sandra.


Sandra menurut. Sambil mengunyah, ia berkata dengan suara tak jelas. Entah, bicara apa.


“Kalau makan jangan sambil bicara. Nanti tersedak.” Finn memperingatkan.


Sandra kembali menurut. Ia diam sampai makanan satu piring penuh dengan lauk-pauk ayam goreng, sayur sop iga sapi, tempe goreng, sambal bawang, dan kerupuk tandas.

__ADS_1


Finn mengusap puncak kepala sang istri. “Pintar makannya.” Ia memberikan satu gelas air putih.


Sandra meminumnya sampai habis. Memberikan gelas kosong tersebut kepada Finn.


“Turunkan dulu makananmu, baru tidur. Sebentar aku ambilkan pakaian.” Finn beranjak bangun menuju ruang ganti.


Sandra lagi-lagi menurut. Namun, perut yang kenyang malah membuatnya semakin tak bertenaga dan terus menguap.


“Bee, pakai baju dulu,” titah Finn.


“Tidak usah, aku malas bangun. Mau langsung tidur.”


Finn menggeleng. Ia ingin membuka bathrobe Sandra, tetapi tangannya ditahan sang istri.


“Aku mau memakaikanmu baju.”


“Aku tidak percaya. Wajah tampanmu tampak mencurigakan. Nanti kamu menunggangku lagi setelah melihat tubuh molek ini.”


Finn menjawil hidung Sandra. “Jangan berpikiran negatif.”


“Itu kenyataan.”


“Mau aku buat semakin menjadi nyata pikiran negatifmu itu? Atau menurut untuk kupakaikan baju.” Finn berpura-pura serius.


Sandra berdecak, “Kamu nyebelin.” Tapi, kemudian menurut.


Finn diam tak menyahuti perkataan sang istri. Ia melepas bathrobe Sandra.


Meski membuatnya harus menelan air liur karena kembali melihat tubuh molek Sandra. Namun, dengan sekuat tenaga, Finn menahan.


Usai berhasil memakaikan baju dengan posisi sang istri duduk. Finn menghela napas lega. Cobaan berakhir. Kemudian, membaringkan Sandra dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Hanya dalam hitungan menit, Sandra sudah terpejam dengan deru napas pelan. Menandakan ia sudah pergi ke alam mimpi.


Finn mengusap puncak kepala Sandra. “Tidurlah dulu untuk mengembalikan tenagamu. Karena, permainan kita belum berakhir, My Bee.” Ia mengecup kening sang istri. Kemudian, mengambil ponsel wanita tercinta lantas keluar kamar.


🌺🌺🌺


Finn melakukan kloning pada aplikasi hijau milik Sandra. Karena tidak mau lagi kecolongan. Hingga berakhir sang istri bersama para orang yang berniat jahat kepada mereka seperti hari ini.


Suara dering ponsel Finn terdengar. Ia mengangkatnya.


“Ya, Roy. Ada apa?”


“Bos, Hamilton Company mengirimkan email. Mereka ingin menggunakan jasa desainer interior kita, Ibu Sandra, untuk merenovasi dua ruangan di mansion-nya.”


“Apa lagi ini?”


“Mereka mengirimkan gambar ruangan yang akan di renovasi. Kamar pribadi Pak Alexander dan ruang keluarga.”


“Katakan kepada mereka kalau kita akan meninjaunya lebih dulu.”


“Baik, Bos.”


Finn memutus sambungan telepon.


“Sandra, kamu mau apa sebenarnya? Mengizinkan kamu bekerja malah menjadi bumerang sendiri untukku.”


Finn memijat pelipis. Ia pusing akan polah sang istri yang selalu membuat terkejut. Belum lagi dengan segala pemikiran wanita tercinta yang kritis dan pintar menganalisis.


🌺🌺🌺


Sandra menemukan Finn berada di ruang tamu. Kemudian, menghampiri sang suami dan mendudukkan diri di atas pangkuan pria tercinta dengan kedua kaki lurus naik di sofa.


Sandra mengalungkan tangan di leher Finn. Lalu, menelungkupkan wajahnya di bahu sang suami.


“Kamu masih mengantuk?” tanya Finn.


Sandra menggeleng tanpa berniat menyahut.


Finn mengusap punggung Sandra. “Mau makan?”


Sandra kembali menggeleng tanpa suara.


“Masih lelah, hm?”


Sandra mengeratkan tangannya. “Iya. Kamunya beringas.”


Finn tersenyum. “Nanti sebelum tidur lagi, ya.”


“Capek.”


“Ya, sudah aku mau ke club.”


Sandra langsung mengiggit bahu Finn hingga membuat sang suami mengaduh. Ia mengangkat kepalanya dan melotot.


“Berani kamu keluar rumah menuju club! Aku akan melayangkan surat cerai. TITIK!”


“Cemburu?”


“Kesal, bukan cemburu! Aku tidak akan memberi kesempatan kedua kali untuk kesalahan yang sama!”


“Aku hanya bercanda.”


“Enggak lucu!”


“Heran, tadi bilang capek. Menjawab pertanyaanku saja hanya sepatah dua kata atau menggelengkan kepala. Tapi, pas marah tenaga dan ucapanmu menjadi banyak.”


“Wanita memang selalu punya tenaga ekstra untuk marah kepada suami yang berani main gila!”


“Uh, mengerikan.”


“Honey, aku serius!”


Finn menangkup kedua pipi Sandra dan menciumi seluruh wajahnya berkali-kali. Lalu, memandang lekat sang istri. “Kalau begitu, nanti lagi, ya.”


“Capek.” Kemudian, Sandra kembali lagi dalam mode lelah seperti tadi, mungkin lebih tepatnya disebut manja.


“Loh, kok, langsung lesu lagi?”


Sandra berkata dengan lirih, “Aku benaran capek.”


“Aku buatkan cokelat panas. Mau?”


“Mau.”


“Mau menunggu disini atau ikut ke dapur.”


“Dapur, tetapi gendong.”

__ADS_1


“Duh, calon ibu lima anak manja sekali.”


Sandra tak menyahut. Ia malah mengeratkan pelukan saat Finn membopongnya ke dapur.


“Duduk disini diam-diam, ya.” Sandra mengangguk. “Mau makan sekalian?” tanya Finn.


Sandra terlihat berpikir. “Roti bakar cokelat keju saja.”


“Siap, Nyonya Finn Elard.”


Sandra tersenyum. “Thank you, My Sweet Husband.”


“I would do anything for you, My Lovely Wife.” Finn mengecup pipi Sandra kemudian mulai membuat pesanan sang istri tercinta.


Satu jam kemudian


“Mau aku buatkan lagi?” tanya Finn.


“Aku sudah kenyang.”


Finn menarik kursinya mendekati Sandra. “Aku gendong ke kamar, ya?” Ia tersenyum menggoda.


Di mata Sandra saat ini, justru senyuman tersebut sangat mengerikan. “Honey, aku capek.”


Tak peduli ucapan Sandra. Finn membopong sang istri menuju kamar mereka di lantai dua.


Astaga! Kamu habis makan apa, sih, Finn? Hasrat kamu lebih gila daripada honeymoon kemarin. Sandra membatin heran sekaligus pasrah.


Lagi dan lagi. Gairah di ranjang memanas. Adegan demi adegan dengan berbagai macam gaya mereka praktikan.


“FINN …!” Erangan nikmat terus keluar dari bibir Sandra.


Sang pria tak kenal lelah. Sementara wanitanya sudah hampir habis suara akibat terlalu banyak meneriakkan nama sang suami dan mendesah.


Namun, suara tersebut justru terdengar seksi di telinga Finn. Semangatnya semakin berkobar. Hingga akhirnya pria itu berhasil mencapai puncak berbarengan dengan Sandra. Mereka terkapar bersisian di atas kasur dengan keringat mengalir.


Finn menarik tubuh sang istri kepelukan. “I love you, My Bee.”


“Aku capek. Aku boleh tidur, ya?”


“Tidurlah.”


Setelah memastikan Sandra tidur. Finn membaringkan sang istri.


Kemudian, Finn beranjak bangun. Ia melihat satu pesan masuk dari John Beck.


[Ibu Sandra, besok jangan lupa pertemuan kita]


Finn membalas pesan tersebut.


[Di mana? Saya lupa]


[Kafe De' Hits]


[Oke. Sampai jumpa besok]


Kemudian, menghapus pesan tersebut.


🌺🌺🌺


Keesokan harinya


Finn masuk ke dalam kamar dan melihat sang istri ternyata sudah bangun. Bahkan, sudah mandi dan berpakaian cukup rapi. Melirik ke atas nakas, bersyukur sarapan yang ia siapkan tadi sudah tandas.


Finn memeluk Sandra dari belakang. “Mau ke mana? Rapi sekali.”


Finn! Gawat! Mana sudah jam sembilan. Aku bisa terlambat, batin Sandra.


Sandra membalikkan badan. “Honey, aku pikir kamu berada di kantor. Aku baru mau menyusulmu.”


“Benarkah?”


“Iya.”


“Tapi, dari raut wajahmu sepertinya kecewa melihatku masih di rumah?”


Sandra mulai gugup, tetapi mencoba tenang. “Mana mungkin. Aku malah senang.”


“Oh, ya?”


“Iya.”


“Kalau begitu puaskan aku lagi.”


“APA?” Sandra tersadar dari ucapan barusan dan menurunkan ritmenya. “Honey, kamu tidak lelah?”


Finn menggeleng. “Mau menolak?”


“Aku hanya capek.”


“Kalau capek kenapa harus pergi ke kantor?”


Sandra tersenyum kikuk. “Ah, iya, benar.” Duh, bagaimana ini?


Finn menangkup pipi sang istri dan mengecup bibirnya. “Lepas bajumu dan pakaianku. Puaskan aku.”


“Honey … emm … begini ... itu ….”


“Buka semua. Sekarang, Sandra Rein.”


Sandra terkejut. Nada bicara Finn terlampau dingin dan bossy. Karena takut melihat sang suami yang bersikap tak biasa. Ia menurut.


Sandra mulai melepas seluruh pakaiannya dan Finn. Mereka kembali bermain-main di lautan asmara dengan gairah menggebu.


Finn mendominasi permainan. Ia tak memberi ampun kepada Sandra. Hingga akhirnya sang istri KO.


Terlalu lelah meladeni hasrat Finn yang menggila. Sandra terkapar tanpa daya di atas kasur.


Sandra teringat janji bertemu John Beck. Namun, kedua kakinya lemas. Jangankan dipakai jalan. Untuk bergerak saja sudah tak lagi sanggup. Hari ini, ia benar-benar kalah telak.


Sandra pun memilih untuk memejamkan mata. Tak peduli lagi dengan John Beck. Tubuhnya sudah tak bertenaga. Ia butuh banyak istirahat. Tak berapa lama, wanita itu terlelap.


Finn yang sedari tadi memerhatikan sang istri tersenyum penuh kemenangan. Ia mencium kening Sandra dan menyelimuti tubuh polos wanita tercinta.


“Maafkan aku. Aku terpaksa membuatmu begini. Istirahatlah, My Bee. Aku pergi dulu.”


Finn mengirim pesan kepada John Beck dari kloningan aplikasi hijau milik Sandra di ponselnya.


[Saya sedang dalam perjalanan. Tunggu sebentar lagi]

__ADS_1


__ADS_2