ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Akhir untuk awal


__ADS_3





Hening!


Merasa menjadi penyebab keheningan. Finn memilih pamit. Membiarkan beradik-berkakak itu berdua agar bisa bicara dengan bebas dan lepas.


Benar saja, kepergian Finn membuat Tristan mulai angkat bicara. Ia menceritakan kebenaran perselingkuhan Kanaya.


Namun, hanya sebatas itu. Selebihnya, Tristan memilih untuk menutup rapat. Ia tak ingin membebani sang adik dengan kisah cintanya yang tragis.


Sandra berpindah tempat duduk di samping Tristan. Meraih kedua tangan sang abang dan menggenggamnya erat.


“Meskipun lo itu cowok. Tapi, kalo mau nangis, bahu gue selalu ada. Gue janji akan menutup rahasia ini dari Vivian biar tetangga kita itu gak meledek.” Sandra merentangkan kedua tangannya. “Atau mau memeluk lagi?”


Tristan tersenyum. Ia memilih kembali memeluk Sandra daripada menangis. “Thanks, Dek. Elo ada di saat seperti ini.”


“Apa pun untuk lo, Bang.” Sandra menepuk punggung Tristan pelan. “Percayalah. Semua akan kembali normal dan baik-baik aja. Lo masih punya Bunda, Ayah, gue, Finn, dan Vivian. Jangan lupakan segudang pekerjaan menumpuk telah menunggu di hari Senin besok. Kesedihan pasti berangsur hilang.”


Tristan mengangguk. “Lo memang adik terbaik.”


“Dan, cantik. Jangan lupa itu.”


Keduanya tertawa.


Tristan melepaskan pelukan. “Boleh gue menginap? Nanti gue akan izin Finn juga.”


“Berhubung lo lagi patah hati, gue dan mewakili Finn pasti kasih izin. Gratis buat lo, include sarapan, makan siang, dan malam.”


Mereka kembali tertawa.


“Satu lagi, cepat telepon Bunda. Biar gak lagi khawatir,” lanjut Sandra.


Tristan mengangguk patuh.


🌺🌺🌺


Ketika fajar menyingsing. Mata mulai terbuka. Menguap-menggeliat-minum segelas air putih.


Lantas meraih ponsel di atas nakas. Membuka satu pesan masuk. Terkejut. Lantas, bergegas ke kamar mandi


Sarapan sebentar. Kemudian, pamit pergi menuju rumah danau.


Berhubung di hari Minggu jalanan lengang. Vivian melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Jadi, bisa cepat sampai tujuan.


“Di mana Tristan, Sand?”


“Di dermaga. Kayaknya mau bunuh diri terjun ke danau. Cegah, gih!” Sandra berucap asal.


Karena cemas tengah menyerang. Vivian menelan mentah-mentah ucapan Sandra. Dengan wajah panik, tanpa lagi pamit, ia bergegas menuju dermaga.


Finn yang tengah duduk sambil sarapan menggelengkan kepala. “Memang beradik-berkakak usil. Pantas ribut terus.”


Sandra cengengesan. “Sesekali drama, Honey.”


“Nyonya Finn Elard, Anda tengah mulai kerusuhan.”


“No. Niat Nyonya Finn Elard mulia. Biar mereka akur lagi, Honey.”

__ADS_1


“Jadi, mereka sedang bertengkar?”


“Iya.”


Finn mengernyit kemudian mengangkat bahu. Ia tak ingin lagi bertanya lebih jauh.


“TRISTAN!”


Sang empunya nama menoleh. Ia tersenyum akan kedatangan Vivian. Pria itu tengah duduk di ujung dermaga dengan kaki menjuntai.


Vivian langsung mendudukkan diri di samping Tristan dan memeluknya erat. “Enggak usah sedih hanya karena putus dari si sundel. Apalagi, mau bunuh diri. Lo masih punya gue dan Sandra.”


Bunuh diri? Tristan membatin bingung. Sejurus kemudian pemahaman datang. Ia yakin itu pasti ulah sang adik tersayang.


“Gue masih waras. Tenang saja.”


“Bagus. Lo memang gak boleh gila hanya karena wanita murahan itu.”


“Gue minta maaf karena sempat gak percaya.”


“Tentu, gue pasti kasih maaf. Tapi, lain kali lo harus percaya dengan omongan gue. Oke.” Vivian melepas pelukan.


Tristan mengangguk. “Oke.”


Tristan dan Vivian saling pandang. Keheningan pun menyelimuti.


🌺🌺🌺


Finn memeluk Sandra dari belakang. Menyandarkan dagu di bahu sang istri. Mereka berada di balik kaca tengah memandangi Vivian dan Tristan.


“Mereka saling jatuh cinta.”


Sandra menepuk tangan Finn yang melingkar di perutnya. “Sok tahu.”


“Sejak kapan kamu menjadi cenayang?”


“Aku ini laki-laki. Tatapan Tristan mudah ditebak, hanya dia tak menyadari karena masih memiliki kekasih.”


“Lalu, Vivian dari mana kamu tahu?”


“Kamu lupa aku ini mantan playboy. Mudah bagiku menebak wanita yang sedang jatuh cinta.”


Sandra berdecak, “Bangga sekali dengan reputasi burukmu itu.“


Finn tersenyum. Memeluk Sandra semakin erat. “Tidak perlu marah. Aku sudah tobat.”


“Siapa yang marah? Aku? Enggak tuh!” Sandra membela diri.


“Benarkah? Tapi, nada bicaramu ketus sekali.”


“Jangan mulai.”


Finn membalikkan tubuh Sandra. Merengkuhnya erat. “Hanya kamu satu-satunya wanita yang tak bisa aku baca. Apakah jatuh cinta padaku atau tidak? Pada waktu itu, terlalu misterius.”


“Oh, ya? Aku mencium aroma perayu ulung mulai beraksi.”


“Memang hobiku sekarang merayu wanita bernama Sandra Rein. Aku ingin perempuan tersebut, terus jatuh cinta kepadaku.”


“Dasar gombal, tetapi aku suka.”


“Menggemaskan.” Finn menyatukan hidung mereka.


Keduanya saling pandang.

__ADS_1


“Setiap hari aku semakin jatuh cinta kepadamu, Honey.”


“Aku bahkan semakin jatuh cinta kepadamu setiap jantung ini berdetak.”


Sandra tersipu. “Memang selalu manis.” Ia menyentuh bibir Finn dengan jemari.


Finn menangkap jemari tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut. Merasai dengan menutup mata.


Ketika mata itu terbuka, menatap lekat Sandra dengan kabut gairah. “Skidipapap usai sarapan, sepertinya menarik.”


Sandra menggeleng. “Ada Tristan dan Vivian.”


“Mereka juga sedang asyik berdua.”


“Honey ....”


“Bee.”


“Please?”


“Oke. Tapi, harus ada ganti.”


Belum Sandra menjawab. Finn sudah menyentuh bibir sang istri dengan kobaran hasrat.


Di lain tempat, di sebuah dermaga danau buatan hasil rancangan seorang arsitek bernama Finn Elard Liam. Tristan dan vivian masih beradu pandang.


Vivian mendekatkan wajahnya dan mencium bibir lelaki yang tengah patah hati itu. Merasa tak ada balasan walaupun penolakan pun tidak. Ia memilih melepas dan menunduk malu.


Namun, sejurus kemudian Tristan mengangkat dagu tersebut dan menubrukkan bibir mereka berdua. Menciumnya mulai dari lembut sampai menggebu.


Kisah mereka berempat pun usai. Berakhir manis dan bahagia.


TAMAT


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


EH, BELOM DENG 😁😀✌️


__ADS_2