
Membuka mata perlahan, mengintip sang surya dari balik celah jendela. Melirik ke samping, mendapati sang suami masih terlelap. Tak ingin mengganggu, Sandra tak membangunkan.
Pukul 07.30, ia memiliki janji dengan klien. Jadi, bangun lebih awal. Tanpa pamit ataupun pesan kepada Finn pergi ke kantor begitu saja.
Mengundurkan diri memang pilihan yang sangat tepat untuk Sandra. Karena, akhir-akhir ini ia mengalami kelelahan hebat. Mencoba menahan sekuat tenaga, akhirnya tumbang juga.
Baru saja tiba di gedung Luxury Interior Design, kepala Sandra pusing bukan main. Ia hampir pingsan saat mau bertemu klien.
Trio ABC memutuskan sepihak untuk meminta sang bos istirahat saja di kantor. Karena, istri dari Finn itu tak mau dibawa ke rumah sakit atau pulang ke rumah.
Tugas Sandra digantikan oleh desainer lain. Wanita cantik itu hanya tidur. Bangun sebentar untuk makan meski beberapa suap. Ana menemani Sandra sekaligus merawatnya.
Ana sudah mengirim pesan kepada Tristan jika Sandra sakit. Tapi, sayangnya pesan belum berbalas. Sang asisten pun tak berpikiran untuk memberi tahu Finn.
Pukul 12 siang Sandra terbangun. Ia sudah merasa lebih baik. Ana tetap berkukuh untuk menyuruhnya pulang, tetapi sang bos masih keras kepala.
“Mbak, yakin masih kuat kerja?” tanya Ana dengan wajah khawatir.
“Yakin. Aku sudah lebih sehat. Mana? Berikan dokumen dari klien? Biar aku selesaikan.” Sandra menjawab santai seolah-olah tadi pagi tidak terjadi apa-apa.
“Mbak ....”
“Ana, jangan memperlambat kinerja kita.”
“Baik, Mbak. Tunggu sebentar.” Ana keluar ruangan untuk mengambil dokumen dan kembali lagi. Kemudian memberikan berkas tersebut kepada Sandra.
“Bagaimana rapat tadi pagi?”
“Oke, Mbak. Tinggal minta gambar saja dan menunggu barang custom made datang.”
Sandra mengangguk. “Aku akan menyelesaikan desain hari ini.”
Ana mengangguk. “Tadi pagi kita khawatir dengan keadaan Mbak Sandra.”
“Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, Ana.”
“Aku mengirim pesan kepada Pak Tristan untuk memberi tahu tentang kondisi Mbak sandra. Tapi, sampai sekarang belum dibalas.”
“Pak Tristan sedang meeting dengan klien penting. Biasanya ponsel akan ia matikan.”
Ana mengangguk mengerti. “Aku sampai lupa mau memberi tahu Pak Finn. Saking paniknya, Mbak. Jadi, hanya ingat Pak Tristan.”
“Bagus kamu lupa. Kalau tidak sudah heboh kantor ini dengan kedatangan Pak Finn perkara istrinya sakit pusing saja, An.”
“Senang, ya, Mbak, punya suami perhatian.”
“Iya, dong. Terus kapan kamu nikah dengan manajer operasional kita?”
“Ya, ampun. Mbak sandra bikin gosip saja. Aku permisi ke meja dulu kalo begitu, ya, Mbak.” Ana terpaksa pamit undur diri. Ia malu dengan pembahasan tersebut.
Melihat polah sang asisten, Sandra tertawa kecil kemudian menggeleng.
__ADS_1
Pukul 21.00 di perkantoran Luxury Interior Design
Derap langkah kaki berpantofel hitam menggema. Sang pemilik terlihat khawatir sehingga melangkah dengan sangat cepat. Ia tak sabar untuk sampai lokasi.
Begitu tiba, pintu dibuka dengan kasar. Menghampiri seorang wanita yang tengah sibuk.
“Dek, lo sakit?” Tristan langsung memegang kening dan pipi Sandra. Mimiknya menegang.
“Udah sehat, kok, Bang.”
Tristan menghela napas lega. “Syukurlah. Sorry, Dek. Gue baru buka ponsel pas sampe lobi tadi. Klien kali ini agak ruwet dan jelimet. Menjelaskan harus sangat-sangat mendetail. Mana gue diajak touring kantornya yang segede gaban. Mau nolak gak enak. Tender raksasa.”
“Untuk proyek besar, memang butuh pengorbanan. Terus, kelanjutannya bagaimana? Sukseskah?”
“Bersyukurnya sukses. Kita dapat tender itu.” Tristan antusias.
“Gue ikut senang mendengarnya.”
Tristan mengangguk dan tersenyum. “Ngomong-ngomong, Finn tahu lo sakit tadi pagi?”
Sandra menggeleng. “Untungnya gak tahu. Finn lagi sibuk, Bang. Kasihan kalo sampe pecah konsentrasi gara-gara gue.”
Tristan tersenyum. “Kelihatan banget lo sayang sama Finn, Dek.”
“Kalimat macam apa itu, Bang? Jelas gue sayanglah. Makanya buru lamar Vivian. Biar dapet kasih sayang dari istri.”
Tristan mendengus sebal. “Aduh-aduh! Sombong sekali! Awas aja nanti kalo gue udah nikah. Bakal gue kalahkan kemesraan lo sama Finn!”
Tristan ikut tertawa. Sudah satu minggu ia dan Vivian resmi menjalin kasih. Hubungan antar tetangga yang sering mereka sebut beradik-berkakak itu akhirnya saling menautkan hati.
“Dek, tiga hari lagi, lo resmi menjadi istri sepenuhnya di rumah. Rawat yang bener si Finn.”
“Tenang aja, Bang. Segenap jiwa raga bakal gue rawat dengan baik dan mendetail, kecuali masak.”
“Masih aja alergi sama dapur.”
Sandra cengengesan. “Untuk urusan satu itu memang gue menyerah.”
Tristan menggeleng. “Ya, udah. Gue balik ke ruangan dulu. Kalo tugas lo selesai, langsung aja pulang.”
“Iya.”
“Setir sendiri atau bawa sopir.”
“Sendiri.”
Tristan mengangguk. “Hati-hati bawa mobilnya nanti.”
“Iya, Abangku Sayang.”
Tristan menepuk pelan puncak kepala Sandra kemudian keluar ruangan.
__ADS_1
Satu jam kemudian
“Akhirnya selesai.” Sandra menggemeretakkan tubuhnya ke kiri dan kanan agar otot yang tegang menjadi lemas. Kemudian, bersiap untuk pulang.
Kebetulan Sandra tinggal sendiri. Trio ABC sudah ia suruh pulang sejak satu jam yang lalu.
🌺🌺🌺
Tiba di rumah, Sandra memilih istirahat sejenak. Tiga puluh menit merebahkan tubuh di atas sofa ruang tamu. Ia beranjak bangun. Bersiap untuk mandi.
Namun, sebelumnya menelepon salah satu asisten rumah tangga agar datang. Sandra meminta dibuatkan segelas cokelat panas.
Setengah jam berada di dalam kamar mandi. Merasa lebih segar. Sandra lekas turun ke bawah. Mengayunkan langkah menuju dapur.
Sandra melirik jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Setelah mengucapkan terima kasih. Ia meminta pekerjanya kembali.
Akan tetapi, baru saja menyeruput sedikit minuman tersebut. Sang asisten rumah tangga yang belum beranjak pergi memberi tahu jika Finn seharian berada di rumah. Dan, saat ini ada di tengah danau.
Sandra sontak kaget bukan kepalang mendengar penuturan tersebut. Rasa bersalah seketika bergelayut. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal bagaimana kita mau memberi topping apa agar menarik dan berselera untuk makan.
Setelah kepergian sang asisten rumah tangga, Sandra berpikir sejenak. Meskipun sangat dimanja Finn. Dan, merasa suami tersayang akan marah tak mungkin terjadi. Namun, tetap saja ia tak enak hati dan juga takut. Siapa tahu kondisi berubah.
Sandra memutar otak. Mencari cara agar sang suami tak marah. Pasalnya, ia cukup paham komunikasi akhir-akhir ini di antara mereka memang mati total.
Belum menemukan ide untuk meluluhkan Finn. Suara pintu utama terbuka terdengar. Pelakunya siapa lagi kalau bukan sang suami. Karena, hampir tengah malam begini tak ada asisten rumah tangga yang datang kecuali dipinta.
Sandra mengintip Finn dari balik dinding dapur. Ia melihat wajah teduh itu kini bermuram durja dengan aura memancar cukup mengerikan.
Mengamati dari kejauhan sang suami membuat Sandra kesusahan menelan air liur. Rasa seperti bersekat.
“Duh, mati gue. Bagaimana ini? Sepertinya Finn marah.”
Sandra sedikit gemetar. Ia tak tahu seperti apa polah Finn ketika marah. Maklum saja, semenjak menikah tak pernah lelaki tampan itu memaki atau berbicara dengan suara tenor.
“Mami, tolong Sandra. Putra kesayanganmu kini berwujud seperti Hellboy. Superhero, tetapi wujudnya kan iblis. Angker. Persis Finn saat ini, Mi.”
Mengintai terus langkah Finn yang mulai memasuki lift. Sandra keluar dari persembunyian. Ia berjalan mondar-mandir seraya memijat pelipis.
“Oh, Tuhan. Tolong aku dari pria tampan yang tengah berwajah masam itu.” Sandra berhenti berjalan. “Perlu tulis surat wasiat gak, ya? Siapa tahu ini malam terakhir gue minum cokelat panas.”
Sandra memukul pelan kepalanya. Merasa bodoh akan pikiran tersebut.
“Enggak ... enggak mungkin Finn mau memberhanguskan gue dari muka bumi. Secara gue cantik maksimal. Doi juga cinta mati,” ucap wanita berkulit putih, berhidung mancung, berbibir sensual, dan body goals-nya nyaris membuat kaum wanita berteriak iri itu dengan percaya diri. “Tapi, segala kemungkinan tetap bisa terjadi, ‘kan?” Seketika ia menjadi tak yakin.
Pusing dengan khayalan yang menyeramkan. Sandra memilih duduk agar lebih tenang. Menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Ia juga mengusap dadanya yang masih saja maraton.
“Oke. Rileks, Sandra. Suka atau tidak dengan situasi menegangkan ini. Lo kudu adem ayem, kalem, kalo perlu nanti sungkem.”
Sandra mencoba menenangkan hati. Tapi, sejurus kemudian muncul lagi rasa berketar-ketar. Ketakutan malah semakin besar menyelimuti.
“Oh, tidak. Bagaimana ini?”
__ADS_1