
Demi Sandra!
Apa pun Sandra!
Hanya Sandra!
Semua untuk Sandra!
Dalam pikiran terpatri wajah Sandra. Di hati tertulis nama Sandra. Hidup seolah-olah hanya berpusat kepada Sandra.
Sandra … Sandra … terus saja Sandra.
Sebagian besar pria jatuh cinta pertama kali melalui pandangan. Finn pun begitu saat bertemu Sandra, hatinya langsung tertambat oleh pesona sang wanita yang menawan.
“Bee, kamu membuatku jatuh dalam lautan cinta biru. Tenggelam sampai dasar samudra kasih sayangmu. Mereguk terus-menerus manisnya rasamu. Gairah asmara selalu saja menggebu saat dekat denganmu.”
“Honey, aku lelah.”
“Aku sedang menciptakan suasana romantis. Menyahutlah yang sama.” Finn mengerucutkan bibirnya.
Sandra tertawa kecil. “Aku tidak mau melontarkan kata cinta. Nanti gairahmu bangkit lagi. Tadi sudah cukup membuatku lelah.”
Finn menyusup ke dalam selimut. Memeluk tubuh polos Sandra. Mendaratkan kepala di ceruk leher sang istri.
“Buatlah aku senang.”
“Tadi belum cukup senang, huh?”
Finn berganti posisi. Ia memiringkan tubuh ke arah Sandra dengan menopang kepala memakai tangan.
“Senang. Tapi aku mau kamu mengucapkan kata-kata manis.”
“Finn Elard Liam, kamu itu seperti garam. Hidup ini menjadi semakin terasa karena kamu.”
Finn mengembangkan senyum seraya membelai pipi Sandra. “Jatuh cinta kepadamu adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki.”
“Sheila on 7.”
“Lagu tersebut menggambarkan dirimu.”
“Oh, ya?”
“Iya. Kamu tahu, Bee? Aku manusia yang sangat beruntung bisa memilikimu.”
Sandra tersipu malu. “Honey, aku tidak tahan mendengar celoteh manismu. Berhentilah.”
“Mana bisa berhenti kalau kamu saja canduku. Kamu, Sandra Rein, adalah wanita yang Tuhan khusus ciptakan untukku. Nyaris sempurna. Mata yang indah dengan rasa bibir manis seperti madu dan seluruh area tubuhmu bagai pemikat. Selalu saja membangkitkan gairah. Hingga rasanya ingin menempel dan menciumi terus-menerus.”
“Honey, cukup.” Sandra menarik selimut dan menutup wajahnya yang tengah memanas karena tersiram api asmara sang ceo.
“Tidak. Itu semua belum cukup. Aku ingin terus bersamamu selamanya. Menikmati manis pahit kehidupan bersamamu. Membesarkan anak-anak kita dengan limpahan kasih sayang. Juga, merasaimu setiap malam.”
“Honeyyyyy! Mesum!”
Finn tertawa. “Satu kali lagi, yuk. Aku janji akan berhati-hati dan pelan.”
Sandra membuka selimut. Ia menatap Finn yang sudah sedari tadi tak mengalihkan tatapan ke mana pun selain kepadanya. “Tu kan kamu minta lagi.”
Finn memeluk gemas sang istri. “Mau, ya? Please.”
🌺🌺🌺
Keesokan harinya
“Mau ke mana weekend ini?”
“Di rumah saja.”
“Punya jadwal berenang?”
__ADS_1
“Nanti sore.”
“Aku akan menemani.”
“Terima kasih, Pria Tampanku.”
Finn membelai puncak kepala Sandra. “Sekarang, mau makan sesuatu?”
Sandra menggeleng. “Aku mau minum cokelat panas.”
“Tengah hari begini? Apa tidak semakin panas?”
“Tidak.”
“Oke. Untuk nyonya Finn Elard, aku kabulkan. Mau ikut ke dapur?”
“Gendong.”
“Tentu.” Finn membopong sang istri menuju lift. Membawanya ke dapur dan mendudukkan Sandra di atas kursi.
Sepuluh menit menunggu. Cokelat panas nikmat sudah tersaji cantik di depan sang istri tersayang.
“Terima kasih, My Honey.”
Finn mengusap kepala Sandra. Mendudukkan diri di samping sang istri. Memandangi penuh kasih wanita yang tengah asyik menyeruput minuman tersebut.
“Minumnya pelan-pelan. Itu masih cukup panas.”
Sandra mengangguk. “Cokelat panas buatanmu selalu enak.”
“Aku membuatnya dengan kekuatan penuh cinta. Sudah pasti rasanya enak.”
Sandra tersenyum. “Nanti gendong aku lagi ke atas.”
“Mau ke kamar?”
“Iya. Mau ambil flashdisk di tas.”
“Aku hanya mau memindahkannya ke laci tempat aku menyimpan flashdisk. Aku selalu lupa melakukan hal tersebut. Jadi, mumpung ingat harus segera dikerjakan.”
“Biar aku yang melakukan. Kamu disini saja. Habiskan cokelat panasnya.” Finn beranjak bangun. Namun, baru satu langkah, berhenti. “Tas yang mana?”
“Tas kecil hitam yang aku gantung di belakang pintu kamar.”
Finn mengangguk.
Sandra sudah sedari tadi meghabiskan minuman. Menunggu tiga puluh menit di meja makan, tetapi Finn tak kunjung kembali. Penasaran, wanita itu beranjak bangun untuk menyusul sang suami.
Menaiki lift ke atas. Pintu berdenting kemudian terbuka. Sandra keluar dan melangkah menuju kamar.
Membuka pintu perlahan dan masuk. Melihat sang suami duduk di pinggir kasur. Di tangannya terdapat ponsel yang tengah di charger.
“Honey, kenapa tidak turun lagi?” tanya Sandra.
Finn menoleh dan menatap wajah Sandra dingin.
Merasa tatapan tersebut tak biasa. Sandra mempercepat langkah dan kembali bertanya, “Ada apa? Kenapa melihatku begitu?”
“Sejak kapan kamu memiliki dua ponsel? Lalu, isi pesan di ponsel ini hanya dari satu orang saja, yaitu Alex. Kalian bermain-main di belakangku?”
Sandra terkejut. Sesaat lidahnya kelu.
“Honey, i-itu ….”
“Gugup, huh?” Finn menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. “Jika caramu bermain seperti ini bisa memuaskanmu dan membuat senang. Ya, sudah. Asal kamu bahagia.”
“Honey ….”
“Jaga bayi kita.” Dengan menahan gemuruh di dada, Finn beranjak bangun dan ingin melangkah keluar dari kamar.
__ADS_1
“Kamu mau ke mana?” tanya Sandra menahan pergelangan tangan Finn.
“Keluar.”
“Ke club?”
“Mungkin.”
Sandra melepas genggamannya. “Lakukan sesukamu. Setelah kamu keluar. Aku pastikan kita bukan lagi suami-istri.”
Finn berdiri menghadap Sandra. “Mengancam?”
“Kamu bilang cinta padaku. Aku adalah segalanya. Tapi, kamu mau melakukan sesuatu yang jelas-jelas selalu aku tekankan rasa ketidaksukaan pada hal tersebut. Jika bersikeras mau pergi ke sana, silakan. Setelah itu, mari kita berpisah.”
“Agar kamu bisa bersama Alex?”
“Finn Elard!”
“Tidak perlu berteriak. Katakan saja.”
“Serendah itu aku di matamu.”
“Aku cemburu!”
“Rasa cemburumu tak beralasan!”
“Isi pesan-pesan itu cukup menjadikan alasan. Bahkan, kalian sempat bertemu.”
“Aku tidak pernah mau sengaja bertemu dengannya. Tapi, sekarang aku berubah pikiran.”
“Ah, rindu dengannya dan ingin bertemu.”
“Finn Elard!”
“Sudah kukatakan tidak perlu berteriak.”
“Kita harus bicara.”
“Dari tadi kita bicara.”
“Tentang Alexander.”
“Hah! Fasih sekali kamu menyebut namanya. Sial!” Finn mengusap wajah dengan kasar.
Sandra mencoba bersabar. “Duduklah. Kita bicara.”
“Kita bicara lagi setelah kepalaku dingin.”
“Aku mau sekarang.”
“Tidak. Kita bicara lagi saat sudah tenang.”
“Aku mau sekarang!”
“Aku tidak ingin melontarkan makian kepadamu. Jadi, biarkan hawa panas di kepalaku menjadi normal.”
“Dengan pergi ke club kamu hanya akan menambah masalah baru. Pengalaman hidup kemarin ternyata belum membuatmu jera juga.”
“Oke. Aku tidak akan ke sana. Puas!”
“Lalu, mau ke mana?”
“Bukan urusanmu.”
“Oke. Pergilah ke mana pun kamu suka. Saat kembali, kamu akan menyesali setiap detik yang sudah terlewat. Dan, semua tak akan lagi sama. Aku akan menjadi orang yang berbeda.”
Finn menggemeretakkan giginya seraya bertolak pinggang. “Apa maumu, Sandra Rein?”
Sandra menatap sang suami. “Aku lelah hidup seperti ini, Finn Elard. Cukup! Aku mau menyudahi semua! Aku capek!”
__ADS_1
Sandra tak mengalihkan sedikit pun pandangan kepada Finn. Begitu juga sebaliknya sama. Mereka saling melempar tatapan tajam.