
Libur seharian serasa tiada guna. Hanya berdiam di rumah tanpa melakukan apa pun. Kebosanan mulai menyerang.
Finn menghela napas. Untuk membunuh kejenuhan. Ia menaiki perahu dayung. Mendayung sendiri dan berhenti di tengah-tengah danau. Memandangi riak air. Tersenyum sinis kemudian tertawa. Menertawakan hidupnya yang hampa.
Sekelebat bisikan menghampiri. Jika kehidupan rumah tangganya terlalu dianggap remeh Sandra.
Dulu, Manda memintanya berpikir tentang konsep pernikahan. Finn pun mulai memikirkan dan merancang. Saat itu, salah satunya adalah ia ingin seorang istri yang berada di rumah. Menyambut hangat ketika pulang kerja dengan bibir yang melengkung ke atas.
Akan tetapi, itu semua hanya asa. Jangankan sebuah senyum, sang istri pun tak ada di rumah saat Finn libur.
Semalam, ketika Finn pulang, Sandra sudah tidur. Saat tadi pagi terbangun, sang istri sudah tak ada. Menelepon berkali-kali, tetapi tak diangkat. Ngenas, itu yang kini sedang dirasakan.
Finn terus merenung. Memutar berbagai memori di kepala.
Finn menggeleng. Mengenyahkan pikiran-pikiran negatif terhadap Sandra. Hanya karena kesal di saat libur tak ada sang istri, pikiran menjadi melanglang buana tak tentu arah. Tersesat oleh bisikan makhluk tak kasat mata.
Finn meyakini, ini semua salahnya. Bukankah ia yang memberi izin Sandra untuk terus bekerja. Meskipun saat itu setengah hati menyetujui.
Ketika kesibukan melanda mereka. Tanpa Finn dan Sandra sadar, komunikasi terputus. Tak ada satu pun di antara keduanya yang bertanya kabar. Atau sekadar memberi tahu di mana keberadaan masing-masing dan sedang melakukan apa. Ucapan dan pesan kerinduan pun sudah tak pernah lagi hadir.
__ADS_1
Semua terjadi sebab tak sempat dan tersangkanya adalah kesibukan. Larut dalam lautan pekerjaan dan akhirnya terbawa ombak menjauh ke tengah. Saat tersadar karena hampir tenggelam, mencoba berenang menuju tepi kembali. Namun, semua terlanjur basah.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tiga jam berdiam diri, Finn berada di tengah danau. Ia masih belum berniat kembali.
Finn butuh menenangkan pikiran yang kalut lebih dulu. Agar saat bertemu Sandra tak ada pertengkaran.
Finn tak mau rumah tangga yang baru seumur jagung tersebut mengalami keretakan. Ia sangat menghindari memaki atau berbicara dengan nada tinggi kepada sang istri.
Finn tak mau melukai hati Sandra. Wanita yang ia kejar setengah mati dan calon ibu dari anak-anaknya kelak. Sang istri harus bahagia hidup bersamanya. Itulah isi dari kepala putra mahkota dari Liam Group.
“Anak? Kapan saat itu tiba? Rasanya senang membayangkan dipanggil ‘Daddy’.” Finn menggeleng. Menyugar rambut ke belakang. Menengadah wajah ke arah langit.
“Bermesraan saja sudah jarang. Kami memang pasangan yang luar biasa sibuk. Sial!” Finn terus menggerutu.
Finn memaki dirinya sendiri yang tak becus menjadi seorang suami. Tak bisa mengatur istri. Terlalu memanjakan sehingga Sandra berbuat sesuka hati.
“Berangkat kerja tak pamit, ditelepon tak diangkat. Sudah malam pun belum juga pulang. Rumah tangga macam apa ini?” Finn mulai kesal.
Para dedemit penghuni danau seketika bersorak-sorai akan keberhasilannya membakar emosi sang ceo. Bisikan iblis semakin kencang bergaung. Meniupkan keburukan Sandra dan menjatuhkan semua kesalahan kepada sang istri.
__ADS_1
Segala kebaikan dan cinta dari Sandra seolah-olah menguap begitu saja. Janji untuk membahagiakan pun seperti hanya sebuah kata tanpa makna.
Setan pun terus menjerat. Tahu-tahu pikiran Finn sudah melompat ke masa lalu.
“Kehidupan melajang dulu selalu baik-baik saja. Meskipun banyak orang memberi stigma negatif.” Finn terdiam.
Sang ceo merindukan masa itu. Ada sejumput rasa untuk mengulang kembali saat tersebut.
“Apakah pernikahan ini sebuah kesalahan?”
Rasa sesal menikah muncul tanpa undangan resmi. Hadir begitu cepat. Kedatangannya bagai racun. Pertama, membuat dada terasa sesak. Kemudian, perlahan membunuh.
Frustrasi yang mendera akhir-akhir ini membuat logika memudar. Finn terlalu pusing memikirkan bangunan miliknya yang berjalan lambat. Sekarang sang istri yang entah kapan pulang.
Finn merasa kini hidupnya berantakan. Berjalan tak tentu arah.
Di tambah lagi, bisikan setan terus saja melancarkan aksi. Menyerang hati, pikiran, dan jiwa yang tengah kusut dan kesepian.
Semoga kewarasan selalu mengiringi. Agar kehidupan bisa tetap normal.
__ADS_1