
Minal Aidin Wal Faizin. Mohon maaf lahir dan batin, Kakak-kakak 🙏🙏🤗
Sudah beberapa hari, Sandra lelah pada aturan baru. Ia mulai demo dengan cara mengerucutkan bibir dan membisu sepanjang waktu. Senyum pastinya telah menghilang. Tiada wajah berseri-seri. Saat ini, hanya ada muka masam lagi kusut kasau.
Finn tak tahu di mana letak kesalahannya. Di tanya, Sandra diam. Uji nyali dengan mengabaikan, malah semakin sunyi dengan menimbulkan aura sedingin es. Pada akhirnya, pria itu tak sanggup sendiri dan mengalah.
Mengelus dengan mesra, Sandra menolak. Membelai sayang, malah menjauh. Memeluk manja, kabur mengunci pintu kamar.
Finn menggeleng melihat kelakuan sang istri. Memundurkan ingatan, barangkali memiliki salah terhadap Sandra. Namun, hasilnya nihil.
Finn mengetuk pintu. Memanggil nama sang istri dengan lembut. Meluncurkan kata-kata rayuan. Menggombal receh. Sampai akhirnya ikut diam membisu.
Finn mendudukkan diri di kursi dekat kamar. Ia duduk menghadap pintu. Menyilangkan kaki dan melipat kedua tangan di dada. Memikirkan cara agar Sandra mau keluar kamar dan bercerita.
Setelah menarik napas panjang dan mengembuskan secara perlahan, Finn mencoba kembali memanggil Sandra. Ia sudah berdiri di depan pintu. Tangan pun mulai mengetuk.
“Bee, buka pintunya. Kalau aku ada salah. Aku minta maaf. Tapi, jangan diam. Aku mana kuat sedetik saja tanpa mendengar suaramu.”
Hening!
Finn berusaha kembali bicara.
"Bee, kamu mau apa? Aku akan belikan. Tapi, aku hanya minta satu saja. Jangan pernah berhenti mencintaiku.”
Sunyi!
Finn menghela napas lelah. "Boy, di dalam sana kamu dengar suara Daddy, ‘kan? Bilang Mommy, kalau Daddy sulit bernapas. Karena, oksigen Daddy adalah cinta Mommy kamu dan sekarang terhalang pintu.”
Sepi!
Finn memijat pelipis. "Boy, rayu Mommy supaya keluar. Daddy kedinginan di luar sini. Daddy mau dipeluk Mommy.”
Senyap!
Finn mulai resah. Ia mondar-mandir di depan kamar.
“Bee, bukakan pintu. Ini sudah malam. Aku mau tidur sama kamu. Aku mau disayang-sayang kamu.”
Tak ada sahutan!
Sudah satu jam berlalu. Masih tak ada tanda-tanda pintu terbuka.
Finn terus berpikir, bagaimana caranya agar Sandra mau berbaik hati membukakan pintu. Sampai mumet kepala. Demi untuk menemukan formula apa yang bisa meluluhkan sang istri agar keluar kamar.
Selang beberapa menit kemudian, Finn punya ide jitu. Satu-satunya hal yang bisa membuat Sandra pasti keluar. Meski efek sampingnya nanti akan mendapat omelan atau mungkin benda terbang.
Namun, menurut Finn itu lebih baik. Daripada harus melihat Sandra membisu. Karena, musabab sang istri merajuk, ia tak mengetahui sama sekali.
“Bee, aku keluar sebentar, ya. Tengah malam nanti aku pulang. Aku mau ke club untuk menyegarkan otak.” Finn mulai menghitung mundur. “Lima, empat, tiga, dua, satu.”
Tepat hitungan terakhir, pintu terbuka. Benda terbang berupa bantal dan guling, benar melayang pas sekali mengenai wajah Finn. Sandra pun menyertainya dengan kicauan yang justru di telinga putra dari Chris tersebut bagai padang rumput di tengah gurun pasir.
“Finn Elard! Berani kamu melangkah satu langkah saja keluar dari rumah ini menuju club! Besok, aku pastikan akan melayangkan surat cerai untukmu!”
Finn tersenyum lebar. Ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memeluk erat sang istri dan mengangkatnya. Lalu, membawa tubuh wanita berbadan dua itu masuk kembali ke kamar.
Sandra berontak. Tapi, pegangan Finn yang kuat justru membuatnya harus pasrah.
Finn membaringkan sang istri di atas kasur. Sebelum Sandra berniat kabur lagi. Ia mengungkung tubuh wanita tercinta dengan kedua tangan diangkat ke atas.
“Finn! Lepas!”
__ADS_1
“Tidak mau.”
“Jahat!”
“Aku sayang bukan jahat.”
“Kalau begitu lepas.”
“Tidak mau.”
“Finn Elard!”
“Hei, kenapa terus berteriak? Pelankan suaramu.”
“Tidak mau!”
Finn menggelengkan kepala. “Katakan, kenapa tiba-tiba merajuk? Apa salahku?”
“Aku kesal sama kamu dan semuanya.”
“Kenapa, hm?” tanya Finn lembut seraya terus menatap lekat sang istri dengan tatapan penuh cinta.
“Sejak semua makanan di atur, aku tak berselera makan. Menghabiskannya pun terpaksa.” Sandra mulai menangis.
“Jangan menangis.” Finn melepas kungkungan dan beranjak bangun. Ia meraih tubuh sang istri kemudian memeluknya erat.
Sandra semakin keras menangis. “Aku tak mau banyak aturan. Makanan-makanan itu enak, tetapi aku mau makan apa pun sesuka hati. Toh, apa yang masuk tak berbahaya untukku dan calon bayi kita.”
Finn menjadi serba salah. Sang papi meminta mami dan bunda mengurus semua. Sampai benar-benar mendatangkan dokter ahli gizi untuk mengatur pola makan Sandra. Putra Chris itu pun tak kuasa menolak.
Namun, sekarang justru sang istri protes dan merajuk. Finn menjadi kasihan dengan Sandra.
“Aku minta maaf. Kenapa tidak bilang saja kalau kamu tak suka?”
“Maaf, aku kurang peka, ya. Aku pikir itu demi kebaikanmu dan anak kita.” Finn mengelus punggung sang istri. Ia merasa bersalah.
“Besok aku mau makan yang lain.”
“Mau makan apa?”
“Bubur ayam di dekat stasiun kereta.”
Finn mengernyit. “Stasiun kereta mana? Lagi pula, dari mana kamu tahu ada bubur ayam di sana?”
“Aku tahu. Dulu waktu kuliah di Bandung dan beberapa kali pulang-pergi naik kereta, aku sering mampir. Buka 24 jam, kok.”
“Oke. Kita sarapan di sana besok. Tapi, berhenti dulu menangisnya.”
Sandra mulai menghentikan tangis. Finn melepas pelukan dan menangkup wajah sang istri. Menghapus jejak air mata yang masih ada dengan tangan.
“Kalau besok sudah ada sarapan di meja, bagaimana?”
“Biar aku yang mengurusnya. Tapi, kamu harus tetap minum obat dan vitamin dengan rutin, ya?”
Sandra mengangguk patuh.
🌺🌺🌺
Sandra terbangun karena mendengar suara muntah-muntah. Ia beranjak dari atas kasur dan pergi ke kamar mandi. Memijat leher dan mengusap punggung Finn agar sang suami merasa lebih baik.
Sepuluh menit kemudian mereda. Sandra memapah Finn masuk ke kamar. Mendudukkan sang suami di atas kasur. Mengambilkan minum dan menatap pria tercinta dengan iba.
__ADS_1
Finn memberikan gelas yang sudah kosong ke tangan Sandra. Kemudian, duduk bersandar.
“Honey, kamu menyesal tidak aku hamil?”
Finn menatap Sandra lekat. “Pertanyaan macam apa itu?”
“Karena aku hamil, kamu terus begini.”
“Bee, aku tak apa. Bahkan, masih tetap ingin memiliki banyak anak denganmu.”
Sandra memeluk Finn. “Terima kasih, selalu menjadi pria yang sabar dan kuat menghadapi kehamilanku.”
“Apa pun untukmu dan anak kita.”
“Makan buburnya batalkan saja. Kamu sudah lemas.”
“Aku tak apa. Nanti habis mandi juga bertenaga dan segar lagi.”
“Ya, sudah kamu mandi.”
“Sama kamu.”
Sandra mengangguk.
Finn tersenyum lebar dan lekas membopong Sandra masuk kamar mandi. Rasa lemas tadi tiba-tiba sudah berubah menjadi energi dengan daya maksimal.
🌺🌺🌺
Finn dan Sandra berdiri di depan meja makan. Mereka tak berkutik kala sarapan telah tersedia.
Helena dan Diana yang menata. Keduanya sudah berada di rumah danau sejak setengah jam lalu.
“Sandra, Finn. Kenapa diam saja? Ayo, duduk. Kita sarapan,” ujar Diana.
Sandra menatap satu sarapan berbeda di atas meja makan. Sudah pasti itu adalah miliknya seorang. Kemudian, ia menggenggam tangan Finn.
Finn menyadari kode tersebut. Ia pun tengah berpikir bagaimana caranya agar bisa membiarkan Sandra makan bubur ayam. Tapi, tanpa melukai perasaan dua wanita yang telah melahirkan mereka.
“Kalian kenapa malah bengong? Ayo, kita sarapan.” Helena ikut menimpali karena Finn dan Sandra tak bergerak sedikit pun.
“Mami, Bunda. Kebetulan aku dan Sandra mau pergi. Sarapan tersebut biar dimasukkan ke dalam tempat makan saja. Nanti kita habiskan di jalan.” Kemudian, Finn menyuruh salah seorang asisten rumah tangga untuk menyiapkan wadah dan mengurus hal tersebut.
“Kenapa tidak sarapan dulu, baru pergi?” tanya Diana.
Finn menarik sang istri mendekati Helena dan Diana. Mencium pipi mereka secara bergantian.
“Mami dan Bunda tak memberi tahu kalau mau datang pagi-pagi. Kita berdua sudah terlambat.” Lalu, Finn segera mengambil kotak makan yang sudah selesai disiapkan sang asisten rumah tangga. “Kita pergi dulu, Mi, Bund.” Ia dan Sandra lekas melangkah keluar, sebelum dicecar banyak pertanyaan.
Setelah berada di dalam mobil dengan posisi Finn yang akan mengemudi. Mereka membuang napas.
“Honey, tak apakah kita membohongi mami dan bunda?”
“Demi kamu supaya tak lagi merajuk, jawabanku adalah tidak apa-apa.”
Sandra adalah segalanya. Segalanya adalah Sandra.
Finn sudah tahu betul hal tersebut sejak jatuh cinta kepada sang istri. Di tambah, beberapa waktu lalu masalah menerpa dan membuat mereka sempat berjauhan. Makin saja, pria itu sadar kalau denyut jantungnya adalah Sandra.
Mencintai seluas jagat raya dan sedalam samudra. Hanya untuk satu nama, Sandra.
Satu dua tiga, cinta kepada Sandra akan selalu Finn jaga. Empat lima enam, hanya ada sang istri seorang hingga tanah merah membenam. Tujuh delapan sembilan, ia berjanji sehidup semati hendak terus berada pada koridor kesetiaan.
__ADS_1